Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 71


__ADS_3

Bayu mengantar sang istri hingga masuk dan duduk di kursinya. Amel yang sudah tiba sejak tadi, terlihat senyum-senyum melihat sepasang pasutri ini.


Bayu berubah. Ya, Bayu memang sudah berubah jauh berbeda dengan sebelumnya.


"Duduk manis di sini! Jangan pergi kemana-mana tanpa aku ataupun Amel sahabat mu, ok!" Pesan Bayu saat ia ingin meninggalkan istrinya.


Nayla hanya mengangguk patuh dengan pesan yang diucapkan suaminya itu sembari menatap penuh cinta wajah suaminya yang juga sedang menatap matanya.


"Amel, titip Nayla ya?" Ucap Bayu pada Amel yang duduk tepat duduk disamping Nayla.


"Siap Pak," jawab Amel dengan senyum manis yang terbit di wajahnya.


Tak berselang lama dari kepergian Bayu. Seorang wanita cantik dengan rambutnya yang tergerai panjang, kira-kira berusia 28 tahun dengan setelan blazernya memasuki kelas mereka. Seketika semua mata langsung terfokus ke arah wanita itu.


"Cantik banget nih cewek," gumam hampir seisi kelas mengagumi wanita cantik yang tengah berdiri di muka kelas mereka.


"Cantik," cetus Nayla yang tak berkedip melihat wanita yang berdiri tak jauh dari mejanya.


"Banget Lah! Apalah kita berdua ini dibanding dia," sahut Amel yang mengusap kepala botaknya. Tiba-tiba saja Amel insecure dengan rambut indah yang di miliki wanita yang entah siapa itu.


Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas dan menyapa seisi kelas dengan ramahnya, "Selamat pagi semuanya, saya dosen baru yang menggantikan Ibu Santi."


"Pagi Bu," jawab mahasiswi seisi kelas dengan serempak tanpa terkecuali.


"Perkenalkan nama saya Diana Pramesti, dosen pengganti untuk mata kuliah Akuntansi Manajerial," ujarnya memperkenalkan diri.


"Statusnya gimana Bu? Udah nikah apa masih singel?" Tanya Denis salah satu mahasiswa yang terkenal sebagai playboy cap badak di kelas Nayla.


"Status saya masih singel," jawab Diana dengan senyum tersipu malu-malu.


"ALHAMDULILAH!! Ada kesempatan," seloroh Denis dengan percaya dirinya yang makin membuat Diana tak bisa melepas senyum tersipu malunya.


"Ganjen," celetuk Nayla yang mengomentari senyum menjijikan Dosen wanitanya itu.


"Banget, jangan-jangan Pratu (Perawan Tua), di gombalin receh mahasiswanya aja udah terbang. Jagain laki lo Nay. Feeling gue gak enak. Bibit pelakor terpancar jelas di mukanya," sahut Amel yang meminta Nayla waspada.


"Pasti, kalau laki gue main-main, gue gak akan segan-segan potong pisang rajanya dia sampai habis tak tersisa," balas Nayla yang malah emosi dengan menggebrak meja.


Pandangan Diana yang semula menatap ke atas meja kerjanya beralih ke arah Nayla dan Amel. Pandangan aneh diberikan Diana pada Nayla dan Amel yang berpenampilan nyentrik sendiri dengan kepala plontos mereka.

__ADS_1


Keduanya kompak menghias kepala botak mereka dengan bandana pita yang menggemaskan. Diana berjalan menghampiri keduanya, langkah kakinya berhenti tepat diantara meja Nayla dan juga Amel. Ia mengamati dengan jelas bagian kepala keduanya.


"Kenapa dengan rambut kalian? Kenapa kamu pangkas sampai botak seperti ini?" Tanya Diana yang terlihat heran dengan keduanya.


"Ini trend terbaru kami," jawab Amel dengan tatapan malas menatap Dosen wanitanya.


Tak puas dengan jawaban Amel, Diana melirik Nayla, mengharapkan jawaban yang benar dari mulut Nayla.


"Saya baru saja operasi kepala Bu, dan sahabat saya ini ikut memangkas rambutnya, sebagai rasa setia kawannya terhadap saya." Jawab Nayla yang membuat Diana tersenyum. Seakan mengejek apa yang dilakukan Amel hanya demi kesetia kawanannya dengan Nayla.


"Siapa nama kamu?" Tanya Diana pada Nayla.


"Nayla putri Atmaja," jawab Nayla.


"Lalu kamu, siapa nama mu?" Tanya Diana yang mengalihkan pandangannya pada Amel yang membuang wajahnya kesisi yang berbeda. Amel begitu muak dengan dosen wanitanya ini.


"Amel," jawabnya ketus.


"Oh, Amel. Ok baik cukup sampai di sini perkenalkan kita. Mari kita mulai pelajaran kita sekarang." Ucap Diana yang memundurkan langkah menuju meja kerjanya.


Sembilan puluh menit mata kuliah yang dibawakan Diana terlihat sangat membosankan dimata Amel dan juga Nayla. Mereka serasa ingin menjerit dan ingin mempercepat waktu berputar agar mata kuliah yang dibawakan Diana berakhir.


Diana sangat paham betul, jika kedua wanita berkepala botak ini tak menyukai dirinya. Senyum sinis pun terbit dari wajah cantik Diana saat ia menatap Nayla dan Diana.


Ketika Diana ingin pergi meninggalkan kelas, tak sengaja ia berpapasan dan bertubrukan dengan Bayu yang baru tiba di kelas Nayla. Bayu datang karena ia akan mengisi jam mata kuliahnya di kelas Nayla.


"Owhh hehe... Maaf ya Pak Bayu. Saya tidak lihat Pak Bayu datang," Ucap Diana yang lancang mengusap dada bidang Bayu yang tertubruk buku-buku yang ada dalam pelukan Diana.


"PAPIH!!!" Pekik Nayla dengan berdiri sembari berkacak pinggang. Jangan tanya bagaimana cara ia memandang suaminya dan Diana saat ini.


"Papi?" Mulut Diana membeo ketika ia mendengar Nayla memanggil Bayu dengan sebutan Papi.


"I-iya Mih," jawab Bayu yang gugup karena tau istrinya sudah dalam mode singa betina yang mengamuk.


"SINI!!" panggil Nayla yang berlagak bagaikan Bos besar memanggil anak buahnya.


Rasa cemburu dan tak terima suaminya di sentuh wanita lain, membuatnya hilang akal. Ia marah tak lagi memandang tempat.


Bayu yang takut dengan kemarahan istrinya pun menurut, tak perduli dengan pandangan mahasiswanya ataupun Diana rekan kerjanya.

__ADS_1


Baginya saat ini dari pada ia mempertahankan gengsi dan egonya yang akan berujung dirinya dalam masalah besar. Lebih baik dia mengalah dan menunduk patuh pada istrinya. Tak perduli dengan penilaian Mahasiswa dan Mahasiswinya nanti terhadap dirinya


"Apa Mih?" Tanya Bayu yang sudah berdiri dihadapan sang istri.


"Buka bajunya!" Perintah Nayla yang belum melepaskan tatapan tajamnya pada suaminya dan sedikit melirik Diana yang berdiri membeku di muka pintu.


"Malu Mih, masa buka baju disini," tolak Bayu dengan tatapan meminta pengertian Nayla.


"Papi-kan pakai kaos, pakai kaos itu saja! Mami gak mau Papi pakai pakaian yang sudah kotor disentuh wanita lain selain Mami." Bayu mendengus ketika air mata Nayla sudah mulai menggenang di kelopak matanya.


"Iya sayang, maaf ya. Jangan sedih Papi buka kok sayang," jawab Bayu yang kemudian meletakkan tas laptopnya di atas meja Nayla dan membuka kemeja kerjanya di depan banyak orang.


"Sudah-kan?" Ucap Bayu pada Nayla saat ia telah membuka kemeja kerjanya.


"Buang!" Pinta Nayla lagi.


"Ok di buang ya," ucap Bayu yang membawa kemeja kerjanya ke tong sampah.


"Sudah," Bayu tersenyum penuh arti pada istrinya. Kemudian berjalan ke meja kerjanya yang ada di pojok kanan depan kelas.


Mahasiswa dan Mahasiswi yang ada di kelas hanya bisa diam menonton drama rumah tangga mereka tanpa ada yang berani untuk berkomentar.


Kini Bayu sudah duduk di kursinya. ia duduk menatap istrinya yang masih berdiri menatap dirinya nasih dengan tatapan marah dan kesal. Bayu sama sekali tak menganggap keberadaan Diana yang masih berdiri mematung memperhatikan keduanya.


"Bawa sini tas Papi, Mih!" Pinta Bayu yang duduk melipat kedua tangannya di atas meja.


Nayla menurut, ia membawakan tas suaminya yang ada di atas mejanya. Ia berjalan dengan kaki yang ia hentak-hentakkan ke lantai karena rasa kesalnya belum hilang.


Nayla juga sengaja melakukannya agar Diana cepat pergi dari kelasnya, dan berhenti menatap suaminya dengan tatapan penuh arti seperti itu. Namun Diana seperti enggan meninggalkan kelas itu. Matanya terus saja mengamati Nayla dan juga Bayu, pria yang selalu ada di hatinya selama ini.


Nayla yang sudah ada di depan Bayu segera memberikan tas laptop milik suaminya itu pada suaminya yang tengah menatap dirinya sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Jalannya jangan seperti itu Mih! Kasian dede bayinya, dia bisa terguncang tak nyaman," ucap Bayu yang kembali membuat Diana terkejut.


"Dede bayi? Dia sudah menikah dengan gadis botak itu. Ah..." Diana menutup mulutnya seketika itu juga. Ia baru menyadari mengapa Bayu juga tak memiliki rambut sama seperti Nayla dan Amel.


Tiba-tiba hatinya terasa tertusuk belati. Ia bergegas pergi dengan rasa nyeri di hatinya.


"Tidak-tidak mungkin, dia sudah menikah lagi. Kenapa aku selalu terlambat untuk mendapatkan mu Bay," ucap Diana yang menangis di sebuah koridor kampus yang terlihat sepi.

__ADS_1


__ADS_2