
"Aktifkan ponsel Lo, Hend! Silvi sedang membutuhkan Lo, sekarang," perintah Neil kemudian pada Hendra yang masih terdiam.
Tanpa menjawab Hendra segera mengaktifkan ponselnya, beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab tertera pada layar ponselnya.
"Silvi!!" Seru Hendra dengan wajah paniknya setelah ia membaca pesan dari sang Bunda, jika istrinya itu kembali drop dan dilarikan ke rumah sakit oleh rekan kerjanya yang merupakan karyawan dari Bayu. Bunda Riskanmengetahui berita tentang Silvi dari Bayu yang mendapatkan kabar dari asistennya Nathan.
Mau tidak mau Nathan menghubungi bosnya itu karena suami dari Silvi yang merupakan kakak ipar Bosnya sama sekali tidak bisa dihubungi, dihubungi ke perusahaannya, sekertarisnya mengatakan hari ini dia belum datang ke perusahaan.
Hendra segera bergegas, ia meninggalkan Neil yang berdiri mematung memperhatikan dirinya sejak tadi. Neil memang sengaja mendatangi kediaman sepupunya itu, setelah ia tahu dari orang kepercayaannya, jika kondisi Silvi sedang drop dan Hendra yang tidak bisa dihubungi. Neil yang tahu dimana dia harus mencari Hendra pun mendatangi kediaman sepupunya itu, dan benar saja Hendra ada di sana.
Meskipun Neil dan Silvi batal menikah karena penyakit dan keinginan terakhir Silvi yang ingin hidup bersama orang yang ia cintai di akhir khayatnya. Neil masih perduli dengan Silvi, Neil merasa walau bagaimana pun Silvi pernah datang di kehidupnya, mengobati rasa kecewa yang ada di hatinya, mengisi ruang kosong dihatinya, mewarnai harinya yang gelap karena cintanya pada Nayla yang harus pupus sebelum sempat ia perjuangkan. Neil memang tidak mencintai Silvi tapi tak dapat dipungkiri, rasa sayang itu ada, karena lebih dari satu tahun mereka melalui waktu bersama dengan status mereka sebagai tunangan.
Di rumah sakit Central Kusuma, Hendra yang baru saja tiba, terlihat berlarian tunggang langgang menuju ruang IGD, dimana istrinya sedang diobservasi disana oleh Dokter Mateo, Dokter spesial Onkologi terbaik di rumah sakit Central Kusuma. Kedua orang tua Silvi pun sudah datang di sana. Menunggu dengan cemas hasil observasi Dokter Mateo.
Langkah Hendra yang berlari terhenti, saat ia melihat kedua mertuanya dan juga kedua orang tuanya tengah berdiri di depan pintu ruang tindakan memasang wajah cemas.
"Darimana saja kamu, Nak? Kenapa ponsel mu, kamu non aktifkan? Bukankah Bunda sudah katakan padamu ponselmu harus aktif sepanjang waktu jika kamu sedang tak ada di samping istri mu?!" Tegur Riska dengan nada yang cukup tinggi, memecahkan keheningan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi pada putranya.
__ADS_1
"Aku ada meeting diluar, Bun." Jawab Hendra singkat dengan kebohongannya.
Hendra lantas berlalu begitu saja, meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan, dimana istrinya terbaring tak sadarkan diri. Sungguh saat yang kebetulan, ketika Hendra masuk, Dokter Mateo sudah selesai melakukan observasiny terhadap Silvi.
Keduanya berpapasan dan Hendra langsung saja menanyakan kondisi istrinya pada Dokter yang ada dihadapannya.
"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" Tanya Hendra yang terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi Silvi.
"Anda Suaminya pasien?" Tanya Dokter Mateo menyakinkan dirinya jika dihadapannya memang benar suami dari pasiennya.
"Ya saya suaminya, bagaimana kondisinya sekarang Dok?" Jawab Hendra yang kembali mempertanyakan kondisi Silvi.
"Saya rasa tidak Dok," jawab Hendra singkat.
"Saya rasa, ya humm, jawaban yang sangatlah menarik. Apa istri Anda tidak melakukan kemoterapi dan radiotrapi sebelumnya Tuan?" Tanya Dokter Mateo dengan tatapannya yang menelisik.
"Sebelumnya istri saya melakukan keduanya, tapi untuk dua bulan belakangan ini, istri saya menghentikannya sendiri karena istri saya sedang mengandung." Jelas Hendra pada pertanyaan Dokter Mateo.
__ADS_1
"Apa Tuan, sudah melakukan konsultasi pada Dokter yang menangani pasien sebelumnya saat menghentikan rangkaian pengobatan pada pasien?" Tanya Dokter Mateo lagi, ia sedang menggali informasi untuk mengambil langkah tepat untuk pasien yang ditangani olehnya.
"Tidak Dok, kami tidak melakukan konsultasi sebelumnya." Jawab Hendra jujur.
"Jawaban yang bagus Tuan, perlu saya jelaskan saat kehamilan pada penderita tumor maupun kanker. Penderita masih di perbolehkan untuk melakukan kemoterapi tapi tidak dengan radiotrapi. Penghentian rangkaian pengobatan begitu saja pada pasien hanya akan memperparah kondisi pasien. Jadi saya menyarankan istri Anda untuk melakukan kemoterapi kembali dan untuk saat ini istri Anda perlu istirahat yang cukup dan menenangkan pikirannya. Stress yang dialami istri Anda adalah salah satu pemicu aktifnya kembali sel tumor pada istri Anda, karena menurunnya sistem kekebalan tubuhnya yang melemah ditambah kondisinya yang berbadan dua saat ini." Terang Dokter Mateo pada Hendra yang membuat Hendra terdiam dan berpikir.
Ya. Hendra sedang berpikir, bagaimana bisa Dokter Mateo menyimpulkan jika Silvi, istrinya itu sedang mengalami stress. Jika memang Silvi mengalami stress. Hal apa yang membuat istrinya itu stress? Hendra merasa istrinya itu terlihat baik-baik saja dan dia masih bersikap manis dan seakan mencintai istrinya itu. Lagi pula didalam rumah tangga mereka tidak pernah adan masalah apalagi keributan. Hendra memainkan perannya sebagai suami yang baik secara apik hingga Silvi tak menyadari kebaikan dan kasih sayang yag diberikan suaminya hanyalah sebuah kesemuan belaka.
Tak mau membuang waktunya yang berharga, melihat Hendra yang diam mematung, Dokter Mateo memilih pergi meninggalkan Hendra untuk kembai memeriksa pasiennya yang lain.
Setelah kepergian Dokter Mateo, Hendra sibuk mengurus administrasi untuk melanjutkan perawatan Silvi di rumah sakit itu. Silvi di tunggu oleh kedua orangtuanya dan juga kedua orang tua Hendra.
Didalam hati Gunawan dan Riska merasa sangat sedih, bagaimana bisa keluarganya mendapatkan cobaan bertubi-tubi. Pertama putrinya dan sekarang menantunya.
Kedua orang tua Silvi tak terlalu banyak bicara, meskipun rasa kecewa pada menantu mereka satu-satunya kini mereka rasakan. Tapi mereka memilih menelan rasa kecewa mereka demi kebahagiaan putri mereka satu-satunya.
"Berjuanglah sayang! Lawan segala rasa sakit mu, demi kebahagiaan mu yang hanya sesaat ini," bisik Nyonya Sari lirih pada putri semata wayangnya yang terbaring di brangkar rumah sakit, dengan deraian air mata. Tuan Mardi yang berdiri di samping sang istri hanya bisa menguatkan istrinya dengan merangkul tubuh tua istrinya itu.
__ADS_1
"Sabar Mom, percayalah anak kita bisa melalui semuanya dan kembali sehat seperti sedia kala," ucap Tuan Mardi oada istrinya yang terus saja menangis menatapi kondisi putri semata wayang mereka.
Tak butuh waktu lama, Hendra yang sudah mengurus administrasi perawatan untuk Silvi. Membuat Silvi segera di pindahkan oleh pihak rumah sakit keruang rawat yang bersebelahan dengan ruang rawat Nayla. Hal ini sengaja di ambil untuk memudahkan kedua orang tuanya agar bisa menengok keduanya dalam waktu bersamaan.