
Bayu dan keluarga kecilnya melangkah masuk ke dalam ruang keluarga, namun baru beberapa langkah kaki mereka melangkah. Linda berjalan menghampiri mereka dan menarik pergelangan tangan Bayu.
"Bayu, tunggu!" Linda berhasil menghentikan langkah Bayu.
Bayu melirik tajam tangan Linda yang menyentuh pergelangan tangannya. Linda yang menyadari ketidak sukaan Bayu segera melepaskan pergelangan tangan Bayu.
"Maaf," cicit Linda yang sama sekali tak ditanggapi oleh mantan suaminya itu.
Setelah tangannya di lepas, Bayu dan keluarga kecilnya kembali melangkah masuk ke dalam, tanpa memperdulikan Linda yang berdiri mematung.
Menyesal. Tentu Linda menyesal saat melihat keharmonisan keluarga kecil Bayu saat ini.
"Bodoh...aku memang bodoh, tak seharusnya aku meninggalkan mu demi pria itu. Seharusnya akulah wanita yang kamu rangkul Bayu, bukan perempuan botak itu." Gumam Linda di dalam hatinya.
"Maaf Jeng Sonya, jika tidak ada keperluan lagi bisakah Anda pergi dari rumah kami ini. Karena sebanarnya hari ini kami ada acara makan malam keluarga." Ucap Ratna yang terang-terangan mengusir mantan besannya itu.
"Jeng Ratna, apakah kami ini sudah tidak dianggap lagi sebagai keluarga? Padahal kami ini masih ada hubungan darah dengan cucu Jeng Ratna loh, betul kan Tuan Tama?" Ucap Sonya dengan pura-pura ramah pada kedua mantan besannya itu. Ia menatap Tuan Tama seakan meminta jawaban dari pertanyaannya itu.
"Ya kalian memang benar ada hubungan darah dengan cucu ku, tapi sayangnya kalian bukan anggota keluarga kami. Saya tahu kalian ingin sekali ikut bergabung untuk makan malam bersama dengan kami, bukan?" Tanya balik Tuan Tama yang menatap malas Sonya, ibunda dari Linda, dengan tanpa menyebut namanya.
Sejak tadi Tuan Tama tak ingin menyebut kedua nama manusia yang duduk di depannya, saat ia berkesempatan bicara dengan kedua manusia tak punya hati ini. Rasa enggan, kecewa dan sakit hati membuatnya begitu berat menyebut nama keduanya yang ia anggap terkutuk itu.
Orang tua mana yang tak sakit hati jika anak dan cucunya ditinggalkan begitu saja demi pria lain selama bertahun-tahun lamanya, dan sekarang datang kembali pada mereka tanpa rasa malu.
Ya. Tanpa rasa malu dan penuh percaya diri keduanya kembali muncul kehadapan kedua orang tua Bayu. Mereka juga terang-terangan mengutarakan maksud kedatangan mereka pada kedua orang tua Bayu tanpa takut ditolak ataupun diusir.
Mereka jadikan Sultan sebagai senjata untuk niat mereka kembali menjadi bagian dari keluarga Pratama.
"Untuk kali ini saya izinkan kalian makan malam bersama kami. Tapi saya tak mau menanggung resikonya, jika kalian akan kesulitan menelan makan malam kalian nanti." Balas Tuan Tama dengan kalimatnya yang ambigu.
Ia bangkit dari posisi duduknya dan pergi berlalu begitu saja, ia berjalan menyusul keberadan keluarga kecil Bayu yang ada di ruang keluarga.
Di dalam ruang keluarga. Nayla tengah duduk di lantai yang dilapisi dengan permadani. Nayla duduk bersandar pada sofa yang diduduki oleh Bayu, hingga tubuhnya berada diantara dua kaki Bayu. Sesekali ia menyadarkan kepalanya di kaki Bayu dan Bayu mengusap kepala plontos Nayla yang di beri bandana pita seperti biasanya dengan rasa penuh cinta, sembari bertukar oesan dengan asisten pribadinya, Nathan.
__ADS_1
Sedangkan Sultan, tentunya ia duduk di atas pangkuan Nayla sembari memegangi mobilannya yang sengaja ia bawa dari rumah. Tadinya Sultan ingin bermain mobilan dengan Sang Oppa sembari menunggu jam makan malam, tapi apa daya, ada tamu tak diundang yang menyebabkan keinginan Sultan urung di laksanakan dan tumben sekali putra sambungnya itu terus menempel pada dirinya seperti orang yang sedang ketakutan.
Posisi duduk mereka yang seperti anak tangga ini terlihat sangat romantis. Beberapa asisten rumah tangga yang melihatnya terus membicarakan keharmonisan mareka dari belakang, apalagi ada mantan Nyonya muda mereka yang sangat sombong di ruang tamu kediaman Tuan mereka ini. Makin membuat mereka sibuk membandingkan antara Linda dan Nayla.
"SULTAN!!" Pekik Tuan Tama ketika ia hampir sampai di ruang keluarga.
Ia memanggil cucunya yang berada dalam pangkuan Nayla dengan merenggangkan kedua tanggannya. Berharap sang cucu berlari dan memeluknya.
Namun sayang, Sultan yang dipanggil sang Oppa tidak seperti biasanya. Biasanya ia berlari menghampiri sang Oppa jika di panggil sang Oppa dengan cara yang seperti itu, tapi hari ini tidak. Sultan menggeleng dan memeluk erat tubuh Nayla.
"No Oppa, Sultan ndak mau," tolak Sultan ketika ia melihat sosok Linda berjalan di belakang Tuan Tama bersama Ratna dan Sonya.
"Mami tolong aku," ucap Sultan yang memegang kencang leher Nayla hingga ia kesulitan bernapas.
Nayla refleks memukul kaki Bayu yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Bayu yang refleks mendekatkan wajahnya pada kepala Nayla.
"G-gak bisa nafas, Sultan," jawab Nayla dengan susah payah.
Uhukk...uhukk... [Nayla terbatuk-batuk]
Ya. Nayla sampai terbatuk-batuk karena terlalu kuatnya Sultan memeluk lehernya.
"Mami..Mami..." panggil Sultan yang terus meronta dari pelukan Bayu.
Bayu memberi kesempatan Nayla untuk menghirup oksigen lebih banyak dan bangkit dari posisi duduknya. Melihat anak sambungnya terus meronta, Nayla segera bangkit dari duduknya. Ia berdiri di depan sofa yang Bayu duduki.
"Papi, Sultan mau di gendong Mami. PAPI!!" Ucap Sultan saat ia menangis dan meronta di dalam pelukan Bayu.
Nayla yang sudah bangun segera mengambil kembali putranya dari pelukan Bayu.
"Sini sayang," Nayla menjulurkan kedua tangannya, ia ingin mengangkat tubuh Sultan yang berada dalam pelukan Bayu yang masih duduk di sofa.
__ADS_1
Namun Bayu urung memberikan putranya pada istriku dalam posisi seperti ini, mengingat istrinya tengah hamil muda. Bayu segera berdiri dan memberikan Sultan yang sudah berhenti menangis pada Nayla.
Melihat Sultan sepeeti itu, Tuan Tama seketik menaruh curiga pada tamu tak diundang mereka. Sejak Sultan menangis mata Tuan Tama menatap tajam Linda yang ternyata berdiri tepat dibelakang dirinya.
"Apa yang dilakukan wanita tak berperasaan ini pada cucuku? Tidak mungkin dia menangis karena panggilan ku barusan, pasti dia menangis karena melihat siapa yang berada di belakang diriku. Aku harus segera mencari tahu tindai tanduknya dibelakang diriku juga Bayu." Batin Tuan Tama yang saat ini makin membenci sosok mantan menantunya itu.
Tak hanya Tuan Tama yang menaruh rasa curiga, Bayu pun juga merasakan hal yang sama. Ia terlihat datar dan dingin ketika Linda dan ibunya ikut masuk ke dalam ruang keluarga.
"Rencana licik apa yang sedang kalian jalankan hum? Aku akan mengikuti semua alur permainan kalian. Aku tak perlu repot-repot mengusir kalian dari hidupku, karena aku yakin istri hebatku akan melempar kalian ke kutub utara." Batin Bayu saat ia melihat keberadaan Linda dan Ibunya di ruangan yang sama dengannya.
Di ruang makan, untuk kali pertama Sultan ingin duduk diantara kedua orang tuanya. Ia seakan meminta perlindungan dari kedua orang tuanya. Nayla dan Bayu yang mengerti, mengiyakan semua permintaan putra mereka.
Saat acara makan malam di mulai, Nayla pun mulai beraksi. Karena dengan terang-terangan Linda yang duduk tepat di depan Nayla, terus menawarkan makanan pada Bayu. Meskipun Bayu terus menolak, Nayla tetap jengah melihat dan mendengar suara Linda.
Brukk!! [Nayla menggebrak meja makan]
Suara gebrakan meja makan yang dilakukan Nayla membuat semua orang terkejut tanpa terkecuali. Seluruh mata memandangnya tapi Nayla malah kembali dengan aktivitasnya, mengurus Sultan terlebih dahulu barulah Bayu selanjutnya. Bayu dengan sabar menunggu giliran diurus oleh istrinya yang sudah mulai bertanduk itu.
"Sangat tidak sopan," umpat Sonya dengan suara pelan namun masih dapat didengar ditelinga semua orang termasuk Nayla.
"Cari masalah," batin Bayu, Tuan Tama dan Ratna.
Nayla yang sedang meletakkan sop kedalam mangkuk untuk Sultan pun mulai bereaksi.
"Sultan anak Mami, ingat pesan Mami ya sayang. Jangan pernah Sultan ikut makan ataupun meminta makan di rumah orang, jika Sultan tidak diajak apalagi di undang oleh pemilik rumahnya, ya. Itu sangat tidak tahu malu sayang," sindir telak Nayla pada kedua orang itu sekaligus.
Tuan Tama, Bayu dan Ratna yang mendengar ucapan sindirian Nayla hanya bisa menahan tawa. Ketika secara bersamaan, mereka juga melihat raut wajah kesal dari wajah Sonya dan Linda, saat keduanya mendengar sindirian Nayla untuk mereka.
Sedang Sultan yang tak tahu apa-apa, menganggap ucapan Nayla hanya sebuah nasihat langsung mengiyakan perkataan ibu sambungnya.
"Iya Mami, Sultan gak akan seperti itu. Buat Mami dan Papi malu." Jawab Sultan yang malah memberikan ciuman penuh cinta di pipi Nayla.
Rasa panas di hati karena tersindir dan cemburu melihat anak yang dilahirkannya antara hidup dan mati, begitu menyayangi dan menurut dengan ibu sambungnya, kini sedang Linda rasakan.
__ADS_1
"Sialan, wanita botak itu begitu dicintai anakku sedang aku. Melihat diriku saja ia takut. Ini tak bisa dibiarkan. Jika aku mau kembali pada Bayu, sepertinya aku harus mengambil hati putraku lebih dulu." Batin Linda yang menatap tak suka kedekatan Nayla dan putra kandungnya.
Dan drama di meja makan pun tak berhenti sampai di situ. Karena Nayla tak akan membiarkan kedua orang itu nyaman saat menyantap makan malam bersama dengan keluarganya.