
Suasana hiruk pikuk sudah mulai berlangsung bahkan sejak mentari belum menunjukkan sinarnya.
Beberapa kerabat mulai berkumpul, untuk membantu persiapan ataupun hanya sekedar meramaikan suasana pagi itu.
Sementara di kamar, terlihat seorang wanita termenung duduk menatap jendela kamarnya. Perasaannya tampak berkecamuk, antara senang dan juga merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi.
Pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka, memperlihatkan seorang wanita muda yang berjalan ke arahnya. Wanita yang tidak lain adalah tunangan Ricky terlihat tersenyum dan berjalan kian mendekati Siena.
"Kamu sudah bangun?" tanya Tasya.
"Aku gak bisa tidur malah, Kak. Aku, kan udah terbiasa kesulitan tidur malam," ucap Siena sambil tersenyum tipis.
Tasya membelai lembut rambut panjang Siena dan berkata, "Masa pengantin begadang. Nanti sakit bagaimana?"
"Ya gak apa-apa, aku udah terbiasa sakit. Kalau aku sehat, baru aneh," jawab Siena sambil tersenyum kecut.
Dilihatnya pantulan wajahnya di cermin, Siena mengingat dengan sangat jelas perkataan ibundanya kala terakhir kali Siera datang menemui dirinya.
__ADS_1
Siera menghela napasnya, hari pernikahan yang selalu dinanti oleh dirinya, entah mengapa tidak terasa membahagiakan.
Sorot mata gadis itu menyiratkan beban pikiran yang ia tanggung seorang diri.
"Kamu mikirin apa? Coba cerita, siapa tahu bisa buat hatimu sedikit lega," ucap Tasya menawarkan.
Siena tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya dan menatap lawan bicaranya dengan seksama.
"Aku memikirkan Siera. Apakah ia akan datang saat pernikahanku nanti?" ucap Siena lirih.
"Siera sangat menyayangi kamu, Kakak yakin jika dua pasti datang, apapun yang terjadi. Lagipula, hari ini adalah pernikahan antara saudari kembarnya dan juga sahabatnya, aku benar-benar yakin jika Siera tidak akan pernah mau melewatkannya. Ya sudah, lebih baik kamu istirahat dulu selagi ada waktu. Jika MUA sudah datang, jangan harap kamu bisa duduk sambil bersandar," ucap Tasya terkekeh.
"Hah!" Nuga menghela napasnya berat. Rasanya ingin sekali dirinya pergi dari rumah dan lari meninggalkan pernikahan yang memuakkan.
Pernikahan yang hanya dikehendaki sebelah pihak tanpa peduli dengan pendapat dirinya terlebih dahulu.
Kedua tangannya mengepal dengan erat, pikirannya melayang mengingat kejadian satu pekan yang lalu, di mana dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ibu dari Siera memperlakukan Siera. Namun dirinya tak mampu berbuat apapun, dan semakin menimbulkan kebencian Nuga atas ketidakberdayaannya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus berhutang budi pada mereka? Sial!" umpat Nuga seraya melemparkan sebuah pakaian pengantin yang akan ia pakai ke sembarang arah.
Waktu pun kian berlalu, cahaya mentari mulai berangsur naik menghiasi pelataran cakrawala.
Sejak setengah jam yang lalu Siera sudah terbangun dan bersiap. Gadis itu menatap pantulan dirinya di hadapan cermin, dan memoleskan riasan pada wajahnya yang sudah cantik.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamarnya diketuk, perlahan Siera beranjak dan berjalan ke arah pintu kamarnya.
Senyuman Nikolai sontak menyambut dirinya saat membuka pintu kamarnya, membuat perasannya sedikit lebih baik sebelum ia datang untuk menyaksikan acara akad nikah pria yang merupakan cinta pertamanya dengan saudari kembarnya sendiri .
"Morning!" sapa Nikolai
"Ada apa?"
"Kamu yakin mau berangkat sendiri? Aku siap kok mendampingi kamu, atau sekedar mengantar kamu saja dan menunggu di dalam mobil," rengek Nikolai entah untuk keberapa kalinya.
__ADS_1
Sikap Nikolai membuat dirinya tertawa kecil, lalu Siera pun berucap, "Mohon sabar, karena seperti aku bilang. Pertunjukannya bukan sekarang, Sayang!"