
"Tentu saja tidak terjadi baku tembak, yang terjadi nanti hanya bagi-bagi sembako hahahaha.." sahut Leon sembari tertawa.
Leon begitu puas menertawakan Bayu yang nampak begitu bodoh, sudah tahu menggunakan rompi anti peluru tentu saja akan terjadi baku tembak nantinya. Pasalnya yang mereka hadapi adalah sekomplotan mafia, bukannya sekomplotan ibu-ibu rumpi yang berharap mendapat sembako gratis.
"Menyebalkan sekali mulutmu Leon, kau terlalu banyak bergaul dengan ibu-ibu sehingga mulutmu sudah sama persis seperti mereka, julid." Timpal Bayu kesal, kanareon tak berhenti menertawakannya.
"Bagaimana dia tidak bergaul dengan ibu-ibu, Anna adik sepupuku itu, paling suka ikut arisan dan kau tahu Bay, Anna selalu membawa dia di setiap kali dia mendatangi acara arisan sosialitanya. Jadi wajarlah jika mulut kakak iparku ini persis sama seperti mereka hahahaha..." Tambah Andre menimpali ucapan Bayu. Kali ini Andre mampu membuat Bayu sedikit rileks dengan ucapannya.
"Kalian tidak tahu betapa menyenangkannya duduk bersama deretan para ibu-ibu yang memuja ketampananku. Anna saja bangga memiliki suami tampan sepertiku." Ucap Leon penuh percaya diri ia membanggakan kelebihan pada dirinya di hadapan kedua orang yang sangat kesal padanya karena sikap dan sifatnya yang menjengkelkan.
Hahaha [kembali Bayu dan Andre tertawa karena ucapan Leon]
Kesel terus ditertawakan oleh Andre dan juga Bayu. Leon pun yang sudah siap dengan peralatan tempurnya segera pergi meninggalkan Andre dan juga Bayu, yang sampai saat ini belum siap untuk berangkat karena terus menertawakan dirinya.
"Lamban sekali kalian! Keburu Anna bangun dari tidurnya." Umpat Leon ketika Andre dan juga Bayu masuk ke dalam mobil anti peluru yang ada di garasi Jimmy.
"Hah! Kau pergi tanpa izin dia?" Tanya Andre pada Leon. Andre menatap serius wajah Leon yang duduk di kursi samping pengemudi.
"Kau pikir adik sepupumu itu akan mengizinkan aku, main perang-perangan dengan kalian? Aku lecet sedikit saja dia akan menangis dan teriak-teriak, seakan aku mau mati saja." Sahut Leon yang mengingatkan Andre jika, Leon selalu tidak boleh dilibatkan dalam segala suatu hal mengenai kekerasan oleh Anna.
__ADS_1
Anna terlalu bucin dengan Leon, ia selalu takut dan khawatir suaminya lecet ataupun terluka. Demi menghindari sesuatu yang buruk terjadi terhadap suaminya, ia lebih baik mengantongkan suaminya di dalam mansionnya.
"Berarti kau dalam masalah besar sekarang Kakak Ipar." Balas Andre dengan senyum menyeringai.
"Cih, kaya kau tidak saja. Pasti adikku tidak mengetahui kalau kau akan pergi menyusul Jimmy bukan. Bukankah adikku masih trauma dengan kejadian dimasa lalu?" Sahur Leon yang kembali mengingatkan Andre mengenai kejadian penculikan Jessica dan keluarganya yang berujung Andre terluka.
"Hah, kalian ini terus berdebat kapan kita perginya?" Tanya Bayu yang sudah mulai gusar, iya begitu emang khawatirkan kondisi sang istri di sana.
Sementara Bayu gusar mahawatirkan kondisi Nayla, Nayla di sana malah terlihat bersenang-senang bersama Endah dan juga Amel. Sedangkan Jimmy merasa kelimpungan karena strategi yang telah ia buat menjadi kacau balau karena kehadiran tim rusuh yang dikepalai oleh sang istri.
30 menit sebelumnya. Tiba-tiba Jimmy melihat mobil sedan mewah yang dilengkapi dengan fitur anti peluru melewati mobil miliknya.
"Kita tidak punya plan b ataupun c, kedatangan mereka sama sekali tidak kita duga, jadi bagaimana ini Tuan." Ucap Angela yang berada di kursi depan.
"Yah mau bagaimana lagi biarkanlah dia yang memimpin," jawab Jimmy ya sudah tak tahu harus bagaimana lagi.
Angela segera memberitahukan pada Borni dan juga Septian tentang kedatangan tim pengacau pada misi mereka. Keduanya yang sedang menyaksikan Hendra di siksa oleh Tuan Yudha pun menatap Tuan Yudha dengan tatapan kasihan.
Bukannya mengasihani Hendra yang tengah disiksa. Setelah membaca pesan Angela baik Borni dan juga Septian, menatap iba pada pria tua yang usianya sudah lebih dari setengah abad.
__ADS_1
"Kenapa Anda mencari akhir takdir hidup Anda dengan cara mengenaskan Tuan," cicit Borni di dalam hatinya.
"Tidak mungkin Anda tidak tahu dengan siapa Hendra bergaul, kenapa kau mencari azal mu sendiri Tuan Yudha? Apa kalian sudah rindu pada putri kalian, hingga kalian sengaja melakukan ini?" Septian bermonolog di dalam hatinya, ia sungguh tidak tega dengan apa yang terjadi nanti pada sepasang suami istri yang tengah menyiksa Hendra.
Keduanya tahu betul bagaimana beringasnya Endah, bahkan di dunia mafia, kini nama Endah sebagai istri Jimmy sudah diperhitungkan kemampuannya.
Sembari menyesap sebuah cerutu Tuan Yudha terus menghajar wajah Hendra yang sudah tak berbentuk lagi. Hendra hanya diam menikmati rasa sakit yang diberikan oleh mantan mertuanya. Ia nampak begitu pasrah, dengan apa yang terjadi pada dirinya hari ini. Jika dia harus mati di tangan mantan mertuanya, ia pun sudah ikhlas. Karena ia paham betul hati kedua mertuanya sangat sakit kehilangan Putri tunggal mereka yang sangat mereka sayangi.
"Kenapa kau sampai hati menyakiti perasaan putriku, hanya demi wanita itu? Apa kau sengaja menyakiti putriku demi menjatuhkan bisnisku? Dibayar berapa kau dengan Dia, Hendra?" Tanya Tuan Yudha yang duduk di sebuah kursi berhadapan dengan Hendra.
Hendra hanya diam dengan menundukkan kepalanya, ia tak punya tenaga untuk menjawab pertanyaan mantan mertuanya itu. Andai saja Tuan Yudha tahu, mantan menantunya ini hampir tak mampu lagi untuk menahan rasa sakit yang ia rasakan di bagian kepalanya, karena Tuan Yudha berulang kali memukulnya dengan botol.
"Daddy, bunuh saja dia sekarang! Mommy mau dia mati, Dad hiks..." Pekik istri Tuan Yudha, Nyonya Sari. Yang sangat menginginkan kematian Yudha sebagai hukuman karena telah menyebabkan putrinya tidak ada.
Padahal seperti yang diketahui Silvi pun cepat atau lambat akan tiada karena penyakit yang diidapnya, mengetahui perasaan Hendra terhadap Amel adalah suatu kebetulan yang mempercepat ajal menjemput dirinya.
Dalam masalah ini Hendra tidak sepenuhnya bersalah, karena Tuan Yudha dan juga dokter Neil mantan tunangan Silvi, yang datang menyodorkan sebuah kerjasama, di mana awalnya Hendra pernah menolak. Namun dokter Neil berhasil membujuknya, dengan iming-iming akan membantu Hendra mendapatkan Amel sepupunya yang menjadi wanita yang amat sangat ia cintai hingga saat ini.
Seharusnya kematian Silvi juga harus dipertanggung jawabkan oleh Tuan Yudha dan juga dokter Neil. Namun Tuan Yudha, seakan mengalihkan semua kesalahannya telah menipu perasaan putrinya dengan membeli cinta palsu Hendra, yang hingga saat ini uang yang dijanjikan Tuan Yudha tak Hendra dapatkan. Selain belum diberikan Hendra pun menolak untuk menerima uang tersebut, karena ia sadar akan kesalahannya.
__ADS_1
Sedangkan dokter Neil tidak mungkin lagi dimintai pertanggung jawabannya di dunia ini. Karena dokter muda itu telah tiada, dokter muda yang awalnya sangat mencintai Nayla ternyata menyadari bahwa dirinya juga mencintai Silvi. Dia memilih mengakhiri hidupnya karena rasa penyesalan terdalamnya.