Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 219


__ADS_3

Naufal menggelengkan kepalanya saat ia mendengar ucapan Alben, yang dengan mudahnya menyuruh dirinya untuk mengikuti apa yang ingin Alben perbuat.


"Tidak Ben, gue tulus mencintai Nayla. Gue mau pacaran sehat sama dia. Gue gak mau rusak dia hanya karena nafsu dan rasa penasaran gue." Tolak Naufal tegas.


"Ok. Kalau lo gak mau. Ya udah. Tapi jangan ganggu kesenangan gue. Minggir lo!" Balas Alben.


Bukannya minggir, Naufal terus berusaha menghalangi niat buruk sahabatnya pada sahabat kekasihnya. Duel pun terjadi. Baku hatam antara sahabat dekat ini terjadi cukup lama.


Hingga pergerakan Naufal yang sudah dalam keadaan terkunci oleh Alben. Dengan mengambil kesempatan yang ada dan tenaga yang tersisa, Naufal meraih botol miras yang ada di atas meja.


Brugh!!!


Alben terjatuh saat Naufal memukul kepalanya dengan seluruh sisa tenaga terakhir yang ia miliki dengan botol miras yang berhasil Naufal raih.


Malang menimpa Naufal, ternyata Tuan Alvin berada di villa itu. Ia yang terkejut melihat kondisi putranya langsung menghampiri Alben.


"Apa yang kau lakukan pada Alben, Naufal?" Tanya Tuan Alvin yang terlihat sangat marah dan kecewa pada Naufal, sahabat putranya.


"Dia ingin membunuhku karena aku melarangnya menggagahi Amel. Aku hanya berusaha menyelamatkan diriku, Om." Jawab Naufal jujur.


Tuan Alvin menatap tajam Naufal setelah itu ia terus berusaha membangunkan Alben yang ia kira sedang pingsan.


Saat Naufal lengah dengan cepat Alben menembak Naufal dengan pistol milik sang Daddy yang ia ambil dari belakang pinggang sang Daddy tanpa sepengetahuan Naufal.


Naufal ambruk bersimbah darah, tubuhnya tak lagi bernyawa. Secepat itu nyawanya melayang. Ia tertembak oleh sahabatnya sendiri dari jarak yang sangat dekat.


"Daddy, aku membunuhnya." Ucap Alben yang kini ketakutan.


Bukan takut karena menyesali perbuatannya tapi ia takut Daddy-nya marah dan menyerahkan dirinya ke kantor polisi.


"Jangan khawatirkan Al, Daddy akan mengurus semuanya. Sekarang pergilah ke kamar, bersihkan luka di kepala mu. Sebelum kedua wanita ini terbangun dari tidurnya." Sahut Tuan Alvin dengan tenang.


Tuan Alvin segera meminta anak buahnya untuk membereskan apa yang telah dilakukan putranya terhadap Naufal.

__ADS_1


Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nayla yang sedang pura-pura tertidur, melihat semua yang terjadi pada kekasihnya, dengan cela kecil dimatanya untuk mengintip kejadian ini.


Nayla rasanya ingin menangis, namun ia sangat takut. Jika sampai ia ketahuan menangis, mungkin dirinya akan menyusul keberadan Naufal. Karena dari tangis yang keluar dari dirinya, akan membuat Tuan Alvin dan Naufal mengetahui jika dirinya melihat seluruh kejadian ini.


Dengan merasakan sesak di dada, Nayla tetap berpura-pura tertidur. Hingga seluruh orang suruhan Tuan Alvin mulai membawa tubuh Naufal keluar dari ruangan dimana mereka berada.


Di ruang ini kini hanya ada dirinya dan Amel yang tertidur, ruangan yang dekat dengan anak tangga, membuat Nayla dapat melihat Alben yang sudah membersihkan diri keluar dari Villa ini.


Terdengar suara ribut-ribut dikegelapan malam yang ada di halaman Villa itu. Dimana sebuah api berkobar disebuah jasat yang tak lagi bernyawa.


Ya Tuan Alvin membakar jasat Naufal, sahabat baik putranya yang selama ini, ia anggap seperti anaknya sendiri.


Keributan yang Nayla dengar itu, bukan karena mereka sedang membakar Naufal. Melainkan pertikaian antara Tuan Alvin dengan seseorang yang menganggap Nayla dan Amel adalah bidadari tanpa sayapnya, siapa lagi kalau bukan Bang Andrew.


Nayla segera membangunkan Amel dengan susah payah, demi menyelamatkan diri mereka. Nayla merasa keluarga Alben bukanlah keluarga baik-baik.


Jika Nayla dan Amel tetap di sini, bisa dapat dipastikan keduanya akan bernasib naas seperti Naufal.


"Bangun Ngeee...! Kak Naufal koit!" Ucap Nayla saat ia menampar keras pipi putih mulus Amel dengan kerasnya, hingga Amel bangun sambil meringis.


"Berisik! Kecilin suara lo. Lo mau m4mpus hah?" Ucap Nayla berbisik sembari melirik kanan kirinya.


Amel melepaskan bekapan tangan Nayla di mulutnya dan bertanya ada apa, dan apa yang terjadi.


"Kenapa lo bangunin gue? Ada apa? Gue ngantuk banget nih sumpah."


"Lo cium daging panggang gak sekarang?" Tanya Nayla pada Amel. Saat hidung Nayla menyium aroma daging panggang.


"Iya, Alben lagi masak buat kita ya?" Tanya Amel yang belum tahu dan menyadari jika bau daging panggang itu adalah jasad Naufal yang sedang dibakar oleh Tuan Alvin dan juga Alben kekasihnya.


"Iya, dia lagi masak jasad Kak Naufal." Jawab Nayla.


"Apa? Lo jangan bercanda Nay?" Tanya Amel yang tak percaya.

__ADS_1


"Serius gue gak bohong," jawab Nayla yang kemudian menceritakan apa yang telah terjadi pada Amel, tanpa ada satupun kejadian yang terlewatkan untuk diceritakan pada sahabatnya itu.


"Kita harus pergi secepatnya dari sini." Ajak Amel.


Kemudian keduanya bergegas keluar dari Villa. Namun sebelum Amel dan Nayla keluar, Nayla tak sengaja menendang pistol yang digunakan Alben untuk menghabisi nyawa Naufal. Nayla segera mengambilnya untuk berjaga-jaga.


Saat mereka sudah berada di luar. Mata mereka tak tega melihat anak laki-laki berusia lima tahun menjerit ketakutan, saat ia ingin dibuang ke bara api yang membara.


Tanpa berpikir panjang Nayla dan Amel segera menolongnya, meski mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.


Saat seorang pria berbadan tegap melempar anak laki-laki itu. Amel yang sudah berlari segera menangkapnya, dan untungnya anak laki-laki itu berhasil di tangkap sebelum jatuh ke bara api dimana jasad Naufal hangus terbakar.


Saat seluruh manik mata menatap apa yang dilakukan Amel. Tiba-tiba suara tembakan mengejutkan mereka semua.


Brug!!


Alben jatuh tersungkur di atas rerumputan yang tak lagi terlihat hijau karena genangan darah mengalir deras dari bagian dada sebelah kirinya.


Tuan Alvin terkejut dengan apa yang dilakukan Nayla dan terperangah melihat putra bungsunya tergeletak tak bernyawa.


Kemudian tanpa berpikir panjang. Nayla kembali menembak Tuan Alvin dalam jarak yang cukup dekat. Karena tadinya Alvin dan Alben berdiri saling berdekatan.


Kembali satu nyawa melayang dalam waktu berdekatan di tangan Nayla. Melihat Tuannya tewas. Seluruh anak buah Tuan Alvin mengarahkan senjata pada Nayla.


Namun disaat mereka semua ingin menekan pelatuk senjata api mereka, tiba-tiba Andrew memberikan perintah untuk menurunkan senjata mereka.


"Turunkan senjata kalian! Atau anak istri dan sanak saudara kalian semua akan habis di tangan anak buahku." Pekik Andrew yang kini mengambil kendali kekuasaan.


Mulai hari itulah Nayla dan Amel dianggap sebagai bidadari tak bersayap Andrew yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari kekejaman Tuan Alvin yang merupakan bandar besar penjualan narkoboy.


"Kau tahu Patricia, akulah yang meminta Bang Andrew membakar jasad Alben Balson dan juga Alvin Balson. Dan untuk Paman mu. Aku juga yang menjebaknya hingga masuk penjara dengan sebelah tangan yang patah. Hahaha... Kau dapat merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang begitu mencintaimu bukan? Hahahaha...." Ucap Nayla di akhir dongengnya.


"Kau akan dapat balasannya Nayla, karena Paman ku sudah bebas." Balas Patricia dengan rasa penuh dendam.

__ADS_1


"Hahaha... Jadi dia telah bebas! Baiklah aku sudah tahu dimana kalian menyembunyikan kedua orang tuaku, Amel dan juga kedua mertua tersayang ku yang tak akan pernah menjadi mertua mu. Persiapkan dirimu untuk menyusul keberadan Alben dan juga Alvin Balson. Hahahaha...." Sahut Nayla dengan tawa dan tatapan menyeringai.


"Ikat dia dan kurung dia!" Perintah Nayla pada Septian.


__ADS_2