
"Hei! Apa-apaan ini!" Suara Velly meninggi sering dengan detak jantungnya yang kian berdebar dengan cepat.
Dua orang pria yang sudah menantinya di tepian jalan itu segera membuka pintu taksi dan menyeret paksa Velly walaupun wanita itu terus memberontak.
"Tolong! Tolong! Emph!"
Seorang pria membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan dan langsung membawanya menuju sebuah mobi yang terparkir tak jauh dari sana.
"Apa-apaan ini? Lepas!" jerit Velly yang kini sudah berada di dalam mobil berwarna hitam.
Seorang pria yang disampingnya sontak membulatkan kedua matanya, menatap tajam ke arah Velly dan berkata, "Teruslah berteriak jika mulutmu itu benar-benar ingin dirobek!"
Deg!
Ancaman tersebut nampaknya efektif untuk membungkam Velly yang terus berteriak dan memberontak. Wanita itu sontak terdiam dengan tubuhnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
Pikirannya dipenuhi oleh berbagai spekulasi, Velly tak menyangka jika ada orang lain yang berniat buruk pada dirinya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan lima belas menit lamanya, kini mereka mulai memasuki sebuah komplek perumahan mewah. Perumahan di sana terbilang terawat, bukan tempat mengerikan seperti yang Velly pikirkan di dalam kepalanya.
"Turun!" bentak pria buang sedari tadi di sampingnya. Di luar mobil sesudah terdapat seorang pria yang terlihat berbeda karena tampak tak menyeramkan, pria itu berpakaian formal lengkap dengan sebuah kacamata yang ia kenakan.
"Bawa dia masuk!" seru pria berkacamata itu lalu berjalan terlebih dahulu menuju sebuah rumah yang terlihat mewah dan terawat dengan baik.
Merekapun memasuki ruangan pertama di bangunan mewah itu dengan seorang pria yang sudah menunggunya. Pria berparas tampan dengan lensa mata kehijauan.
"Bos, ini wanita yang bernama Velly."
"Baiklah, sekarang kalian boleh keluar!" seru pria itu.
BRAK!
Pintu kembali terbuka dan memperlihatkan seseorang dengan pandangan penuh kebencian. Sontak saja Velly membulatkan matanya, dia tak menyangka jika Siera berada di balik semua kejadian buruk yang menimpanya.
PLAK!
__ADS_1
Sebuah tamparan melesat sempurna di wajah Velly, kemarahan Siera yang biasanya disembunyikan oleh gadis itu dalam-dalam, kini meluap tak terbendung kembali.
"Kenapa kamu tega pada saya? Apa salah saya padamu?" tanya Siera dengan nada suara meninggi.
Alih-alih ketakutan ataupun menyesal, Velly tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak. Wanita itu terlihat seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya, bahkan ia tak segan menatap kembali Siera yang tengah murka.
"Ha-ha-ha!"
"Siera, kau memang tidak memiliki kesalahan apapun pada diriku, tapi...," ucapnya terjeda. Velly kembali tertawa sambil menatap Siera dengan pandangan yang terkesan meremehkan.
PLAK!
Untuk kedua kalinya Siera melayangkan tamparan pada wajah Velly. Siera sama sekali tidak menyangka jika Velly menanamkan rasa benci yang sangat besar pada dirinya, dan semua ditutupi rapat-rapat selama ini.
Rasa amarah dan merasa dikhianati semakin memuncah, membuat wajah gadis itu terlihat merah padam. Namun, semakin Siera memperlihatkan emosinya yang meluap-luap, maka semakin keras pula suara tawa mengejek dari Velly.
"Siera, Siera, anak yang malang," ucapnya mengejek
__ADS_1
Nikolai yang menyaksikan semua itu cukup tersulit emosi. Tetapi, janjinya dengan Siera membuat ia tak mampu melakukan apapun sebelum semuanya usai, selain menyaksikan dan menjamin keselamatan Siera.
"Siera yang malang. Kau memang tidak memiliki kesalahan pribadi, tetapi kau harus menanggung semua ini karena kakakmu itu telah menghancurkan hidupku!"