Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Saling Menyakiti


__ADS_3

Nuga yang berada di hadapan penghulu pun seketika terbangun dan berlari ke arah Siera yang terjatuh.


Dengan sigap ia segera berusaha membantu Siera untuk bangkit dan membantunya duduk di sebuah kursi yang terdekat.


"Apa kakimu yang sakit?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Siera.


Nuga melepaskan sepatu hak tinggi yang dikenakan oleh Siera dan melihat ada memar pada bagian pergelangan kakinya. Pria itu segera menitahkan seseorang untuk mengambilkan obat oles guna meredakan rasa nyeri tersebut.


"Tahan sebentar ya! Lain kali Kamu harus berhati-hatilah. Kenapa sih dari dulu Kamu ini suka banget terjatuh?" omel Nuga yang sepertinya lupa jika saat itu status dirinya sudah menjadi ipar dari wanita yang berada di hadapannya.


Semua mata turut menyaksikan moment tersebut, tak terkecuali Siena.


Sejak tadi Siena hanya berdiri mematung dengan jemari yang bahkan belum sempat disematkan cincin pernikahan.


Mata gadis itupun teralihkan pada kotak bludru berisikan cincin pernikahan mereka, yang tergeletak di atas lantai begitu saja karena dijatuhkan oleh Nuga.


"Kamu harus berobat biar kakimu tidak semakin parah. Yuk, Aku bantu!" ucap Nuga berusaha untuk membopong Siera.

__ADS_1


Siera mengerutkan keningnya dan menatap Nuga tatapan tajam. Seketika gadis itupun tertawa dan berkata, "Kamu mau bantu Aku kemana?"


"Ya ke rumah sakit lah! Kamu harus diobati, jangan sepelekan loh!" seru Nuga cemas. Tawa Siera semakin keras


"Hahaha ... Nuga, Nuga. Maksudmu, Kamu mau membawaku ke rumah sakit dan meninggalkan pengantinmu?"


Perkataan Siera sontak saja membuat Nuga mematung. Pria itu seakan kembali pada kesadarannya dan menghadapi kenyataan jika dirinya baru saja melangsungkan prosesi akad Nikah bersama dengan Siena.


Menyadari perubahan raut wajah Nuga, Siera pun menggelengkan kepalanya lalu berbisik tepat di telinga Nuga.


Siera segera bangkit lalu berjalan tertatih tanpa mengenakan alas kaki. Rasa sakit di kakinya tak seberapa dibandingkan rasa sakit hati yang ia rasakan.


Gadis itu pun menghirup napas dalam-dalam lalu menaiki mobil milik Nikolai yang sedari tadi setia menunggu di depan gerbang rumahnya.


"Apa yang terjadi, kelinciku?" tanya Nikolai yang mendapati kondisi Siera berjalan pincang tanpa mengenakan alas kaki.


Siera hanya tersenyum tipis dan berkata, "Ayo cepat pergi, aku tidak ingin berlama-lama di sini!"

__ADS_1


Siera ingin meninggalkan rumah yang layaknya sebuah penjara, yang selama ini menjadi saksi bisu dimana dirinya terus saja disiksa batin oleh keluarganya sendiri. Sepanjang perjalanan gadis itu hanya diam sambil menatap ke luar jendela.


"Siera, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Nikolai kembali. Pria itu mengkhawatirkan kondisi Siera yang terus saja termenung tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Matanya memang tidak sedikitpun meneteskan air mata tetapi, dirinya tahu pasti jika hari gadis itu tengah terluka hingga membuatnya bahkan terlalu lelah untuk menangis.


"Sebenarnya kamu hidup dan tumbuh di keluarga macam apa?"


Kalimat itulah yang terus menerus menjadi pertanyaan hati seorang Nikolai tiap kali melihat Siera yang kembali disakiti oleh anggota keluarganya.


Mobil yang dikendarainya mulai memasuki halaman sebuah rumah sakit terdekat. Tanpa menunggu persetujuan gadis itu, Nikolai segera turun lalu membuka pintu yang berada di samping Siera.


"Eh! Niko, Aku bisa jalan sendiri!" seru Siera terkejut saat tiba-tiba Nikolai menggendong dirinya.


Nikolai pun menggelengkan kepalanya, pria yang terkenal akan sifatnya yang keras kepala itupun berkata, "Tidak, kalau jalan sendiri akan terasa menyakitkan. Pokoknya Tuan Putriku ini tidak boleh terluka lagi. Mengerti?"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2