
"Papi kepala mami kayaknya pusing banget deh?" keluh Nayla pada suaminya.
"Kenapa Mih mami sakit?" Tanya Bayu yang langsung memeriksa suhu tubuh Nayla dengan menempelkan telapak tangannya di kening sang istri.
"Iihhh... Ngapain sih Papi orang mami nggak demam. Mami tuh pusing bukan karena sakit. Tapi pusing ngeliatin mention kita rame banget kayak posyandu." Jawab Nayla sembari menyingkirkan tangan Bayu di keningnya.
"Posyandu?" Bayu membeo. Rupanya ia tak mengerti, lupa atau bagaimana dengan apa yang dimaksud istrinya.
"Jangan bilang Papi nggak ngerti posyandu itu apa? Dasar orang kaya, posyandu aja nggak ngerti. Papi sebenarnya gak pantas jadi Dosen, masa Posyandu aja gak ngerti. Bagaimana kalalu ada Mahasiswa Papi yang nama tentang Posyandu sama Papi? Papi mau jawab apa coba? Jangan bilang suruh tanya mbah Google!" Cela Nayla pada sang suami.
Bayu merenggutkan wajahnya dan menyentil kening sang istri, pagi-pagi sudah merusak moodnya jadi ambyar. "Bukan nggak ngerti tapi lupa. Ini karena kebanyakan di jejelin drakor sama kamu. Papi jadi lupa segalanya." Kilah Bayu. Yang kini memilih meninggalkan Nayla seorang diri.
Tak lama berselang. Orang yang ditunggu-tunggu pun datang, siapa lagi yang mereka tunggu-tunggu kalau bukan Amel. Amel begitu terkejut ketika kedatangannya disambut euforia oleh ketiga keluarga kecil, yang begitu heboh menyambutnya.
Mereka berdiri, menghampiri Amel dan berkerumun.
"Hah, kalian kenapa? Mau ngapain?" Tanya Amel bingung.
"Minta makan " Jawab Jessica jujur.
"Minta makan? Kok sama gue, Jess? Ini bukan hari Jum'at kan? Gue juga bukan dinas sosial yang suka kasih makan orang." Balas Amel dengan pertanyaannya yang memancing Hendra tertawa geli di meja makan. Saking gelinya ia tertawa, hingga ia harus memegangi kepalanya yang kembali merasa sakit.
"Aduhhh sakit sekali," rintih Hendra yang membuat Amel ingin melihat kondisi Hendra, namun dihalang-halangi oleh ketiga keluarga yang ingin mencoba masakan Amel yang selalu enak.
"Rasakan!!" Umpat ketiga keluarga ini dengan kompak.
Bayu dan Nayla hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil.
"Awas!" Amel mengusir barisan ketiga keluarga ini namun tak berhasil.
"Siniin dulu bawaan lo!" Pinta Endah yang tak mungkin ditolak oleh Amel.
__ADS_1
Sebuah tas berukuran cukup besar berisi lauk pauk itu pun dibawa Endah ke meja makan. Jessica dan Anna berjibaku menyiapkan piring untuk mereka makan bersama.
Amel hanya bisa pasrah melihat lauk pauk yang ia masak sejak dini hari yang rencananya, akan ia simpan di kulkas untuk persediaan Hendra, akan raib dalam waktu sekejab.
"Kok masaknya banyak sih Ayang? Sengaja ya buat makan bareng?" Tanya Hendra pada Amel yang duduk di sampingnya.
"Udah makan aja, jangan bawel!" Jawab Amel yang dalam mode jutex.
Amel bukannya kesel makanannya dimakan bersama-sama oleh mereka, tapi Amel kesel dengan Hendra. Pasalnya calon suaminya ini masih belum melepas cairan infus di tangannya, tapi sudah pulang ke rumah.
"Kok marah sih? Aku salah apa sama kamu, Ayang?" Tanya Hendra yang terus menatap wajah di tekuk Amel.
"Kamu tuh masih sakit kenapa pulang? Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? Di sini tuh nggak ada dokter nggak ada perawat yang bisa memeriksa kamu setiap saat kamu butuh." Jawab Amel sangat mengkhawatirkan kondisi Hendra.
"Aku emang udah nggak kenapa-napa kok, aku juga lagi nggak sakit. Aku cuma lagi dalam masa pemulihan. Aku nggak mau lama-lama di rumah sakit yang ada rival aku-nya di sana. Kalau dia sengaja nyuntik aku lumpuh atau mati gimana? Kamu mau ya aku mati atau lumpuh atau dalam keadaan koma terus gitu? Apa jangan-jangan kamu mau ya sama dia terus mau nyingkirin aku?" Balas Hendra dengan segala tuduhannya dan prasangkanya. Sikapnya benar-benar kekanak-kanakan.
"Ngomong apa sih Kamu tuh? Habis koma cara berpikir kamu tuh jadi rada-rada gimana gitu."
"Udah ah jangan diterusin nanti kita jadi berantem. Habis makan kita balik lagi ke rumah sakit ya aku nggak mau kamu kayak gini tanpa pengawasan dokter ataupun tenaga medis lainnya." Amel berusaha menghentikan perdebatan mereka, dan menyarankan Hendra untuk kembali ke rumah sakit demi kesehatannya.
"Nggak mau ah, nanti akan ada dokter dan perawat yang datang ke sini kok, buat periksa keadaan aku secara berkala." Tolak Hendra.
"Iya, tapi dokter dan perawat itu perlu alat-alat yang memadai dan di sini tuh nggak ada, Mas." Kekeh Amel dengan pendiriannya.
"Diadainlah. Susah banget. Andre kan punya rumah sakit, dia tinggal telepon alatnya langsung datang kok. Kamu jangan paksa-paksa aku balik rumah sakit lagi dong Ayang, aku tuh nggak mau." Tolak Hendra lagi.
"Ya udah kalau nggak mau awas aja kalau pernikahan kita sampai batal gara-gara kamu sakit lagi." Ucap Amel yang kemudian mengalah.
"Malah kalau aku balik ke rumah sakit pernikahan kita tuh terancam batal. Kamu tuh kenapa sih nggak pernah cerita sama aku tentang dokter sok ganteng itu?" Balas Hendra yang malah kini bertanya tentang dokter Pram.
"Buat apa cerita sama kamu toh itu pun terjadi saat kamu sudah nikah sama ya itu deh." Jawab Amel yang enggan untuk menyebut nama Silvi lagi.
__ADS_1
"Oh pas aku udah nikah ternyata. Makasih ya udah setia sama aku. Makin cinta deh sama kamu ayang." Ucap Hendra sembari menyandarkan kepalanya di bahu Amel.
Sikap romantis Hendra dan Amel pun mencuri perhatian Leon si raja julid.
"Bun lihat deh Bun! Kayaknya dunia terbalik di hubungan Amel dan Hendra ya! Amel jadi cowoknya dan Hendra jadi ceweknya ya kan Bun?" Ucap Leon sembari menunjukan pandangannya ke arah Amel dan juga Hendra.
"Hooh, emang begitu mereka. Amel-nya pemberani tapi Hendra-nya ya gitu, rada cemen dikit, kata bunda sih dia kurang greget jadi cowok gede badan doang." Timpal Anna yang tak kalah julidnya seperti sang suami.
"Hooh ya Bun, sependapat kita. Waktu ayah ikut misi penyelamatan Amel dan Nayla diculik. Dia pingsan tuh Bun, lihat keperkasaan Amel dalam mengatasi penjahat." Tambah lagi Leon. Keduanya benar-benar menjadi pasangan klop yang suka merumpi.
Di saat mereka sibuk dengan obrolan mereka masing-masing tiba-tiba saja Nayla datang membawa dompet kosong ke hadapan Endah. Ia langsung memberikan dompet kosong itu pada Endah begitu saja.
"Apaan nih maksudnya?"tanya Endah pada Nayla.
"Isiin dollar gue lah." Jawab Nayla dengan santai.
"Hah kerjaan nggak kelar juga, masih minta dollar." Sambar Leon yang ikut-ikutan.
"Apa sih bang Leoni?" Ledek Nayla yang kini sering memanggil Leon dengan nama Leoni, karena Leon sering kali ikut acara arisan sosialita Anna.
Semua pun tertawa mendengar Nayla memanggil Leon dengan nama Leoni lagi.
"Gue nggak pernah megang uang cash Nay, lagi pula tanpa lo tagih gue udah transfer duluan, emangnya lo nggak cek mobile banking lo?" Jawab Endah sembari mengembalikan dompet Nayla.
"Kalau lu udah kirim tentunya ada notifikasi di ponsel gue, tapi ini nggak ada Ndah." Jawab Nayla.
Mendengar istrinya mengatakan tidak ada notifikasi. Bayu langsung menundukkan wajahnya. Seketika itu pula Nayla dan Endah memusatkan pandangannya pada Bayu yang makin menundukkan wajahnya dan sesekali melirik ke arah mereka.
"Wah, Nay kayanya suami lu yang gak beres!" Ucap Endah.
"Papi! Jangan bilang kalau uang mami sudah Papi pindahin ke rekening Papi!" Pekik Nayla yang seketika mengeluarkan tanduknya.
__ADS_1