
Pingsan. Ya. Nayla dan Suster Marni pingsan melihat bagaimana Claudia tersungkur dan mengelepar seperti ikan tanpa air di depannya, karena ulah Angel yang menembak matinya.
Melihat Nayla pingsan kedua ibu hamil yang berada di sampingnya segera menolongnya. Sedang Suster Marni yang pingsan ditolong oleh para bodyguard yang disewa oleh Nathan untuk menjaga Nayla dari jauh.
Para Bodyguard itu tak berani mendekat saat Sultan sedang disandera oleh Claudia, karena ia sudah melihat adanya Bowo dan juga Angel di sana. Mereka tak ingin bertindak gegabah saat mereka melihat kedua orang yang sangat terkenal sadis itu berada di sana.
"Bowo sudah hubungi tim A untuk membereskan kekacauan ini?" Ucap Angel yang membersihkan pistolnya yang baru saja memuntahkan timah panasnya di bagian belakang kepala Claudia.
"Sudah Ngel, Tuan Jimmy juga dalam perjalanan ke sini." Jawab Bowo yang ditanggapi santai oleh Angel.
"Biarkan saja dia datang, tidak ada urusan dengan dia, lagi pula kita sudah menjalani tugas kita dengan baik." Balas Angel yang kemudian memasukkan pistolnya ke tempatnya kembali.
"Angel, Bowo. Terusin saja ngerumpinya ya, bukannya bantuin kita di sini! Lihat nih istri Bayu pingsan!" Pekik Anna yang mengomel meminta keduanya segera membantu Nayla yang pingsan.
"Ngobrolin kerjaan dibilang ngerumpi, ya ampun Nyonya Anna, mulutmu sekarang mulai sepedas suami mu,Nyonya." Batin Bowo yang berjalan menghampiri ketiga Ibu hamil itu.
Belum sempat Bowo ingin menyetuh Nayla yang akan ia gendong, tiba-tiba Bayu datang dengan nafas yang ngos-ngosan. Ia berlari karena Jimmy berkata Claudia sudah tiada di tangan Angel. Ia khawatir dengan kondisi istrinya yang pasti shock dengan cara mereka mengeksekusi orang-orang yang dianggap lalat di kehidupan mereka.
"Hai, jangan sentuh istri ku!" Pekik Bayu yang berjalan menghampiri Nayla yang pinsan.
Ia menatap sekilas tubuh Claudia yang tersungkur di lantai dengan darah segar yang masih keluar dari bagian kepalanya.
Bayu segera menyingkirkan tangan Bowo yang ingin meraih tubuh istrinya, ia segera menggendong istrinya dan tanpa kata-kata ia segera pergi meninggalkan restoran mewah itu.
"Aku pulang duluan Ndre, terima kasih atas bantuan anak buah mu yang buat istri ku sampai pingsan begini." Ucap Bayu ketika bertemu dengan Andre yang berjalan santai di muka pintu.
"Ternyata mental si pentol korek lemah juga ya, lihat begitu saja sudah pingsan," ucap Andre dengan tawa meremehkannya.
"Ini hal baru buat dia Ndre, pantas saja jika di pingsan karena terkejut hahaha..." Tambah Jimmy yang ikut tertawa.
__ADS_1
Jimmy yang berjalan santai bersama Andre merasa nafasnya ingin berhenti ketika mendapati tatapan tajam dari Endah dan Jessica.
"Bagus! Seneng ya? Ketawa saja terus Kak Jimmy! Hampir saja calon menantu ku terluka karena dirimu." Omel Jessica yang membuat manik mata Jimmy mendelik.
"Karena aku? Kenapa aku Jess?" Tanya Jimmy yang bingung menjadi orang yang disalahkan padahal dia tak tahu apa-apa.
Belum sempat mendapatkan jawaban dari Jessica. Istrinya sudah berkacak pinggang dengan kepalanya yang sudah bertanduk.
"Papa! Kenapa senjata Mama gak ada pelurunya hah?" Pekik Endah yang membiarkan Jimmy berjalan mendekati dirinya.
"I-itu Mah, e-eeee... Ibu hamil tidak boleh main tembak-tembakan, Pamali katanya," jawab Jimmy asal dengan ekspresi wajah takut diamuk sang istri.
Jimmy memang sengaja mengeluarkan peluru di senjata yag selalu dibawa oleh Endah. Ia tak mau istrinya berlaku bengis selama masa kehamilannya.
"Mana ada Pamali sama yang kaya gituan? Bisa aja suami lo," sanggah Anna yang membumbui keributan Endah dan Jimmy.
Seolah sudah terprovokasi Endah langsung saja menarik dasi yang dikenakan Jimmy hingga kepalanya menjulur ke depan
"Arghhh... Papa udah bikin Mama malu, ayo pulang, Papa memang harus di hukum." Ucap Endah saat ia menarik dasi yang di kenakan suaminya.
"Ampun Ma, inget kamu lagi hamil, nanti kamu bisa lahiran sebelum waktunya," Jimmy mencoba mengingatkan istrinya yang akan melakukan kekerasan padanya.
Melakukan penyatuan asal-asalan adalah hukuman yang selalu Jimmy dapatkan dari Endah. Jimmy akan di buat kewalahan melayani keinginan sang istri yang tak kenal lelah saat bermain kuda-kudaan dengannya. Endah memang wanita langka yang jumlahnya satujuta banding satu di dunia ini.
"Biarkan, biar anak ini lahir dan ikut menyiksa kamu yang bikin Mamanya di tertawakan, Pah. Malu tau Pah, ditertawakan orang itu gak enak" Jawab Endah yang memasukkan Jimmy ke dalam mobilnya dan dia yang mengambil alih kemudi.
"Tapi orang yang ketawain kamu juga udah koit Mah,"
"Tapi koitnya bukan di tangan Mama, tapi di tangan Angel." Sahut Endah yang menatap tajam suaminya yang duduk dengan manis di sampingnya.
__ADS_1
*
*
*
Di kamar pribadinya, Nayla sudah sadar dari pingsannya.
"Papi, Mami ada dimana?" Tanya Nayla yang melihat wajah suaminya ketika ia baru membuka mata.
"Di surga," jawab Bayu asal. Ketika mendapati istri yang dicemaskannya bangun.
"Udah mati dong Mami Pih, kalau ada di surga. Tapi masa ia Mami bisa masuk surga dengan begitu gampangnya, dosa Mami kan banyak," sahut Nayla yang segera beranjak dari tidurnya dan malah menabok pipi suaminya berkali-kali.
Plak-plok [Suara tabokan di pipi kanan kiri Bayu dari Nayla].
"Aduhhh Mami sakit, gak sopan ya mukul suami," rintih Bayu yang menatap tajam Nayla yang malah tersenyum bahagia.
Bayu memegangi pipinya yang sakit dan terasa pedas, Nayla memukulnya sekuat tenaga. Hingga jiplakan tangannya menempel di wajah tampan Bayu.
"Masih di dunia ternyata, kirain benaran udah di surga, " ucap Nayla saat ia melihat pipi Bayu memerah karena hasil pukulannya.
Sungguh Bayu menyesal menjawab pertanyaan istrinya secara asal-asalab barusan. Tau bakalan di tampar bolak-balik seperti ini, dia tak akan lagi-lagi asal bicara dengan istri.
"Mami! Kamu gak minta maaf, sudah kurang ajar nabok suami sendiri?" Tegur Bayu yang ingin marah dengan istrinya.
"Maafin Mami Pih, Mami sengaja tadi." Ucap Nayla dengan gampangnya yang membuat Bayu menghela nafasnya kasar dan menggelengkan kepalanya.
Bagaimana bisa istrinya tak merasa bersalah sudah melakukan kekerasan di dalam rumah tangga terhadap suaminya. Harusnya jika ia ingin mengetahui ia masih hidup atau tidak bisa dengan cara lainnya seperti berdiri di atas lantai contohnya. Jika telapak kakinya sudah tidak menempel dengan lantai tentunya itu suatu pertanda jika dia telah tiada. Atau contoh lainnya mencubit dirinya sendiri. Jika masih merasakan sakit tentunya dia masih hidup. Tapi mengapa Nayla malah menampar bolak balik suaminya. Hingga suaminya berteriak merasa kesakitan. Sungguh Nayla memang istri yang aneh. Benar-benar perlu kesabaran ekstra menghadapi dirinya.
__ADS_1