
"Anak orang kaya ngapain sekolah di kampung seperti ini? Kamu dibuang ya ha-ha-ha ...."
"Awas nanti kulitmu jadi hitam, atau gatal-gatal karena kena air becekan!"
"Kamu kenapa pindah kesini? Jangan-jangan tidak naik kelas ya?"
Ejekan demi ejekan terus didapatkan oleh gadis kecil berusia sepuluh tahun itu. Sejak hari pertama ia mulai memasuki sekolah barunya di sebuah kota kecil, tak ada sehari pun ketenangan menghampirinya kala disekolah. Dikucilkan, diejek, seakan menjadi makanannya sehari-hari. Bahkan gadis yang memiliki sifat periang itu seketika berubah menjadi lebih tertutup dan pemurung.
Kring! Kring!
Bel istirahat berbunyi nyaring, sontak membuat seluruh siswa yang berada di dalam kelas 6B itu langsung bersemangat keluar kelas bersama teman-teman mereka.
Namun hanya satu yang tetap diam berada di dalam kelas, dan lebih memilih untuk mencoret-coret buku gambar miliknya dengan sebuah pensil.
Kesunyian seakan menjadi lebih baik, daripada hanya mendengar ejekan-ejekan yang membuatnya semakin terluka.
"Kamu gak jajan?" Suara seorang anak laki-laki tiba-tiba saja terdengar dari hadapannya.
Sontak saja gadis kecil itu mendongakkan kepalanya dan melihat salah satu teman sekelasnya.
"Tidak," jawabnya.
"Kamu mau? Aku beli dua dan kebetulan aku sudah kenyang," ucapnya sambil menyodorkan sebuah roti panggang yang biasanya dijajakan oleh pedagang menggunakan gerobak.
Gadis kecil itu hanya diam, karena untuk pertama kalinya ada teman sekelasnya yang bersikap baik pada dirinya, hingga membuatnya terperangah dan nyaris tidak percaya.
"Buat Aku?" tanyanya seraya menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya.
Anak laki-laki itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Dengan ragu gadis kecil itu menerima roti bakar tersebut lalu memakannya.
"Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama, namamu Siera, kan?"
"Iya namamu Sierra, kamu siapa?
"Aku N ...."
Kring! Kring! Kring!
Siera membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit kamar yang baru ia huni beberapa jam yang lalu. Kepalanya terasa berat karena memimpikan kejadian yang sudah lampau kala dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.
__ADS_1
Suara ponsel miliknya terus berdering dan mengusiknya, membuatnya segera meraih benda tersebut dan melepaskan kabel pengisi daya yang masih terhubung.
"Ngapain sih? Ganggu aja!" serunya saat melihat siapa yang tengah menghubungi dirinya.
Siera kembali mematikan ponselku lalu memilih untuk berbaring walaupun sudah tak dapat tidur kembali.
Banyak pesan singkat ataupun telepon masuk dari keluarganya, tapi seakan ia sudah tahu isinya, gadis itu terus saja mencoba untuk mengabaikan semuanya.
"Hah ... hidupku kenapa jadi begini?" gumamnya sendiri kala meratapi nasib baik yang seolah tidak pernah berpihak pada dirinya.
Siera melemparkan pandangan ke arah jendela, terlihat jelas lembayung yang menandakan jika mentari sudah nyaris tenggelam keperaduan.
"Dua Minggu lagi, ya! Perasaan sialan."
Tok! Tok! Tok!
"Siera, apa Kau sudah bangun?" Suara Nikolai sontak membuat gadis itu tersentak.
Spontan Siera pun segera bangkit dan berjalan menuju pintu kamar dan membukanya.
"Ya, kenapa?" tanya Siera sesaat setelah membuka pintu kamarnya.
"Kamu mau makan malam pakai apa? Mau makan di sini atau Kita makan di luar?"
Sungguh dia berpikir jika dirinya sudah gila. Karena dirinya nekat tinggal bersama dengan seorang pria yang bahkan baru dikenalnya selama satu hari saja.
"Oke! Kamu istirahat lagi saja, kalau sudah siap Aku akan beritahu," ucap Nikolai sebelum akhirnya meninggalkan Siera sendiri.
Siera pun kembali menutup pintu kamar dan menguncinya. Merasa jika tubuhnya sudah berkeringat dan kotor karena berjalan seharian, ia pun memutuskan untuk membersihkannya diri sekaligus berendam air hangat guna menjernihkan kembali pikirannya yang penat.
***
"Astaga Siera Kamu ini kemana?"
Nuga terlihat frustasi karena mencari keberadaan Siera yang tak kunjung ditemukan. Gadis yang sudah menjadi temannya itu hanya mengirimkan sebuah pesan singkat, yang mengatakan jika dirinya baik-baik saja tanpa memberitahu keberadaannya.
'Nuga, kamu tahu gak apa cita-citaku?'
'Apa?'
'Aku ingin banget mandiri dan keluar dari rumah. Tapi sayangnya aku tidak bisa karena ada seseorang yang harus aku jaga perasaannya.'
__ADS_1
Dialog singkat dirinya dengan Siera dahulu itu pun tiba-tiba terlintas kembali diingatkannya. Siapa sangka jika hal yang dirinya kira hanya sebuah omong kosong dan gurauan semata, ternyata pada akhirnya benar-benar gadis itu lakukan.
Pria itu pun menghela napasnya, lalu menepikan mobilnya di bahu jalan. Diusapnya wajahnya dengan kasar, Nuga terus mengumpat akan ketidakberdayaan dirinya.
Kring! Kring!
Tiba-tiba ponsel miliknya berdering, dengan cepat pria itu segera meraihnya dan berharap jika Siera yang tengah menghubunginya. Namun seketika raut wajahnya pun berubah, semua harapannya kembali terpatahkan karena Siena lah yang menghubunginya.
Dengan berat hati pria itu pun segera menerimanya, dan mendengar ucapan Siena.
"Siena, kamu kenapa?" tanyanya setelah mendengar suara isakan tangis yang sangat jelas.
"Nu-ga, S-siera pergi. Kamu di mana? Aku butuh kamu," ucapnya disela-sela isakan tangisnya.
"Ya, aku tadi dari rumah pasien," jawab Nuga berdusta.
"K-kamu bisa cepat kesini?"
"Baiklah, kamu tunggu aja ya. Aku kesana sekarang juga," jawabnya lalu memutuskan panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Siena.
Nuga kembali mengemudikan mobilnya dengan raut wajahnya yang terlihat tidak bersemangat. Pria itu juga terus menerus menghela napasnya seakan tengah dipaksa melakukan hal yang tidak ia sukai.
Sementara itu Siena terlihat panik sambil terus menerus nuntut Ricky untuk menghubungi Siera.
Siena tidak peduli walaupun kondisinya saat itu sedang tidak baik-baik saja, bahkan infus yang masih terpasang di lengannya pun mulai mengeluarkan darah karena dirinya yang terus bergerak.
"Tenang saja, Siena. Nanti adikmu itu akan pulang sendiri, dia sudah dewasa tidak perlu dicari-cari. Sekarang lebih baik Kamu pikirkan kesehatan Kamu dulu." Ricky berusaha untuk mengalihkan perhatian Siena, ataupun sedikit menenangkan hati adik kesayangannya. Namun gadis itu sama sekali tidak mendengarkan perkataan Ricky, yang ada dipikirannya hanyalah Siera seorang.
"Ini semua gara-gara Kakak! Andai Kakak sedikit saja bersikap lembut pada Dia maka semuanya tidak akan seperti ini! Bagaimanapun Siera itu perempuan, bagaimana jika ada orang yang berniat jahat padanya?"
"Cukup Siena, baiklah! Kakak akan mencari Siera, tapi tolong Kamu jangan mengamuk seperti ini! Bagaimana kalau Kamu mimisan lagi?" ucap Ricky dengan lembut, sikap pria itu sangat jauh berbeda sikapnya jika tengah berhadapan dengan Siera.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat keduanya pun terdiam dan langsung mengalihkan perhatian. Terlihat sosok pria yang sedari tadi ditunggu Siena, berada dari balik pintu yang mulai tebuka.
"Nuga!" seru Siena.
Melihat kedatangan Juga sontak saja Ricky bangkit, pria itu pun menatap Siena seraya berkata, "Nuga sudah datang, Kakak keluar dulu mau coba hubungi Siera lagi."
Setelah mendapatkan anggukan dari Siena, pria itupun kembali melangkah menuju pintu. Langkahnya tiba-tiba terhenti sejenak kala dirinya sudah tepat berpapasan dengan Nuga yang sedari tadi terdiam di ambang pintu lalu berbisik lirih.
__ADS_1
"Kau paham kan, apa yang harus Kau lakukan?"
...****************...