
Mengingat betapa menguntungkannya proyek bisnis ini bagi Andre di kemudian hari. Andre dan Jimmy pun masih berusaha untuk mendapatkan lahan tersebut.
Jika dengan cara pertama mereka tidak berhasil, maka mereka akan menggunakan cara kedua mereka melalui bantuan para istri-istri mereka. Untuk merayu Nayla dan juga Amel untuk menjual lahan mereka itu pada mereka.
Di mansion Andre. Ketika ingin tidur Andre beracting seperti orang yang sedang dilema dan di landa frustrasi.
"Daddy, kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Jessica yang kini sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dimana Andre sudah terlebih dahulu ada di sana.
"Iya Mommy. Bisnis Daddy sedang mengalami kendala." Jawab Andre yang tersenyum senang di dalam hatinya. Karena Jessica terpancing ke dalam perangkapnya.
"Kendala? Terkendala gimana? Ceritakanlah Daddy, siapa tahu Mommy bisa membantu Daddy!" Tanya Jessica lagi.
"Owhh istriku yang baik hati, terima kasih. Aku memang ingin meminta bantuan mu Darling." Cicit Andre di dalam hatinya.
"Mommy yakin bisa bantu Daddy. Ini berhubungan dengan dua teman baikmu." Jawab Andre, ia menampilkan wajah murung yang membuat Jessica terlihat sedih melihatnya.
"Hei honey, kenapa jadi murung hum. Apa yang dilakukan kedua teman baik ku, hingga suami ku seperti ini,hum?" Tanya Jessica yang mendekatkan tubuhnya dan memberikan pelukan kasih sayang pada suaminya, yang ia kira butuh pelukannya sebagai penenang.
"Mereka berdua menjadi penghalang proyek bisnis ku Mom, merek kompak tak mau menjual lahan yang mereka miliki pada ku." Jawab Andre di dalam pelukan Jessica.
"Owh, hanya karena itu. Baiklah serahkan semuanya pada aku Daddy. Besok aku akan bicara pada mereka." Balas Jessica yang membawa angin segar untuk suaminya.
Sementara itu di Mansion Jimmy dan Endah tak jauh beda dengan Andre. Jimmy tengah beracting yang sama pada istrinya. Berbeda dengan Jessica yang mau mengerti kesulitan suaminya. Endah malah menertawakan ketidak becusannya melobi kedua tim solitnya.
__ADS_1
"Jika mereka tak mau menjualnya, itu pasti ada alasannya Papa. Aku kenal sekali bagaimana watak mereka." Ucap Endah, saat Jimmy meminta tolong pada istrinya hingga memohon-mohon.
"Mama, tolong sekali ini saja bantu Papa. Ini demi kredibilitas Papa sebagai asisten terbaik keluarga Kusuma." Pinta Jimmy memohon-mohon untuk pertama kalinya.
Endah tersenyum melihat kelucuan tampang suaminya yang datar kaku seperti kanebo kering, tengah memohon pada dirinya.
" Ya baiklah akan Mama coba rayu mereka untuk Papa." Jawab Endah pada akhirnya. Jimmy tersenyum lega karena istrinya mau membantu dirinya.
Butuh waktu yang cukup lama untuk mengunakan bantuan istri-istri mereka yang kini sibuk mengurus anak-anak mereka. Hingga hari demi hari pun bergulir, tak terasa hari minggu sudah tiba. Hampir seminggu dari kejadian penolakan Nayla dan Amel untuk menjual lahan kosong mereka pada Andre dan juga Jimmy.
Hari ini adalah hari Minggu pagi, biasanya hari Minggu pagi digunakan Amel untuk bermalas-malasan. Ditambah hari ini hari pertama Ia datang bulan, kesempatan dia untuk bangun siang, rebahan seharian sambil nonton drama Korea favoritnya, akan menjadi hari terindah dan sempurna sebagai kaum rebahan.
Namun hal ini tidak lagi dapat ia lakukan semenjak ia berstatus menjadi Nyonya Hendrawan. Statusnya sebagai seorang istri mengharuskan dirinya untuk tetap bangun pagi, mengurus seluruh keperluan suaminya, dari mulai pakaian hingga ke makanan yang akan dimakan sang suami di pagi hari.
Menjadi seorang istri membuatnya tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, ingin mengeluh tapi ini adalah sebuah kewajiban.
Namun berbeda dengan sekarang, jika ia tidak bangun pagi suaminya itu akan membangunkannya, untuk minta disediakan sarapan. Meskipun ada banyak asisten rumah tangga di mansion nya. Hendra adalah tipe suami manja yang hanya mau dilayani oleh istrinya. Inilah yang membuat Amel harus tetap berjibaku di dapur seperti ibu rumah tangga pada umumnya, iya tidak bernasib sama seperti Jessica, Endah, Anna dan juga Nayla, adik iparnya. Mereka memiliki suami yang tidak mewajibkan mereka untuk memasak tidak seperti Hendra.
Pagi ini Hendra me-request nasi goreng yang bumbunya diulek dengan ekstrak cabai. Pagi-pagi sudah mengulek cabai bisa dibayangkan rasa ngantuk ditambah aroma cabai yang pedas, membuat mata yang ngantuk menjadi on karena merasa pedih. Hal ini menyebabkan pagi-pagi buta Amel terus ngedumel di dapur.
"Kamu kenapa ngedumel terus sejak tadi? Nyesel nikah hum?" Tanya Hendra dengan suara beratnya.
Amel menoleh ke sumber suara, di mana suaminya itu tengah duduk dengan membawa secangkir kopi yang tadi ia buatkan.
__ADS_1
"Eh mas Hendra, aku kira kamu lagi ngopi di taman sambil ngeliatin burung-burung kamu tuh." Ucap Amel yang sedikit kikuk karena ketahuan ngedumel di depan suaminya.
"Kalau kamu nggak mau masak, dan nggak terlalu ngurusin aku ya nggak apa-apa, kamu pengen kayak Jessica Endah Anna dan Nayla yang santai-santai kan?" Ucap Hendra yang tiba-tiba membuat Amel sedikit senang namun banyak menaruh curiga dengan kata-kata yang suaminya akan ucapkan selanjutnya.
"Serius emang boleh kayak mereka?" Tanya Amel tak yakin.
"Boleh-boleh aja aku nggak ngelarang kok, tapi izin aku untuk nikah lagi. Aku mau cari istri yang mau ngurusin aku dari mulai aku mulai mata sampai menutup mata." Jawab Hendra.
Amel langsung saja membelalakkan kedua matanya. Amel kesal dan menimpuk Hendra dengan bawang yang sedang ia kupas.
"Kamu jangan ngadi-ngadi ya Mas. Mau kamu pisang kamu aku bikin toping the crepes?"
"Makanya jadi istri mau ngurusin suami," timpal Hendra yang mendapat helaan nafas panjang dari Amel.
"Hah, pantes aja masuk surga itu nggak mudah, banyak perempuan yang masuk neraka karena ya kayak gini. Suami macam kayak gini lah yang bikin istrinya masuk ke jurang neraka. Ikhlas itu nggak mudah seperti membalikkan telapak tangan, tapi orang tua dulu selalu bilang harus ikhlas ngelakuin sesuatu kalau udah jadi seorang istri. Nyatanya pasti dulu mereka ngalamin yang kayak gue gini." Gerutu Amel yang didengar oleh Hendra.
Namun Hendra tak menanggapi Ia hanya tersenyum mendengar gerutuan istrinya.
Di saat ia sedang kesal tiba-tiba ada suara dari ruang tamu yang berteriak.
"Permisi paket....!" Suara ketiga wanita yang datang membawa keenam anak kembarnya bersama dengan suami-suami mereka.
"Kamu ngundang mereka sarapan di sini Mas?" Tanya Amel dengan kedua mata membola sempurna.
__ADS_1
"Enggak ngapain boros-borosin beras aja." Jawab Hendra.
"Terus kok mereka datang pagi-pagi gini pasti ada apa-apanya nih?" Feeling Amel sudah tidak enak dengan kedatangan tiga keluarga teman baiknya ini.