
"Selamat siang tetangga baru,, kok tumben ke kantornya siang seperti ini? Pasti karena mau menyambut kedatangan kami ya?" Ledek Andre pada Nayla dan Bayu yang berdiri mematung melihat kedatangan mereka di rumah baru mereka masing-masing.
Sepasang suami istri ini kompak mengarahkan pandangannya ke depan, ke kanan, ke kiri kemudian saling bertukar pandangan satu sama lain.
"Mami apa yang kau lakukan sampai mereka menjadi tetangga kita sekarang huhhmm?" Tanya Bayu dari tatapan matanya.
"Maaf Pih, aku kira gak akan jadi seperti ini." Jawab Nayla dengan wajah bersalahnya.
Keduanya kemudian melemparkan senyum keterpaksaan mereka pada ketiga pasang suami istri, yang masing-masing dari suaminya seakan memasang bendera perang pada Nayla.
"Cih, jangan pikir kalian akan bisa melawan ku, aku akan buat hidup kalian lebih repot dari sebelumnya. Siapa suruh pindah ke sini. Kalian pindah ke sini sama saja menyerahkan diri kalian untuk aku kerjai hahahahaha...asyik punya hiburan baru." Gumam Nayla yang tersenyum licik ke arah ketiga calon hot papa itu.
"Strategi apa yang akan kau lakukan pentol korek, kami pasti akan menang melawan diri mu, tiga lawan satu. Piuhh..." Batin ketiga hot Papa ini secara bersamaan. Mereka menggerakan tangannya seolah-olah sedang menembak Nayla.
Nayla yang paham malah melambaikan tangannya bak seorang model kearah tiga temannya.
"Siap-siap ya Jeng, akan ada pelajaran ranjang yang lebih hot dan nikmat dari yang kemarin. Nanti aku share ya. Jangan lupa dicoba. Semalam aku udah mencobanya rasanya mmmmm....muaaantappp Jeng." Pekik Nayla yang sengaja bicara frontal.
"Mami hustt... Malu Mih ya ampunn..." Ucap Bayu yang seketika menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ia memasukkan istrinya cepat-cepat ke dalam mobil. Sedangkan ketiga para istri yang mendengar Nayla akan memberikan pelajaran baru mengenai hal ranjang tersenyum senang dan malah memeluk ketiga suami mereka masing-masing secara bersamaan.Tiba-tiba saja perasaan ketiga calon hot papa ini mendadak menjadi tidak enak.
"Sialan. Pentol korek!!!" Batin ketiganya.
Mereka memandangi mobil Bayu yang melaju melewati mereka tanpa membuka kaca mobilnya. Bayu tak ingin membuat istrinya kembali bermain api dengan ketiga teman bisnisnya itu.
"Mami ini apa-apaan sih? Kenapa senang sekali mengibarkan bendera perang dengan mereka? Jadinya kan mereka tinggal di dekat kita. Hufft...Papi nggak akan bisa ngebayangin gimana kehidupan kita nanti. Yang pasti akan jauh dari kata tenang." Ucap Bayu di balik kemudinya.
__ADS_1
"Haduh Papi, kenapa jadi ribet dan takut begitu sih Pih? Mereka gak akan ngapa-ngapain kita. Malah yang hidupnya gak akan tenang itu mereka bukan kita." Sahut Nayla dengan entengnya.
"Ishhh Mami, tidak tahukah Mami, mereka itu pernah menghubungi Papi hanya untuk meminta Papi menghukum Mami karena kenakalan Mami." balas Bayu yang malah menghentikan laju mobilnya di dekat taman yang berada di perumahan mereka. Taman yang terlihat begitu asri dan sejuk karena ada sebuah danau di tengah-tengahnya.
"Oh ya, kok Papi gak hukum Mami humm?" Tanya Nayla dengan senyum manisnya.
"Ya gak mungkinlah menghukum istri sendiri hanya karena mereka. Itu tidak akan pernah Papi lakukan." Jawab Bayu yang main sosor saja.
"Eh, Papi kayanya gak enak kalau mainnya di sini pas udah siang begini, gimana kalau malam aja pas habis pulang kerja." Tolak Nayla yang tahu ajakan Bayu untuk melakukan sort time di dalam mobil.
"Hahaha... Ide yang bagus Mih. Mumpung Sultan lagi gak mau ikut kemana-mana sama kita dan masih ada di rumah Daddy dan Mommy." Jawab Bayu yang kemudian melajukan mobilnya ke perusahaannya.
Di perusahaan tepat pukul 12:00 siang. Amel datang ke kantor Bayu setelah mendapatkan izin dari Nayla.
"Ada angin apa lo kemari Mel, jangan bilang lo kangen sama gue?" Ucap Nayla yang membiarkan sahabatnya itu merebahkan diri di sampingnya. Setelah Bayu keluar makan bersama dengan beberapa Client bisnisnya dari Inggris. Nayla tidak ikut karena tidak ingin makan di restoran yang akan dituju oleh Bayu dan Clientnya.
"Terus? Kenapa? Apa dia ditolak lagi?" Tanya Nayla dengan tebakannya yang salah
"Gak Nay, lamaran kakak lo diterima." Jawab Amel yang menerbitkan seulas senyum diwajah Nayla pada awalnya.
Namun senyum itu pudar. Ketika ia merasa curiga, bagaimana bisa semudah itu lamarannya diterima sedangkan Hendra belum memiliki apapun yang berarti dan kepergian Silvi pun belum genap dua bulan.
"Kok bisa? Aneh?" Tanya Nayla yang penasaran.
Amel tak bisa menjawab pertanyaan Nayla, ia hanya bisa menggeleng, karena ia pun tidak tahu alasan apa yang membuat lamaran Hendra diterima begitu mudahnya dengan kedua orang tuanya. Hanya saja saat ini ia merasakan gelagat aneh dari kedua orangtuanya tentang Hendra.
"Pasti ada udang di balik bakwan Mel." Tebak Nayla yang diangguki oleh Amel.
__ADS_1
Nayla mencoba berpikir keras di dalam otaknya kini, tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
"Gue tahu kenapa lamaran kakak gue diterima. Lo kayanya harus ikut gue pulang kerumah nanti. Lo akan gue temuin sama orang yang bikin lamaran arjuna lo itu diterima dan bakal nyiksa gue sebentar lagi." Ucap Nayla yang membuat Amel menyeryitkan kedua alisnya.
"Gue kemarin ketemu bokap lo di perusahaan Adijaya Group, pas lagi ikut suami gue meeting sama Tuan Leon,"tambah Nayla lagi.
"Terus apa kaitannya Nyet? Lo ketemu sama bokap gue sama dia nerima lamaran kakak lo?" Tanya Amel yang belum paham.
"Kaitannya si Tuan Leon itu, bikin kerja sama antara ketiga perusahaan. Diantaranya perusahaan bokap lo, perusahaan dia dan juga keluarga gue dalam proyek pembangunan hotel di kota B. Nah hal ini lakukan tidak menggunakan tender tapi ditunjuk begitu saja. Karena ketiga teman bisnis suami gue mau bantu Abang gue dapatin lo, dan sebagai imbalannya gue harus lanjutin kuliah bareng istri - istri mereka setelah gue melahirkan nanti." Terang Nayla yang malah membuat Amel tertawa.
"Hahahaha.... Lo bakal kuliah lagi dong, tanpa gue lagi. Gimana sama tugas-tugas kuliah lo nanti Nay?"
"Nah itu dia, lo yang enak, sedang gue yang menderita sendirian." Cetus Nayla yang mengerucutkan bibirnya.
"Tenang Nay, gue akan selalu ada buat lo." Balas Amel yang mencium pipi sahabatnya itu.
"Eh, kalau lo jadi merid nanti sama Mas Hendra, lo harus tinggal satu komplek sama gue. Soalnya tadi pagi tuh tiga teman bisnis laki gue, pindahan ke depan, samping kanan kiri rumah gue. Gue kayanya mau di keroyok sama ketiga bisnis laki gue itu deh. Gue butuh bantuan lo Mel, gue harus punya sekutu untuk menyerang balik mereka." Ucap Nayla dengan pemikirannya.
"Nay, jangan bilang lo jahilin mereka lewat istri-istri mereka?" Tebak Amel yang dibalas senyuman oleh Nayla.
"Hah lo gila, Pak Bayu pasti stress ngadepin lo dan mereka sekarang. Mereka itu bukan orang sembarangan Nay." Ucap Amel yang sedang terkejut dan tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya.
"Takut amat lo sama mereka, meraka sama manusia kaya kita, Mel. Masih makan nasi belum makan beling." Sahut Nayla.
"Emang lo kira meraka mau debus." Balas Amel yang kembali melihat langit-langit ruang kerja Bayu yang dipenuhi bintang-bintang.
__ADS_1