
"Maafkan Bunda ya Nay, karena Bunda dan Ayah kamu jadi seperti ini. Seharusnya kami tidak memaksakan kamu dengan perjodohan ini. Sehingga kamu tak akan mengalami kejadian buruk seperti ini Nay," ujar Riska yang tengah berdiri di samping ranjang Nayla. Ia menatap putrinya yang sedang tertidur, dengan tatapan kesedihan yang mendalam.
Gunawan yang mendengar ratapan kesedihan sang istri yang tengah menatap sendu putrinya, datang menghampiri sang istri. Ia merangkul tubuh sang istri yang terlihat sangat sedih dan rapuh. Bagaimana pun hati seorang ibu selalu bisa merasakan segala rasa yang di rasakan anaknya, karena kurang lebih sembilan bulan lamanya, mereka pernah berbagi kehidupan bersama.
"Sabarlah Bunda,semua sudah terjadi dan tak patut kita sesali. Sekarang bagaimana kita merawat dan menjaga putri kita agar kembali sehat dan ceria lagi," timpal Gunawan yang berusaha menguatkan dan menenangkan sang istri dengan merangkul tubuh sang istri.
Riska yang di rangkul suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Ia menitikan air mata kesedihan yang tak lagi bisa ia bendung lagi disana. Tak bisa Riska bayangkan nantinya, bagaimana Nayla menjalani hari-harinya dengan penuh percaya diri kedepannya nanti, tanpa sehelai rambut yang menghiasi kepalanya.
Meskipun bisa dengan cara mudah menggunakan sebuah rambut palsu, namun tetap saja, sebagus-bagusnya dan semahal-mahalnya sebuah rambut palsu, seorang wanita akan selalu menginginkan berpenampilan cantik dengan rambut indahnya sendiri.
Bayu yang baru saja tiba dari luar ruang rawat Nayla, setelah sebelumnya ia mengantar Dokter Susi keluar dari ruang rawat istrinya itu, kemudian ia pergi ke IGD dalam beberapa menit lamanya untuk keperluannya, mengobati luka pada wajahnya.
Kini kedatangannya di sambut tatapan tak bersahabat dari Gunawan sang ayah mertua, Gunawan tengah duduk di sebuah sofa menghadap pintu masuk ruang rawat Nayla. Sembari bertopang dagu pada jemari kedua tanganya yang ia sandarkan pada kedua sandaran kursi, kiri dan kanan.
"Ayah," panggil Bayu yang hanya di balas sedikit tarikan senyum keterpaksaan dari Gunawan.
"Duduklah! Ada hal penting yang ingin Ayah sampaikan pada mu," pinta Gunawawan pada menantunya.
__ADS_1
Bayu duduk di salah satu sofa panjang yang menghadap ke dalam kamar rawat Nayla. Hingga dari sana ia bisa memandangi Nayla yang tengah terpejam karena obat yang di suntikan oleh Dokter Susi padanya tadi.
"Iya, Ayah. Ada hal penting apa yang ingin Ayah sampaikan padaku?" Tanya Bayu yang merasakan hal yang tak mengenakan hatikan akan terjadi.
"Bayu, seperti yang kamu tahu Nayla adalah putriku satu-satunya. Ayah sangat menyayangi dan mencintai dia, melebihi rasa cinta Ayah terhadap diri Ayah sendiri. Begitu pula dengan ibu mertua mu. Dia sangat terpukul dengan kejadian ini. Belum genap sebulan dan baru hitungan hari putri Ayah, kamu bawa pergi dari rumah kami. Besar harapan kami saat itu, kamu akan membahagiakan Nayla tapi ternyata sepertinya putri Ayah tidak bahagia bersama mu, Bayu." Ungkap Gunawan dengan tatapan sendunya, tangannya nampak bergetar, ia berusaha menahan segala gejolak amarah pada menantunya yang duduk dengan wajah babak belur dihadapannya.
Gunawan berusaha menguatkan dirinya untuk bicara dengan suami putrinya yang berwajah datar dan dingin itu. Bayu hanya bisa terdiam, ia mencoba mendengarkan dengan seksama, kemana arah pembicaraan sang Ayah mertuanya ini padanya. Melihat sang menantu hanya diam, Gunawan kembali menuruskan ucapannya.
"Bayu. Jika kamu merasa tak cocok dengan putri Ayah, jika kamu merasa di beratkan dan di repotkan dengan sikap dan sifat putri Ayah. Tolong Bayu! Tolong kembalikanlah putri kami dengan baik-baik pada kami! Kami akan menerimanya dengan berlapang dada, jika kamu mengembalikan dia secara baik-baik dengan jiwa kesatria bukan dengan cara seperti ini." Sambung Gunawan yang menghentikan ucapannya.
"Ayah," panggil Bayu yang ingin menghampiri sang ayah mertua yang terlihat rapuh. Namun tangan Gunawan menolak Bayu memghampirinya.
"Duduklah! Ayah tidak apa-apa," pinta Gunawan yang masih melihat Bayu berdiri ingin menghampirinya. Bayu kembali duduk di tempatnya semula. Ia kembali menunggu Ayah mertuanya untuk melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti.
"Ayah sangat mengenal bagaimana sifat dan sikap putri Ayah. Bagaimana bisa putri Ayah yang manja datang sendiri kesebuah klinik di tengah malam tanpa seorang pun menemaninya? Dimanakah saat itu diri mu Bayu? Begitu teganya kamu mengabaikan putri ku yang ku besarkan dengan penuh kasih sayang? Menahan rasa sakit karena penganiayaan seorang diri tanpa sebuah sandaran?" Gunawan memborbardir pertanyaan yang membuat Bayu merasa bersalah dan mati kutu dibuatnya.
"Ayah, maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku akui aku salah, tapi aku punya alasan untuk semua ini Ayah. Jujur aku tidak mengetahui persoalan penganiayaan yang Nayla alami," jawab Bayu yang berusaha meredakan amarah yang meledak pada diri Gunawan.
__ADS_1
Entah darimana Gunawan mengetahui semuanya ini, sebelum ia menjelaskan duduk persoalannya terlebih dahulu. Ada seseorang yang sudah mengatakan terlebih dahulu daripada dirinya kepada mertuanya itu.
Ya tentu saja Gunawan mengetahui semua hal yang menyangkut tentang Nayla lebih cepat, tanpa harus menunggu Bayu menjelaskan padanya, karena ia tahu dengan siapa ia harus bertanya tentang putrinya, jika bukan dengan Amel, sahabat baik putrinya itu, pada siapa lagi Gunawan bertanya.
"Sepertinya kata maaf mu tak akan mengubah semuanya yang telah terjadi Bayu. Setelah Nayla keluar dari rumah sakit, Ayah akan mengurus perpisahan kalian. Mungkin jodoh kalian memang hanya cukup sampai disini," tegas Gunawan yang membuat Bayu membulatkan matanya.
"Tidak Ayah, sampai kapan pun. Aku tak akan menceraikan Nayla. Dia istriku dan aku mencintainya," tolak Bayu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jika kamu mencintai mengapa kejadian ini bisa terjadi Bayu?" Tanya Gunawan dengan nada membentak.
"Ini di luar kendali ku Ayah, aku sungguh tak mengetahui perihal penganiayaan yang dialami istri ku,"
"Bagaimana bisa kamu tidak mengetahuinya? Kamu tinggal satu rumah dengannya, bahkan satu kamar dengannya. Pasti ada yang tidak beres dalam rumah tangga kalian, sehingga kamu tidak mengetahui apa yang menimpa istri mu dan istrimu tak berbagi kesedihannya padamu," tebak Gunawan yang membuat Bayu kembali terdiam.
Ya, tebakkan Ayah mertuanya itu memang benar adanya. Rumah tangga mereka sedang tak baik-baik saja. Sejak Nayla dua kali membuat putranya tidak masuk sekolah dan Miss Claudia memberikan teguran langsung padanya melalui pesan singkat di whatsapp pribadinya. Pesan whasapp Miss Claudia berhasil mempropagandakan pemikiran Bayu tentang ketulusan hati Nayla.
Ditambah lagi karena Nayla yang tidak mau melanjutkan pendidikannya dengan menjadikan putranya sebagai alasan ketidak mauannya melanjutkan pendidikannya itu. Hal ini makin memperkuat pikiran buruk yang ditanamkan Miss Claudia pada pikiran Bayu tentang Nayla pada Sultan.
__ADS_1