Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 250


__ADS_3

Sepulangnya dari Claudia boutique, tepatnya pukul 18.30. Nayla yang baru saja tiba, tak sengaja bertemu dengan Bastian, suami dari mantan istri Bayu, Linda. Ia baru saja keluar dari pintu utama mansion dengan wajah sedihnya. Dapat dipastikan pria ini baru saja bertemu dengan sang suami.


Entah apa yang telah keduanya bicarakan saat Nayla tak ada di mansion. Hingga Bastian terlihat sangat sedih dan menitikkan air mata. Hingga tak menyadari keberadaan dirinya yang ia lewati begitu saja.


"Kak Bastian, ada apa?" Tanya Nayla saat melihat jelas Bastian berusaha berjalan lebih cepat menuju mobilnya sembari sibuk mengusap air matanya.


Bastian yang mendengar suara Nayla bertanya pun menghentikan langkah kakinya. Sementara Nayla tetap berdiri di posisinya, di mana saat ini ia berdiri tak jauh dari Bastian, yang tadinya Bastian melewati dirinya begitu saja.


"Nayla," panggil Bastian. Ia menatap Nayla dengan raut kesedihan yang begitu jelas tergambar di wajah tegas pria tampan ini.


Bastian mengurungkan niatnya untuk berjalan ke mobilnya. Ia hendak menghampirinya Nayla. Ia yakin Nayla dapat membantu masalah yang tengah ia hadapi saat ini. Tentunya sebuah masalah yang berkaitan dengan istrinya dan mantan suami istrinya yang tak lain adalah suami Nayla sendiri.


Namun sayang baru dua langkah kaki Bastian menghampiri Nayla. Suara Bayu sudah menggelegar memanggil nama istrinya di ambang pintu utama mansion.


"MAMI! MASUK!" Pekik Bayu dengan tatapan mata yang tajam.


Bukan karena cemburu seperti biasanya, tapi dari tatapan mata Bayu yang begitu membara. Dapat Nayla pastikan diantara mereka sedang ada sesuatu pertikaian.


Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Nayla langsung saja melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari kecil menghampiri pintu masuk mansion. Ia tak ingin mencari masalah dengan suaminya yang sudah dalam mode singa seperti ini.


"Ada apa dengan mereka? Ini pasti bukan karena aku 'kan? Pasti ada masalah lain, jika bukan Kak Linda pasti dengan anakku Sultan " Nayla berjalan sembari membatin.


Nayla melirik sejenak wajah garang suaminya ketika melewati sang suami di ambang pintu.


"Kamu kenapa Pih? Konslet?" Tanya Nayla dengan suara berbisik.


Bayu yang masih dalam kondisi emosi setelah perdebatannya dengan Bastian pun mengabaikan pertanyaan istrinya yang menurutnya sangat tidak bermutu. Ia menulikan telinganya.


Namun kendati demikian, setelah menutup pintu dengan cukup keras. Bayu terus saja mengikuti kemana kaki Nayla melangkah. Ke area main kedua anaknya, hingga ke dapur untuk mengecek menu makan malam mereka sudah siap atau belum.


"Mau ngapain sih, Papi ngikutin Mami? Mami risih tau nggak?" Tanya Nayla sembari berkacak pinggang.


Alih-alih menjawab Bayu malah memeluk tubuh Nayla.


"Tuh 'kan aneh. Kamu kenapa Pih? Kak Bastian nakal ya sama kamu? Kok kamu jadi aneh kaya gini sih?" Tanya Nayla sembari membalas pelukan Bayu.


"Sultan adalah bagian terpenting di hidupku, Mih." Jawab Bayu yang kekuar dari kontrks pertanyaan Nayla


"Ya aku tahu itu. Gak usah dikasih tahu, aku juga udah tahu itu, Pih."

__ADS_1


"Tidak hanya Sultan saja, tapi kamu dan Bianca adalah bagian terpenting di dalam hidup aku." Tambah Bayu yang tak ingin istrinya yang terkenal sensitif dan baperan ini salah paham.


Plak!


Nayla memukul sekuat tenaga bokong Bayu yang tengah memeluknya. Sehingga membuat Bayu memejamkan mata merasakan sakit yang sangat luar biasa pada bokongnya.


"I know-lah Pih. Gak usah gak enak hati gitu. Sampai diperjelas segala, kaya sama siapa aja. Lagian kamu tuh kenapa sih Pih? Kaya orang kesambet. Istri baru pulang, manggil istri udah kaya lagi neriakin maling." Ucap Nayla sembari berusaha melepaskan pelukan Bayu yang cukup menyesakan dadanya.


Bukannya melepaskan Bayu malah mempererat pelukannya pada sang istri.


"Lepasin Pih! Gak bisa nafas nih! Mati deh ni Mami. Owhhhh..." Ucap Nayla yang kemudian melemaskan tubuhnya dan menutup matanya. Ia beracting layaknya seseorang yang sedang pingsan.


Bayu terhuyung hampir jatuh karena menopang tubuh Nayla. Hingga pinggang Bayu mengeluarkan bunyi, "kretek."


"Bangun Mih! Jangan kebanyakan acting! Haduhhh ... Encok nih Papi jadinya. Dengar gak sih pinggang Papi sampai bunyi tadi." Seru Bayu pada Nayla.


Nayla membuka matanya dan langsung mengecek kondisi pinggang suaminya. Nayla mengusap-usap pinggang suaminya.


"Ya Tuhan, suami hamba ternyata benar-benar sudah tuwir dan menjelang renta. Kasihan sekali nasibku yang masih muda dan energik ini punya suami seperti ini." Ucap Nayla meremehkan Bayu.


Ucapan Nayla ini sangat berhasil membuat kedua mata Bayu membulat sempurna. Nayla benar-benar kelewatan menghina suaminya sendiri.


"MAMI!! Mulut kamu itu ya, gak sopan!" Pekik Bayu kesal.


"Kok jalannya kaya gitu Pih? Sakit?" Tanya Nayla yang tengah duduk santai di sofa.


"Nggak." Jawab Bayu dengan wajah juteknya.


"Nggak? Yaking nggak?" Tanya Nayla kembali meledek


"Nggak salah lagi, Mih. Bukannya bantuin malah duduk nyantai begitu." Sambung Bayu mengomel dengan wajah juteknya.


Bayu mendaratkan bokongnya di samping sang istri yang terus memperhatikan dirinya sambil senyam-senyum mengejek. Kemudian mencubit paha Nayla tanpa ampun hingga Nayla menjerit kesakitan.


"Aaaaa... Sakit Papi....!"


"Biarin. Gara-gara kamu. Papi jadi sakit pinggang kaya gini. Kamu harus dihukum." Sahut Bayu yang malah ditertawakan oleh Nayla.


Mata Bayu kembali membola dan Nayla malah naik di atas pangkuan suaminya. Ia sama sekalian tak perduli dengan kedua bola mata dari para asisten rumah tangganya, yang mencuri-curi pandang ke arah keduanya.

__ADS_1


Sembari mengalungkan keduang lengannya di leher sang suami. Nayla kembali mengejek suaminya dengan berbisik.


"Kamu sudah K.O Pih, kalau encok seperti ini, mana bisa Papi bergoyang hummm? Kalau Papi mau Mami yang bergoyang, tentu itu tidak gratis. Ada tarifnya Hahahahaha..."


Kesal. Ya, Bayu kesal dengan sikap istrinya yang memang suka meledeknya. Ia menghempaskan istrinya ke sofa dengan kesal. Hingga ia kembali mengaduh kesakitan.


"Sabar Pih, kalau udah tua itu perbanyak sabar. Jangan marah-marah! Mendekin umur loh." Ucap Nayla.


"Mami bisa diem gak? Emang Mami udah siap jadi janda hah? Ngomong kaya gitu?"


"Hahahaha. Kalau Mami jadi janda pasti cepat laku-lah. Janda cantik dan tajir siapa yang gak mau. Berondong pasti berbaris." Ucap Nayla yang berdiri tepat di depan Bayu.


"Owh.. Mami nih benar-benar gak cinta sama Papi. Udah niat nikah lagi ya kamu!" Kesal Bayu namun diabaikab oleh Nayla.


Ia malah menarik tubuh Bayu untuk berdiri. Kemudian setelah Bayu berdiri. Nayla memposisikan dirinya saling membelakangi. Ia juga mengaitkan kedua tangannya di lengan Bayu.


"Ini mau ngapain Mih?" Tanya Bayu yang merasa aneh dengan apa yang Nayla lakukan.


"Udah siap Pih?" Nayla malah balik bertanya.


"Satu dua tiga,"


"Aaaa..." Pekik Bayu.


Krekkk!


Pinggang Bayu kembali berbunyi ketika Nayla mengangkat tubuh Bayu dengan posisi saling memunggungi. Tiga kali pinggang Bayu Nayla buat berbunyi. Hingga keempat kalinya Nayla mengangkat pinggang Bayu tak lagi berbunyi.


"Hossss...hosss...Coba gimana pinggangnya masih sakit ga?" Tanya Nayla pada Bayu yang sedang tertegun dengan aksi sang istri yang doa menghilangkan nyeri pinggangnya dalam sekejap.


"Lumayan, gak terlalu sakit." Jawab Bayu yang kini diminta untuk berbaring dengan posisi telungkup di atas karpet bulu-bulu halus kesukaan istrinya, dengan warna abu-abu kesukaan Sultan oleh istri tercintanya.


"Siap ya?"


"Hemmm..."


Lagi-lagi Nayla membuat tubuh suaminya berbunyi seperti patahan kerupuk. Kini Nayla juga meminta suaminya untuk duduk bersila dan Nayla mulai memegangi kepala suaminya dengan kedua tangannya. Bayu yang merasa sudah keenakan, kini hanya diam menikmati.


Krekkk! Krekkk!

__ADS_1


"Emmmmm... Enaknya. Jadi enteng tubuh Papi, Mih. Pintar banget si istri Papi." Ungkap Bayu senang yang kini malah kembali berbaring di atas karpet bulu.


"Hemmm... Mami mau ganti baju dulu kalau gitu ya?" Nayla meninggalkan suaminya ke lantai dua, dimana kamarnya berada.


__ADS_2