Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 67


__ADS_3

Di sebuah pemakaman, kini seorang pria mengenakan pakaian serba hitam tengah berdiri menyaksikan tubuh tak bernyawa sang istri yang tengah mengandung calon anak mereka sedang dikebumikan. Rasa sedih dan bersalah masih menggelayuti relung hati pria itu.


Dibalik kaca mata hitam yang menutupi matanya. Pria itu terus mengeluarkan tetesan air mata yang turun begitu deras. Tangis kesedihan yang tak tertahankan yang dirasakan pria itu, bukan karena ia merasa cintanya telah pergi untuk selama-lamanya, tapi tangis itu jatuh karena rasa bersalahnya pada istri yang dinikahinya karena sebuah perjanjian yang akan menguntungkan dirinya sendiri.


Ya. Pria yang sedang menangisi rasa bersalahnya itu adalah Hendra. Silvi pergi kepangkuan Tuhan sebelum sempat mendengar permintaan maaf yang diucapkan oleh suaminya itu.


Sejak tadi Hendra hanya memeluk kayu nisan yang bertuliskan nama sang istri seraya mengucapkan maaf berkali-kali di dalam hatinya. Ia berharap Silvi dapat mendengar permohonan maafnya di alam sana.


Seorang penggali kubur terlihat menghampiri Hendra. Ia meminta kayu nisan bertuliskan nama Silvi yang berada dalam pelukannya.


"Maaf Tuan, bisa berikan pada saya kayu nisan ini?" Pinta penggali kubur seraya menunjuk dengan tangannya yang berlumuran tanah pada kayu nisan yang dipeluk erat oleh Hendra.


Hendra diam tak bergeming, karena pikirannya entah dimana dengan tatapan kosongnya. Tuan Yuda yang berdiri tak jauh dari Hendra dan melihat Hendra hanya diam, tak memberikan kayu nisan itu, segera datang menghampiri Hendra. Dilihatnya Hendra berdiri terpaku dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes dibalik kaca mata hitam yang ia kenakan.


"Hendra berikan kayu nisan itu pada Bapak itu, Hen!" Pinta Tuan Yuda seraya menarik pelan kayu nisan yang dipeluk erat oleh Hendra.


Merasa kayu nisan itu tertarik oleh Tuan Yuda. Hendra yang tersadar dalam lamunannya, menatap sejenak wajah Tuan Yuda. Kemudian Hendra melepaskan kayu nisan istrinya itu begitu saja, hingga mebust tubuh Tuan Yuda terhuyung dan hampir jatuh. Setelah melepaskan kayu nisa itu. Hendra kembali menatap liang lahat sang istri yang pergi dengan calon anaknya dengan tatapan kosong.


"Maafkan aku, maafkan aku Silvi... Aku memang pria yang jahat dan kejam. Kamu pergi bersama anak kita karena aku. Ya karena aku yang menyakiti hati mu dengan kebutaan cinta yang aku rasakan. Kini hanya sebuah penyesatan yang tertinggal dari kepergian mu atas kesalahan ku." Batin Hendra yang tenggelam dalam penyesalan.


Lautan manusia yang ikut datang diacara pemakaman Silvi pun beranjak pergi, ketika acara pemakaman Silvi telah selesai dilangsungkan. Hanya tersisa Hendra dan kedua mertuanya yang ada di pusara Silvi.


Nyonya Sari tak henti-hentinya menangis dia atas kayu nisan putrinya.


"Maafkan Mommy sayang, mungkin Mommy tidak becus merawat mu, hingga kamu pergi secepat ini." Ucap Nyonya Sari di atas kayu nisa yang bertuliskan nama sang putri.

__ADS_1


Karena saking sedihnya dengan tubuh yang tak lagi muda. Nyonya Sari pun akhirnya jatuh pingsan di pusara sang Putri.


"Hendra...!!!! Hendra!!!" Pekik Tuan Yuda memanggil menantunya yang masih menatap kosong makam putrinya.


Merasa Hendra tak menyahut dan ia tak bisa mengangkat tubuh istrinya, karena ia sudah merasa tubuh tuanya terlalu ringkih, dan tak memungkinkan mengangkat tubuh sang istri yag sedikit rimbun, membuatnya terpaksa melembar sebuah botol air mawar berukuran kecil yang ada di dekat makam putrinya itu ke kaki Hendra.


"Aduhh...." Rintih Hendra seketika itu seraya mengeulus tulang keringnya yang terasa sakit.


"Hendra!!" Panggil Tuan Yuda kembali pada menantunya itu.


"Ya Dad," jawab Hendra yang kemudian melangkahkanbkainya mendekat pada kedua mertuanya.


"Angkat Mommy mu! Dia pingsan." Perintah Tuan Yuda pada Hendra.


Setelah memasukkan ibu mertuanya ke dalam mobil. Mobil itu segera melaju dengan kecapatan tinggi. Membawa Nyonya Sari ke rumah sakit. Hal ini dilakukan Tuan Hendra sebagai antisipasi karena Nyonya Sari punya riwayat sakit jantung.


Hendra yang kini ditinggal seorang diri hanya menatapi mobil mertua yang makin lama makin menghilang dari pandangannya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk kembali pulang.


Saat ia ingin memasuki mobilnya. Hendra kembali menatap kearah makam Silvi yang berada tak jauh dari keberadaan mobilnya. Ia menatap sedih makam itu dan berkata lirih.


"Maafkan aku yang meninggalkan mu sendiri disini Sil, aku pulang dulu. Lain waktu aku akan mengunjungi mu dan calon anak kita dipembaringan terakhir kalian ini." Ucap Hendra yang kemudian masuk kedalam mobilnya.


Namun saat ia hendak mengunci ointu mobilnya, pintu mobilnya kembali terbuka dan tubuhnya ditarik paksa keluar oleh tangan kekar dari seorang pria.


Tatapan tajam menghunus hingga kerelung hati Hendra ia dapati dari sosok yang tengah berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Kau apakan dia, hingga dia pergi secara tiba-tiba seperti ini Hendra?" Tanya Pria itu dengan mencengkram kerah kemeja Hendra dengan begitu kuatnya, hingga tinggi besar Hendra hampir terangkat.


"Aku tak melakukan apapun padanya," jawab Hendra yang berbohong.


"Tak mungkin, jangan kamu bohongi aku Hendra. Aku ini seorang Dokter, tak mungkin dia pergi secara tiba-tiba dalam keadaan yang sehat dan stabil." Sanggah pris itu yang tak lain adalah Neil.


Ia terlihat begitu marah dan tak terima dengan kepergian Silvi yang secara tiba-tiba. Padahal ia tahu betul kondisi kesehatan mantan tunangannya itu.


"Ya kau memang Dokter tapi kau bukan Tuhan Neil!" Balas Hendra yang menghempaskan kedua tangan Neil yang mencengkram kerah baju yang ia kenakan.


"Kenapa kau marah padaku seperti ini? Kenapa kau bertanya pada ku seakan sedang menyalahi ku atas kepergian istri ku? Memangnya siapa diri mu Neil? Apa kau selingkuhan istri ku? Apa kau masih berhubungan dengan istri ku dibelakang ku hah?" Tanya Hendra bertubi-tubi pada Nei yang terdiam dengan mata yang menatap kearah makam Silvi.


"Aku memang bukan siapa-siapanya tapi aku adalah orang yang perduli dengan dirinya." Jawab Neil tanpa menatap wajah Hendra.


"Perduli kata mu? Atas dasar apa kau perduli dengan istriku? Apa kau baru menyadari, jika kau memiliki perasaan pada istri ku Neil? Bukankah kau sangat mencintai adikku? Oh, aku tahu kau memalingkan perasaan mu pada istri ku setelah kau tahu adikku sudah memiliki suami? Bukan begitu?" Kembali Hendra menghujani Neil dengan pertanyaan-pertanyaannya yang seakan malah menyudutkan Neil yang masih terpaku menatap makam Silvi.


"Apapun perasaan ku terhadap mendiang istrimu dan adikmu. Sama sekali tak ada urusannya dengan mu." Jawab Neil yang kembali menatap wajah Hendra dengan tatapan tak bersahabatnya.


"Heh, tak ada urusan kata mu? Tentu saja ada urusannya dengan ku. Ingat Neil, adikku sudah menikah dan memiliki keluarga kecil yang bahagia. Jangan coba-coba kau usik kebahagian mereka!" Balas Hendra yang menatap singit wajah Neil yang seakan tak perduli dengan ucapannya.


"Tak pernah terbesit didalam pikiran ku untuk menjadi perebut istri orang lain. Semua rasa cinta dan sayang ku pada mereka biar hanya aku yang merasakannya. Aku akan datang jika mereka membutuhkan pertolongan ku, jika tidak aku hanya bisa menjaga mereka dari kejauhan." Ucap Neil yang kemudian pergi meninggalkan Hendra.


Baru beberapa langkah Neil pergi meninggalkan Hendera. Neil kembali membalikkan tubuhnya. Ia masih melihat Hendra di tempat yang sama, tengah berdiri menatap kepergiannya.


"Tugas mu sudah selesai Hendra. Setelah ini aku akan melakukan tugas ku sebagai mana janji ku padamu." Ucap Neil saat ia membalikkan tubuhnya, setelah itu ia kembali berjalan menuju makam Silvi. Entah apa yang ingin ia lakukan disana yang pasti hati Dokter muda tampan dan kaya raya itu sedang tak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2