
Para hot Papa yang tak bisa berpikir jernih saat mengetahui Sultan tak ada dimana-mana, langsung saja melakukan pencarian. Tanpa mengecek rekaman CCTV terlebih dahulu.
Anehnya mereka mencari Sultan dengan bergerombol, tidak saling berpencar dengan mengendarai kendaraan mereka masing-masing. Mereka baru sadar kebodohan mereka, ketika lagi-lagi karena mulut menyebalkan Leon.
"Arghhh... sempit sekali. Hendra, Bayu sebaiknya kalian itu perbanyak olah raga. Badan makin melar saja." Keluh Leon sembari menyikut tubuh Hendra dan juga Bayu yang menghimpit dirinya.
"Hei, Leon. Kau pikir tubuh kami ini besar karena lemak. Tak lihatlah kau! Ini otot kami dan perut six pack kami. Tidak seperti otot lengan mu dan perut buncit mu itu!" Sahut Hendra sembari menampilkan otot kekar di lengannya dan lengan adik iparnya. Kemudian menunjuk dan menusuk perut Leon yang mulai membuncit.
"Kau ini terbiasa menjadi maling teriak maling, sedih sekali keluarga Adijaya punya satu-satunya penerus modelan seperti mu." Tambah Bayu sembari balik menyikut Leon dengan lengannya.
Hahahaha [Tawa kedua adik iparnya dari kursi paling depan, ketika mendengar Bayu berkata demikian pada kakak iparnya].
"Teruslah menertawakan ku, adik ipar durjana." Umpat Leon sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya. Gerakkan tangan Leon saat melipat kedua tangannya sungguh tak biasa. Bayu dan Hendra hingga memudurkan tubuhnya agar tak kena sepakan kedua tangannya yang sengaja ia rentangkan ke kanan dan ke kiri.
Melihat Leon merajuk dari kaca spion tengah mobilnya, Jimmy tiba-tiba saja menghentikan laju kendaraannya. Ia tiba-tiba sadar mengapa mereka dalam mobil yang sama.
Cittttt....[Jimmy meghentikan mobil dengan menginjak pedal mobil dengan tiba-tiba].
BRUKKK!!! [Sebuah mobil dari belakang yang tak dapat mengerem laju mobilnya pun menabrak mobil Jimmy].
Leon yang sedang melipat tangannya di depan dada tak sempat menahan tubuhnya. Tubuhnya terdorong kedepan, hingga kepalanya terbentur dashboard mobil.
"JIMMY!!!" Pekik ke empatnya sembari memegangi kening mereka.
"Ah, maaf gak sengaja. Sorry! Sorry banget loh ya! Sakit banget ya? Kok pada diam saja hehehe...." sahut Jimmy dengan tawa bersalahnya. Kini ia tengah mendapatkan tatapan maut dari keempat pria yang ada di dalam mobilnya.
Belum sempat salah satu diantara mereka menjawab. Sebuah gedoran di kaca pintu mobil Jimmy terdengar. Jimmy segera membuka kaca jendela mobilnya.
__ADS_1
"Apa ada korban jiwa?" Tanya Jimmy to the poin pada seorang pria yang tengah berdiri di depan pintu mobilnya dengan tampang marahnya.
"Tidak ada, apa Anda berharap ada korban jiwa?" Jawab seorang pria muda yang usianya sepertinya jauh berbeda dengan Jimmy.
"Tidak juga," jawab Jimmy dengan entengnya.
Mendengar jawab Jimmy, pria yang tengah berdiri di depan pintu mobilnya itu pun membuang pandangan matanya kesal. Pria ini merasa lawan bicaranya saat ini sungguh sangat menyebalkan.
"Jadi terus bagaimana Pak?" Tanya pria ini yang kembali bertanya pada Jimmy yang malas untuk turun dari mobil.
"Ya, Anda maunya gimana? Saya sih bagaimana mau Anda saja." Jawab Jimmy yang kembali membuat lawan bicaranya membuang pandangannya dan mulai menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal.
"Pak mobil saya rusak loh!" Seru Pria ini, ia masih berusaha sabar menghadapi Jimmy yang dalam mode menyebalkan.
"Sama. Mobil saya juga." Jawab Jimmy lagi.
Disaat bersamaan pria itu berteriak, ponsel Bayu berdering. Nayla menghubungi Bayu. Bayu segera mengangkat panggilan teleponnya.
"Ada apa Mih?" Tanya Bayu pada sang istri dengan suara yang masih mode jutek.
"Pih, Sultan sudah ketemu. Dia tidur di dalam lemari."
"APA? KOK BISA? Siapa yang menemukan anak kita Mih?" Pekik Bayu tak menyangka anaknya yang sedang mereka cari ternyata tertidur di dalam lemari.
"Bisa aja, Mami belum banyak tanya apapun sama anak kita, yang pasti Mami mau ngabarin Papi kalau anak kita sudah ketemu dan Bianca juga sudah dibawa pulang sama Endah. Yang menemukan anak kita Angela dan Bowo. Mereka cek lewat CCTV. Papi cepat pulang ya, jangan lupa pulang beli sate ayam dulu buat kami." Jawab Nayla yang kemudian menutup sambungan teleponnya tanpa bertanya keadaan mereka yang sedang tak baik-baik saja.
"Pak, ganti rugi!" Pekik Pria ini yang terus memimta ganti rugi pada Jimmy yang malah mengabaikannya. Jimmy tengah mendengar dengan seksama obrolan Bayu dengan Nayla.
__ADS_1
"Cih. Kenapa wanita itu selalu seperti itu? Bukannya tanya keberadaan suaminya dulu dan tanya keadaannya ini malah langsung to the poin dengan maksud dia menghubungi kita dan masih ada mintanya pula." Celoteh Leon yang selalu jadi tukang keruh.
Sementara itu karena pria ini terus saja berteriak minta ganti rugi. Membuat mobil Jimmy kini di kerubungi orang banyak. Sepertinya orang-orang ini ingin membantu pria ini hingga mendapatkan ganti rugi dari Jimmy.
"Haisssttt! Anda itu perempuan apa laki-laki sih? Teriak-teriak minta ganti rugi sampai semua orang mengepung mobil saya. Hadduh jadi berasa jadi penjahat nih saya." Ucap Jimmy yang mau tak mau keluar dari mobilnya.
Tak hanya Jimmy yang keluar dari mobilnya. Keempat pria gagah dan tampan.yang ada di dalam mobilnya pun ikut turun. Sebagian besar orang yang melihat siapa orang yang turun dari mobil Jimmy, segera mundur dan membubarkan diri mereka. Bagaimana tidak, kebanyakan dari mereka yang berkerumun adalah karyawan mereka berempat.
Melihat banyaknya orang membubarkan diri Pria ini dibuat heran. Keempat pria yang turun dari mobil Jimmy, langsung melihat kerusakan mobil Jimmy dan juga mobil pria yang tengah berdiri dengan beraninya menantang seorang Jimmy.
Tiba-tiba saja Leon yang telah melihat kerusakan mobil dan merek mobil sang penabrak langsung mendekati Jimmy dan pria ini.
"Anda beli mobil ini cash apa credit?" Tanya Leon yang tak pantas di pertanyakan seharusnya.
"Memangnya apa kaitannya mobil ini Cash atau Credit Pak? Yang pasti ini mobil saya." Jawab Pria ini yang tersinggung dengan pertanyaan Leon.
"Heleh, tinggal jawab saja ribet." Balas Leon yang langsung menghubungi bawahannnya.
"Tolong cek mobil merek Aa platnya Xxxxxxx. Statusnya credit atau sudah lunas? Saya tunggu sekarang!" Perintah Leon yang langsung dipatuhi bawahannya.
Tak perlu menunggu lama, bawahan Leon langsung mendapatkan data dari mobil sedang ia tanyakan.
"Tuan muda, mobil itu baru di beli secara credit dua minggu yang lalu dari showroom anak perusahaan kita. Plat nomor mobil itu adalah pinjaman dari showroom kita, Pemiliknya namanya Saemin." Terang anak buah Leon.
Usai berbucara dengan anak buahnya, Leon pun dengan lantang bicara pada pria yang berdiri tepat di depan adik iparnya, seperti orang yang sudah siap untuk mengajak adik iparnya untuk duel.
"Hai, Saemin. Bawa mobil mu itu ke tempat dimana kau membelinya. Tunjukkan kartu nama saya ini pada orang showroom. Mereka akan memberikan mu mobil yang sama dan warna yang sama. Jangan lupa bayar cicilan mu tepat waktu kalau tidak mau mobil creditan mu ini di tarik." Ucap Leon sembari memberi kartu namanya.
__ADS_1
Jangan tanya bagaimana tampang wajah Saeman saat ini. Terkejut dan juga malu. Ia kehilangan muka karena Leon bicara demikian dengan lantangnya.