
"Siera!"
"Mau apa lagi Kau masih di sini?" Siera terkejut saat melihat Nuga tiba-tiba saja muncul di belakangnya.
Reflek ia menarik tangannya berusaha untuk lepas dari jerat genggaman Nuga.
"Siera, Aku ingin bicara sama kamu. Aku mohon," ucap Nuga.
Seakan tidak peduli dengan hujan yang terus turun semakin deras hingga seluruh tubuhnya basah. Nuga terus memohon, meminta untuk berbicara empat mata dengan Siera.
"Nuga tolong lepasin Aku! Gak ada yang perlu Kita bicarakan. Jika Kamu ke sini karena tuntutan keluarga Aku, tolong katakan jika Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin mandiri dan tak terus bergantung pada keluargaku," ucap Siera dengan setengah berteriak.
"Bukan itu yang ingin Aku katakan, Siera! Aku mohon dengarkan Aku! Aku mencintaimu Siera, bukan Siena!"
Deg!
Tubuh gadis itu tiba-tiba terasa beku, Siera menunduk sambil mengigit bibir bagian bawahnya untuk menahan perasaannya.
"Aku tidak menginginkan perjodohan konyol ini! Aku cinta sama Kamu!"
Genggaman tangan Nuga semakin terasa erat, pria itu menatap lekat Siera dan terus mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam bertahun-tahun lamanya.
"Kamu gila, Nuga. Kamu sudah tidak waras," lirih Siera dengan nada suara yang bergetar. Siera terus saja menunduk seakan tak ingin menatap wajah Nuga.
"Demi Tuhan, Aku mencintaimu Siera. Aku harus bagaimana agar Kamu percaya?"
Siera terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dirinya telah tenggelam akan perkataan yang baru saja Nuga katakan pada dirinya. Namun pernyataan cinta itu sudah tiada memiliki arti lagi, pada kenyataannya sosok Nuga hanyalah seorang pria yang dijodohkan dengan saudari kembarnya sendiri.
Kini hanya tersisa suara derai hujan dan beberapa kendaraan yang melintas, seakan memecah keheningannya yang kini melanda mereka berdua.
"Siera, lihat Aku!" seru Nuga berusaha mengambil perhatian Siera yang hanya terus menerus diam sambil menundukkan kepalanya.
Tubuh gadis itu gemetar, dengan susah payah Siera menahan agar air matanya tak kembali berjatuhan untuk kasih tak sampainya.
"Sejak kapan?" lirih Siera.
"Sejak kita lulus SMA, Aku baru menyadari jika Aku tidak hanya sayang padamu sebagai teman. Aku mencintaimu Siera, hingga Aku berusaha mendapatkan beasiswa agar setidaknya Aku bisa pantas bersanding dengan Kamu."
Ha! Ha! Ha!
Siera tiba-tiba saja tertawa, walaupun wajahnya terus terlihat menunduk dan terlihat muram. Seakan gadis itu tengah menertawakan situasi yang sedang menimpanya, atau lebih tepatnya menertawakan nasib cintanya yang sejak awal harus sudah kandas walupun belum memulai.
__ADS_1
"Lucu sekali Nuga. Bagaimanapun perasaan Kita, ini semua tidak menutup kenyataan jika Kamu menerima perjodohan itu! Kalau Kamu cinta sama Aku, mengapa Kamu menerimanya? Mengapa? Pada akhirnya Aku cuma sebatas bayang-bayang dari Siena! Ha-ha-ha, memang seharusnya Aku tidak pernah terlahir di dunia ini! Karena Akulah kesalahan itu sendiri," Siera berkata dengan nada suara yang terdengar begitu putus asa. Tidak ada sedikitpun tempat untuk dirinya, pada akhirnya dirinya harus merelakan segalanya untuk saudari kembarnya.
"Siera, Aku akan memutuskan perjodohan itu! Maafkan Aku yang selama ini menjadi pengecut dan tidak pernah meluruskan kesalahpahaman."
"Kau ini mau membuat Siena mati? dan membuatku menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan, dan dibenci. Aku sudah sangat lelah Nuga, sejak awal perasaan kita ini sebuah kesalahan. Aku sudah merelakan Kamu, anggap saja peryataan cintaku dulu itu tidak pernah ada."
Siera membalikkan tubuhnya kembali, berniat untuk melanjutkan langkahnya yang tertunda. Namun tidak semudah itu untuk Nuga melepaskan Siera, pria itu kembali meraih lengan Siera agar membuatnya tak bisa kemana-mana.
"Lepaskan tanganmu itu!" Suara yang kini terasa familiar bagi Siera tiba-tiba terdengar. Gadis itu menoleh dan melihat Nikolai sudah berada di antara dirinya dan juga Nuga.
Mata indah berwarna kehijauan milik Nikolai menatap tajam Nuga, seakan mengintimidasi dan menekankan jika Siera adalah miliknya.
"Lepaskan! Apa Kau ini tuli?" cerca Nikolai.
Nuga melepaskan genggaman tangannya dari Siera dengan wajah yang menyiratkan kebingungan. Dengan cepat Nikolai segera mengambil alih tangan gadis itu, menuntun Siera untuk masuk ke dalam mobil miliknya.
Dilihatnya wajah gadis itu yang sudah memerah, Siera hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun.
"Siera," sapa Nikolai dengan nada bicaranya yang khas dan terdengar lembut.
Namun Siera masih bergeming, sambil terus menatap Nuga yang masih berdiri di trotoar tanpa bergeming sama sekali lewat jendela mobil.
Perlahan air mata mulai berjatuhan dari sepasang manik hitam gadis itu yang sedari tadi sudah berkaca-kaca.
Hah!
Nikolai menghela napasnya, lalu meraih sekotak tisu dan mengambilnya beberapa helai. Walaupun pertemuan dirinya dengan Siera terbilang singkat dan tanpa kesengajaan, tetapi tak dapat dipungkiri jika dirinya sudah terpikat dengan pesona yang dimiliki Siera. Hanya menatap wajah sayu gadis itu, hatinya terasa linu seakan ada jarum yang tengah menusuknya. Perasaan ingin melindungi kian membesar pada gadis itu.
Perlahan Nikolai menghapus air mata yang mulai mengalir di pipi Siera dengan lembut, hal itu berhasil menarik kembali kesadaran Siera dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
Mata mereka saling bertemu satu sama lain, saling bersitatap diiringi suara derai hujan yang kian mengusik.
"Apa Kamu baik-baik saja?" tanya Nikolai kembali.
Siera langsung mengusap wajahnya dengan punggungnya tangannya lalu menganggukkan kepala dan berkata, "Ya, maaf ya!"
"Maaf, kenapa harus meminta maaf? Kamu tidak memiliki salah apapun padaku."
"Tapi Aku ...." Perkataan Siera terputus saat Nikolai meletakkan jari telunjuk tangannya tepat di depan bibir Siera. Pria itu tersenyum lalu kembali mengusap sisa-sisa air mata yang masih membekas di wajah Siera.
"Nanti saja ya, lebih baik kita segera pergi dari sini."
__ADS_1
Nikolai memasangkan sabuk pengaman untuk Siera, sebelum akhirnya mulai melajukan mobilnya menembus jalanan ibu kota yang diguyur hujan.
Sementara Nuga segera masuk ke dalam mobil miliknya, berusaha mengikuti mobil Nikolai yang membawa Siera entah kemana.
***
"Siera, ayo kesini! Jangan takut, sini pegang tanganku!" Seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun terlihat turun ke dalam sawah yang baru saja di panen. Tangannya mengulur, menantikan tangan gadis kecil yang merupakan teman barunya.
Dengan ragu Siera mulai masuk ke dalam sawah yang penuh akan lumpur hingga menenggelamkan lututnya. Gadis itu tersenyum sumringah karena melakukan suatu hal yang baru ia rasakan.
"Ini teh namanya tutut, nanti kita kasih umi biar dimasakin!" ucap Nuga sambil memperlihatkan seekor keong sawah yang memiliki ukuran kecil.
Siera mengerutkan keningnya lalu bertanya, "Ini bisa dimakan? Kalau keracunan bagaimana?"
Ha-ha-ha
"Tidak akan, Aku makan ini tidak pernah kenapa-kenapa. Kamu tenang aja, karena Aku yakin Kamu akan suka!" Nuga tertawa hingga suaranya memenuhi pematang sawah yang terik pada siang itu.
Dengan sengaja ia menyentuh hidung Siera dengan jarinya yang penuh lumpur, hingga membuat hidung gadis itu pun kotor.
"Nuga!" jerit Siera kesal.
"Ha-ha-ha, ayo buruan! Habis ini Aku ambilkan buah seri untuk Kamu. Pokoknya Aku akan kasih tau Kamu hal-hal menarik."
"Janji ya!" Siera mengulurkan jari kelingkingnya, sambil tersenyum manis yang memperlihatkan giginya yang hilang satu. Perlahan Juga menautkan jari kelingking mereka dan membalas senyuman Siera.
"Iya, Aku janji. Kita, kan teman!"
Tin! Tin!
"Woi! Kalau nyetir yang bener, bosen idup lo!"
Suara klakson mobil dan bentakan dari seseorang membuat Nuga tersentak dan tersadar dari lamunannya.
Dengan cepat ia membetulkan posisi laju kendaraannya, lalu mengatupkan kedua tangannya untuk memohon maaf pada pria yang baru saja mencaci maki dirinya.
Dari kejauhan terlihat mobil yang dikendarai oleh Nikolai memasuki sebuah gedung apartemen mewah, membuat Nuga semakin mempercepat laju kendaraannya untuk mendekat, dan memastikan jikalau penglihatannya tidaklah salah.
"Untuk apa mereka ke sini? Dan siapa pria itu?" tanyanya bermonolog dalam hati. Keningnya terlihat berkerut, menandakan jika dirinya tengah bermain dengan spekulasi-spekulasinya sendiri tanpa kejelasan yang pasti.
...****************...
__ADS_1