
Malam hari tepatnya pukul 21:30. Ketika Sultan akan kembali pulang bersama Pak Jono dan juga Suster Marni. Bayu yang mengantar ketiganya hingga depan pintu, melihat kehebohan para tim medis yang masuk ke dalam ruang rawat Silvi.
Bayu yang merasa penasaran segera memasuki ruang rawat Silvi. Terlihat Dokter Mateo sedang sibuk melakukan pertolongan pada pasiennya yang sudah menutup matanya dengan rapat itu.
Bayu menghampiri Hendra yang terduduk di sofa dengan wajah frustrasi. Matanya begitu sembab dan merah. Masih terlihat air mata menetes di matanya.
"Hendra katakan ada apa? Istri mu kenapa?" Tanya Bayu yang ikut cemas melihat semua ini.
"Dia berhenti bernafas Bay. Sekarang Dokter sedang berusaha membuatnya kembali bernafas." Jawab Hendra sembari menangis.
"Apa??" Bayu terkejut. Meskipun Silvi hanya kakak iparnya, jawaban Hendra yang ia dengar mampu membuat tubuhnya terasa tak bertulang.
Tak dapat dibayangkan oleh Bayu bagaimana perasaan Hendra sekarang. Jika dia yang berada di posisi Hendra saat ini. Ia pasti kalut dan bingung harus bagaimana. Karena rasa sedih atas kehilangan seorang istri pasti sedang menguasai dirinya.
"Apa kamu sudah hubungi keluarganya dan juga Ayah Ibu?" Tanya Bayu yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Hendra yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Titttttt.....!! [Suara monitor berbunyi sangat panjang hingga memecah kesunyian diruang rawat Silvi].
Terlihat Dokter Mateo menggelengkan kepalanya, menatap lemas pada pasiennya. Ia melepaskan alat yang ia gunakan untuk memompa jantung Silvi agar kembali berdetak.
__ADS_1
"Sus, lepaskan semua alat-alat pada pasien! Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan sudah menjemputnya, sebagai jalan terbaik dalam penyembuhannya. Sebelum kita tutup wajahnya, ada baiknya kita doakan agar segala amal ibadahnya selama ini di terima di sisi Tuhan." Ucap Dokter Mateo yang di anggukan oleh semua tim medis yang membantu menangani Silvi.
Setelah selesai berdoa untuk Silvi, dengan berat hati Dokter Mateo menghampiri Hendra yang duduk di sofa, ditemani oleh Bayu yang setia berdiri disampingnya sejak tadi.
Bayu menyenggol bahu Hendra, dia memberitahukan kedatangan Dokter Mateo yang menghampiri mereka. Hendra pun berdiri dan mendekati Dokter Mateo yang menghampirinya.
"Bagaimana dengan istri saya Dokter?" Tanya Hendra dengan wajah sedih dan terlihat kusut.
"Tuan Hendra, mohon maaf dengan berat hati kami menyampaikan jika istri Anda tidak dapat kami tolong lagi. Beliau sudah pergi kepangkuan Tuhan. Semoga Anda bisa berbesar hati menerima kenyataan ini." Ucap Dokter Mateo yang kemudian tertunduk sejenak.
Dokter Mateo ikut sedih dengan kepergian Silvi, pasiennya. Karena tidak ada seorang Dokter yang menginginkan pasiennya pergi dengan cara yang seperti ini. Seorang Dokter selalu berharap pasiennya pergi meninggalkan rumah sakit dalam keadaan kembali sehat.
Melihat kesedihan yang terpancar di wajah Hendra, Dokter Mateo akhirnya memilih meninggalkan Hendra yang sangat terpukul mendengar pernyataannya mengenai kepergian pasiennya itu. Ia memberikan ruang pada Hendra untuk menenangkan diri. Lagi pula tugasnya sebagi Dokter sudah selesai dalam menangani Silvi.
Hendra tak menyangka pembicaraannya dengan Silvi yang berujung pertengkaran membuat Silvi pergi untuk selama-lamanya bersama buah hati mereka yang masih ada di dalam rahim Silvi.
Bayu yang berada di sebelah Hendra pun berusaha membangunkan kakak iparnya itu. Ia menarik tubuh Hendra kemudian memberikan pelukannya pada Hendra yang saat ini terlihat sangat terpukul. Bayu berusaha menguatkan Hendra dengan pelukan yang ia berikan.
Tak berselang lama kedua orang tua Silvi datang, meraka melihat Hendra yang sedang menangis dalam pelukan Bayu.
__ADS_1
"Hendra!!" Panggil Nyonya Sari dan Tuan Yuda saat melihat menantunya menangis tersedu-sedu dalam pelukan Bayu.
Setelah memanggil nama Hendra, kedua mata mereka beralih kearah kamar rawat putri mereka. Dilihatnya oleh mereka. Seorang Suster tengah menutup bagian wajah sang putri dengan kain putih panjang yang hampir menyelimuti seluruh bagian tubuh putri mereka dari bawah kaki hingga ke bagian atas kepala.
"Tidak, Silvi....!!! Jangan tinggalkan Mommy Nak!" Pekik Nyonya Sari yang seketika itu berlari menghampiri ranjang sang putri.
Ia memeluk erat dan terus menggoncangkan tubuh putrinya yang sudah tak bernyawa lagi.
"Bangun sayang. Mommy sudah merestui pernikahan kalian, Mommy juga sudah tak pernah mengganggu rumah tangga mu dengan Hendra. Mommy juga tak pernah lagi meminta mu untuk bercerai dengan Hendra, tapi kenapa kamu pergi sayang?" Ucap Nyonya Sari dengan tangisnya yang tersedu-sedu.
Nyonya Sari memang awalnya tak merestui pernikahan Silvi dan Hendra. Karena ia sangat berharap Silvi bisa menikah dengan Neil, anak teman sosialitanya itu. Meskipun ia tahu Silvi mengidap penyakit mematikan tapi ia begitu optimis jika Silvi akan sehat kembali jika ia menikah dengan Neil yang berprofesi sebagai Dokter.
Namun Silvi tetap bersikeras menikah dengan Hendra, pria yang sangat di cintainya. Meskipun tak mendapatkan restu dari sang Mommy, ia tetap menikah dengan Hendra. Karena sang Daddy Tuan Yuda memberikan restunya untuk pernikahan putrinya bersama Hendra
Bahkan dibalik restu yang ia berikan oleh Tuan Yuda pada pernikahan putrinya dan Hendra. Ada sebuah kontrak yang ditanda tangani antara dirinya, Hendra dan juga Neil. Dimana Tuan Yuda akan memberikan saham perusahaannya sebanyak 40 persen untuk Hendra dan 20 persen untuk Neil sebagai tanda terima kasihnya pada keduanya karena telah memberikan kebahagiaan pada putri semata wayang mereka itu.
Neil yang menolak pemberian Tuan Yuda berjanji pada Hendra, akan memberikan bagiannya pada Hendra setelah kepergian Silvi nanti. Itupun dengan syarat Silvi tak terluka selama menjalani pernikahan dengan Hendra. Awalnya Hendra tak menyetujui kontrak kerja sama ini, ia menolak menikahi Silvi karena ia begitu mencintai Amel.
Namun Neil yang mengetahui jalaninan asmara Hendra dan Amel yang terhalang restu dari kedua orang tua Amel yang memiliki sifat materialistis pun akhirnya bisa membujuk Hendra dengan sebuah perjanjian. Ya. Sebuah perjanjian dimana Neil akan membantu menyatukan Hendra dengan Amel ketika tugas Hendra mendampingi Silvi diakhir hidupnya telah berakhir dengan baik.
__ADS_1
Neil juga membujuk Hendra, jika ia sudah memiliki saham perusahaan Tuan Yuda yang merupakan salah satu investor besar perusahaan kedua orang tua Amel. Akan membuatnyanlebihnmidah mendapatkan Amel, karena tidak menutup kemungkinan jika lamaran Hendra untuk kedua kalinya akan ditolak oleh kedua orang tua Amel. Mengingat seberapa penting Hendra pada perusahaan mereka.
Perjanjian dan bujuk rayu Neil terhadap Hendralah yang membuat Hendra mau menerima Silvi menjadi istrinya dan menerima isi kontrak pernikahan yang ditawarkan oleh Tuan Yuda pada dirinya.