
Nayla mengerjapkan kedua matanya. Samar-samar, ia dapati suaminya tengah duduk di sofa panjang yang berada di bawah jendela. Suaminya itu tengah memperhatikan dirinya yang sedang tertidur.
Nayla merubah posisi tidurnya, sejenak ia merenggangkan otot tubuhnya yang terasa remuk. Kemudian ia duduk sembari menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya terkecuali wajahnya.
Bayu yang melihat tingkah istrinya yang menutup seluruh tubuhnya terkecuali wajahnya hanya tersenyum tipis sembari menatap sang istri.
"Kenapa ditutup seperti itu hum?" Tanya Bayu dengan senyum tipis yang belum luntur dari wajahnya.
"Malu," jawab Nayla dengan wajah bersemu merah dari balik selimut.
Bayu yang melihat tingkah malu-malu Nayla tersenyum renyah. Ia terlihat berjalan menghampiri sang istri. Ingin rasanya hati Bayu bergabung di dalam selimut itu, kemudian mengulang lagi adegan panas mereka seperti tadi siang. Namun hal itu urung ia lakukan. Ia hanya meledek sang istri yang kadang marahnya sang istri menjadi salah satu hiburan Bayu.
"Hahaha kamu malu sayang? Bukankah urat malu mu itu sudah putus?" Tanya Bayu yang meledek sang istri sembari mendaratkan bokongnya di ranjang tempat tidur.
Plak!! [Satu pukulan mendarat di bokong Bayu saat ia ingin duduk di ranjang tidur mereka].
"Aduhh... " Rintih Bayu sembari mengusap bokongnya yang kesakitan.
Bayu mendekati kepalanya di atas paha Nayla, kemudian menjadikan paha Nayla sebagai tumpuan kepalanya, saat ia berbaring di ranjang tidur mereka.
Sikap Bayu yang tak biasanya seperti ini membuat Nayla mengerutkan dahinya.
"Kenapa nih Pak Suami, kayanya mukanya runyam banget, kaya kaset kusut? Apa ada masalah?" Tanya Nayla di dalam hatinya.
"Pih"
"Hemmm"
"Kenapa mukanys kusut banget? Papi konslet, ya? Apa ada sesuatukah?" Tanya Nayla sembari mengusap kepala plontos suaminya.
Rambut yang sudah mulai tumbuh di kulit kepala Bayu, menjadi kesenangan tersendiri bagi Nayla saat menyetuh bagian kepala suaminya itu. Sensasi geli yang mengasyikan selalu ia dapatkan disana.
"Gak apa-apa?" Jawab Bayu berbohong.
Hati Bayu merasa tak baik-baik saja semenjak kepergian Nathan. Bukan hanya tentang pekerjaannya tapi juga tentang masa lalunya. Pikirannya terus dihantui rasa takut, takut kehilangan Nayla dan takut kejadian yang tak ia inginkan terulang kembali.
"Serius?" Tanya Nayla lagi yang merasa tak yakin.
"Dua rius." Jawab Bayu yang malah mencium tangan Nayla yang ia ambil, saat tangan itu sedang mengusap lembut kepala pelontosnya.
"Bohong." Tebak Nayla yang merasa ada air mata Bayu menetes di punggung tangannya.
"Iya Bohong, kok tahu?" jawab Bayu yang menitikan air mata.
"Kamu nangis Pih? Ih,kok nangis sih, kamu kenapa sayang? Aku punya salah sama kamu Pih? Aku memangnya ngelukain perasaan kamu gitu Pih hum? Bilang Pih, jangan diam Aja! Kita ini suami istri, kita harus saling berbagi satu sama lain. Kalau aku salah kamu tegur aku sayang. Jangan di pendam sendiri terua nangis kaya gini. Aku minta maaf banget ya, Pih." Cerocos Nayla yang terlihat panik saat Bayu terlihat menangis.
"Kamu memangnya mau kita saling berbagi hum?" Tanya Bayu yang menatap Nayla dari atas pangkuan Nayla.
__ADS_1
"Iya maulah, berbagilah semua hal dengan aku,Pih. Jangan dengan yang lain! Aku siap jadi teman, sabahat, dan istri yang baik untuk kamu." Jawab Nayla yang juga menatap manik mata Bayu yang terus saja menitikan air mata di bawah sana.
Nayla terlihat terus menghapus air mata Bayu yang berjatuh dengan mengusapnya berkali-kali. Tangan Bayu akhirnya menghentikan pergerakan tangan Nayla di wajahnya. Ia menatap lekat manik mata istrinya dan berkata. "Untuk kali ini izinkan Papi menangis dan mengeluh di hadapan mu Mih,"
Nayla terdiam sejenak, ia mencoba mencerna ucapan suaminya yang terdengar begitu lirih da rapuh.
"Pih,"
"Hemmm, gimana Mih? Papi bolehkan ____" Bayu menghentikan ucapannya karena Nayla memotongnya.
"Udah boleh kok, Papi boleh mengeluh dan menangis di hadapan Mami, Mami akan jadi pendengar yang baik. Maaf jika selama ini Mami bersikap kekanak-kanakan ya,"
"Papi selalu memaafkan Mami kok," jawab Bayu masih dengan suara lirihnya.
"Sekarang Papi katakan, mau mengeluh apa sama Mami hum?" Tanya Nayla sembari mengelus kepala plontos suaminya kembali.
Bayu terdiam sejenak ia memalingkan pandangannya kearah jendela kamar. Terlihat dari matanya jika ia sedang merasa terbebani dengan sesuatu hal. Ia juga nampak ragu mengatakan pada istrinya yang menurutnya pemikirannya kurang dewasa.
"Mih, jika Papi utarakan, janji gak marah dan ngambek ya?" Tanya Bayu yang kembali menatap istrinya.
"Hemmm, iya Mami janji kok gak ngambeg, paling cuma gantung Papi di pohon sawo malam-malam buat nemenin tante kunti yang galau." Jawab Nayla dengan candaannya yang membuat Bayu merengutkan wajahnya.
"Mami serius Mih, jangan bercanda." Bayu meminta istrinya itu untuk serius dengan wajah merengutnya.
"Jangan kaku banget dong Pih! rileks aja sih jadi orang," balas Nayla yang malah mencapit hidung mancung suaminya.
"Jadi mau ngeluh sama Mami gak nih Pih?"
"Jadi dong sayang,"
"Ya udah cepetan, jangan sampai Mami lumutan nungguin Papi ngomongnya yang loadingnya lama banget," omel Naula yang membuang pandangannya dari Bayu.
Bayu mendengus saat mendengar omelan istrinya yang tak sabar ingin mendengar keluhan hatinya saat ini. Nayla memang terlihat sangat sulit mempertahankan sikap lembutnya pada Bayu. Bawaannya selalu ingin mengomel dan mengerjai suaminya itu terus.
"Mih," panggil Bayu yang menarik tengkuk Nayla agar kembali menatapnya.
"Hemmm,"
"Papi lagi ada masalah,"
"Masalah apa? Berat apa ringan?"
"Berat. Seberat dosa Mami ke Papi." Jawab Bayu yang malah membuat Nayla kembali membuang pandangannya.
Kesal. Tentu saja Nayla kesal. Bagaimana tidak, dia sudah cemas dan khawatir dengan suaminya yang terlihat runyam dan menangis di hadapannya.
Bicara begitu lirih pada awalnya lalu lama kelamaan malah membuat dirinya kesal, karena tidak langsung bicara pada inti permasalahannya dan malah dengan sengaja meledek dirinya.
__ADS_1
"Jangan marah Mih! Papi lagi pusing gak punya ide buat bujuk Mami,"
"Ya habis Papi ngomongnya gitu."
"Ya tadikan Mami bilang jangan kaku-kaku banget jadi orang, kok sekarang Mami yang kaku sih."
"Eh, iya-iya. Maaf ya Pih."
"Hemmm. Dimaafin."
"Ya udah. Sekarang cerita Papi kenapa?"
"Mih, kalau Papi jatuh miskin gak punya apa-apa, Mami bakal ninggalin Papi ga?" Tanya Bayu degan mimik wajah yag begitu serius mentap Nayla.
"Gak lah, kita gak akan jatuh miskin. Sekalipun kamu jatuh miskin, Mami akan tetap kaya dan gak akan ninggalin Papi. Mami gak mau anak kita gak punya sosok Papi yang nyebelin kaya kamu nihh hummm." Jawab Nayla yang malah merauk mulut Bayu yang suka bicara menyebalkan padanya.
"Aduh Mih, jangan di rauk gitu dong mulut Papi, sakit tahu," keluh Bayu sembari mengusap bagian mulutnya.
"Emang kenapa Papi ngomong kaya gitu. Papi bangkrut?" Tanya Nayla pada Bayu. Ia menatap serius wajah suaminya.
"Kalau iya gimana Mih?" Jawab Bayu yang malah balik bertanya pada Nayla.
"Iya gak apa-apa santai aja sih. Penghasilan bersih Mami sebulan hampir 100 juta, cukuplah buat hidup kita sehari-hari, belum kalau masa panen. Hemmm ya pokoknya cukup, santai ajalah Pih tabungan Mami juga cukup buat masa depan anak-anak kita nanti." Jawab Nayla yang membuat Bayu terperangah tak percaya.
"Kamu bilang penghasilan? Kamu gak kerja sayang? Dapat uang darimana?" Tanya Bayu yang penasaran dengan uang yang di dapatkan Nayla.
"Panjang kalau diceritain, nanti Papi gak ada kesempatan cerita keluh kesah Papi hum." Jawab Nayla yang membuat Bayu bangkit dari posisi tidurnya.
Ia menatap serius wajah istrinya yang terlihat santai. Pantas saja ATM yang ia berikan belum ada jejak transaksi di sana. Padahal selama Nayla sakit dan berada di rumah. Istrinya itu selalu belanja online mau makanan, pakaian ataupun ***** bengek yang lainnya.
"Kamu harus cerita Mih, ini penting Papi harus tahu darimana asal uang yang kamu dapat." Pinta Bayu pada Nayla.
"Ya. Oklah, Mami cerita. Jadi begini Mami tuh selalu dapat uang bulanan dari Ayah sama Bunda. Mami tuh gak pernah jajan sejak SMP sampai sekarang. Maksudnya jajan pakai uang sendiri. Karena Papi tahu sendirikan, istri Papi ini cantik seperti bidadari. Mami tuh selalu di traktir oleh pangeran-pangeran tampan sejak dulu. Nah uang jajan Mami selama itu tuh Mami tabung, dan saat usia Mami 17 tahun. Mami belikan uang tabungan Mami itu rumah kontrakan, dibantu Pak Nardi supir pribadi Ayah."
"Terus?" Bayu kembali meminta Nayla melanjutkan ceritanya.
"Ya. Terus setelah satu tahun Mami ketagihan beli kontrakan, karena ternyata kontrakan menghasilkan Pih. Jadi Mami putuskan untuk jual semua koleksi perhiasan milik Mami yang diberikan Ayah sama Bunda. Uang hasil penjualannya, ya buat beli kontrakan lagi, dan setiap akhir tahun, Ayah tuh suka ngasih uang bonus dan ganti kendaraan baru buat anak-anaknya dan aku juga kumpulin uang itu tanpa beli kendaraan baru tentunya ya. Mereka pikir aku boros dan lain-lainlah, tapi akunya gak perduli. Yang penting bagi aku saat itu, uang yang diberikan Ayah itu bisa menghasilkan uang lagi buat aku. Jadi kalau uang yang besar-besar dari Ayah, aku beliin sawah di kampungnya Bi Narti. Setiap kali panen uangnya aku tabung terus, pokoknya sampai uangnya cukup buat beli kontrakan lagi, aku tuh suka kelayaban sama Amel cari kontrakan murah yang dijual penduduk perkampungan Pih. Sebenarnya yang paling banyak kontrakannya tuh Amel. Humm dia tuh benar-benar ratunya kontrakkan." Sambung Nayla yang membuat Bayu tercengang.
"Berapa kontrakan yang kamu punya sekarang Mih?" Tanya Bayu yang begitu penasaran.
"Lima puluh pintu, kontrakannya aja, kalau kost-kostan dua puluh pintu, dan rukonya sepuluh pintu."
"Apa?? Banyak banget Mih," Bayu terperangah tak percaya dengan aset yang dimiliki sang istri.
"Ya banyak Pih, kan perhiasan yang di jual Mami Diamond semua dan uang buat ganti mobil yang diberikan Ayah lumayan loh bisa buat beli satu pintu kontrakan."
Bayu terdiam mendengar ucapan Nayla. Di sini ialah yang tidak ada apa-apanya dibandingkan istrinya yang memiliki aset yang cukup besar dan nilainya selalu naik di tiap tahunnya.
__ADS_1