Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 227


__ADS_3

"Kenapa aku harus menutup mulutku? Memangnya siapa kau? Beraninya memintaku untuk tutup mulutmu. Sepertinya nyalimu sangat besar dari pada anggota keluargamu yang lain." Tanya Amel yang berusaha membusungkan dadanya.


Sungguh hati Amel tak terima dengan apa yang dikatakan Chaplin. Dengan seenak jidatnya Chaplin menyebut dirinya wanita j4l4ng dan murahan. Tak sadarkah dirinya, aemua ini terjadi karena tingkah tak bermoral keponakannya.


Melihat Amel yang menantang dirinya, makin membuat seorang Chaplin meradang. Ia makin mempercepat langkah kakinya mendekati ketiga wanita yang berdiri tepat di belakang keponakannya dan sang Kakak yang hanya diam saja tanpa melawan.


"Kau terlalu banyak bicara Amel! Simpan semua pertanyaan mu itu! Karena aku pastikan hari ini menjadi hari terakhir mu melihat indahnya dunia." Balas Chaplin.


Sebenarnya Chaplin bisa saja menembak ketiga wanita itu, namun hal itu urung ia lakukan, karena ia tak ingin gegabah untuk menyelamatkan keponakan dari darah daging Alvin yang hanya tersisa satu-satunya di dunia ini, setelah Nayla dan Amel telah berhasil menghabisi Alben kala itu.


"Stop! Jangan terus mendekat Om, atau aku akan menembak mati kedua anggota keluarga mu ini!" Ancam Nayla yang sama sekali tak membuat Chaplin gentar.


Nayla mengarahkan senjata ditangannya ke arah Patricia dan kembali pada Barnes. Yang kesulitan bernafas karena Nayla cukup kencang menyulutnya.


Meski melihat Kakaknya kesulitan bernafas, Chaplin tetap melangkahkan kakinya, selangkah demi selangkah makin mendekati mereka.


Nayla yang tidak suka perkataannya tidak didengar dan dianggap angin lalu, segera saja tanpa berpikir panjang lagi, ia menembak kepala bagian kiri Patricia hingga tembus kebagian kanan kepala Patricia. Patricia yang berlutut langsung saja ambruk dan menggelepar bersimbah darah.


"Nayla!! Kau benar-benar wanita gila!" Pekik Chaplin sambil berlari dan mengarahkan senjata pada Nayla yang berada di belakang tubuh Barnes.


Dorr!


Kali ini suara tembakan dari senjata api milik Endah yang memuntahkan timah panasnya, tepat di tangan Chaplin yang ingin menembak Nayla.


"Arghhh.... wanita-wanita sialan!" Erang Chaplin kesakitan.


"Sudah ku katakan. Don't shoot! Atau Barnes akan ku buat menyusul Patricia dan keluarganya yang lain ke neraka." Pekik Nayla, ketika semua anak buah Barnes ingin menembak dirinya.


Meski Chaplin sempat terjatuh dan mengerang kesakitan. Ia tak seperti Antonio yang lantas berdiam diri. Chaplin segera bangkit. Dendam di dalam dirinya memberikan kekuatan padanya untuk segera bangkit. Chaplin terus melangkah maju dengan sejuta rasa di dalam dadanya, seperti seorang supwr hero yang baru memiliki tenaga baru setelah disakiti.


"Kau tak akan mudah untuk membunuh ku Nayla. Sebelum aku mati, aku akan menghabisi dirimu terlebih dahulu." Pekik Chapiln yang sudah berada di depan Nayla dan Barnes yang mulai kehilangan kesadaran.


"In your dreams Om hahahahaha...." Balas Nayla dengan tawanya.


Mendengar tawa Nayla. Makin terpancing emosi Chaplin yang sudah ada di ubun-ubun. Dengan sekali tarikan tangan kekar Chaplin. Tubuh mungil Nayla tertarik menjauh dari Barnes yang langsung jatuh tersungkur di atas rumput.


Brukk!

__ADS_1


Saat tubuh Barnes jatuh tak berdaya dari tangan Nayla. Manik mata Chaplin langsung menatap tubuh Barnes yang teronggok di lantai. Entah mengapa reaksi obat itu belelrja lebih cepat dari seharusnya.


"Apa yang kau lakukan pada Kakakku, Nayla?" Tanya Chaplin sembari mencengkram kuat wajah Nayla dengan satu tangannya yang tidak terluka.


Sedang satu tangannya lagi yang masih bersimbah darah sudah memegang sebuah pisau belati yang siap untuk menusuk bagian tubuh Nayla.


Meskipun genggam tangannya pada pisau itu tak begitu erat, karena tangannya cukup bergetar hebat menahan sakitnya timah panas Endah yamg berhasil membolongi pergelangan tangannya. Dapat dibayangkan rasa sakit yang dirasakan Chaplin saat ini.


"Tentunya aku sedang bersenang-senang dengan kakak mu itu, Om. Sebelum dia menyusul keponakan dan Kakakmu ke neraka. Hahaha..." Jawab Nayla masih dengan keberaninya.


Kini tanpa ragu, Chaplin menghunus pisau belati itu ke perut Nayla. Hingga tawa Nayla terhenti sejenak. Matanya sedikit membulat merasakan sesuatu menyobek permukaan perutnya.


"Bukan aku yang menyusul kakakku dan keponakan ku ke neraka, tapi dirimu Nayla." Ucap Chaplin saat pisau belatinya menghunus perut ramping Nayla.


Bukannya mengerang kesakitan, meski banyak darah yang keluar dari bagian perutnya. Nayla malah makin tertawa terbahak-bahak. Membuat Chaplin menatap aneh pada wanita muda di hadapannya.


"Kau masih bisa tertawa, kau benar-benar wanita sinting Nayla."


"Ya, aku ini wanita sinting. Aku sinting karena kakak mu, membunuh kekasih ku." Jawab Nayla yang kemudian ia mengambil sesuatu di dalam cepolan rambutnya.


Dengan gerakan secepat kilat Nayla menusuk suntikan kecil yang berisi cairan kimia mematikan pada bahu Chaplin.


Setelah itu, ia dengan segera menendang sekuat tenaga Chaplin untuk menjauh darinya. Tubuh Chaplin seketika itu juga terjatuh dan teronggok tak bernyawa dihamparan rerumputan yang hijau.


"Chaplin!" Pekik Antonio saat saudara satu-satunya terjatuh dan teronggok di atas rerumputan hijau halaman villa keluarga mereka.


Antonio yang sejak tadi terduduk di posisinya lantas berdiri dan ingin menghampiri Chaplin, saudara lelakinya. Namun keinginannya ia hentikan, saat ia melihat sebuah pisau menancap diperut Nayla.


Endah dan Amel terlihat sangat terkejut, saat mereka juga melihat bagian perut Nayla yang tertusuk pisau belati yang masih menancap di perut Nayla.


Sungguh keduanya sama sekali tak melihat Chaplin membawa pisau belati untuk menusuk Nayla. Meraka berdua benar-benar kecolongan.


"Gue tertusuk guys hahaha..." Ucap Nayla ketika ia mencabut pisau belati yang menancap di perutnya.


Nayla menarik nafasnya dalam, merasakan sakit luar biasa pada bagian perut yang di tusuk Chaplin. Darah kembali menyembur dari bagian perutnya.


Seketika itu juga Endah dan Amel berlari dan mendekat pada Nayla, yang masih kuat berdiri.

__ADS_1


"Nay.." panggil Amel yang langsung saja menangis melihat sahabat sekaligus adik iparnya terluka.


Begitu pula dengan Endah, baru kali ini, misi mereka bertiga membuat salah satu diantara mereka terluka.


Nayla terus menekan perutnya agar tak mengeluarkan darah. Apa yang dilakukan Nayla cukup membantu, karena luka tusuk Nayla tak cukup dalam. Tangan Chaplin yang tertembak tak memiliki tenaga untuk meneka pisau belati itu lebih dalam lagi.


"Jangan nangis bodoh! Gue gak apa-apa. Sana selesai misi kita!" Ucap Nayla pada Amel yang tak bisa melihat Nayla terluka.


"Nggak gue mau sama lo aja di sini. Sekarang apa pesan terakhir lo Nay? Gua akan jaga anak-anak lo. Lo tenang aja. Kasih peraan terakhir yang lain!" Ucap Amel yang berpikir sebentar lagi sahabat sekaligus adik iparnya ini akan pergi selama-lamanya.


"Sialan lo. Gue belum mau mati, utang panci anti lengket gue belum lunas." Sahut Nayla dengan tawa khasnya.


Endah dan Amel sempat tertawa mendengar sahutan Nayla yang berhasilkan mencairkan suasana tegang dan sedih ketiganya.


Sementara ketiganya sedang mengharu biru di sana. Antonio sudah bersiap mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk melancarkan misi keluarganya untuk menghabisi Nayla dan Amel.


Antonio sebagai anggota keluarga satu-satunyq Balson yang tersisa, sekarang ia memegang kekuasaan dan kendali penuh pada anak buah yang bekerja pada keluarga besarnya ini. Ia langsung saja meminta anak buahnya untuk segera menembak ketiganya, yang sedang tak fokus dengan keberadaan mereka saat ini.


Namun saat anak buah keluarga Balson baru ingin menodongkan senjata api pada mereka. Tiba-tiba bala bantuan datang. Andrew yang dari jauh sudah melihat salah satu bidadari tak bersayap terluka langsung saja menembaki mereka dengan brutal.


"Damn it! Mati kalian semua." Ucapnya saat menembaki mereka semua dengan senjata apinya.


Sementara Andrew terus menembaki mereka semua. Baik Bayu, Hendra dan Jimmy. Langsung mendekat pada Nayla yang kini tengah terluka.


"Papi, Mami ketusuk hua..." Ucap Nayla suara manja. Ia mengadu berharap diperhatikan oleh suaminya. Tak lupa ia juga menangis tergugu seperti anak kecil yang minta terus di belikan balon oleh kedua orang tuanya.


"Sakit ya Mih, ketusuk dimana hum?" Tanya Bayu yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari orang di sekelilingnya.


"Pakai nanya Bay, ya sakitlah adik gue! Sini lo cobain. Udah tahu perutnya yang berdarah pakai tanya dimana?" Sahut Hendra kesal.


Sementara Nayla yang mendengar pertanyaan tak bermutu suaminya hanya bisa mencebik bibirnya yang mulai pucat karena cukup banyak mengeluarkan darah. Dan sedikit pusing mendengar ocehan Bayu dan Hendra yang akan ribut pada akhirnya nanti.


"Gendong Mami, Pih sini cepat! Udah pusing nih, kaya bakso yang pedes enak." Pinta Nayla sembari merentangkan tangannya.


Bukannya langsung segera menggendong istrinya, dan membawanya ke dalam mobil. Bayu malah menyingkap baju istrinya dan melihat luka di perut istrinya yang tak lagi mengeluarkan darah.


Hal ini dilakukan Bayu, karena istrinya ini cukup banyak bicara bagi orang yang terluka parah tidak akan mungkin banyak bicara seperti Nayla.

__ADS_1


"Gimana sih jagoan bisa ketusuk begini? Masih butuh Papi 'kan? Tadi aja bilang gak usah ikut, ketusuk begini aja nangis, apalagi ketembak!" Oceh Bayu. Saat ia sudah memastikan luka tusuk Nayla tak dalam dan tak terlalu membahayakan istrinya.


__ADS_2