
Suara gelak tawa pria berparas rupawan itu sontak memenuhi seluruh sudut ruangan.
Dengan santainya Nikolai berjalan dan duduk disebuah sofa yang terletak di dalam ruang tamu unit penthouse miliknya.
"Duduk dulu, biar Aku jelaskan!" serunya mempersilahkan Siera untuk duduk sekaligus menenangkan hati gadis itu.
Siera tampak bergeming sejenak sebelum pada akhirnya mengikuti seruan dari Nikolai. Helaan napasnya terasa berat sesaat setelah Sierra menduduki sofa yang terletak di hadapan Nikolai, sebelum akhirnya gadis itu pun membuka suaranya kembali.
"Jelaskan semua maksud Kamu!"
"Seperti penawaran Kamu waktu di restoran, jawabanku tetap sama. Aku tidak akan pernah memberikan kembali apapun yang sudah diberikan kepada diriku, tapi Aku punya cara lain untuk membantu Kamu," ucap Nikolai disertai dengan senyuman manis yang menghiasi paras tampannya.
"Tolong jangan berputar-putar, cepat katakan saja!" titah Siera yang mulai kehilangan kesabaran.
"Aku tahu kamu sedang kesulitan, maka Aku menawarkan Kamu untuk tinggal di sini. Anggap saja sebagai bentuk rasa terima kasih."
"Apa? Tinggal di sini? Lalu, bentuk rasa terima kasih apa? Memangnya apa yang sudah Kamu lakukan untuk Aku dan kenapa Aku harus tinggal di sini?" Siera tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, sungguh semuanya terasa aneh dan terdengar seperti bualan.
"Karena Aku telah menyelamatkanmu malam itu," jawab Nikolai dengan santainya.
Pria itu seolah bergeming dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Siera atas permintaannya. Namun sebaliknya, Nikolai terus saja tersenyum seolah dirinya tengah menawarkan suatu hal yang biasa dan terdengar remeh.
"Menyelamatkan Aku? Tunggu, maksud Kamu apa?"
"Baiklah, mari kita luruskan kesalahpahaman ini. Pertama Aku telah menyelamatkan Kamu, dan kedua Kita tidak melakukan apapun seperti apa yang Kamu pikirkan."
"Apa? Salah paham bagaimana?" Siera mengerutkan keningnya, mimik wajahnya terlihat jelas menandakan jika gadis itu tengah kebingungan.
__ADS_1
Entah mengapa, setiap raut wajah apapun yang ditunjukkannya mampu membuat pria yang terkenal acuh itu tersenyum.
"Jadi, semalam Aku menyelamatkan Kamu dari tangan dua orang pria. Aku membawamu ke hotel terdekat karena Kamu terlihat hampir kehilangan kesadaran penuh. Tapi saat sebelum Kamu benar-benar pingsan, Kamu muntah hingga mengotori pakaianmu, makanya Aku berinisiatif untuk mencuci bajumu di laundry hotel." Nikolai menjelaskan seluruh kenyataan agar kesalahpahaman tak terus berlanjut. Dirinya juga tak ingin dicap sebagai pria hidung belang yang tega melecehkan seorang gadis yang tengah hilang kesadaran.
"Tapi, tapi kenapa Kau tidur bersamaku?" tanya Siera gugup dan nyaris tidak percaya.
"Kalau Kau kenapa-kenapa siapa yang akan menolongmu? Makanya Aku memutuskan untuk menemani Kamu hingga Kau sadar."
Siera terdiam seakan tengah berpikir keras, raut wajah tak percayanya terlihat jelas dan tak luput sedikitpun dari Nikolai. Pria bermata bak safir itu pun menghela napasnya lalu berkata, "Kamu gak percaya jika Aku gak ngapa-ngapain Kamu? Ayo kita cek CCTV dan juga ke rumah sakit untuk visum. Kamu boleh menuntutku jika Aku benar-benar telah berbuat kurang ajar padamu."
Suasana pun seketika menjadi hening, hanya dentingan jam dinding yang seakan memecah ketegangan di antara Siera dan Nikolai.
Cukup lama mereka terdiam seakan tenggelam dalam pikiran mereka sendiri, Nikolai pun kembali mengembuskan napasnya dan menatap Siera.
"Bagaimana?" tanyanya kembali menegaskan.
"Awalnya Aku hanya niat menolong, karena Aku tidak sengaja menangkap gerak gerik temanmu yang aneh saat di klub. Tapi untuk membantumu sampai kini, bohong jika Aku mengatakan tak ada sedikitpun rasa ketertarikan pada dirimu. Aku melakukan ini juga spontan karena Aku ingin dekat denganmu dan mengenalmu lebih jauh." Nikolai mengungkapkan seluruh isi hatinya tanpa ragu, bahkan pria itu tak sedikitpun melepaskan tatapannya dengan mata Siera.
"Siera, jika kau membutuhkan bantuan maka Aku akan senang hati menolongmu. Aku harap Kamu bisa memanfaatkan diriku," lanjut Nikolai yang berhasil membuat Siera terkejut hingga membulatkan kedua matanya.
"Kau sudah gila ya? Kamu mengatakan hal seperti itu pada orang yang baru Kau kenal. Bagaimana jika Aku menipumu?"
"Nah! Ini adalah salah satu buktinya jika penilaianku tidak salah. Karena selain Aku mengetahui latar belakangmu, perkataanmu barusan juga membuatku semakin yakin jika Kau tidak akan bertindak buruk seperti itu!" seru Nikolai dengan semangat sesaat setelah dirinya menjentikkan jari.
Sedangkan Siera semakin dibuat bingung akan sikap Nikolai. Tingkah laku konyol pria itu benar-benar sangat berbeda dengan wajahnya yang terlihat dingin dan sedikit angkuh.
Siera memijat keningnya yang terasa berdenyut, kini pilihannya hanya ada dua dalam kondisi finansial yang kian terbatas, kembali ke rumah bak neraka tersebut atau tinggal bersama pria konyol di hadapannya itu.
__ADS_1
"Hemm ... bagaimanapun Aku ini perempuan, bagaimana cara agar Kau bisa menjamin keamanan Ku, bahkan dari dirimu?" tanya Siera dengan nada suara yang menekan. Ditatapnya lekat-lekat sepasang manik emerald milik Nikolai, seakan tengah mengintimidasi pria berparas tampan itu.
"Tingkat keamanan gedung ini sangat terjamin, CCTV pun terpasang di setiap sudut ruangan. Lalu Aku bisa membuatkan kontrak kesepakatan jika Aku takkan pernah berbuat hal yang tidak Kau sukai."
"Lagipula Aku ini jarang sekali pulang ke Penthouse, dan disini sangat luas jadi Kita bahkan bisa saja tidak saling berjumpa walaupun tinggal seatap, bagaimana jawabanmu?" ucap Nikolai kembali bertanya setelah meyakinkan hati Siera.
"Hah ... baiklah, tidak ada pilihan lain. Setidaknya satu bulan saja, mohon bantuannya," ucap Sirra yang pada akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Nikolai.
Senyuman Nikolai pun terlihat semakin lebar, hari itu benar-benar bagaikan keberuntungan baginya.
"Baiklah, Aku akan menunjukkan kamarmu!"
***
"Apa? Anak itu benar-benar tidak ada bosannya membuat masalah!" Rani terlihat murka kala mendengar kabar yang tidak mengenakkan tentang putrinya. Seluruh asisten rumah tangga di rumahnya tampak sibuk untuk membantu mencari Siera yang pergi dengan meninggalkan seluruh fasilitas yang diberikan oleh keluarganya.
"Sudahlah, Mih. Nanti juga balik lagi," ucap Riky dengan santainya. Pria itu bahkan terus memainkan ponsel miliknya tanpa rasa khawatir sama sekali.
"Mamih bukannya khawatir sama dia tapi Mamih takut Siena akan drop lagi kalau sampai tahu! Ya ampun, anak itu suka sekali cari masalah!" gerutunya sambil terus memijat keningnya yang terasa berdenyut.
Deg!
'Siera!'
Langkah kaki seseorang terhenti saat ingin memasuki ruang tunggu tersebut, pria itu hanya terdiam membeku dengan rasa sesak yang tiba-tiba saja terasa begitu menyiksa kala mendengar kabar tersebut tanpa sengaja.
Segera ia mengurungkan niatnya untuk menemui keluarga calon istrinya. Dikeluarkannya kunci mobil dari dalam tas miliknya, ia pun berlari dengan wajah yang tampak panik.
__ADS_1
...****************...