
Amel menghentikan laju kendaraannya yang baru berjalan beberapa meter. Karena rasa sakit pada tangan yang di cengkram kuat oleh Hendra.
"Stsssss... Sakit banget. Ampun deh..." Rintih Amel seraya mengusap lengannya yang kesakitan.
"Bisa gak sih Mas Hendra ngomong baik-baik, gak usah pakai ngebentak dan berbuat kasar, aku nih wanita loh Mas. Wanita benaran bukan jadi-jadian," ucap Amel dengan ketusnya. Ia menatap wajah Hendra tak kalah tajamnya.
Amel dapati , wajah pria yang duduk disampingnya kini sudah berubah pucat dan matanya terlihat begitu sembab.
"Sepertinya kamu begitu kehilangan dia Mas, mata mu yang begitu sembab. Mengisyaratkan kepedihan hati mu kini. Mungkin dia benar-benar telah menggantikan posisiku di hati mu. Kadang kita baru menyadari rasa cinta kita begitu besar pada seseorang disaat kita merasa kehilangan orang tersebut bukan pada saat masih bersama dengannya, tapi pada saat dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Seperti apa yang kamu rasakan kini." Batin Amel yang terus mentap wajah Hendra yang juga terdim menatap wajah Amel.
"Aku tak mau pergi dari sini,Mel." Ucap Hendra dengan suara lemahnya. Ia bicara dengan manik matanya menatap lurus ke depan. Seolah tak ingin Amel terus menatapnya.
"Kenapa? Apa kau mau menemani istri mu yang sudah tiada itu?" Tanya Amel masih menatap wajah Hendra. Pertanyaan Amel membuat Hendra mengalihkan pandangannya. Kini Hendra kembali menatap Amel.
"Aku tak tega meninggalkannya sendiri,aku akan menemaninya malam ini," jawab Hendra dengan lirihnya.
"Bagus kalau kamu tak tega meninggalkannya, Mas. Kenapa hanya malam ini saja? Kenapa gak selamanya saja sekalian? Kalau perlu kamu ikut saja pergi bersamanya kealam baka, kalian akan menjadi pasangan sehidup semati jadinya-kan." tanggap Amel yang seketika membuat mata Hendra membulat sempurna. Ia menatap tajam wajah Amel yang bicara sembarangan dengan dirinya.
"Terus saja memelototi ku. Aku tak taut. Wajah mu tak lebih menyeramkan dibanding wajah adik ipar mu. Sekarang terserah kamu mau marah pada ku atau tidak. Dan perlu kamu tahu ya Tuan Hendra si keras kepala. Kalau bukan karena Bunda yang merasa khawatir pada mu, aku tak akan repot-repot mencari mu kesini, di malam hari, hujan pula." Ucap Amel lagi yang kemudian kembali melajukan mobil Hendra. Tak perduli lagi dengan respon Hendra yang terus mengoceh minta Amel turun dari mobilnya dan membiarkannya tetap di area pemakaman demi menemani Silvi yang baru saja dikebumikan.
"Duduk manis dan diamlah disitu, aku akan membawa mu pulang kerumah orang tua mu. Harusnya kamu mendoakannya bukan bertingkah lebay seperti ini. Mau dikata aoa sih kamu itu Mas?" ucap Amel dari balik kemudinya dengan omelannya yang tak lagi ditanggai oleh Hendra.
Malam ini jalanan begitu padat merayap karena jalanan yang terguyur hujan, menyebabkan banjir dimana-mana, hingga menimbulkan kemacetan hingga beberaps kilo meter panjangnya.
Di lihatnya oleh Amel, Hendra tertidur dengan lelap di kursi samping pengemudi. Mungkin karena kelelahan membuatnya semudah itu tertidur dengan begitu pulas,atau mungkin ocehan Amel yang tak kunjung berhenti, membuat muak dan akhirnya tidur.
Tepat di belakang mobil Hendra yang dikemudikan Amel. Pae Parjo terus mengikuti laju mobil Hendra. Ia dengan setia mengikuti kemana arah mobil Hendra demi Nona Mudanya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai di kediaman Bunda Riska, karena kemacetan yang mereka lalui. Badan Amel pun terasa pegal-pegal, baru kali ini ia menyetir dalam waktu yang cukup lama, apalagi mobil milik Hendra bertransmisi manual, membuat kaki kirinya sangat pegal karena terus menerus menginjak pedal kopling.
Terlihat seorang penjaga rumah segera membukakan pintu pagar ketika melihat mobil Hendra datang. Amel membawa mobil Hendra masuk ke pekarangan rumah mewah itu dan menghentikan laju mobil Hendra tepat dibelakang mobil Tuan Gunawan.
"Mas bangun! Bangunlah Mas! Kita sudah sampai." Ucap Amel yang sedang sibuk melepas sabuk pengamannya. Rasanya sabuk pengaman yang ia gunakan sulit terbuka. Sepertinya macet.
__ADS_1
"Amel," panggil Hendra dengan suara khas orang bangun tidur.
"Hemmm," Amel menjawab dengan berdeham. Ia masih sibuk membuka sabuk pengaman yang tak bersahabat dengannya.
"Susah banget ni sabuk minta gue gunting," omel Amel yag tak dihiraukan oleh Hendra.
Dengan mata yang mengerjap-ngerjap Hendra bertanya pada Amel. "Kita sudah sampai dimana?"
Pertanyaan Hendra membuat Amel melirik kesal padanya. "Sudah sampai di kayangan." Seloroh Amel yang kemudian kembali fokus pada sabuk pengaman yang sulit ia lepaskan.
Manik mata Hendra mengedar ke sekelilingnya. Ia begitu mengenali tempat dimana ia berada kini. Setelah mengetahui dimana dirinya berada kini. Hendra kembali memanggil nama Amel.
"Amel," panggil Hendra lagi.
"Apa lagi sih, manggil-manggil mulu. Gak tahu apa orang lagi ribet." Jawab Amel yang sewot. Rasa capek, pegal dan ngantuk. Membuatnya jadi ingin marah-marah pada Hendra.
"Amel. Apa masih ada tempat untuk ku di hati mu,Mel?" Tanya Hendra tanpa rasa malu. Ia seakan tak ingin dengan Silvi, istrinya yang baru saja di kebumikan pada hari ini.
"Aku menjadi suaminya demi diri mu Mel, aku menikahinya agar bisa menikahi mu," ucap Hendra yang menarik dagu Amel agar menatapnya.
"Aku tahu, tapi gak juga harus dibahas hari ini kan? Kaya gak ada hari esok." Jawab Amel cuek seperti biasanya.
"Kamu tahu darimana? Apa Neil sudah menceritakan semuanya pada mu?" Tanya Hendra yang masih memegangi dagu Amel.
"Aku tahu itu dari Mbok Jum yang tak sengaja menguping pembicaraan antara kamu dan Bang Neil kemarin," jawab Amel yang juga menatap wajah Hendra kemudian membuang pandangannya. Ia kembali menatap sabuk pengaman yang mengunci tubuhnya yang ingin pergi.
"Lalu?" Tanya Hendra yang menanti ucapan Amel selanjutnya.
"Lalu? Lalu apa? Lalu lintas maksud mu Mas?" Sahut Amel yang malah tak mengerti maksud Hendra yang ingin Amel melanjutkan ucapannya.
"Lalu bagaimana perasaan mu setelah mengetahui semua ini?" Hendra bertanya detail kali ini pada Amel, agar Amel menjawab dengan jelas pertanyaannya.
"Bukankah aku sudah bilang, aku akan menunggu mu kembali berjalan mengarah padaku. Kanapa kamu tanyakan lagi Mas? Lupa apa pikun hah?"
__ADS_1
"Tidak lupa hanya ingin mendengar kembali perkataan yang pernah kamu ucapkan pada ku. Lau bagaimana dengan perasaan mu kini Mel?"
"Aku tak tahu Mas, harus sedih atau pun senang dengan kepergian Silvi dari sisi mu saat ini. Jika aku senang aku nampak begitu jahat bukan? Kalau bicara sedih, kisah cinta kita dan jalan hidup ku, tak kalah menyedihkan bukan?"
"Amel," panggil Hendra yang membuat ucapan Amel terhenti.
"Sudahlah Mas yang pasti untuk saat ini. Aku tak ingin bersama mu, sebaiknya kamu tata hatimu terlebih dahulu dan tunggulah beberapa waktu untuk kembali pada ku. Hargailah perasaan keluarga istrimu yang sedang berduka dan juga perasaan mendiang istrimu disana. Jenazahnya pun masih basah dan mungkin baru satu pertanyaan yang malaikat berikan padanya. Tapi kamu sudah sampai hati memalingkan haluanmu begitu cepat padaku." Terang Amel dengan menatap sendu wajah Hendra.
"Mel," panggil Hendra yang kemudian memajukan wajahnya, ia berusaha mengikis jarak, seakan ingin mengecup bibir merah Amel yang begitu menggoda.
Ceklek!! [Suara sabuk pengaman terbuka.]
Amel segera turun dari mobil Hendra. Meninggalkan Hendra begitu saja.
"Baru jadi Duda berapa jam, udah mau main nyosor aja. Sorry ya. Cinta sih cinta tapi pakai akal dan logika juga dong." Gumam Amel yag berjalan meninggalkan kediaman orang tua Hendra.
Kini ia terlihat sibuk mengambil ponsel yang berada di saku celana jins yang ia kenakan. Ia mencari nomor seseorang dan segera menghubungi orang tersebut. Ya. Amel saat ini tengah menghubungi Riska. Ia ingin memberitahukan bahwa ia sudah berhasil membaw anak sulungnya itu pulang kerumahnya.
Beberapa kali nada sambung terdengar dan tak berapa lama kemudian suara Riska yang serak seperti orang yang baru bangun tidur pun terdengar.
"Hallo Amel, bagaimana nak, apa Mas Hendra sudah berhasil kau temukan?" Tanya Riska dengan suara seraknya.
"Sudah Bunda. Dia ada di parkiran mobil rumah Bunda." Jawab Amel.
"Kamu temukan dia dimana Nak?" Tanya Riska yang ingin tahu dimana Ameo menemukan putranya.
"Di area pemakaman Mbak Silvi, Bunda." Jawab Amel yang mengejutkan Riska. Ia tak menyangka putranya masih berada disana hingga malam seperti ini. Ia ikut sedih dan menganggap putranya saat ini sedang terpuruk karena kehilangan istrinya, padahal tidak begitu pada kenyataannya.
"Makasih sayang, sudah membantu Bunda, membawa pulang Mas Hendra." Ucap Riska yang terdengar menangis di sebrang sana.
"Iya Bunda sama-sama. Maaf jika Amel tidak mampir, karena ini sudah terlalu malam. Kasian Pae Parjo sepertinya sudah mengantuk." Balas Amel yang sekalian berpamitan. Telepon pun berakhir.
Hendra turun dari mobilnya. Melihat Amel yang pergi bersama Pae. Meninggalkan kediaman kedua orang tuanya.
__ADS_1