
"Kau sudah gila ya?"
"Orang waras mana yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis, lalu langsung membawa gadis itu untuk tinggal di rumahnya?" Nikolai tersenyum seolah menegaskan jika dirinya benar-benar sudah kehilangan akal sehat karena telah jatuh cinta pada Siera.
Jawaban dari Nikolai cukup membuat Siera sakit kepala. Gadis itu pun terus memijat keningnya yang terasa berat akibat demam dan juga ucapan yang dilontarkan pria di hadapannya.
"Terserah kau mau bicara apa," jawab Siera pasrah.
"Hey, aku sungguh-sungguh. Jika kau menerimaku sebagai pacar kontrak, aku akan melakukan apapun untukmu. Aku bisa kau suruh belanja, mencuci baju, memasak, bahkan setrika," ucap Nikolai berkelakar.
"Lalu aku akan memberimu upah, mau perbulan atau perminggu?" sahut Siera yang berhasil memecah gelak tawa pria berdarah Rusia itu.
"Hahaha, aku sungguh-sungguh! Cobalah kau pikirkan sekali lagi, kegunaanku ini banyak. Aku bisa menjadi pasangan saat kau ke pesta, atau pasangan saat perkumpulan sosial. Wajahku tidak memalukan, reputasiku juga bagus."
"Kau bukan barang! Maksudku, manusia macam mana yang dipertimbangkan dari kegunaannya? Sudahlah, kau cari saja pacar sungguhan."
Untuk pertama kalinya pria yang biasa berwajah datar dan masam itu memperlihatkan mimik murung bagaikan seekor anak kucing yang merajuk. Namun, Siera sekali tidak peduli. Gadis itu terus saja berfokus pada hidangannya tengah ia santap tanpa melihat Nikolai yang berusaha membujuk dirinya.
"Tapi, aku hanya mau kamu. Baik pacaran sungguhan ataupun sebatas kontrak belaka." Nikolai terus berusaha membujuk Siera walaupun berkali-kali mendapatkan penolakan, pria itu benar-benar membuang harga dirinya di depan seorang gadis yang sudah membuatnya tergila-gila dan kehilangan jati diri.
"Mengapa? Dengan wajahmu itu, aku yakin kau takkan kesulitan mencari wanita," sahut Siera kembali.
Perkataan Siera seolah mengakui jika Nikolai adalah pria yang tampan baginya, hal itu tentu saja menambah kepercayaan diri Nikolai yang langsung tersenyum sumringah saat mendengarnya.
Pria bermata batu safir itu menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya yang ia letakkan di atas meja dan berkata,"Karena aku jatuh cinta padamu."
"Terserah!" jawab Siera singkat sambil meletakkan garpu dan sendok di atas piring makannya yang sudah kosong.
Siera menghapus sisa-sisa makanan yang berada di pinggir bibirnya dengan selembar kertas tisu, lalu beranjak untuk segera kembali ke dalam kamarnya.
"Terima kasih atas makanannya, aku akan beristirahat lebih awal," ucap Siera.
"Tunggu!"
__ADS_1
Siera menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah Nikolai, gadis itupun menghela napasnya dan berkata dengan malas, "Apa lagi?"
Tidak seperti sebelumnya yang dipenuhi oleh candaan, kini raut wajah Nikolai berubah menjadi lebih serius. Pria itu turut beranjak dari duduknya lalu mulai berjalan mendekati Siera.
"Tolong sekali lagi pikirkan matang-matang. Aku sungguh serius dengan penawaranku. Jujur saja, aku sama sekali tidak peduli jika kamu akan sungguh-sungguh memanfaatkanku, yang terpenting bagiku adalah memiliki kamu saja sudah cukup walaupun hanya sebatas kontrak saja. Saat itu terjadi maka aku akan membuktikan nilaiku, seberapa pantas dan tulusnya perasaanku padamu hingga kamu benar-benar bisa menerima hatiku ini."
Sorot mata emerald yang dalam dan tajam, sangat terlihat jauh berbeda dari yang biasanya Siera lihat. Hanya dengan melihat matanya saja, Siera memahami jika apa yang dikatakan oleh Nikolai adalah sebuah kesungguhan, tidak ada sedikitpun celah keraguan di mata Nikolai hingga membuat Siera seketika tak kuasa untuk berbalik menatapnya.
"Jika kamu ragu, kamu dapat mengatakan satu keinginanmu padaku. Aku akan berusaha menepatinya, aku buktikan jika kehadiranku setidaknya membantu kamu untuk menghadapi kesulitan."
Tak ada jawaban dari Siera, gadis itu hanya berdiri dan mematung seakan lidahnya terasa begitu kelu untuk mengeluarkan suara.
Perlahan Nikolai meraih tangan kanan Siera lalu mengecup punggung tangannya perlahan.
"Saya mohon."
"V-velly, ya! Velly! Aku ingin bertemu dengannya," ucap Siera gugup.
"Dengan senang hati, aku akan membawanya ke hadapanmu!"
......................
"Bagaimana pendapat anda, Sir?"
"O-oh, good job! Saya suka pembaruan itu. Baiklah, meeting hari ini kita selesaikan cukup sampai di sini, terima kasih!"
Tomi yang melihat tingkah aneh bosnya hanya bisa bergeming sambil sedikit membuka mulutnya. Satu jam lamanya meeting berlangsung, tetapi Nikolai terus saja melamun sambil tersenyum sendiri.
Tidak ada yang berani menegurnya, hingga akhirnya meeting berlangsung seakan tanpa kehadiran Nikolai.
"Bos lo kesambet apaan tuh?" tanya seorang karyawati bernama Inura.
Tomi yang masih tampak shock, menggelengkan kepalanya lalu berbisik, "Kayaknya salah minum obat."
__ADS_1
"Oh, pantes," sahut Inura kembali sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tak tiba-tiba tertawa
Namun siapa sangka, tiba-tiba saja Nikolai kembali sambil berkacak pinggang saat melihat sang asisten dengan bawahannya yang lain tengah terlihat bercengkrama dengan romantis.
"Kalian ini jam kerja malah sibuk pacaran! Tomi cepat ikut saya, atau tidak ada yang lembur untuk bulan ini!" ancam Nikolai yang seketika membuat Tomi membulatkan matanya lalu kembali mengikuti Nikolai.
"Bagaimana? Apakah sudah ada kabar?" tanya Nikolai tiba-tiba.
"Sudah, Bos. Pokoknya beres!" jawab Tomi percaya diri.
"Bagus, kalau begitu lebih baik kita segera menyambutnya," ucap Nikolai sambil tersebut seringai.
Ditempat berbeda seorang wanita menatap jendela mobil yang berada di sampingnya, jalanan yang cukup lancar saat itu membuat dirinya tidak merasakan khawatir akan tertinggal pesawat.
Sementara itu dari kaca yang terletak di tengah bagian atas mobil itu, sang supir masih terus saja berusaha mencuri-curi pandang atau lebih tepatnya memantau apa yang tengah wanita itu lakukan.
"Kenapa kita tidak lewat jalan tol saja?" tanyanya saat menyadari jika sang supir lebih memilih melewati jalan lain daripada masuk kedalam jalanan bebas hambatan.
Dengan senyuman ramah supir itupun berkata, "Sedang ada kecelakaan di dalam tol, lebih baik kita melewati jalan biasa daripada anda terlambat, bukan?"
"Ok, terserahlah," jawab wanita itu acuh tak acuh.
Hingga setengah jam lamanya mereka masih saja belum kunjung sampai tujuan. Wanita itu mulai resah dan terus menerus melihat arloji yang ia kenakan, lalu melihat keluar jendela.
"Masih harus berapa lama lagi? Kalau begini saya akan benar-benar terlambat! Anda ini bagaimana sih, katanya kita akan lebih cepat sampai tapi ternyata tidak," protesnya yang sama sekali tidak ditanggapi oleh supir taksi yang ia naiki.
Supir tersebut mulai menaikan kecepatan. dari laju mobil yang ia kemudikan, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah jalan yang cukup sepi dengan dua orang pria sudah menunggu di tepian jalan.
"Heh, anda mau bawa saya kemana? Jangan macam-macam karena saya akan berteriak!" ancam wanita itu saat mulai menyadari ada yang tidak beres dengan taksi yang ia naiki.
Supir tersebut hanya tersenyum lalu menepikan mobilnya dan berkata, "Kita sudah sampai, Nona Velly!"
...****************...
__ADS_1