
"Bagaimana mau menjadi ibu yang baik, jika dirimu saja tak bisa mencontohkan hal baik di depan putra kandungmu. Dia memang tak bisa mendengar kemarahanmu pada ibumu sendiri, tapi lihatlah dia bisa melihat bagaimana raut wajahmu yang marah seperti itu. Apa menurut mu memarahi ibu mu dihadapan kami, kami akan bilang waw kamu hebat. Sayangnya tidak Tante. Cara marah mu sungguh tidak cantik Tante," ucap Nayla yang kemudian kembali duduk, karena ia melihat Sultan sudah menghabiskan makanannya.
Nayla memberikan segelas air putih untuk putranya minum. Ia juga membuka alat penutup telinga yang digunakan sang putra sejak tadi, dan Nayla juga meminta putranya untuk menghabiskan air putih minum di dalam gelas.
"Habiskan sayang! Ingat pesan Mami kalau habis makan harus minum air putih yang cukup ya," pinta Nayla pada Sultan sembari tersenyum manis.
Sultan yang diberikan senyum manis oleh Nayla pun membalas senyum itu dengan senyum yang tak kalah manis dari Nayla. Ia berikan senyuman terbaiknya itu pada ibu sambung yang ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
Kembali hati Linda tercabik-cabik saat melihat senyum yang mengembang di wajah tampan putranya, senyum yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Senyum yang mengembang bukan untuk dirinya melainkan untuk ibu pengganti yang saat ini menjadi rivalnya.
Nayla menyadari rasa sakit yang dirasakan Linda saat ini. Andai saja ia kembali datang hanya ingin melihat atau merawat Sultan secara bersama-sama, dan bukan untuk mengajak rujuk suaminya, mungkin Nayla akan mencoba menjadikan Linda seorang teman. Ya seorang teman hanya untuk merawat Sultan bukan yang lainnya.
Nayla sadar jika saat ini dirinya sedang diperhatikan oleh Linda. Nayla memilih mengacuhkan perhatian Linda dan tetap membantu memegangi gelas air minum untuk putra sambungnya Sultan.
Nayla pastikan Sultan menghabiskan segelas air putihnya setelah makan. Sultan yang sudah menghabiskan minum, segera turun dari kursinya.
Sultan turun dari kursinya, setelah mendapatkan kode dari Nayla untuk masuk ke dalam kamarnya. Nayla tak perlu mengeluarkan kata-kata, ia hanya cukup bicara dengan sorot matanya dan berkata di dalam hati pada putra sambungnya itu, dan Sultan pun langsung mengerti dan paham akan maksud Nayla, karena hati mereka berdua saling bertaut. Bahkan dengan tatapan mata, kedua mata mereka bisa berdiskusi dengan baik.
"Masuklah ke kamar mu sayang, Mami akan menyusul nanti," ucap Nayla dengan hati dan sorot matanya yang bicara.
"Ok Mami, Sultan diantar Bi Inah ya ke atasnya?" Tanya Sultan dengan hati dan sorot matanya yang berbicara.
"Ya sayang, hati-hati," jawab Nayla dengan mengedipkan kedua matanya dan anggukan kepala seakan mengerti apa yang dikatakan oleh Sultan didalam hatinya.
"Ok Mami bye," ucap Sultan yang sudah turun dari kursi makannya kemudian mencium pipi Nayla.
Sultan berjalan menghampiri Bi Inah yang sedang berdiri di dapur. Ia meminta asisten paruh baya itu untuk mengantar dirinya ke lantai atas dimana letak kamarnya. berada.
"Keren, takjub. Tak salah aku memilih menantu. Gunawan, benar apa kata mu putri mu memang sangat luar biasa." puji Tuan Tama yang menyadari Nayla dan Sultan berkomunikasi dengan hati dan juga sorot mata mereka.
Sedang Linda hanya terperangah melihat interaksi Nayla dengan putranya. Ada rasa nyeri di relung hatinya, melihat anak yang ia lahirkan antara hidup dan mati, lagi-lagi mengabaikan keberadaannya.
__ADS_1
Menyesal, tentu saja Linda merasa menyesal. Namun nasi sudah menjadi bubur. Putra kandungnya menganggap dirinya sebagai orang asing dan menganggap ibu sambungnya adalah orang yang melahirkan dirinya ke dunia ini. Itu semua karena kasih sayang yang Nayla berikan pada Sultan begitu besar dan begitu tulus, layaknya seorang ibu kandung menyayangi anak kandungnya.
"Kenapa kamu begitu sedih melihat putraku, Tante? Apa kamu menyesal? Jika ia, penyesalan mu tak akan berarti apa-apa dan tak akan merubah segalanya." Ucap Nayla yang kembali menyendokkan nasi ke dalam piring makannya yang baru disediakan oleh asisten rumah tangga mertuanya.
"Dia bukan putramu anak kecil, dia itu putra ku," tekan Linda yang tak terima Nayla kembali mengakui Sultan sebagai anaknya.
"Hehehe..." Nayla tertawa sinis, sembari mengaduk sambal di dalam nasinya.
"Di memang bukan anak yang lahir dari rahim ku, tapi dia sekarang dan selamanya akan menjadi putraku, karena aku adalah istri dari Mas Bayu. Camkan itu Tante!" Ucap Nayla yang melahap nasi yang di penuhi sambal kedalam mulutnya.
Sonya yang melihat Nayla memakan banyak sambal bergidik ngeri, ia bisa membayangkan bagaimana rasa pedas nasi yang ada di dalam mulut Nayla dan betapa sadisnya karakter istri yang dimiliki Bayu sekarang.
"Kamu tak tahu bagaimana rasanya melahirkan seorang anak, seenaknya saja kamu mengakui putraku." Balas Linda dengan penuh penekanan yang kembali membuat Nayla tertawa.
Huahahaha....,[Suara tawa kembali menggelegar].
"Eh kuntilanak botak ketawa lagi... Eh dia ketawa Lin... Eh iya itu dia ketawa kuntilanak Linda. Ya Allah tolong, panggil Pak Ustadz Lin, usir itu kuntilanak botak... Eh iya kuntilanak bukan. Bukan kuntilanak.." lagi-lagi Sonya bersuara dengan kelatahannya.
Sedang Bayu yang tak mau gendang telinganya pecah segera beranjak dari kursinya.
"Mami, tawa mu itu sungguh menyakitkan telinga Papi. Lebih baik Papi susul anak kita dikamar dari pada gendang telinga Papi pecah dengerin Mami ketawa kaya gitu terus," omel Bayu yang sudah tak tahan dengan suara tawa Nayla yang berkali-kali membuat telinganya sakit.
"Ok Papi sayang," jawab Nayla santai yang tak lama kemudian mendapatkan kecupan sayang dari Bayu.
Lagi-lagi Linda merasa panas terbakar api cemburu. Ada rasa tak terima di relung hatinya yang paling dalam, melihat Bayu begitu baik memperlakukan Nayla. Karena ia merasa Bayu tak semanis itu memperlakukannya dulu.
"Kenapa lihatinnya begitu banget Tante, mau ya? Gih sana balik sama pria yang membuat mu meninggalkan suami sebaik suami ku dan anak sholeh, se-sholeh putra ku," Perintah Nayla yang membuat Linda mengebrak meja makan.
"Linda. Jaga sikap mu!! Kami sungguh tidak sopan." Pekik Ratna yang duduk di sebelah Linda.
"Mom..." Panggil Linda yang membalikkan tubuhnya kearah Ratna.
__ADS_1
"Jangan panggil aku Mommy! Karena aku bukan ibu mertua mu lagi. Aku tak sudi kau panggil aku dengan sebutan Mommy." Geram Ratna yang terlihat sudah mengeluarkan taringnya.
Linda terhenyak mendapati amarah mantan ibu mertuanya yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Hari ini banyak hal yang tak pernah Linda lihat saat ia hidup bersama dengan Bayu. Keluarga suaminya benar-benar sudah berubah, tak seperti yang ia kenal dahulu.
Melihat ibu mertuanya marah, Nayla malah sibuk memasukkan nasi ke dalam mulutnya, karena ia sudah merasa sangat lapar. Kecebong milik Bayu yang berada di dalam rawa-rawanya sudah meronta-ronta ingin diisi tangkinya.
"Nyo-Nyonya Ratna, saya bersikap seperti ini karena menantu Anda lebih dahulu menganggu saya." Ucap Linda yang terbata, ia memberikan pembelaan atas dirinya pada mantan ibu mertuanya itu.
Jujur saja lidah Linda terasa kelu karena tak biasa memanggil mantan ibu mertuanya dengan panggilan Nyonya.
"Ck. Mengganggu mu kau bilang? Bukankah kamu yang lebih dahulu mengganggu menantuku? Aku sangat mengenal baik menantu ku ini baik dari luar maupun dari dalam. Tidak mungkin menantuku berbuat seperti ini tanpa sebab yang jelas. Apalagi kehadiran mu terang-terangan ingin mendepak keberadaan dirinya yang tak akan mungkin terjadi." Balas Ratna yang membela Nayla.
Nayla yang dibea hanya manggut-manggut sembari menikmati makan malamnya yang terlambat ini. Tuan Tama yang setia menjadi penonton dan pendengar hanya bisa dibuat tersenyum manis melihat kekompakan istri dan menantunya.
"Pasti akan mungkin terjadi Nyonya, saya yakini itu. Karena saya memiliki Sultan. Bayu tak akan membiarkan Sultan pergi jauh darinya." Ucap Linda dengan penuh percaya diri.
"Ya kau benar, anakku memang tak akan membiarkan Sultan pergi dari dirinya dan membiarkan Sultan hidup dengan mu. Wanita kejam." Sungut Ratna yang terpancing emosinya oleh Linda.
"Sultan tak haya akan hidup denganku tapi juga dengan Bayu, karena aku akan membuat Bayu kembali menikahi ku," balas Linda yang kembali membuat Nayla tertawa menyeramkan.
Terdengar kembali suara latahan Sonya yang kali ini terabaikan oleh mereka yang dalam keadaan serius berbicara.
"Kau ingin menikah kembali dengan suamiku. Langkahi dulu mayat ku!" Ucap Nayla yang kembali menusuk piring makan hingga pecah terbelah menjadi dua.
"Kau pikir aku takut dengan ancaman mu? Tidak sama sekali." Tanya Linda yang ia jawab sendiri pertanyaan yang ia utarakan pada Nayla.
"Sebenarnya aku tahu modusmu ingin kembali rujuk dengan suamiku. Jika alasanmu kembali pada Bayu karena Sultan sepertinya tidak. Jika alasanmu kembali pada suamiku karena cinta, sepertinya juga tidak. Jika kamu mencinta suamiku, seharusnya kamu bahagia ketika melihat orang yang kamu cintai bahagia meskipun tanpa dirimu. Dan sepertinya dugaan ku benar. Kamu kembali demi harta suamiku bukan begitu, Tante?"
bersambung...
mampir juga ke karya teman ku ya...
__ADS_1