
Nayla tak menjawab pertanyaan Bayu yang terlihat begitu khawatir padanya. Baru kali ini Bayu melihat sisi rapuh dari istrinya yang selalu terlihat kuat.
"Katakanlah Mami, apa yang terjadi pada mu?" Tanya Bayu lagi yang berusaha membalikkan tubuh istrinya namun Nayla seakan tak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Sultam yang sedang pura-pura tidur.
"Mami kamu kenapa? Jangan diam dan menangis seperti ini! Aku bisa gila melihat mu menangis seperti ini. Apa aku punya salah pada mu hum? Pukul dan marahi saja aku, tapi jangan menangis seperti ini Mih." Tanya Bayu lagi yang mulai frustrasi melihat istrinya terus menangis dalam diam.
Isakan tangisnya begitu memilukan hati Bayu. Bayu sangat yakin, Nayla yang tahan banting tak mungkin menitikan air mata jika ia tak benar-benar merasa sakit hati teramat dalam.
Bayu menyalakan lampu kamar Sultan. Ia terlihat menggaruk kepala plontosnya dengan kasar. Entah bagaimana cara untuk bertanya pada Nayla yang dalam mode diam seperti ini.
"Sultan itu anak ku, Pih," ucap Nayla dengan suara terisak tanpa menatap Bayu. Ia terus memeluk tubuh Sultan yang pura-pura tertidur.
"Meskipun dia tak lahir dari rahim ku, meskipun tak ada darah ku yang mengalir di dalam dirinya, tapi aku ini tetap Maminya. Dia adalah bagian dari hidupku, dia adalah nafasku Pih, aku menyayanginya melebihi rasa sayang ku pada diriku sendiri, Pih. Bahkan ketika aku hampir mati dikeroyok wanita-wanita yang begitu mengilai mu, aku tetap menerima mu walau hati ku berkata ingin menyerah. Satu alasan ku bertahan dengan mu saat itu. Aku hanya tak ingin Sultan kembali bersedih karena tak memiliki seorang Mami. Ia anggap aku adalah matahari dalam kegelapan hidupnya. Tak mungkin aku membiarkan hidupnya kembali gelap dengan keegoisan ku yang menyerah sebelum berperang," ucap Nayla yang begitu lirih.
Ungkapan rasa sayang Nayla untuk Sultan berhasil membuat Bayu menitikkan air mata. Begitu pula dengan Sultan yang ada di dalam pelukan Nayla.
"Ya Sultan anak kita, Mih. Kenapa memangnya? Apa ada sesuatu yang mengusik mu? Hingga kamu berkata seperti ini." Tanya Bayu yang berjalan ke sisi kanan dimana Sultan berada dalam dekapan Nayla. Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Bolehkah aku egois untuk kali ini saja, dengan tidak memberikan putraku pada ibu kandungnya?" Tanya Nayla yang menatap manik mata Bayu yang duduk di tepian ranjang.
Nayla dapat melihat manik mata Bayu yang juga terlihat bersedih.
"Boleh, tentu saja boleh. Kamu boleh tak memberikan Sultan pada dia. Karena dia memang tak pantas untuk menjadi ibu dari putraku. Dia tak pernah menginginkan putra ku, Mih. Dia dengan teganya meninggalkan putra ku yang baru saja ia lahirkan demi laki-laki lain dimasa lalunya. Kamu tak perlu mengkhawatirkan kedatangan dia kerumah ini. Karena dia tak akan mendapatkan apapun yang ia mau." Jawab Bayu.
__ADS_1
Bayu berharap jawabannya ini akan membuat Nayla tenang dan tak lagi bersedih.
"Tapi Pih, sepertinya dia tak main-main ingin merebut Sultan dari ku. Sultan bilang padaku jika sudah seminggu ini mantan istri mu mendatangi sekolahnya dan ikut ke dalam menunggu seperti kita waktu itu, dan lebih parahnya lagi, guru Sultan meminta Sultan memanggil mantan istri mu dengan sebutan Mami."
"Ini tak bisa dibiarkan, aku akan menegur Miss Claudia. Berani-beraninya ia ikut campur masalah keluarga ku." Ucap Bayu yang terlihat begitu geram.
"Tadi Sultan juga bilang jika gurunya itu membantu mantan istri mu untuk membawa Sultan pergi, tapi beruntungnya Suster Marni berteriak dan memanggil Pak Jono, Pak Jono berhasil mengambil Sultan dari mantan istri mu. Tadi Sultan juga katakan saat dia sudah bersama Pak Jono, gurunya itu masih berusaha merebut Sultan dari Pak Jono. Akhirnya Pak Jono melakukan perlawanan. Guru Sultan terjatuh dan terluka. Mantan istri mu mengancam Suster Marni dan Pak Jono jika sampai kamu mengetahui semua ini, ia akan melaporkan mereka ke kantor polisi karena sudah melukai guru putra kita, " Tutur Nayla yang membuat Bayu makin terkejut.
"Kurang ajar, ini tak bisa dibiarkan. Sebelum mereka melaporkan Jono dan Marni. Aku yang akan lebih dahulu melaporkan mereka ke kantor polisi." Ucap Bayu yang segera beranjak dari duduknya.
Ia mematikan kembali lampu kamar dan menyalakan kembali lampu temaram. Ia meminta Nayla untuk beristirahat dan ia juga izin pada Nayla untuk pergi sebentar.
"Tidurlah Mih, serahkan semuanya pada Papi. Mami tak akan pernah kehilangan putranya kita. Dia akan tetap bersama kita selamanya." Ucap Bayu yang kemudian mencium kening sang istri sebelum ia beranjak pergi menyelesaikan semuanya.
Bayu melihat sang Daddy yang sedang duduk santai menonton berita televisi.
"Kemana wanita rubah itu Dad?" Tanya Bayu pada Tuan Tama yang sedang menonton televisi.
"Pulang." Jawab Tuan Tama singkat. Ia seperti enggan untuk membahas mantan menantunya itu.
Mengetahui sang Daddy tak mau membahas mengenai mantam istrinya. Bayu segera menghubungi nomor telepon rumahnya.
Saat ini pukul sembilan malam, malam pun belum terlalu larut. Ia menghubungi nomor telepon rumahnya, berharap Suster Marni atau Pak Jono yang mengangkatnya. Dan benar saja, kebetulan Suster Marni yang mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo kediaman Tuan Bayu Pratama, bisa saya bantu," sapa Suster marni di sambungan telepon.
"Marni, toong segera datang ke rumah utama sekarang! Dan datanglah dengan Jono ke sini!" Perintah Bayu dengan tegas kemudian mematikan sambungan teleponnya begitu saja.
"Ada apa kamu memanggil mereka ke sini Bay? Ini sudah malam, sudah waktunya mereka untuk beristirahat. Mereka itu manusia bukan robot yang harus bekerja dengan mu selama dua puluh empat jam." Tanya Tuan Tama yang melirik Bayu sejenak dengan kalimat tajamnya pada Bayu
"Aku tahu Dad, tapi ini sangat penting dan aku tak bisa menundanya. Apalagi istri ku diatas sedang bersedih dan menangis." Jawab Bayu yang membuat Tuan Tama membenarkan duduknya.
Tuan Tama menatap tajam wajah putranya sebelum ia memberikan pertanyaan pada putranya ini. Dilihatnya mata putranya itu yang menyisakan jejak air mata yang keluar dari kelopak matanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis Bay?" Tanya Tua Tama yang terus menatap manik mata putranya.
"Tunggulah mereka berdua datang, agar aku tak harus menjelaskan dua kali pada mu Dad," jawab Bayu dengan wajah datar dan dinginnya.
Tak sampai sepuluh menit, Suster Marni dan Pak Jono datang. Keduanya langsung masuk ke ruang televisi dimana Bayu dan Tuan Tama berada. Mereka ingin duduk di bawah lantai yang di lapisi permadani namun Tuan Tama melarangnya. Mereka di minta untuk duduk di sofa seperti kedua Tuan mereka.
Tatapan mata elang Bayu pada keduanya, membuat nyali Pak Jono maupun Suster Marni menciut dengan sempurna. Mereka hanya bisa menunduk wajahnya tanpa berani mendongakkan kepalanya.
"Kalian memilih ditanya atau menerangkan sesuatu yang telah terjadi yang sedang kalian sembunyikan dengan rapat ini?" Tanya Bayu dengan tatapan elangnya.
Suster Marni melempar pandangannya pada Pak Jono yang sedang mengumpulkan nyalinya untuk bicara pada Bayu.
Mampir ke sini juga ya kawan
__ADS_1