
Dua minggu kemudian. Septi alias Septian sekertaris baru Bayu yang di rekomendasikan oleh Jimmy, menjemput Bayu seperti biasanya. Ya. Selain menjadi sekertaris Bayu, Septi merangkap menjadi supir Bayu.
"Pagi Nyonya muda, cantik sekali pagi ini hummmm. Sepertinya semalam ada yang sudah kenyang ya, jadi penampakan pagi ini terlihat sangat cerah." Sapa Septi dengan kalimat pujian untuk Nayla dan sindirannya untuk Bayu.
Nayla yang mendengar sapaan dan kalimat sindiran frontal dari sekertaris suami itu hanya menanggapi dengan tersenyum dan matanya sedikit melirik suaminya yang mulai memasang wajah masam.
Bayu selalu cemburu jika Septi sedang memuji istrinya. Bagi Bayu selama Septi alias Septian masih memiliki pedang pusaka, dia tetap dianggapnya sebagai laki-laki oleh Bayu. Yang kecil kemungkinannya sekertaris jadi-jadiannya itu ada hati dengan istri langkanya.
Bayu sama sekali tak pernah merasa tersinggung dengan kalimat sindiran yang di lontarkan Septi, karena sejak awal Jimmy sudah mewanti-wanti, jika Septi memiliki kebiasaan buruk yang suka menyindir seseorang, tak perduli siapa orang itu. Namun di balik kebiasaan buruknya, kinerja Septi bisa diacungi jempol.
"Septi, kira-kira perlu berapa meter benang untuk menjahit mulut seseorang?" Tanya Bayu saat berjalan menuju mobilnya dengan diantar Nayla.
"Saya kurang paham Pak, karena saya bukan seorang Dokter. Nanti coba saya akan cari tahu untuk Bapak." Jawab Septi yang mengikuti langkah Bayu dan Nayla dari belakang.
"Bagus, cepat cari tahu ya. Tangan saya sudah gatal ingin menjahit mulut seseorang." Tambah Bayu lagi.
Nayla sudah senyum-senyum sendiri mendengar Bayu bicara dengan asistennya. Ia tahu dengan jelas jika suaminya ini ingin sekali menjahit mulut sekertarisnya itu.
"Baik Pak segera saya akan beri informasi yang bapak inginkan. Tapi maaf Pak, kalau saya boleh tahu. Bapak mau jahit mulut siapa ya? Saya siap membantu Pak, jika dibutuhkan." Tanya Septi dengan kepolosannya, yang berhasil membuat Nayla gemas dan malah menggigit lengan Bayu untuk menahan tawanya.
"Au...sakit Mih. Kebiasaan suka nyakitin suami." Keluh Bayu yang mengusap lengannya yang di gigit Nayla.
"Tentu kamu boleh tahu Sep, kamu juga boleh membantu saya, karena kamu memang sangat dibutuhkan untuk menjahit mulut orang itu. Kamu memang sekertaris yang bisa di andalkan." Jawab Bayu yang menepuk pundak Septi dengan keras hingga terdengar nyaring bunyinya.
"Pak maaf, mukulnya boleh biasa saja nggak? Saya ini manusia bukan bantal, Pak. Maaf Pak saya ngeluh, soalnya sakit banget pukulan Bapak ke saya. Bapak sepertinya punya dendam kusumat sama saya ya?" Keluh Septi yang memang benar adanya.
Bayu memang memiliki dendam kusumat dengan sekertaris yang mulutnya sangat bocor melebihi emak-emak kompleks yang suka ngerumpi di tukang sayur keliling.
"Ooo... Sakit toh. Saya kira kamu punya ilmu tekbal. Gak merasa sakit kalau dipukul." Sahut Bayu.
__ADS_1
"Pak, tadi Bapak belum memberi tahukan pada saya, mulut siapa yang ingin Bapak jahit."
"Kamu pengen tahu banget ternyata ya Sep? Salut saya dengan rasa keingin tahuan kamu dengan urusan saya."
"Iya Pak itu pasti. Saya harus tahu semua hal tentang Bapak. Karena apapun tentang Bapak saat ini adalah prioritas saya."
"Oooo begitu ya. Kinerja kamu memang sangat bisa diandalkan, tapi sayangnya saya ingin sekali menjahit mulut kamu yang suka memuji istri saya." Tutur Bayu dengan santainya.
"Astaghfirullah, Pak. Mulut saya yang seksi ini mau dijahit? Kejam sekali ya Allah," septi terkejut, dengan suara baritonnya.
HAHAHAHA.... [Tawa Nayla pecah karena melihat ekspresi terkejut Septi. Suara dan wajahnya tiba-tiba berubah dalam hitungan detik karena ucapan suaminya].
"Mami masuklah ke dalam setelah Papi pergi ya."
"Hemmm oke Pih."
"Mami, kalau boring susul Papi di kantor ya!" Pesan Bayu saat jendela kaca mobilnya ia buka.
Sekepergian Bayu dan Sultan yang sudah berada di kediaman mertunya. Nayla segera melangkahkan kakinya menuju kediaman Anna yang terletak di sebelak kirinya. Ia berjalan kaki menuju kediaman Amel. Tidak seperti Endah yang selalu naik mobil Club Car jika ingin ke mansion Jessica yang ada di kota D. Di kota J kediaman mereka tak sebesar di sana.
Seorang Security yang berbadan atletis, segera membukakan pintu gerbang saat melihat Nayla datang.
"Pagi Nyonya Nayla," sapa Security itu dengan ramah.
"Pagi, Bang Lion sudah berangkat belum Pak?" Tanya Nayla yang membuat Security rumah Anna dan Leon tersenyum pagi ini, karena Nayla memanggil majikannya dengan nama yang salah disengaja.
"Belum Nyonya." Jawab Security itu dengan ramah.
"Yah kepagian dong saya datangnya, ya sudah saya pulang lagi saja, nanti saya balik lagi kalau Bang Lion sudah pergi kerja." Ucap Nayla yang segara ingin balik kanan ke rumahnya.
__ADS_1
"Baik Nyonya." Balas Security yang ingin menutup pintu pagar kediaman majikannya.
Namun baru selangkah Nayla ingin pergi, Leon yang sejak tadi melihat dan memperhatikan kedatangan Nayla segera saja meneriaki istri teman bisnisnya, sekaligus teman baik istri dan kedua adiknya itu.
"Eh pentol korek. Kenapa gak jadi masuk?" Pekik Leon yang sudah berdiri sembari memegangi majalah bisnis yang sedang ia baca.
"Eh, Abang Lion. Pulang dulu Bang. Soalnya Abang belum jalan kerja. Takut ganggu, bye..." Sahut Nayla dengan berteriak pula, karena jarak mereka sedikit berjauhan.
Nayla kembali melangkahkan kakinya untuk pulang. Namun dengan segera Leon mengejarnya dan menghadangnya pergi.
"Eh pentol korek, gak usah drama ya, sana masuk. Anna sudah nungguin. Jangan bikin Anna mengusirku untuk segera bekerja! Aku sedang malas kemana-mana." Ucap Leon yang ada dihadapannya sembari merentangkan kedua tangannya.
"Oke." Sahut Nayla yang malah berjalan berbelok tetap kearah rumahnya.
"Eit...eee...ke sini jalannya bukan ke sana lagi." Ucap Leon saat ia membalikkan tubuh Nayla, ia membenarkan arah jalan Nayla untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Suamimu sudah berangkat? Tanya Leon saat berjalan di samping Nayla.
"Sudah." Jawab Nayla singkat.
"Rajin." Sahut Leon sembari tersenyum penuh arti.
"Iya rajin. Rajin dikerjain sama kalian." Balas Nayla dengan tatapan sinisnya.
"Eits-eits... piss...pisss Nay." Ucap Leon yang sudah takut dengan tatapan sinis yang Nayla berikan.
Ya. Leon dan kedua adik iparnya sudah mengaku kalah dan tak ingin mencari masalah dengan Nayla yang akan menimbulkan penderitaan dan masalah bagi mereka, karena Nayla selalu berhasil mempengaruhi istri-istri mereka untuk meminta dan melakukan hal-hal yang aneh-aneh.
"Paspis-paspis....Pisang!! Ingat ya Bang Lion sekali saja kalian ngapa-ngapain suami aku. Habis kalian sama istri-istri kalian. Siapkan pisang raja kalian untuk menghadapi keganasan mereka." Ancam Nayla yang seketika membuat Leon memegangi benda pusakanya.
__ADS_1
Leon menghentikan langkahnya, ia tak lagi mengikuti langkah kaki Nayla. Ia takut dan malas berurusan dengan istri teman bisnisnya yang berotak cerdik seperti si kancil.
"Duniaku sudah tak baik-baik sejak ada dia, Nayla si pentol korek. Ngidam apa ibu mu saat hamil dirimu heh?" Gumam Leon yang di dengar Security kediamannya. Security itu hanya bisa senyum-senyum dan menggelengkan kepalanya melihat majikannya tak berkutik di depan tetangganya.