
Setelah mencari keberadaan kedua anak Endah dan Jimmy dengan Sultan keseluruh penjuru mansion. Nayla akhirnya bisa bernafas lega setelah menemukan Amel dan kedua anak Endah dan Jimmy yang diletakkan Amel di dalam stroller. Amel membawa si kembar di dekat kolam ikan yang berada di dekat paviliun asisten rumah tangga.
Ternyata suara gemericik air dan kondisi perut yang kenyang membuat kedua anak kembar itu tertidur dengan begitu pulasnya.
"Ampun deh Lo, Mel. Bikin gue jantungan aja. Gue kira mereka hilang, bisa mati di door sama Endah kalau sampai hilang nih dua bocil." Seru Nayla yang mendaratkan bokongnya pada sebuah kursi.
"Lagian lo, bisa-bisanya tidur sambil gendong dua bocil. Bahaya tahu gak? Kalau sampai salah satu ini anak ada yang lecet dikit, nyawa kita taruhannya." Sahut Amel sembari menyeruput es lilin rasa rujak mangga buatan Bi Darmi. Rasanya asam-asam pedas, sangat cocok untuk membuat mata termelek-melek.
"Hooh, gak lagi-lagi. Gue mau di titipin dua bocil sultan ini. Bahaya banget. Masih sayang nyawa gue." Balas Nayla sembari menelan ludahnya saat melihat Amel menyeruput es lilin buatan Bi Darmi.
"Kenapa ngeliatinnya kaya gitu? Mau?" Tanya Amel, ia tahu betul Nayla sangat menginginkan es rujak yang ada di tangannya.
"Hooh, mau. Tapi bekas punya lo aja, lo ambil lagi yang baru dua." Jawab Nayla yang malah memerintah Amel seenaknya.
Amel ya tetap Amel, sahabat yang terbaik untuk Nayla. Tanpa rasa kesal dan terkesan rela. Ia pun memberikan es kilin miliknya untuk Nayla dan ia segera pergi kembali ke dapur untuk mengambil es lilin lagi di dalam kulkas.
"Mami, jangan banyak-banyak makan es lilin rujaknya nanti sakit perut kaya kemarin." Tegur Sultan yang mengingatkan sang ibu sambung.
"Iya-iya sayang, Mami cuma makan dua kok gak lebih. Kamu tenang saja." Jawab Nayla yang seakan tak menghiraukan teguran sang putra.
"Isshh si Mami, pasti gak mau dengerin kata-kata aku kan?" Keluh Sultan yang sudah tahu bahwa ucapannya tak akan dihiraukan oleh ibu sambungnya yang bandel.
"Dengerin kok sayang, tapi gimana mulut Mami gak bisa berenti nyeruput es lilinnya. Habis enak segerrrr...." balas Nayla yang membuat Sultan menepuk jidatnya.
Tak terasa waktu pun sudah menjelang senja, Endah sudah kembali datang ke mansion Nayla untuk mengambil kedua anaknya. Senangnya hati Endah ketika melihat kedua anaknya sudah terlihat segar karena sudah di mandikan oleh Nayla dan juga Amel.
__ADS_1
"Belajar ya Jeng, bentar lagi calon menantu gue kan mau launching." Ucap Endah yang seakan meledek Nayla.
"Hooh aja deh gue. By the way habis berapa ronde sama si babang Jimmy. Tuh stempel banyak amat udah kaya macan tutul." Sahut Nayla yang tak kalah meledek Endah. Padangan mata Nayla terus saja menelisik tanda kepemilikan yang bertebaran di bagian leher Endah.
Amel yang awalnya tak menyadari dengan penampakan leher Endah pun segera memusatkan pandangannya di sana. Endah yang malu segera menutup bagian lehernya yang terbuka dengan rambut yang sengaja ia gerai dengan segera.
"Cih, bilang ada keperluan tahu-tahunya keperluan ranjang. Benar-benar menggelikan." Cemooh Amel yang telah lelah seharian menjaga kedua anak Endah dan Jimmy, ditambah lagi melayani tingkah kerewelan Nayla yang banyak maunya.
"Hei, kenapa lo Mel? Sewot amat calon manten. Lo harus belajar juga biar gak kaget nantinya." Sahut Endah yang mendapati wajah lelah dan kusut dari Amel.
"Gue gak kaget buat ngurusin bocil, karena gue udah terbiasa ngurusin bayi tua." Celetuk Amel yang membuang bokongnya di salah satu sofa. Ia menyadarkan tubuhnya dan merentangkan kedua tangannya. Ia benar-benar mengekspresikan tingkat kelelahannya di depan Endah.
"Anak lo rusuh Ndah, gue kapok. Jangan titipin lagi!" Seru Nayla yang juga menyadarkan dirinya di sofa.
Namun belum lama ia bersantai, tiba-tiba perutnya terasa mulas, rasanya seperti mulas bercampur kontraksi. Dengan hebohnya Nayla menjerit.
Seketika Amel dan Endah panik melihat Nayla kesakitan, meskipun pada awalnya keduanya tak terlalu merespon rasa kesakitan yang dialami Nayla.
"PAPA!! TOLONG PAH!! NAYLA MAU MELAHIRKAN!" Pekik Endah yang memanggil suaminya dengan suara yang sangat menggelegar.
Jimmy yang sedang menerima telepon dari Bayu, membicarakan mengenai proyek mereka yang ada di luar kota pun segera bergegas lari masuk ke dalam ruang keluarga, dimana mereka berada.
"Kenapa Mah? Anak kita kenapa?" Tanya Jimmy dengan wajah tak kalah paniknya. Tak hanya mendengar suara rintihan Nayla yang kesakitan, ia juga mendengar kedua anaknya yang menangis seperti suara petir yang saling bersahut-sahutan.
"Pah, jangan anak kita dulu. Nayla dulu, calon menantu kita mau launching." Jawab Endah yang menari tubuh Jimmy untuk segera menggendong Nayla dan membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Sambungan telepon yang belum terputus, membuat Bayu mendengar apa yang tengah terjadi pada istrinya. Dengan sigap ia meminta Nathan menyiapkan helikopter untuk ia kembali ke kota J.
"Bay, kau sudah mendengarnya?"
"Iya. Aku dengar. Aku segera kembali."
"Kami tunggu kedatanganmu di rumah sakit." Ucap Jimmy yang kemudian menutup sambungan teleponnya dengan Bayu.
Jimmy segera membawa Nayla ke rumah sakit, bersama dengan Amel. Amel segera menghubungi kedua mertua Nayla dan juga kedua calon mertuanya yang merupaka kedua orang tua dari Nayla.
Kedua mertua Nayla begitu terkejut dengan kabar yang diberikan Amel, begitu pula dengan kedua orang tua Nayla. Pasalnya ini bukan saatnya untuk Nayla melahirkan. Masih ada beberapa minggu ke dapan lagi untuk Nayla melahirkan secara normal.
Setibanya di rumah sakit, lagi-lagi Jimmy menghancurkan mobil milik sang istri untuk kesekian kali di rumah sakit milik keluarga adik iparnya itu. Di saat darurat dan gugup Jimmy selalu lupa untuk menarik tuas rem tangan.
"Arghh... pakai lupa lagi." Cicit Jimmy yang sudah mendapatkan tatapan tajam dari Endah yang sudah sempat turun dari mobil. Dan nasib malang menimpa Amel yang belum sempat turun karena mengambil keperluan t3tek bengek untuk Nayla.
"Ganti Pah!" Cetus Endah dengan wajah di tekuknya.
"Minta ganti sama Bayu. Ini semua karena mau menolong istrinya." Ucap Jimmy yang tak mau tabungannya terkuras habis oleh istrinya yang materialistis tingkat dewa.
Ia segera meletakkan Nayla pada Brankar yang di dorong oleh tim medis yang menghampiri keberadaan mereka. Sementara itu Amel keluar dari mobil Jimmy dibantu oleh petugas keamanan. Kepalanya terbentur kursi bagian depan dengan cukup keras, meski tidak terluka tapi rasa sakitnya cukup luar biasa.
"Hei, Babang Jimmy yang terhormat. Anda buat sim dimana sih hah? Lihat ini jidatku!" Omel Amel sembari menunjukkan jidatnya yang sedikit memar dan kebiru-biruan.
"Maaf gak sengaja, aku panik." Ucap Jimmy sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"