
"Septian, apa kau membawa obat untuk membuat orang lumpuh selama-lamanya?"tanya Jimmy pada anak buahnya itu.
"Tentu saja aku selalu membawanya,"jawab Septian.
Septian langsung saja mengeluarkan cairan dan suntikan dari tempat persembunyian, yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh Jimmy ataupun yang lainnya.
Ferdi yang sudah berhasil membebaskan diri langsung keluar dari rumah tua tersebut, ia berlari dengan begitu cepatnya, entah apa yang ingin ia lakukan, yang pasti saat ini ia sedang memendam rasa amarah.
Tak berapa lama Ferdi kembali lagi ke rumah tua itu dengan membawa senjata api di kedua tangannya.
"Mereka bagianku," ucap Ferdi dengan nafas yang terengah-engah, karena ia baru saja kembali dari mobil untuk mengambil senjata api miliknya.
"Sapu bersih jangan sampai meninggalkan jejak!" Sahut Jimmy yang kemudian pergi menghampiri keberadaan Nayla.
Di ruangan di mana Angela disekap, Nayla tengah menangis, melihat wajah cantik Angela berlumuran darah. Rupanya para kawanan itu telah memukulinya habis-habisan setelah Angela membunuh salah satu dari mereka.
"Angela bangun sadarlah!" Ucap Nayla untuk kesekian kalinya.
Nayla mengecek urat nadinya, dan juga hembusan nafas di hidungnya. Denyut nadinya begitu lemah begitu pula dengan nafasnya. Nayla menangis khawatir akan kehilangan sosok Angela malam ini.
"Angela bertahanlah!" Ucap Nayla lagi masih dengan tangisnya.
Jimmy yang menghampiri Nayla dan juga Angela, melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Nayla, mengecek urat nadi Angela dan juga hembusan nafasnya.
Jimmy segera keluar memanggil Bowo dan juga Borni setelah mengetahui kondisi Angela yang kritis. Jimmy kembali bersama para anak buahnya dan juga Ferdy. Ferdy yang melihat kondisi tunangannya begitu mengenaskan, makin menyulitkan emosinya.
"Aku akan membalas kalian," ucap Ferdi ya malah meninggalkan ruang penyekapan Angela.
Bowo dan Borni segera mengangkat tubuh Angel.
"Bawa dia ke rumah sakit, berikan penanganan yang terbaik."perintah Jimmy pada Bowo dan juga Borni.
Sekepergian Borni dan Bowo membawa Angela pergi. Jimmy memerintahkan Nayla untuk kembali menjalankan misinya.
"Hapus air matamu Nayla, kita tidak banyak waktu. Selesaikan misi mu!" Perintah Jimmy yang langsung diangguki oleh Nayla.
__ADS_1
Nayla segera menghapus air matanya dan mulai memainkan perannya. Ia pergi ke kamar mandi menyegarkan wajahnya yang sembab karena menangisi kondisi Angela. Tak lupa untuk menggoda Husein Ia pun membasahi bagian dadanya yang sedikit terbuka itu.
Sementara di halaman belakang rumah tua itu, kawan dan tikus-tikus kampung sedang menikmati miras mereka. Miras yang menjadi minuman terakhir mereka tengkuk di dunia ini.
"Selamat berpesta kawan di neraka," ucap Ferdi yang melepaskan tembakan dengan peredam suara kepada kawanan tikus-tikus kampung yang berjumlah lebih dari dua puluh orang.
Halaman belakang rumah tua tersebut dibanjiri dengan darah segar yang mengalir dari tubuh para tikus-tikus kampung yang telah meregang nyawa di tangan Ferdi.
Sementara Amel dan Endah masih melakukan misi penyelamatan pada para pekerja dan juga mandor. Keduanya membawa para pekerja dan juga mandor ke tempat yang lebih aman, sambil menunggu bala bantuan yang pasti sudah dihubungi oleh suaminya.
Endah dan Amel tidak menginginkan apa yang terjadi di rumah tua itu diketahui oleh para pekerja dan juga mandor. Sehingga mereka terpaksa tidak ikut dalam misi selanjutnya. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi saat ini dengan Angela ataupun Nayla.
Endah dan Amel percaya Nayla pasti berhasil menyelamatkan Jimmy, yang berada di dalam sana. Terbukti saat mereka sedang berjalan kaki menuju tempat yang cukup jauh dari rumah tua tersebut, salah satu mobil milik warga Kusuma melewati mereka.
"Apa ada sesuatu yang buruk? Hingga mobil itu melaju begitu cepat Ndah?"tanya Amil yang mulai mengkhawatirkan kondisi adik iparnya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak kita harus selalu berpikir positif tidak ada sesuatu hal yang buruk terjadi di sana." Jawab Endah yang sebenarnya juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan Amel.
Tak berselang lama dari mobil milik keluarga Kusuma melewati mereka, ponsel Endah berdering, rupanya Jimmy menelepon dirinya.
"Aku sedang membawa mereka ke tempat yang lebih jauh dari rumah tua itu." Jawab Endah.
"Biarkan mereka di sana, tim penyelamat sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Sebaiknya kau cepat kembali ke sini. Bukankah kalian sedang bersandiwara, selesaikanlah sandiwara kalian terlebih dulu sayang, sebelum kita kembali ke kota J." Perintah Jimmy pada Endah sang istri.
Usai memberi perintah pada sang istri, Jimmy pun memutus panggilan teleponnya. Endah langsung menginformasikan kepada para pekerja dan mandor untuk menunggu jemputan mereka di tempat ini. Endah juga meminta para pekerja dan mandor untuk tidak berpencar.
Setelah memberikan informasi kepada para pekerja dan mandor Endah dan Amel kembali ke rumah tua tersebut.
Sementara itu Nayla di dalam kamar tengah memainkan aksinya.
"Bang, kita mainnya pakai cara Eneng ya?" Ucap Nayla sembari memainkan kembali jemarinya di dada bidang Husein yang ditumbuhi bulu-bulu.
"Cara Eneng? Emangnya Neng nggak mau pakai cara Abang aja? Yang sat set sat set Ahhhh...." balas Husein yang terus mengelus bagian paha Nayla yang putih mulus, kontras dengan warna kulit Husein yang hitam legam.
"Ahhh.... Cara sat set sat set kaya gitu udah biasa Bang, cara eneng ini luar biasa Bang eughhh.... Geli bang, nakal ya pegang-pegang paha Eneng." Nayla terus bicara dengan gaya manja dan menggoda. Ia mencubit lembut tangan kasar Husein yang terus meraba bagian pahanya.
__ADS_1
Sungguh Bayu pun tak pernah di goda Nayla seperti ini, bisa ilfill Bayu jika digoda Nayla yang bergaya seperti perempuan Nakal.
Ingin rasanya Nayla mematahkan tangan Husen dan melintir kepalanya hingga menghembuskan nafas terakhirnya di tangan Nayla sendiri. Namun karena dia mengingat pesan Jimmy untuk tidak menghabisi nyawa Husein, Ia pun harus ekstra sabar menunggu Husein masuk ke dalam perangkap selanjutnya.
"Ayo dong bang, udah nggak tahan nih, pengen dimasukin ahhhhh..... tapi pengennya pakai cara Eneng, jangan pakai cara abang!" Rayu Nayla lagi, yang berinisiatif untuk membuka pakaian yang dikenakan oleh Husein.
"Si4l bau ****** biawak. Pengen muntah gue njirrt..." Umpat Nayla, saat mencium aroma tak sedap dari tubuh Husein.
Aroma tubuh Husein sangat berbeda dengan aroma tubuh sang suami Bayu. Di saat seperti ini ia jadi merindukan sentuhan suaminya dan aroma tubuh maskulin suaminya.
Dengan menahan rasa mual ingin muntah, Nayla terus menggoda Husein agar mau mengikuti apa yang Nayla inginkan.
"Cium dong Neng!" Pinta Husein saat Nayla sibuk mengikat mata Husein dengan pakaian Husein yang Nayla buka tadi.
"Sabar dong Bang, nanti nggak cuma ciuman aja yang Neng kasih, tapi rasa yang bikin Abang nggak akan pernah bisa lupa sama Eneng." Tolak Nayla dengan alibinya.
"Iya deh abang percaya sama Eneng, kok mata Abang ditutup sih?" Tanya Husein yang sama sekali tidak curiga dengan apa yang dilakukan Nayla.
"Iya Bang mata Abang Neng tutup dulu ya, nanti tangan Abang Neng ikut. Terus Eneng naik turun deh di pangkuan Abang ahhhh ahhh....." Jawab Nayla lagi, yang membuat otak Husein sudah menerawang jauh tentang kenikmatan bercinta dengan Nayla yang ia anggap sebagai bidadari ini.
Husein pun tak menjawab lagi, karena pikiran yang sudah melayang jauh ketika Nayla mulai membuka celana yang ia kenakan. Belum sempat celana itu lepas sempurna. Nayla pura-pura ingin kembali ke toilet.
"Aduh bang, pengen pipis lagi nih, udah gak tahan. Abang jangan ke mana-mana ya." Usap Nayla dengan manja kemudian pergi meninggalkan Husein begitu saja.
Setelah Nayla keluar dari kamar tersebut kini giliran Septian yang memainkan aksinya, dengan menirukan suara Nayla. Septian melanjutkan permainan Nayla yang terhenti. Septian melanjutkan membuka celana yang dikenakan oleh Husein.
Dengan mata kepalanya Septian melihat milik Husein yang ukurannya cukup besar namun tidak lebih besar dari miliknya. Septian melihat betapa bergairahnya Husein membayangkan yang membuka celana dirinya adalah Nayla.
Dengan tanpa ragu Septian langsung menusukkan jarum suntik ke milik Husein, Husein menjerit kesakitan.
"Aaaaaa......" Pekik Husein hingga suaranya hilang dalam hitungan detik, dan tak berselang lama tubuhnya lunglai seperti tak bertulang.
Septian segera keluar dari kamar, ia meminta bantuan Jimmy untuk mengangkat tubuh Husein yang terjatuh ke lantai untuk naik ke atas ranjang butut yang ada di kamar tersebut.
Di luar Jimmy melepaskan jaket yang ia kenakan untuk menutupi bagian tubuh Nayla yang terbuka.
__ADS_1
"Pakai ini dan jangan lakukan hal ini lagi, aku tidak mau digantung oleh suamimu hidup-hidup." Ucap Jimmy pada Nayla yang sudah menyelesaikan misinya.