
Di perusahaan besar Tuan Santoso. Tuan Santoso yang tengah menunggu kedatangan menantunya. Menunggu sembari menikmati secangkir kopi di ruangan kerjanya. Tiba-tiba mendapatkan panggilan masuk dari Putri bungsunya, Anna.
"Halo sayang ada apa pagi-pagi menelepon Papi," sapa tuan Santoso yang tidak tahu menahu kalau dia pagi ini akan mendapatkan semprotan dari sang Putri.
"Papi hari ini ada meeting bareng mas Leon?" Tanya Anna dengan suara juteknya.
"Iya sayang, memang kenapa?"
"Emang Papi nggak bisa meeting sendiri, asisten Papi ke mana? Apa dia, Papi biarkan makan gaji buta? Mas Leon itu orang sibuk Pih. Memimpin perusahaan Adijaya Group itu gak mudah. Sekarang Papi tambahin lagi pekerjaan dia. Papi tuh sengaja ya? Sengaja buat Mas Leon sibuk dan nggak ada waktu buat istri dan anak-anaknya?" Cecar Anna dengan omelannya pada sang Papi.
"Tidak begitu Anna----," baru saja Tuan Santoso menanggapi tiga kata omelan sang putri, Anna seperti bensin yang di sambar korek api. Ia kembali mengomel pada sang Papi.
"Tidak begitu bagaimana, maksud Papi? Hampir setiap malam Mas Leon pulang lewat dari jam 07.00 malam. Dia melewatkan makan malam bersama aku dan anak-anaknya. Bahkan di hari libur pun dia masih sibuk di ruang kerjanya, aku dan anak-anakku sangat membutuhkan waktu dan perhatiannya."
Tuan Santoso hanya bisa diam mendengarkan omelan sang putri. Omelan sang putri ini merupakan luapan dari rasa kesal dan marah yang dirasakan sang putri. Ia sadar betul, kesibukan Leon beberapa minggu ini karena ulahnya, yang menginginkan perusahaannya juga di tangani oleh Leon.
"Anna maafkan Papi, kau tahu sendiri Papi tak punya anak laki-laki sebagai penerus perusahaan, kau dan kakakmu Claudia -----" ucapan Tuan Santoso kembali dipotong oleh Anna.
Anna sudah tahu ke mana arah tujuan sang Papi bicara.
"Seharusnya Papi katakan pada Kak Claudia untuk segera menikah, carilah menantu yang cerdas, jujur dan pekerja keras seperti suamiku. Papi bisa menjodohkan Kak kalau dia bukan? Bukankah teman-teman Papi banyak memiliki anak laki-laki yang belum menikah, pilihlah salah satu diantara mereka untuk Kak Claudia. Mulai hari ini Papi tidak boleh menyuruh suamiku untuk membantu Papi di perusahaan. Kalau Papi butuh bantuan mintalah bantuan pada kak Andre. Jangan dengan suamiku. Karena Papi sekarang dia sakit." Sambung Anna dengan tegas.
"Anna, Leon sakit?" Tanya Tuan Santoso sedikit khawatir dengan kondisi menantunya.
"Iya dia sakit. Dia sakit karena kelelahan, dia kurang istirahat, kurang tidur dan kurang memperhatikan dirinya sendiri. Kalau Papi terus memaksa dia terus bekerja dengan Papi. Itu tandanya Papi berharap anak Papi ini segera menjadi janda. Dia bukan robot Pih yang harus bekerja memikirkan masalah perusahaan yang tak akan pernah ada habisnya." Jawab Anna.
Tuan Santoso menghela nafasnya sambil memijit pelipisnya. Kepalanya sedikit pusing karena mendengar omelan putrinya yang bertubi-tubi padanya.
"Oke Anna, Papi minta maaf. Mulai hari ini Papi akan minta bantuan kakakmu, Andre saja. Semoga Leon cepat sembuh." Ucap Tuan Santoso tanpa mendapat jawaban dari sang Putri, yang ia yakini sekarang tengah merajuk padanya.
Setelah hening beberapa saat, sambungan panggilan telepon itu pun ditutup secara sepihak oleh Anna tentunya.
Selesai menghubungi Tuan Santoso, sang Papi. Anna pun masuk kembali ke dalam kamar.
"Ayah kamu ngapain?" Tanya Anna pada Leon yang tengah bersandar di sandaran ranjang sembari memangku istri keduanya, laptopk kerjanya.
__ADS_1
"Aku ngecek email sebentar Bunda, tadi Ferdi telepon Ayah meminta Ayah untuk mengecek email yang baru saja Ia kirim." Jawab Leon tanpa melihat wajah Anna yang sudah bertanduk.
"Yang jadi Bosnya itu kamu atau Ferdi ayah? Kenapa kamu menurut dengannya. Apa emang gaji kamu adalah Ferdi?" Cecar Anna dengan pertanyaannya yang seketika membuat Leon segera menutup laptopnya dengan cepat.
Namun sayang usaha Leon untuk menyelamatkan laptopnya terlambat, dengan gerakan cepat Anna merebut laptop yang ada di pangkuan Leon. Anna membawa laptop itu ke balkon kamarnya dan menjatuhkan laptop itu tanpa berpikir panjang.
"Anna jangan! Oh my God." Petik Leon yang makin bertambah pusing.
Istrinya ini kalau marah tidak main-main. Merusak barang tanpa dipikir terlebih dahulu. Leon terduduk lemas di atas lantai, melihat laptop miliknya hancur lebur di lantai dasar teras samping masionnya. Ia benar-benar menyesali dan merutuki dirinya sendiri, kenapa dia lupa bagaimana watak istrinya yang tak jauh beda dengan kedua adiknya.
"Bangun! Jangan duduk di lantai nanti masuk angin!" Perintah Allah yang langsung dijalani oleh Leon.
Leon tak mau mencari masalah dengan Anna yang sudah bertaring dan bertanduk. Anna menuntun Leon untuk menyadarkan punggungnya di kepala ranjang.
Rupanya Anna ingin menyuapini suaminya dengan bubur yang belum disentuh oleh sang suami.
"Aaa..!"perintah Anna saat ia menyuapi ini suaminya.
Karena rasa kesal dan marah pada sang suami, Anna menyuapini suaminya dengan sedikit kasar. Leon ingin sekali menghentikan aksi sang istri namun lagi-lagi ia tak berani. Jika ia semakin melakukan perlawanan, semakin menjadi-jadilah amarah Anna. Bisa habis babak belur dia nanti. Istilah diam itu emas sangat dibenarkan dalam situasi Leon saat ini.
30 menit tertidur adalah waktu yang sedikit untuk Leon yang baru saja memejamkan matanya. Ia terbangun karena seorang dokter pria yang dipanggil Anna sudah datang dan tengah berdiri di hadapannya.
Leon dengan perlahan-lahan membuka matanya. Ia merasa dirinya sedikit baikkan, mungkin jika ia tidur lebih lama lagi, ia akan segera pulih. Namun Anna membangunkan dirinya untuk di periksa oleh dokter tampan yang akan memeriksakan dirinya.
"Bagaimana kondisi suami saya dok? Masih berumur panjang kan?" Tanya Anna yang membuat Leon membulatkan kedua matanya dan Sang Dokter menahan tawanya.
"Tuan Leon tidak apa-apa Nyonya. Hanya butuh istirahat, nampaknya Tuan Leon hanya kelelahan dan butuh istirahat." Jawab sang Dokter dengan mengulum senyum penuh arti pada keduanya.
"Istirahat sebentar kan dok? Bukan selama-lamanya?" Tanya Anna yang sengaja memancing amarah Leon.
"Istirahat yang cukup Nyonya bukan istirahat selama-lamanya." Jawab sang Dokter yang berusaha menahan tawanya.
"Oh.. kirain istirahat selama-lamanya, suami saya ini gila kerja Dok. Mungkin dia butuh istirahat selama-lamanya untuk menghentikan kegilaannya dalam bekerja." Sindir Anna.
Leon menedengus kesal dan memutar bola matanya malas memdemgar sindiran sang istri. Sementara sang dokter hanya manggut-manggut menanggapi ucapan Anna. Melihat sang Dokter tampan, muncul ide gila di pikiran Anna.
__ADS_1
"Dokter. Ngomong-ngomong dokter sudah punya istri belum?" Tanya Anna yang berhasil membuat Leon langsung menatap ke arah Anna, yang berada tak jauh dari sang Dokter.
"Belum Nyonya." Jawab Sang Dokter sembari tersenyum malu ditanya hal pribadi oleh ibu-ibu muda yang masih terlihat cantik seperti seorang gadis.
"Wah, sayang sekali Dokter tampan seperti Dokter ini belum memiliki istri. Kalau saya jadi Janda apa Dokter mau sama saya?" Tanya Anna yang langsung mendapati respon cepat dari Leon.
"Bunda!!!" Pekik Leon memanggil istrinya, guna menghentikan kegilaan istrinya itu.
"Apa?" Sahut Anna santai.
"Jaga sikap mu Bunda! Kamu itu punya suami, sudah menggoda laki-laki lain di depan suami mu yang lagi sakit ini." Ucap Leon yang membuat sang Dokter tak enak hati.
"Cih. Suami. Gak ada waktu buat anak dan istri masih minta dianggap suami." Oceh Anna dengan sengaja.
"Hai, dokter cepat pergi! Jangan terus ada di sini!" Usir Leon.
Dengan menahan rasa pusing, Leon menghampiri Anna yang masih berdiri di posisinya, tengah menatap.punggung sang dokter yang pergi meninggalkannya.
"Bunda, mau selingkuh dari Ayah, hum?" Tanya Leon yang menarik tubuh Anna untuk duduk di ranjang bersamanya.
"Iya, niat banget Bunda selingkuh. Bunda mau cari suami yang punya banyak waktu untuk Bunda dan anak-anak." Jawab Anna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafin Ayah, Bunda. Ayah janji gak akan sibuk lagi. Tolong jangan selingkuh dan berpikir untuk tinggalkan Ayah ya." Ucap Leon sembari menghapus air mata Anna.
"Hanya janji, tapi gak ditepati buat apa." Sahut Anna masih menitikan air matanya.
"Ok. Ayah janji setelah sehat nanti, Ayah akan datangi Papi mu, untuk mengundurkan diri dalam membantunya mengurus perusahaannya." Jawab Leon sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Anna.
"Yang benar? Janji?" Anna kembali memastikan ucapan suaminya.
Leon menganggukan kepalanya dan tersenyum menatap sang istri.
"Iya Ayah janji Bunda."
"Awas kalau bohong ya, Bunda akan pergi ninggalin Ayah bersama anak-anak." ancam Anna kembali
__ADS_1
"Jangan dong! Ayah udah janji kok. Jangan ancam terus." Ucap Leon dengan suara lirih.