
Setelah beberapa menit berpikir, Bayu akhirnya memutuskan tetap membawa Sultan ke rumah sakit. Tak lupa ia mengajak Suster Marni dan juga Pak Jono. Ia tak akan membiarkan putranya bermalam di rumah sakit yang rentan dengan berbagai penyakit.
Sebelum mereka ke rumah sakit, Bayu mengajak putranya ke barbershop langganannya. Yang letaknya berada tak jauh dari gerbang komplek perumahan mereka.
"Papi mau apa kita kesini? Rambut Sultan dan Papi kan baru kemarin di cukur?" Tanya Sultan seraya menatap Bayu dengan pandangan mata penuh tanyanya.
"Sultan kamu tahukan rambut Mami sekarang gak ada karena sakit?"
"Iya Pih, Sultan tahu,"
"Ok, kalau Sultan tahu, sekarang kita cukur kaya Mami ya?" Ajak Bayu yang malah membuat Sultan tertawa geli.
Putranya itu sedang membayangkan wajah sang Papinya yang akan terlihat lucu dengan penampilan barunya nanti. Bayu mengusap keningnya saat ia melihat putranya tertawa geli hingga memegangi perutnya yang sakit karena tawa gelinya.
"Sultan sudah ketawanya! Ini sudah malam dan Mami sendirian di rumah sakit menunggu kita datang," ucap Bayu menghentikan tawa putranya yang nyatanya tak bisa berhenti.
Kesal. Tentu saja Bayu kesal. Putranya ini sudah seperti Nayla. Kelakuan dan sifat sudah menurun Nayla, ia tak lagi mengenal Sultan yang sekarang. Sultan yang dulu tak seperti ini. Tak banyak tertawa, bercanda dan bersikap tengil. Nayla merubah hidup dan kepribadian Sultan.
Melihat Sultan yang masih terus tertawa dengan imajinasinya di kepalanya. Bayu pun terpaksa membawa Sultan turun dengan cara menggendongnya seperti karung beras ke dalam barbershop.
"Malam Tuan Bayu, ada yang bisa saya bantu?" Sapa salah satu staff barbershop yang sudah mengenal Bayu. Hendi namanya.
"Malam Hen, tolong pangkas rambut kami berdua hingga licin tak tersisa ya," jawab Bayu yang membuat Hendi diam terperangah.
__ADS_1
Hendii tak percaya dengan permintaan langganannya yang tak biasa.
"Ayo jangan diam saja Hen, ini sudah malam!" Pinta Bayu lagi karena Hendi malah diam membeku.
"I-iya Tuan, tapi ini gak salahkan Tuan mau di cukur pelontos?" Tanya Hendi sekali lagi, karena ia meragukan permintaan pelanggannya.
"Tidak, sudah cepat. Cukur anak saya dulu," jawab Bayu.
Sultan hanya tersenyum melihat wajah Bayu.yang semerawut. Tentu saja wajah Bayu semerawut. Baru Hendi seorang Barber saja tak percaya dengan permintaannya yang ingin memangkas seluruh rambut di kepalanya, dan Sultan putranya sendiri, tertawa tanpa henti yang pastinya sedang membayangkan penampilannya setelah botak nanti. Karena ia salah bicara dengan istrinya, kini ia merasa frustrasi dengan penampilannya nanti dengan kepala pelontosnya.
"Nayla oh Nayla... istri macam apa dirimu sayang, membuat hidupku jadi seperti ini," gumam Bayu yang terlihat frustrasi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sultan yang terus memperhatikan sang Papi tak bisa melepaskan senyum geli diwajahnya.
"Hahaha... pasti ini permintaan Mami, Mami memang terbaik bisa mengalahkan Papi yang galak dan tukang ngatur. Rasakan Papi, Mami ku sudah balas dendam sama Papi," gumam Sultan di hatinya saat manik matanya terus memperhatikan Papinya.
"Adem banget Pih kepala Sultan, ternyata enak gak ada rambut kaya Mami," ucap Sultan yang membuat Bayu memutar bola matanya.
"Enak mata mu, Nak. Kamu tidak tahu saja nantinya Papi mu ini harus menahan malu di depan para Mahasiswa, Karyawan dan Client Papi. Kami saja tak bisa berhenti menertawakan Papi apalagi mereka Nak, huff Nayla. Untung aku sayang kalau tidak, aku buat kamu menghilang di planet ini." Batin Bayu yang menanggapi ucapan putranya.
Kini giliran Bayu yang dipangkas rambutnya. Ia duduk di kursi yang berada di depan cermin. Wajahnya tampak tegang dan ragu. Melihat keraguan yang Bayu tunjukkan. Membuat Hendi kembali bertanya pada Bayu dengan permintaannya untuk memangkas rambutnya hingga habis.
"Tuan sudah siap dan yakin mau dipangkas sekarang?" Tanya Hendi yang melihat wajah Bayu dari pantulan cermin. Bayu terdiam sejenak memikirkan jadi atau tidaknya rambutnya ia pangkas habis. Ia nampak ragu namun keraguan itu sirna saat bayangan Nayla marah dan ngambek muncul di pikiran dan seakan ada di pelupuk matanya.
"Cukur saja Hen daripada aku kena masalah," jawab Bayu pasrah.
__ADS_1
Berkali-kali Bayu mengusap dadanya, saat alat cukur clipper melintasis di atas kepalanya, menyukur habis rambutnya dan Hendi mulai menggunakan pisau cukur lain untuk mengerik rambut halusnya hingga terlihat licin. Nampak mengkilap sudah kepala Bayu sekarang.
Bayu terlihat terus menggelengkan kepalanya, saat Hendi telah selesai mencukur dan memberikan pijatan sebentar untuk melemaskan urat leher Bayu yang kaku.
"Ya Tuhan, belum sebulan aku menjadi suaminya, dia sudah merubah diriku menjadi tuyul tua bangka seperti ini," rutuk Bayu di dalam hatinya.
Di luar barbershop, Pak Ujang dan Suster Marni yang menunggu di dalam mobil, tak bisa berhenti menertawakan majikannya. Keduanya menertawakan dengan puas penampilan baru majikannya. Jika Nayla yang mereka lihat dengan penampilan botaknya, mereka merasa sedih dan terharu, tapi tidak dengan Bayu.
"Nyonya Nayla hahaha... Tuan Bayu diapain bisa mau memangkas rambutnya seperti ini hahaha...." ucap Suster Marni di tengaj gelak tawanya.
"Aku kalau jadi Tuan, ya gak mau disuruh botak Sus. Cinta ya cinta tapi ya aku gak mau di buat malu," ucap Pak Jono yang menimpali ucapan Suster Marni.
"Hahaha... iya-ya Pak Jon, Tuan udah bucin banget loh ini, padahal dulu gak begini. Si Ida aja sampai mengundurkan diri karena Tuan galaknya minta ampun,"
"Iya kah Sus?" Tanya Pak Jono tak percaya.
"Iya, kalau menyangkut anaknya, kita gak boleh salah sedikit aja," jawab Suster Marni yang membuat Pak Jono ber-O ria.
Selesai di pangkas, Bayu membeli pesanan bakso untuk Nayla. Sang penjual bakso yang melihat Sultan langsung saja mengetahui racikan bakso yang di peruntukkan untuk Nayla. Bayu juga membeli untuk dirinya, Pak Jono dan juga Suster Marni.
Sesampainya di rumah sakit, mereka mendapati Nayla masih tertidur dengan nyenyak. Sebelum membangunkan Nayla untuk memakan baksonya. Bayu menyempatkan waktu untuk menghubungi Nathan untuk membelikannya penutup kepala untuk dirinya, Nayla dan juga putranya. Karena benar apa yang dikatakan putranya. Kepalanya yang botak merasa kedinginan saat di ruangan berAC.
Bayu sadar betul pasti istrinya juga merasa kedinginan di area kepalanya. Rasa sedih itu ada, dan ia pun mengerti mengapa Nayla merasa senang saat dirinya bicara ingin menyamakan penampilannya dengan Nayla yang botak. Karena istrinya itu ingin suaminya merasakan apa yang ia rasakan dengan kepalanya yang tanpa sehelai rambut itu.
__ADS_1
Sultan yang sudah mencuci tangan dan kakinya, langsung saja menaiki ranjang Nayla. Ia membaringkan tubuhnya di lengan Nayla dan memeluk tubuh Nayla seperti guling. Seolah sadar dengan kedatangan anak sambungnya. Dengan mata yang masih terpejam Nayla mengusap tangan Sultan yang memeluk erat dirinya. Bayu yang melihat keduanya hanya tersenyum bahagia, jika tidak ada Pak Jono dan juga Suster Marni mungkin dia akan ikut naik di ranjang Nayla, memeluk Nayla dengan posesif.