Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Calon Mertua


__ADS_3

"дравствуйте, спокойной ночи!"


(Zdravstvuyte, spokoynoy nochi! / Hai, selamat malam!)


Sepasang pria dan wanita paruh baya berdiri tepat di hadapan Siera sambil berbicara bahasa yang tidak dimengerti oleh gadis itu.


Siera terpaku sambil mengerutkan keningnya, dan menatap satu persatu pasangan paruh baya tersebut.


Deg!


Lensa mata kehijauan dan rambut pirang yang nyaris memutih. Siera makin mematung saat menyadari jika sosok pria paruh baya itu hampir mirip dengan Nikolai.


Tak lama langkah kaki Niko semakin mendekat lalu berdiri tepat di samping Siera.


"Mom, Dad! Kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu kalau mau kesini?" tanya Nikolai dengan santainya.


Siera yang mendengar hal tersebut tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Gadis itu tetap diam mematung dengan detak jantung yang berdebar kencang, terlebih dirinya tinggal satu atap bersama anak mereka. Entah apa yang ada dipikiran kedua orang tua Niko, rasanya Siera benar-benar ingin sembunyi.


"Anak nakal, memangnya orang tua datang harus membuat janji padamu terlebih dahulu?" ucap wanita paruh baya itu sambil melotot kearah Nikolai.


Nikolai hanya tertawa kecil lalu segera membantu orang tuanya untuk memasukkan koper ke dalam ruangan.


"Bukannya begitu. Kalau misalnya Aku gak ada bagaimana? Beruntung sekarang aku ada di rumah."


"Tinggal Mom obrak-abrik saja kantor kesayanganmu itu. Sudah pasti Kau di sana!" ucapnya lalu perlahan duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu.


Bagi Siera suasana saat itu sangatlah membuat dirinya canggung. Bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa saat berada ditengah-tengah situasi tersebut.


"Anak nakal, Kau mau terus membuat gadis ini mematung begitu saja tanpa memperkenalkannya kepada Kami?" ucap wanita paruh baya itu kembali.


Nikolai menghela napasnya dengan susah payah, seakan dirinya enggan untuk memperkenalkan Siera pada kedua orang tuanya. Sikap Nikolai yang tiba-tiba saja seperti anak kecil itu membuat Siera menggelengkan kepalanya, tidak menyangka jika pria menyebalkan itu akan bertingkah seperti itu.


"Siera, perkenalkan Mommy dan Daddy Ku!" seru Nikolai terpaksa.

__ADS_1


Siera mengulurkan tangannya sambil tersenyum dan menyebut namanya.


"Saya Maksim Alexei. Senang berkenalan denganmu, Siera."


"Saya Anne, Mommy-nya anak nakal ini!"


Setelah berkenalan Anne tampak tengah menerka sesuatu. Wanita itu terus melihat penampilan Siera yang tidak terlihat rapih, karena pakaian santai yang dikenakannya.


"Anak nakal, Kamu harus menjelaskan sesuatu pada Mommy!" titahnya.


Nikolai hanya tertawa kecil sambil mengusap-usap tengkuk lehernya, lalu ia pun berkata, "Nanti ya, Mom!"


"Baiklah, sekarang Mom mau istirahat. Mom merasa sudah cukup tua, hingga perjalanan segini saja sudah terasa melelahkan."


Dengan sigap Nikolai kembali menarik koper milik orang tuanya, memandu mereka ke sebuah kamar kosong yang diperuntukkan untuk tamu.


Kaki Siera yang terasa tenaganya sontak membuat gadis itu langsung terduduk di sofa, ia pun memijat keningnya karena merasa tidak enak hati sekaligus canggung atas kehadiran kedua orang tua Nikolai yang tanpa rencana.


"Niko!" Siera memanggil Nikolai dengan suara setengah berbisik setelah melihat pria itu berjalan ke arahnya.


"Ada apa? Kamu gak tidur?" tanyanya santai seakan-akan tidak terjadi apapun.


"Kamu ini, situasi genting kayak gini masih bisa santai! Nasibku gimana ini? Apa aku ke hotel aja ya?"


"Ngapain? Kamu tidur aja di kamar seperti biasa," jawab Nikolai kembali.


Siera menepuk keningnya, sikap Nikolai yang terlalu acuh tak acuh sungguh membuat dirinya semakin sakit kepala. Siera berdengus kesal dan melotot ke arah Nikolai sambil berkacak pinggang.


"Duh, bagaimana kalau orang tuamu mempertanyakan siapa aku? Apalagi kalau mereka tahu jika aku tinggal berdua denganmu!" Siera tampak gelisah dan panik karena Nikolai sama sekali tidak mengerti perasaan hatinya saat itu. Ingin sekali Siera memukul kepala pria di hadapannya, agar Nikolai bisa berpikir dengan baik.


"Tenang saja, sudah dipastikan kamu diterima. Karena ibuku pasti akan mengusir sesekali yang tidak ia sukai tanpa basa basi. Lebih baik sekarang kamu tidur, daripada perdebatan kita malah memancing jiwa penasaran ibuku," ucap Nikolai sambil tersenyum lebar.


Siera yang mendengarnya hanya bisa terperangah. Gadis itu terpaku dan berusaha mencerna maksud dari penjelasan yang baru saja dikatakan oleh Nikolai.

__ADS_1


"A-apa? Langsung diusir?"


***


'Tidak sia-sia saya menjadi sponsor mu, mengingat semua prestasi yang sudah kau raih.'


'Terima masih, Tuan Ricky. Anda terlalu berlebihan memuji saya.'


'Oh tidak, saya sungguh-sungguh atas ucapan saya. Nugraha, sebenarnya ada sesuatu yang saya ingin katakan padamu. Saya memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik, dan saya ingin menjodohkan kalian berdua, bagaimana?'


Nuga menengguk segelas sampanye dalam sekali tegukan kala dirinya baru saja mengingat awal mula dari malapetaka yang telah menjerumuskannya. Rasa pahit dari minuman beralkohol yang baru saja pertama kali ia rasakan, seakan tak berarti apa-apa dibandingkan rasa pahit akan kehidupan yang tengah ia jalani.


"Sialan, seandainya aku tahu jika adik yang ia maksud bukan Siera maka aku tidak akan dengan mudah menerima tawarannya!" gumam Nuga dengan wajahnya yang memerah menahan rasa amarah, dan juga rasa mabuk akibat minuman keras yang ia konsumsi.


Masih ia ingat dengan jelas foto Siera lah yang dibawa oleh Ricky dan Rani saat menawarkan perjodohan tersebut. Keduanya juga menjelaskan sifat gadis yang akan dijodohkan oleh Nuga, yang tidak lain adalah sifat dari Siera yang periang.


Namun siapa sangka, di hari pertunangan tiba-tiba saja gadis yang dijodohkan dengan dirinya bukanlah Siera, tetapi Siena yang bahkan memiliki sifat berbanding terbalik dengan Siera.


Saat itu Nuga benar-benar merasa ditipu dan juga dibodohi, tetapi dirinya tersandung akan hutang budi


Sorot mata dan mimik wajah Siera yang menyaksikan pertunangan mereka, masih jelas terngiang dan tak dapat sedikitpun ia lupakan. Kini, dirinya benar-benar telah terperangkap dan akan sulit untuk terlepas dari jerat pernikahan tanpa cinta.


Malam kian larut, jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga malam. Namun tak ada tanda-tanda Nuga kembali ke dalam kamarnya, pria itu meninggalkan sang istri sendirian di malam pertama mereka.


"Apakah aku egois?" gumam Siena sambil menatap jendela kamarnya yang menunjukkan pemandangan malam ibu kota.


Rasa sakit pada jantungnya terasa tertutupi dengan rasa sakit dan juga bersalah yang datang bersamaan. Seandainya saat itu ia tak membuka buku harian kembarannya, akankah ia akan merasakan rasa bersalah sebesar itu?


Selama ini ia hanya berpura-pura tidak tahu menahu jika Siera sudah lama memendam rasa dengan Nugraha. Rasa cintanya pada pria itu sudah menutup matanya rapat-rapat, dan memaksakan kehendak pada ibu dan kakaknya untuk segera menjodohkan dirinya dengan Nugraha.


Rasa peduli dan perhatian yang selama ini ia tunjukkan pada Siera akankah sebuah ketulusan, ataukan sekedar bentuk rasa bersalahnya karena dirinya telah merebut kebahagiaan satu-satunya yang Siera dapatkan?


"Tidak, Siera sudah menemukan pengganti kok. Aku yakin dia sudah bahagia dan merelakan Nuga untukku!" serunya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2