Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 39


__ADS_3

Pagi hari menjelang, Nayla bangun seperti biasanya. Di lihatnya suaminya masih tertidur dengan posisi membelakangi dirinya, posisi tidur yang tak seperti biasanya. Biasanya suaminya itu selalu memeluk tubuhnya ketika mereka tidur bersama.


Nayla tersenyum getir melihat perubahan Bayu, "Hahaha... cuma seminggu manisnya rumah tangga gue, sisanya pahit lahhh, nasib..." gumam Nayla di dalam hatinya.


Nayla melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, pagi ini dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugasnya. Selesai ia mandi dan berpakaian, ia masih melihat Bayu tertidur dengan posisi tidur yang sama.


Ia langkahkan kakinya dengan ragu menghampiri suaminya. Ia berjongkok menatapi wajah damai suaminya yang tertidur.


"Kamu marah sama aku Mas? Marahlah tapi jangan lama-lama, aku paling takut kalau di acuhkan seperti ini," ucap Nayla yang berharap Bayu mendengarnya.


Dengan ragu ia ingin membelai rambut suaminya, dan benar rasa keraguan itu, belum sempat tangannya memegang rambut suaminya, Bayu menepis kasar tangan Nayla.


Sakit, ya sakit rasanya. Tak hanya tangan Nayla yang sakit tapi juga perasaannya. Nayla hanya diam dan tersenyum getir menatap Bayu yang merubah posisi tidurnya, membelakangi Nayla.


Nayla ingin menitikan air mata namun ia tahan, ia tak mau terlihat lemah di depan Bayu. Ia memilih untuk keluar, melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri menyiapkan keperluan suami dan anaknya.


Nayla turun ke lantai dasar, ia berjalan ke arah dapur yang sudah ada Bi Darmi dan Suster Marni di sana. Nayla terkejut dengan adanya Bi Darmi di kediamannya sepagi ini.


"Bi, kok tumben datangnya pagi banget?" tanya Nayla pada Bi Darmi yang sibuk memasak.


"Bibi sudah tinggal disini sejak semalam Non," jawab Bi Darmi yang membuat Nayla terkejut.


"Oh, selamat ya Bi," Nayla berkata dengan senyum lebarnya, namun hatinya merasa tercubit, itu artinya pekerjaan yang biasa ia lakukan di pagi hari, menyiapkan sarapan lezat untuk suami dan anaknya, akan di gantikan oleh Bi Darmi.


Respon Nayla dengan mengucapkan selamat dan senyum lebarnya membuat Bi Darmi dan Suster Marni mengerutkan keningnya, mereka tahu betul pasti majikannya ininhatinya terluka. Bagaimana bisa ia masih bisa tersenyum selebar itu saat hatinya kembali terluka akan semua keputusan Bayu. Merasa tak ada gunanya di dapur, Nayla pergi keluar rumah untuk melihat ada atau tidak mobil miliknya yang diantar Pak Parman. Ia meminta pada security rumahnya itu untuk membukakan pagar rumah. Nayla keluar rumah dan mendapati mobilnya ada di depan rumahnya.


Nayla segera masuk ke dalam mobil dan mengambil kunci mobil di tempat rahasia, hanya Nayla, Pak Parman dan Tuhan yang tahu dimana tempat persembunyian kunci itu berada.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kunci, Nayla membuka pintu bagasi mobil, ia mengambil melihat-lihat buku kuliahnya yang sengaja ia letakkan di sana.


"Hari ini mata kuliahnya apa ya?" Tanya Nayla pada dirinya sendiri.


Dengan kecerdasannya Nayla segera melihat jadwal mata kuliah yang ia tempel di pintu bagasi mobilnya.


"Ah, baguslah tidak ada mata kuliah dia hari ini," gumam Nayla yang bernafas lega tidak ada jadwal mata kuliah suaminya hari ini.


Selesai mengecek mobil, Nayla kembali masuk ke dalam rumah, ia pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya. Ia letakkan kopi itu di atas meja makan, setelah itu ia kembali ke lantai atas untuk membangunkan suaminya.


Sesampainya ia di kamar, ia tak mendapati suaminya di ranjang, terdengar suara air bergemericik di dalam kamar mandi, artinya suaminya itu sudah bangun. Ia siapkan pakaian kerja untuk suaminya seperti biasa.


Tak lama berselang Bayu keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Nayla terpesona melihat ketampanan Bayu untuk kesekian kali, ia terus memandangi suaminya namun suamimya malah cuek, seakan menganggap dirinya tak ada di kamar itu.


Bayu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian, melihat hal itu Nayla mendekati Bayu.


Bayu tak menanggapi ucapan Nayla yang memberitahunya, jika ia sudah menyiapkan Baju untuk dirinya. Bayu terus saja dengan kegiatannya mencari pakaian untuk ia kenakan. Melihat hal itu hati Nayla terasa sakit, bukan hanya tak dianggap tapi Bayu tak menghargai apa yang sudah Nayla siapkan untuknya.


"Gak mau pakai pilihan aku ya Mas? Ya sudah aku kembalikan," ucap Nayla dengan suara bergetar. Ia menahan sedihnya dengan menggigit bibir bawahnya.


Nayla mengembalikan pakaian Bayu yang tadi ia siapkan ke dalam lemari. Disaat Nayla sibuk mengembalikan pakaian Bayu, Bayu tetap dengan aktifitasnya memakai pakaiannya dan saat dia ingin mengenakan dasi, kembali Nayla menghampiri suaminya. Ia ingin membantu suaminya mengenakan dasi namun belum sampai tangannya menyentuh dasi yang melingkar di leher Bayu, tangan Nayla kembali di tepis oleh Bayu.


Deg! [Kembali hati Nayla tercubit dengan perlakuan kasar Bayu.]


Nayla hanya berdiri dan diam melihat aktifitas suaminya.


"Welcome to the hell Nayla," batin Nayla yang menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Selesai berpakaian Bayu keluar kamar tanpa mengajak Nayla keluar bersama seperti biasanya. Agar tidak memancing kecurigaan orang-orang di rumahnya, Nayla berdiam diri sesaat di dalam kamarnya baru ia keluar sesaat kemudian.


Nayla berjalan dengan cepat menuruni anak tangga, ia menyapa Sultan yang tersenyum riang melihat kehadirannya.


"Anak Mami, udah ganteng, udah wangi, mau sekolah ya? Maafin Mami ya kemarin Sultan gak sekolah karena Mami," Nayla mencium dan memeluk putra sambungnya itu dengan gemas. Sesaat ia melirik Bayu yang sama sekali tak memperhatikan mereka. Ia sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya.


"Ok Mami, gak apa-apa," jawab Sultan yang masih dalam pelukkan Nayla.


"Mam yang banyak ya, biar jadi anak yang sehat dan kuat. Ok sayang,"


"Siap Mami," jawab Sultan dengan mengangkat kedua tangannya.


"Mas kok ini ada dua cangkir kopi, kamu minum dua cangkir sekaligus?" tanya Nayla yang heran melihat ada dua cangkir kopi di depan Bayu.


"Bi, tolong buang kopi ini!" Ucap Bayu dengan melirik kopi buatan Nayla.


"Oh, udah dingin ya kopinya, maaf ya aku buatnya kepagian," ucap Nayla yang berusaha menyembunyikan semuanya di depan orang-orang rumahnya. Padahal tanpa perlu Nayla sembunyikan mereka semua sudah tahu. Bahwa Bayu sedang marah padanya.


"Bi, hari ini saya gak makan nasi, saya makan roti aja, tolong buatkan roti selai ya," pinta Bayu saat Bi Darmi menghampiri meja Bayu untuk mengambil cangkir kopi buatan Nayla.


Nayla menatap nanar suaminya. Ia tak menyangka di perlakukan seperti ini dengan suami yang baru saja menikahinya.


"Heh, persetanlah dengan kata-kata manisnya di awal... anyinggggg..." umpat Nayla.


Nayla yang sejak kemarin tidak makan kembali tidak mengisi tanki perutnya, karena apa? Karena semua penderitaan yang ia alami saat ini sudah membuatnya kenyang. Nayla hanya menengguk air putih yang sudah disediakan di meja. Ia hanya tersenyum melihat putra sambungnya tengah memakan makanannya di bantu Suster Marni.


"Sultan, Papi kerja dulu ya? Kamu sekolah yang pintar ya sama Miss Claudia," pamit Bayu yang kembali menyubit hati kecil Nayla.

__ADS_1


"Iya Miss Claudia memang pintar dan gue beghoo...." batin Nayla kesal.


__ADS_2