
Di Mansion Bayu dan Nayla. Bayu yang baru saja tiba dan turun dari mobil langsung saja meminta security penjaga untuk masuk ke dalam, setelah sebelumnya diminta terlebih dahulu menggembok pintu pagar mansion yang menjulang tinggi itu.
Hali ini sungguh menarik perhatian Nayla yang merasa heran dengan tingkah suami kesayangannya ini.
Herman banget deh, sama suami aku yang tuwir ini. Semakin hari tingkahnya semakin ada-ada saja. Apa tingkat kesetresannya sudah akut hanya karena Kak Linda? Hadeeh harus segera ke psikiater nih kalau gini caranya. Gumam Nayla di dalam hatinya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh tentang diriku, Mih! Aku masih sehat jasmani dan rohani. Ayo kita bobo siang, Papi sudah gak tahan." Ucap Bayu yang lantas merangkul tubuh Nayla untuk berjalan bersamanya.
"Gak tahan? Gak tahan apa nih Pih? Gak tahan ngantuk apa gak tahan nganu-nganu?" Tanya Nayla meledek seraya melirik kearah junior Bayu yang ia usap-usap.
"Dua-duanya." Jawab Bayu yang lantas mengangkat tubuh Nayla.
Ia menggendong Nayla dengan bersemangat dengan berlari menaiki anak tangga menuju kamar pribadi mereka. Jangan tanya kemana kedua anak mereka. Tentunya Bayu sudah mengungsikan kedua anak mereka kekediaman kedua orang tuanya.
Di sisi lain, tiga serangkai yang baru saja tiba di Mansion Jessica. Sudah tertunduk lemas, saat mereka sudah kalah start dari Bayu dan juga Hendra.
Kedua mansion kakak beradik itu kompak, mengunci pagar tanpa satu pun orang yang menjaganya, yang dapat dimintai oleh ketiganya untuk membuka pintu.
"Rasanya ingin sekali aku bom kediaman mereka saat ini." Gerutu Jimmy yang tidak ada habisnya sejak tadi.
Jelas Jimmy menggerutu sejak tadi. Ia sungguh tidak terima dengan penolakan Bayu dan juga Hendra. Karena kedua anaknya sangat tidak bisa diajak kerja sama, ketika ia sedang berduaan dengan Endah. Kedua anak kembarnya ini sangat kompak menjadi penghalang dirinya untuk memadu kasih dengan istri tercintanya yang bar-bar dan langka di dunia ini.
__ADS_1
"Bom saja kalau kau mau, yang pasti tidak hanya mansion mereka yang hancur tapi juga mansion kita. Kau tidak sadar Bayu dan Hendra punya istri yang tidak kalah sama tengilnya dengan kelakuan adikku. Dia punya dua wanita pemberani, sedang kita cuma satu. Mana terima kediamannya kau hancurkan hanya karena alasan sepele mu itu Jim?" Sahut Leon, sembari melirik istri dan juga adik bungsunya Jessica yang terlihat sangat feminim dan lemah lembut.
"Kalian tidak perlu pusing, mereka bisa saja menolak dititipkan anak-anak kita. Tapi ada satu tempat yang tidak akan menolak anak-anak kita." Seru Andre sembari tersenyum menyeringai kearah Leon dan juga Jimmy.
"Kemana Ndre? Jangan asal titip, kalau anak-anak kita diculik, bisa habis aku." Tanya Jimmy.
"Tunggu sebentar!" Jawab Andre yang segera mengambil ponselnya di dalam saku celana.
Andre mencari nomor telepon seseorang di buku telepon ponselnya yang ingin ia hubungi saat ini. Tanpa menunggu lama. Ponsel Andre dengan seseorang itu pun terhubung.
"Hallo Daddy ada apa?" Tanya Sultan yang bicara dengan smartwatch miliknya.
"Dimana dirimu, Son?" Tanya Andre pada Sultan yang berhasil membuat Leon dan Jimmy bertanya-tanya, untuk apa Andre menghubungi Sultan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya menghubungi bocah itu, sebab kediaman mereka saja sudah di gembok tanpa seorang penjaga yang bisa mereka perintah untuk membukanya.
"Dikediaman Oppa dan Omma." Jawab Sultan jujur.
"Apa kamu senang jika Almera dan yang lainnya menyusul keberadaan mu, Son?"
"Tentu saja Daddy, tadi kami sedang bermain bersama tapi Papi tiba-tiba datang dan memintaku untuk kerumah Oppa dan Omma." Jawab Sultan, seketika Andre tersenyum senang mendengar jawaban calon menantunya itu.
"Baiklah tunggu dalam waktu beberapa menit, Daddy akan mengantarkan Almera dan saudaranya untuk bermain kembali dengan mu."
__ADS_1
Usai menutup panggilan teleponnya dengan Sultan, tanpa banyak bicara ataupun menjelaskan Andre lantas saja meminta para Baby sister menyiapkan perlengkapan anak-anak mereka untuk menyusul keberadaan Sultan.
"Daddy, kenapa mereka yang dibawa ke sana? Kenapa Sultannya saja yang di bawa ke sini?" Tanya Jessica sedikit keberatan.
"Bayu sedang stress, dia hampir gila dalam menghadapi masalahnya. Makanya Sultan dan Bianca di ungsikan. Kasiankan mereka butuh teman, jika Bayu tahu Sultan dan Bianca di bawa ke sini, dia pasti akan marah." Jawab Andre dengan alasan bohongnya.
Jessica yang lugu, selalu mempercayai perkataan suaminya yang jarang sekali berbohong. Hingga ia dengan mudah percaya tanpa kembali bertanya yang akan mempersulit suaminya.
Tanpa berlama-lama, setelah anak-anak mereka pergi. Giliran Leon dan Jimmy berakting. Jika Leon berhasil dengan aktingnya, lain hal dengan Jimmy si manusia dengan julukan kanebo kering.
"Gak usah akting kamu Pah, gak pantas mafia macam kamu lembek melempem kaya kerupuk."
"Mafia juga manusia Mah, apalagi mata bor aku hampir karatan gak pernah dipakai dan diasah sama kamu."
"Huahahaha...." tawa Endah pecah mendengar sahutan Jimmy.
"Kata siapa gak pernah dipakai, pernah kok." Timpal Endah lagi
"Iya dipakai, tapi selalu berujung dengan sabun." Keluh Jimmy yang kembali membuat istrinya tertawa.
"Udah yuk, jangan menyia-nyiakan kesempatan. Mereka saja pasti sudah mulai. Kamu malah masih ngajakin Papa debat." Ajak Jimmy yang sudah tidak tahan. Ia pun langsung menyeret istrinya pulang. Sepanjang perjalanan pulang dengan berlari kecil, Endah terus tertawa, menertawakan suaminya.
__ADS_1