
"Jaga bicara mu Nayla! Saya ini Dosen mu," decak Diana kesal. Ia menatap Nayla dengan tatapan tajam yang dibalas tawa oleh Nayla.
"Jika Anda dosen disini, berarti Anda adalah karyawan saya Ibu Diana Pramesti yang terhormat. Apa Anda tahu kampus ini milik siapa?" Tanya Nayla dengan senyum sinisnya.
"Tentu saya tahu. Kampus ini milik Bayu, suami mu yang akan secepatnya menjadi mantan suami mu, karena aku akan menggantikan posisi mu," Jawab Diana dengan rasa penuh percaya diri dan sombongnya.
Tiba-tiba saja Nayla tertawa menanggapi jawaban Diana.
Hahahaha... [Tawa Nayla mengelegar bagaikan petir].
Bayu dan Diana terlonjak, mereka terkejut dengan tawa Nayla yang sebesar itu. Mengalahkan suara petir di saat hujan badai. Dapat di bayangkan berapa decibel tekanan suara tawa Nayla di ruangan kerja suaminya.
Bayu baru saja ingin menutup telinganya karena merasa daun telinganya terasa sakit, mendengar tawa sang istri yang berlebihan, namun ia urungkan keinginannya itu karena ia dapati tatapan sinis dari sang istri. Kini ia malah mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum penuh arti pada istrinya.
"Apa-apaan ini Bayu? Kenapa kamu seperti takut pada istri kecil mu ini? Ini tidak seperti Bayu yang aku kenal dulu." Batin Diana yang mengamati keduanya.
"Apa Anda sedang bermimpi Ibu Diana Pramesti? Mungkin dulu kampus ini milik Tuan Bayu yang duduk di hadapan Anda. Tapi sudah sebulan yang lalu, kampus ini sudah menjadi milik Nayla Putri Atmaja." Terang Nayla yang membuat Diana terkejut, tak hanya Diana yang terkejut, Bayu pun terkejut dengan pernyataan Nayla.
"Sepertinya kamu yang bermimpi Nayla. Tidak mungkin, kampus ini menjadi milik mu." Balas Diana dengan tawa mengejeknya.
HAHAHAHA [Nayla kembali tertawa dengan suara yang mengelegar]
Ingin Bayu teriak meminta Nayla untuk tidak tertawa seperti ini, karena sangat menyiksa pendengarannya. Ia sampai memukul udara berkali-kali saking gemasnya tak bisa melakukan apapun dihadapan Nayla. Sultan yang sedang memainkan ponsel, melirik sejenak wajah kesal tak berdaya sang Papi malah ikut tertawa geli.
"Kenapa kamu ikut tertawa, apa ada yang lucu hah? Tawa mu itu sungguh jelek," hina Diana dengan lirikan matanya yang menyebalkan.
"Memang, Ibu baru tahu ya hahahaha...." Balas Nayla yang kemudian menadahkan tangannya kearah Bayu. Seakan meminta sesuatu.
Ya Nayla memang meminta sesuatu dan Bayu tahu apa yang dipinta istrinya itu padanya. Dengan menatap mata istrinya dan memberikan senyum keterpaksaan Bayu memberikan ponselnya pada Nayla.
Setelah ponselnya sudah berada ditangannya. Nayla segera menghubungi Tuan Brata, ayah mertuanya. Tak lupa panggilannya dengan sang ayah mertua ia gunakan fitur loudspeaker, agar Diana dan Bayu ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Hallo Daddy ini Nay," sapa Nayla dengan suara manja seperti biasanya pada Mertuanya.
"Iya Nak, ada apa sayang?" Tanya Tuan Brata yang terdengar begitu menyayangi menantunya.
Jangan tanya bagaimana perasaan Diana saat ini. Sakit, tentu saja ia sakit hati. Iri, ya tentu saja ia iri hati dengan keberuntungan nasib Nayla. Di nikahi Bayu dan di sayangi oleh Tuan Brata, ayah mertuanya yang kaya raya.
"Daddy, Nayla mau tanya boleh ya? Siapa sih pemilik kampus tempat kuliah Nayla saat ini? Ada yang pengen tahu banget Dad, siapa pemilik asli kampus Nayla kuliah ini," Tanya Nayla yang membuat Tuan Brata di sebrang sana tertawa geli. Ia sudah tahu apa yang sedang dihadapi menantunya kini. Karena ia sudah diberitahukan oleh assitennya.
"Kenapa ditanyakan lagi Nak, bukankah kamu sudah menandatangani surat serah terimanya." Jawab Tuan Brata yang membuat Bayu membulatkan kedua matanya.
"Sudah menandatangani surat serah terima?" Batin Bayu membeo.
__ADS_1
Jujur saja Bayu tak mengetahui hal ini. Ia mengelus dagunya berkali-kali seraya berfikir keras, benar atau tidaknya pembicaraan antara istrinya dan sang Daddy.
Bayu tak menyangka sang Daddy melakukan transaksi besar dengan sang istri dibelakangnya, dan lebih parahnya lagi tanpa persetujuan dari dirinya. Rasanya ingin tak percaya tapi apa yang di dengarnya membuatnya bingbang.
Tak hanya Bayu, yang nampak terkejut dengan jawaban Tuan Brata, tapi juga Diana. Harapan menjadi istri Bayu dengan gelimang harta pupuslah sudah. Karena jika benar seluruh aset kekayaan Tuan Brata sudah di kuasai Nayla, percuma saja ia menikah dengan Bayu. Bagi Diana hidup tak hanya memakan cinta. Ia juga perlu uang untuk menunjang kehidupannya.
Keterkejutan Diana dan Bayu saat mendengar pembicaraan Nayla dan Tuan Brata tak hanya sampai di situ. Lagi-lagi Nayla menanyakan mengenai kepemilikan aset besar. Kali ini perusahaan besar milik mereka yang baru saja bangkit dari keterpurukan ditanyakan oleh Nayla tentang kepemilikannya.
"Daddy-Daddy. Emmm....jika kampus ini milikku, lalu bagaimana dengan perusahaan Daddy? Apa juga jadi milik ku hum?" Tanya Nayla yang suaranya di buat semanja mungkin di depan Diana dan juga Bayu.
Jujur saja Tuan Brata di sebrang sana menahan tawanya hingga memegangi perutnya yang cukup terasa sakit, karena mendengar suara Nayla yang di buat-buat ini dan membayangkan wajah putranya yang terkejut dengan pembicaraan mereka.
"Daddy tak bisa bayangkan bagaimana ekspresi mu sekarang Nak? Kamu pasti sedang tertegun, berfikir benar atau tidaknya pembicaraan istri mu dan Daddy bukan? Hahahaha..." Batin Tuan Brata yang sedang membayangkan ekspresi putranya dengan imaginasinya.
"Dan Daddy tak bisa bayangkan dirimu yang ingin marah dengan istri mu ini tapi tak bisa, yang akhirnya hanya membuat mu bisa mengumpati di dalam hati dan memukul udara atau barang-barang disekitar mu. Hahaha... Kamu sudah menjadi raja hutan yang tak memiliki taring jika berhadapan dengan istri mu yang pandai memainkan peran dan perasaan mu. Hahahaha..." Batin Tuan Brata yang tertawa tanpa suara membayangkan semuanya.
Para asisten rumah tangganya yang melihat Tuan Brata tertawa geli tanpa suara, sudah sangat paham Tuan besarnya ini sedang menertawakan siapa. Semenjak Bayu menikah dengan Nayla. Tuan Brata selalu di buat senam wajah dengan kelakuan menantu satu-satunya yang bertingkah absurd. Beliau jarang sekali sakit karena merasa hidupnya lebih berwarna dan bahagia dari sebelumnya.
"Tentu saja Nak, Bayu sudah tak punya apa-apa, karena seluruh aset milik Daddy sudah menjadi milikmu. Menantu kesayangan ku," Jawab Tuan Brata yang mengikuti permainan menantunya.
"Ah Daddy, Nay jadi makin sayang sama Daddy," ucap Nayla sembari melirik Diana dan juga Bayu.
"Kena kalian hahaha ..." Batin Nayla yang merasa senang melihat raut wajah keduanya secara bergantian.
Mendengar hal itu Diana tertunduk lemas, berbeda dengan Bayu yang malah mengepalkan jemarinya. Bisa-bisanya istrinya itu menguras habis harta keluarganya dalam waktu sebulan saja.
"Nay, tak ku sangka. Sikap materialistis mu sungguh luar biasa. Kau keruk semua tanpa meninggalkan sedikit pun untuk Sultan. Maruk sekali dirimu Nay," gumam Bayu yang ikut terbawa dalam permainan istrinya.
"Ok Daddy, sudah dulu ya, sampai jumpa saat makan malam nanti. Bye Daddy... Nay sayang Daddy bye." Ucap Nayla yang menjadi akhir percakapan mereka, karena Nayla menutup begitu saja sambungan teleponnya, tanpa menunggu jawaban dari Ayah mertuanya.
Jangan tanya bagaimana respon Tuan Brata di sebrang sana. Kesal. Tentu saja. Setelah puas membuat mertuanya tertawa setelah itu Nayla membuat mertuanya kesal padanya karena kebiasaannya menutup panggilan telepon sesuka hati.
"Nayla ughhh... Kebiasaan buruk anak ini. Ampun!! Daddy belum jawab kamu sudah tutup. Bayu istri mu itu harus di hukum, lihat saja nanti kalau kesini, Daddy akan balas dia.. hahahahaha...." Keluh Tuan Brata ketika panggilan teleponnya ditutup begitu saja. Ia kesal tapi masih bisa tertawa terbahak-bahak.
Setelah Nayla menutup panggilan telepon bersama ayah mertuanya itu. Ia dapati tatapan tak bersahabat dari kedua lawan bicaranya. Bayu hanya diam menunggu penjelasan istrinya.
Walaupun kesal dan ingin marah tapi pengalaman mengajarkan Bayu untuk menunggu penjelasan sang istri dan tidak mengandalkan emosinya yang meledak-ledak lagi yang akan berujung penyesalan.
"Jadi bagaimana Ibu Diana? Masih mau dengan suami kere ku ini? Jika aku dan suamiku bercerai, tentu saja keluarga suami ku ini seketika menjadi gembel. Karena seluruh harta kekayaan mereka adalah milikku. Tentunya Anda tidak mau kan hidup hanya memakan cinta?" Tanya Nayla yang tanpa sadar dijawab Diana dengan gelengan kepala berkali-kali.
Ya, Diana memang mencintai Bayu, dia mendekati Bayu bukan saja untuk mendapatkan cintanya tapi juga dengan hartanya. Dengan harta kekayaan milik Bayu tak akan membuatnya harus bekerja keras lagi mencari biaya hidupnya bersama keluarga besarnya yang hanya berasal dari kalangan biasa. Melihat lawan bicaranya hanya diam saja tanpa kata-kata, akhirnya Nayla kembali melanjutkan perkataannya.
"Ok, karena saya adalah pemilik dari kampus ini. Jadi saya memutuskan untuk memecat Anda mulai hari ini juga. Tolong tinggalkan kampus tercinta saya ini dengan terhormat Ibu Diana, sebelum security menyeret Anda untuk keluar dari sini secara tidak hormay." Ucap Nayla lagi dengan nada tegas dan berwibawa kali ini.
__ADS_1
"Nayla, saya tidak akan melupakan penghinaan yang kamu berikan pada saya ini. Saya pastikan hidup mu tak akan tenang. Ingat anak yang sedang memainkan ponselmu itu, masih memiliki ibu kandung yang lebih berhak dari pada dirimu dan harta kekayaan milik keluarga Bayu hanya anak itu yang berhak mendapatkannya bukan dirimu yang tak memiliki hubungan darah sedikit pun dengan keluarga Bayu." Balas Diana yang berapi-api.
Hahahaha [ Tawa Nayla kembali menggelar.]
"Nayla, ya ampun. Tolong kecilkan volume suara tawa istriku ya Tuhan, " cicit Bayu hampir tak bersuara.
Ia begitu risih mendengar tawa istrinya yang hampir membuat gendang telinganya mau pecah.
"Jangan coba-coba mengancam ku Ibu Diana Pramesti! Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa hum," Nayla mendorong tubuh Diana dengan satu jari telunjuknya yang berhasil membuat Diana mundur dan hampir terjungkal dari kursi yang ia duduki.
"Memangnya siapa kau ini hah?" Tanya Diana dengan matanya yang menyala-nyala. Ia tak terima dengan perlakuan kasar Nayla padanya, mendorongnya hingga terjatuh.
"Saya Nayla Putri Atmaja, istri dari Tuan Muda Bayu, ibu dari anak bernama Sultan. Sepertinya kau perlu lihatlah jahitan di kepalaku ini." Nayla melepaskan bandana yang ia gunakan dan menunjukkan pada Diana
Terpampang sudah jahitan panjang di kepala Nayla. Diana begidik ngeri melihat jahitan yang belum lama itu.
"Kenapa takut? Anda tahu darimana aku dapatkan ini?" Tanya Nayla yang dijawab gelengan kepala dari Diana.
"Aku dapati dari perkelahian ku dengan para fans suamiku di kampus ini, aku sendirian dan mereka berjumlah lebih dari sepuluh orang. Kesepuluh orang itu sudah kehilangan beberapa gigi milik mereka dengan kepalan tangan ku ini. Apa Anda mau merasakannya? Sepertinya tanganku butuh berolahraga sekarang, karena sudah lama sekali tangan ini tak memakan korban." Diana bergidik ngeri saat Nayla membuka otot tanganya yang berurat seperti laki-laki.
"Jika Anda dan siapa pun itu dia, yang Anda sebut tadi sebagai ibu kandung putraku. Dengan berani-beraninya mengusik hidup kami nantinya, pastinya saya akan membuat perhitungan sendiri." Ucap Nayla dengan mimik wajah menyeramkan.
"Kau tahu? Sebelum sempat dia mengambil anak ku. Akan aku binasakan dia terlebih dahulu. Aku cincang *********** yang tak mengizinkan putra ku mencicipi asinya." Ucap Nayla yang memperagakan cara ia mencincang, hingga Diana dan Bayu mengangkat bahunya karena rasa ngeri dan ngilu yang mereka rasakan.
"Tak sampai disitu. Akan aku congkel matanya yang tak bisa melihat penderitaan putraku." Ucap Nayla lagi yang memperagakan cara ia mencokel mata Linda nanti.
Nayla tersenyum senang di dalam hatinya. Karena bersil membuat Diana ketakutan, melihat raut wajah ketakutan yang terpancar di wajah Diana saat ini, menjadi kesenangan tersendiri bagi Nayla. Ia malah ingin terus menakuti Diana yang sudah ketakutan itu.
"Apa Anda pikir aku sudah puas dengan itu semua? jawabannya adalah belum. Aku juga akan menusuk lubang telinga kirinya hingga tembus ketelinga kanannya yang tak mau mendengar tangisan putra ku kala ia dengan teganya meninggalkan putra ku." Seketika Diana memegangi kedua telinganya, karena merasa ngilu membayangkan apa yang Nayla akan lakukan pada Linda.
"Dan terakhir akan ku ambil hatinya yang buta itu, yang tak pernah mengingat ataupun mencari keberadaan putraku yang kata Anda adalah putra kandungnya. Dan sekarang sebelum dia, sebaiknya Anda yang lebih dulu merasakannya." Ucap Nayla yang seketika mengambil gunting di atas meja kerja Bayu.
Membuat Diana berlonjak kaget, berjalan mundur menuju pintu dan berlari pergi meninggalkan mereka sambil berteriak berkata,"TIDAK, AKU BELUM MAU MATI,"
Sekepergian Diana, Nayla tertawa tanpa henti, hingga membuat perutnya sakit. Bayu yang melihat istrinya tertawa hanya bisa duduk terdiam sembari melipat kedua tangannya di atas meja.
"Sudah puas? Sepertinya harus ada yang Mami jelaskan pada Papi?" Ucap Bayu yang menghentikan tawa istrinya. Ia ingin membahajs kebenaran dari pembicaraan Nayla dan Daddy-nya.
"Gak kebolak pih? Bukannya Papi yang harus jelasin sama Mami, siapa dia? Ada apa dengan dia dan Papi di masa lalu hum?"Tanya Nayla yang membuat Bayu mendengus kesal. Ia yang butuh penjelasan malah ia yang harus menjelaskan jadinya.
"Seharusnya kamu kuliah ambil jurusan hukum, bukan management bisnis Nayla. Karena kamu sangat cocok jadi pengacara atau jaksa," sindir Bayu dengan pujian yang menerbangkan hati Nayla.
"Oh ya.Benarkah? Jika benar ucapan Papi ini, Mami tersanjung banget loh," balas Nayla dengan senyum dan tawa manisnya yang seolah sedang mengejek Bayu.
__ADS_1