
Karena sedang dalam masa pemulihan Nayla sama sekali tidak mengamuk hanya mengusir suaminya untuk tidur di luar, sesuai perintah Riska dan juga Ratna. Rupanya malam ini ia akan tidur bersama Bunda dan Mommy mertuanya.
Tidur bersama dua orang ibu, rasanya sangat menyenangkan bagi Nayla. Nayla terus mendapatkan curahan kasih sayang dari Riska maupun Ratna.
Sebelum tidur malam ini, Ratna melepaskan jarum infus di tangan menantunya, setelah sebelumnya, Nayla telah menghabiskan semangkuk sup ayam buatan sang Bunda, Riska.
Saat lampu kamar sudah dimatikan, oleh Riska, dan Riska juga sudah bergabung di kasur besar berukuran king size itu. Ia mulai membuka sesi tanya jawab yang direncanakan dirinya dan sang besan.
"Nay, katakan pada ibu, cairan apa yang kamu suntikan pada Barnes hingga ia lama kelamaan mati lemas seperti itu?"
"Aku tidak tahu Bunda, Septian yang sudah menyiapkannya." Jawab Nayla jujur.
"Lalu, kenapa anak Barnes setelah menyentuh bagian dadamu langsung meninggal, apa di dalam bagian dadamu juga dipasang perangkap?" Tanya Ratna kali ini.
"Iya Mommy, aku memakai br4 yang di rancang khusus oleh Septian atas permintaan Mas Bayu. Br4 itu rasanya tak nyaman sekali. Keras seperti batok kelapa. Gerah sekali memakainya." Jawab Nayla jujur.
"Apa anak Barnes benar-benar menyentuh milikmu, Nayla?" Tanya Riska sangat penasaran.
"Tidak Bunda. Kan sudah ku katakan Br4 itu keras seperti batok kelapa. Sewaktu Tanker menyentuhnya. Dia berkata kenapa milik ku keras, aku meminta dia untuk mereemasnya lebih kuat. Agar cairan kimia di permukaan br4 itu masuk ke dalam jemarinya."
Setelah Nayla menjawab pertanyaan Riska, kini giliran Ratna yang bergantian bertanya pada menantunya.
"Sayang, waktu kami naik mobil untuk menyelamatkan diri. Mommy dan Bunda mu melihat Endah bersama seorang wanita yang wajahnya sangat mengenaskan, siapakah dia? Kenapa wajahnya bisa seperti itu?"
Nayla menghela nafasnya berat, ia baru menyadari alasan mengapa keduanya ingin tidur bersamanya malam ini. Tentu saja untuk mengintrogasi dirinya.
"Dia Patricia Mommy. Wanita yang menggoda suamiku, Mas Bayu. Mommy tahu, mereka hampir saja bercinta. Kalau saja Septian tidak datang tepat waktu di mobil Mas Bayu kala itu. Mungkin mereka akan melakukannya di dalam mobil." Jawab Nayla yang mulai melebih-lebihkan.
Nayla memang tidak mengamuk pada suaminya, tapi dia selalu punya cara untuk memberi pelajaran pada siapapun yang main-main dengan perasaannya.
__ADS_1
"Kurang ajar anak itu, berani-beraninya dia tidak setia." Ucap Ratna yang berhasil terpancing emosinya oleh kelakuan menantunya yang gesrek ini.
"Iya Mommy. Bukannya aku tidak pengertian, menjebak sih menjebak tapi mereka sampai berciuman, bertukar saliva sampai bibir Patricia banyak sekali ku lihat bekas gigitan yang dibuat oleh Mas Bayu. Aku saja tidak pernah diperlakukan seperti itu, hiks..." Tambah Nayla yang seakan-akan menjadi korban dan perlu diberikan belas kasih.
"Kurang ajar Bayu, dia harus diberi pelajaran." Umpat Riska dan Ratna kompak.
Andaikan saja lampu di kamar tidur ini menyala. Mungkin Riska dan Ratna dapat melihat wajah cengengesan Nayla yang berhasil memainkan perasaan mereka.
Saat ini Riska dan Ratna mengira tubuh Nayla terguncang karena sedang menangis padahal ia sedang tertawa cekikikan membayangkan suaminya sebentar lagi mendapat amukan dari Riska dan juga Ratna.
Setelah dapat menetralisir rasa gelinya menertawakan apa yang akan terjadi pada suaminya, Nayla mulai menambahkan apa yang mendiang Patricia lakukan saat ia baru bangun tidur dan Bayu menghampiri dia di kamar tamu Villa milik Hendra dan mendiang Silvi.
"Apa? Jadi wanita itu pikir sudah melakukan malam panjang itu bersama dengan Bayu? Wah anak itu tak bisa dibiarkan." Omel Ratna yang langsung beranjak dari ranjang tidurnya dan diikuti oleh Riska.
Sementara itu Bayu yang malas tidur di kamar lain, lebih memilih tiduran di ruang televisi sembari menonton drama korea. Dengan berbaring di sana ia juga jadi menemani Daddy dan Ayah mertuanya yang tak pernah berhenti bermain catur sejak jam tujuh malam tadi.
"Ada apa? Kenapa dengan istriku Mom, Bun? Kenapa kalian menuruni anak tangga sembari berlari seperti ini?" Tanya Bayu yang sangat khawatir dengan istri, hingga bangun dan menghampiri kedua wanita paruh Baya yang sangat penting di hidupnya.
"Apa yang kamu lakukan Bayu? Kenapa kamu tega tidak setia dengan istrimu? Apa kurangnya menantu Mommy?" Cecar Ratna dengan pertanyaannya yang membuat Bayu bingung.
"Bayu gak setia gimana Mom? Nikah lagi juga belum." Sahut Bayu yang sangat salah dimata Riska dan Ratna.
"Apa belum kata kamu? Jadi kamu niat poligami Bay humm?" Tanya Riska dengan mata yang sudah membulatkan sempurna.
"Weh keren Bay, berani buat poligami? Ayah aja gak berani takut dipanggang." Sahut Gunawan sambil cekikikan bersama Pratama.
"Bay-bay. Punya istri satu aja kamu kewalahan apalagi dua. Mati berdiri kamu." Tambah Pratama yang makin tergelak tawa bersama Gunawan.
"E-ehh... Gak gitu. Bayu gak niat kok. Bayu juga takut." Ucap Bayu yang sudah mati kuti dengan tatapan tajam kedua wanita paruh baya dihadapan dirinya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu mencium wanita lain, saat istrimu sedang berjuang melindungi anak-anakmu?"
Bayu kembali terkejut sang Mommy mengetahui apa yang ia lakukan pada Patricia. Ia sudah dapat mengerti pasti ini adalah ulah istrinya.
"Hah, itu memang sudah direncanakan Mommy. Itu juga Bayu lakukm demi menyelamatkan kalian, bukan karena Bayu menyukai wanita itu."
"Tapi sepertinya kamu menikmatinya. Kamu sampai menggigit bibir wanita itu dengan buas. Nayla saja tak pernah kamu lakukan seperti itu?" Protes Riska sesuai dengan apa yang diceritakan putrinya.
"Ya Tuhan, istri macam apa yang aku nikahi. Semua yang ada pada dirinya penuh dengan kejutan dan sekarang dia tega sekali mengadu domba diriku dengan Mommy dan Bundanya. Apa maksudnya melakukan ini?" Gumam Bayu yang kini terlihat frustrasi.
"Bunda, aku menggigitnya karena aku jijik untuk m3lum4t bibirnya, lebih baik aku gigiti saja. Tolong jangan salah sangka pada ku Bun, Mom!" Jawab Bayu apa adanya.
Kedua wanita paruh baya itu menatap manik mata Bayu yang memancarkan kejujuran. Hingga akhirnya membuat keduanya percaya dan yakin dengan jawaban Bayu itu.
"Sudah Bay, gaslah. Masuk kamar sana. Lakukan pada istri mu itu. Apa kamu tidak sadar dia itu sedang iri, dan mau juga? hahaha...." Sambar Gunawan yang membuat Pratama ikut tergelak tawa.
"Tapi aku akan tersiksa Ayah, melakukan yang tidak tuntas sangat tidak menyenangkan." Sahut Bayu.
"Yang sakit itu hanya perutnya Bay, lagi pula lukanya tidak dalam, tidak akan berpengaruh. Tancaplah asal lembut." Sambar Pratama kali ini.
Tanpa berpikir lagi, Bayu langsung berlari menaiki anak tangga, dan saat kedua wanita paruh baya berusaha menghadang, Pratama dan Gunawan yang menjadi tim pembela Bayu langsung mengajak para istri-istri mereka untuk tidur.
"Mommy kayanya pinggang Daddy perlu di pijit hari ini sama Mommy, kebanyakan duduk nih jadi cekot-cekot." Panggil Pratama sembari memegangi pinggangnya.
Begitu pula dengan gunawan yang memegangi bahu tangan kanannya.
"Bun, ini bahu Ayah kenapa ya? Kaku vanget kayanya perlu dilemesin deh. Di wembe-wembe kayanya enak deh bun." Ucap Gunawan sembari menghampiri istrinya.
Kedua pasangan paruh baya ini akhirnya masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, ttanpa menjadi pengganggu Bayu yang akan memberikan apa yang Nayla mau.
__ADS_1