Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 51


__ADS_3

"Apa Anda sangat ingin tahu tentang perasaan saya pada istri Anda?" Neil malah balik bertanya pada Bayu yang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.


"Tentu. Untuk apa saya bertanya jika saya tak ingin tahu perasaan apa yang Anda rasakan pada istri saya." Jawab Bayu yang berusaha tenang mengendalikan emosinya.


"Baiklah, ini karena Anda yang meminta sesuatu yang sudah saya sembunyikan bertahun-tahun lamanya." Ucap Neil kemudian menghela nafas panjangnya sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Saya mencintai istri Anda, dan istri Anda adalah cinta pertama saya yang harus saya tinggalkan, tanpa mengungkapkan perasaan ini terlebih dahulu. Saya meninggalkannya demi persahabatan antara dirinya dan sepupu saya. Saya tidak mau merusak persahabatan mereka, karena perasaan saya yang mungkin tak akan terbalaskan oleh istri Anda,yang sudah jatuh cinta pada seorang pria yang merupakan anak dari sabahat kedua orang tuanya." Kembali Neil melanjutkan ucapannya.


Bayu yang mendengar ungkapan hati Neil tentang Nayla sudah jatuh cinta pada seorang pria yang merupakan anak dari sahabat kedua orang tuanya begitu bahagia. Karena ia tahunpria yang di maksud Dokter Neil adalah dirinya.


"Maaf jika ungkapan hati saya membuat Anda tak nyaman. Tidak ada maksud saya untuk merebut istri Anda. Tapi jika Anda meninggalkannya seperti semalam, mungkin saya akan kembali meraihnya. Karena jujur saja dia masih bertahta di hati ini. Melupakannya sangatlah sulit bagi saya. Meski saya sudah bertengkar hebat dengan diri saya. Untuk kembali melangkah melupakannya dan mencari cinta yang lain. Diri ini tak sanggup meski terlihat mudah tapi diri ini tak mampu. Sepertinya sudah cukup jelas, saya menjabarkan perasaan saya terhadap istri Anda pada Anda, Tuan Bayu Pratama. Saya pamit undur diri, ini sudah cukup malam, dan jam besuk pun sudah habis. Maaf saya harus pamit pergi." Ucap Neil yang kembali menarik lengan Amel dan pergi dari ruang rawat Nayla.


Hendra yang sudah tahu perasaan Neil hanya manggut-manggut salut dengan sikap berani teman SMP-nya itu. Sedang Nayla hanya tertegun memasang wajah bodohnya, tak menyangka perasaan Kakak sepupu sahabatnya begitu dalam padanya.


"Kamu kalau disuruh milih, kamu mau pilih siapa De, suami kamu apa Dokter Neil?" Tanya Hendra pada adiknya yang masih setia dengan lamunannya.


Bayu yang mendengar pertanyaan kakak iparnya hanya bisa memandang kesal wajah kakak iparnya yang sangat menyebalkan baginya sekarang. Ia kembali ke sofa panjang yang ada disudut ruang rawat Nayla. Ia mengambil laptopnya yang sudah rusak di lantai. Malam ini ia gagal mengerjakan pekerjaan kantor dan kampusnya karena termakan rasa cemburunya.


"De, woi... Mas nanya juga malah bengong." Hendra menyadarkan lamunan Nayla dengan melempar sebuah anggur ke wajahnya.


"Ihhh..ihh Mas, kalau kena kepala Nay gimana coba, kebiasaan suka nyiksa adiknya ihh..."


"Gak akan kena, udah jangan lebay. Sekarang jawab pertanyaan Mas, kamu pilih siapa?"


"Pilih apaan sih? Nay ga denger."

__ADS_1


"Yah... cakep-cakep budek,"


"Biarin dah budek juga yang penting cantik,"


"Yah cape deh, ngeladenin kamu pegelin hati ya? Pantes aja di cuekin sama suami berujung begini nih. Sikap nyebelin kamu ga ubah-ubah, De. Taubat sana De, sebelum jadi Janda," ucap Hendra yang membuat Neyla kesal. Ingin memukul Hendra tapi tak bisa akhirnya ia memukul ranjang tidurnya.


"Aaaa.....aaaaa...." teriak Nayla kesal sambil memukul-mukul ranjang tidurnya.


"Eh...De, jangan teriak-teriak! Kamu sama aja bangunin Kuntilanak, Gundoruwo, Suster ngesot, mister gepeng yang jadi penunggu di rumah sakit ini loh, ihhh takut, Mas ke Mbak Silvi dulu ya." Ucap Hendra menakut-nakuti Nayla yang berhasil membuat Nayla ketakutan.


"Mas ihh... jangan nakut-nakutin! Naik sini kelonin Nay! Nay gak mau tidur sendirian, Mas. takut ihhh..." pinta Nayla dengan wajah ketakutannya.


"Gak ah, gak muat ranjangnya kecil." Tolak Hendra yang kemudian meninggalkan Nayla. Ia kembali ke depan menemani istrinya yang tertidur di sofa depan.


Dengan gerakkan matanya, Hendra memberi kode pada Bayu, untuk mendekati Nayla. Hendra tahu, setelah kejadian ini pasti adiknya akan dalam mode ngambek besar dengan adik iparnya itu. Meski awalnya ia marah besar karena membuat adiknya bisa seperti ini, tapi setelah memberi pelajaran dengan memukulinya. Hendra masih memberi kesempatan untuk Bayu berubah. Memperbaiki rumah tangganya yang masih bisa diselamatkan. Karena Hendra paling tidak suka dengan sebuah perceraian.


"Mau ngapain kesini? Deket-deket lagi?" Tanya Nayla yang masih ketakutan tapi memasang wajah galak dan jutek pada Bayu.


"Nemenin kamu yang ketakutan, memangnya kamu gak mau di temenin?" Jawab Bayu yang kemudian bertanya pada istrinya itu.


"Gak. Gak mau." Jawab Nayla singkat. Ia sedang benar-benar menjaga gengsinya.


"Benaran nih gak mau?" Tanya Bayu meyakinkan Nayla.


Nayla menjawab dengan sedikit mengerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan wajah yang meringis kesakitan. Karena kepalanya terasa sakit jika ia gerakkan secara cepat ke kanan dan ke kiri. Melihat istrinya meringis, Bayu makin mendekat ke kepala Nayla.

__ADS_1


"Yang mana yang sakit sayang?" Tanya Bayu khawatir. Tangan Bayu ingin menyentuh kepala Nayla tapi Nayla segera menepisnya.


Nayla membalas apa yang dilakukan Bayu padanya kemarin. Sakit. Ya, Bayu sakit hati mendapat penolakan dari Nayla. Begitu pula saat Nayla mendapat penolakan dari Bayu.


"Mas.... Mas Hendra...." pekik Nayla memanggil Hendra yang sedang memainkan ponselnya di sofa depan.


"Hemmm... Apa?" Pekik Hendra yang menyahuti panggilan adiknya.


Ia beranjak dari duduknya, ia berjalan menghampiri adiknya.


"Pasti dia gagal mengambil hati adikku yang mengeras, sekeras Batu karang," gumam Hendra saat berjalan menghampiri Nayla.


"Mas cepetan ih, Kepala Nayla sakit Mas ihhh...." ucap Nayla yang melihat betapa lambannya Hendra berjalan menghampiri dirinya.


"Ya terus mau diapain kalau sakit? Mas bukan dokter, Nayla. Mau Mas jedotin lagi hum?" Tanya Hendra yang sudah mengantuk pada adiknya.


"Aku panggilin Dokter ya sayang?" Tawar Bayu yang diabaikan oleh Nayla. Lagi-lagi istrinya itu membalas dirinya.


"Gak usah di tanya, langsung aja panggil pinter." Sahut Hendra dengan wajah juteknya menatap Bayu.


Ingin rasanya Bayu melempar sendal yang ia kenakan ke wajah jutek Hendra yang sangat menyebalkan baginya saat ini, tapi semua keinginannya sekarang hanya menjadi angan-angan karena keadaan istrinya membuatnya seperti harimau yang kehilangan taringnya.


Sedangkan Hendra merasa senang bisa membully adik iparnya yang merupakan pengusaha nomor tiga di negara ini. Nomor satu dan duanya tak akan pernah bisa di tandingi karena mereka adalah dua keluarga besar yang sudah menyatu siapa lagi jika bukan Andre dan Leon. [Baca Cinta Jessika, kisah mereka ada disana]


"Beraninya dia mengatai ku bodoh secara tidak langsung, tunggu saja waktunya. Aku akan membalas mu Hendra. Kamu benar-benar kakak ipar yang menyebalkan," umpat Bayu di hatinya, yang terbaca oleh Hendra yang menduganya.

__ADS_1


"Jangan mengumpati ku! Adik ipar cepat panggilkan Dokter untuk adikku!" Perintah Hendra seperti sedang memerintah seorang pembantu dengan kasarnya.


Bayu merasa amarahnya sudah di ubun-ubun. Ia berbalik ingin mencaci kakak iparnya itu karena gaya bicaranya terhadap dirinya yang seakan menjatuhkan harga dirinya, tapi lagi-lagi ia urungkan karena melihat raut wajah istrinya yang terus meringis kesakitan.


__ADS_2