
Bayu segera menggendong istrinya dan membawanya ke mobil. Diikuti oleh Hendra dan Amel. Sementara Endah dan Jimmy masih berada di tempat yang sama, membantu Andrew menyapu bersih Villa milik keluarga Balson ini.
Sesampainya mereka di depan mobil, langkah Bayu sejenak terhenti, karena mereka kembali bertemu dengan orang tua-orang tua mereka yang kembali menyusul.
"Hah, kok balik lagi ke sini sih? Nayla sampai ketusuk gini, malah balik lagi. Ampun deh! Percuma di selamatkan kalau datang lagi untuk menyerahkan diri." Celoteh Amel yang mulai mengeluarkan sisi emak-emaknya.
Ya. Meskipun Amel belum memiliki seorang anak namun jiwa emaknya cukup kental, jika melihat Nayla, sahabat baik sekaligus adik iparnya terluka.
"Apa? Nayla ketusuk?" Tanya para orang tua mereka dengan wajah khawatir.
"Iya, sekarang kita mau ke rumah sakit. Ayo Daddy, Mommy, Ayah,Bunda, Om dan Tante, kita harus segera tinggalkan tempat ini, tempat ini sangat tidak aman." Jawab Amel yang segera mengajak para orang tua untuk kembali meninggalkan Villa keluarga Balson.
Bayu yang sudah berada di dalam mobil dan berada di kursi pengemudi, membantu terlebih dahulu istrinya menggunakan sabuk pengaman.
"Nanti kalau udah diobatin lukanya di rumah sakit Papi beliin Mami bakso ya, yang seger-seger nisdasem ya Pih, enak kayanya Pih." Pinta Nayla saat Bayu mengenakan sabuk pengaman untuk istrinya.
"Ya tenang saja. Sebelum Papi beliin bakso nisdasem. Papi akan kasih bakso punya Papi dulu, hahahaha." Sahut Bayu dengan jawaban mesumnya.
"Ishhh....mesum ih..."
"Tapi suka 'kan?"
"Hahaha iya."
"Cepat jalan Bay! Putriku itu terluka. Seharusnya kau ini cekatan jadi suami." Tiba-tiba suara Gunawan mengagetkan Bayu dan juga Nayla.
Keduanya kompak menoleh ke belakang dimana kedua orang tua mereka berada di kursi paling belakang. Baik Bayu dan Nayla sama-sama tidak menyadari kapan para orang tua mereka masuk ke dalam mobil, tahu-tahu sudah ada di dalam mobil saja.
"Kenapa lihat-lihat? Jalan Son! Luka istri mu itu harus segera di obati." Tanya Tuan Tama yang menatap singit wajah putranya yang cukup berantakan akibat dirinya dan Gunawan.
__ADS_1
"I-iya Dad,"
Nayla pun akhirnya di bawa ke rumah sakit terdekat. Setelah mendapatkan beberapa luka jahitan, Nayla akhirnya harus dirawat di rumah sakit tersebut.
Sebuah ruang rawat VVIP, menjadi tempat Nayla untuk beristirahat dan recovery kesehatan tubuhnya.
Namun belum satu jam ia berada di ruang VVIP tersebut, Jimmy dan Endah tiba-tiba datang beserta petugas medis lainnya. Mereka membawa brangkar dimana Nayla tengah berbaring keluar dari kamar VVIP yang ditempati oleh Nayla.
Rumah sakit umum bukanlah tempat yang aman untuk melakukan perawatan luka yang dialami oleh Nayla. Karena peperangan ini belum usai. Mereka masih memiliki musuh yaitu kelompok Charles Darwin.
Nayla dipindahkan ke rumah sakit Central Kusuma yang berada di kota J. Saat dipindahkan Nayla sama sekali tidak tahu menahu karena ia sedang tertidur.
Saat ia bangun, Nayla sangat terkejut karena merasa ruangan tempat perawatan berbed dengan yang sebelumnya.
"Papi kita dimana?" Tanya Nayla dengan mata yang mengerjap-ngerjap kepada suaminya, yang setia duduk di samping berangkatnya.
"Serius?"
"Hemm..." Sahut Bayu sembari memainkan ponselnya.
"Cih, mana ada di surga ada ponsel Pih! Dasar tukang bohong." Balas Nayla yang menatap Bayu dengan tatapan sinisnya.
Bayu tersenyum dan beranjak dari kursinya dan naik ke brankar istrinya.
"Papi harus puasa beberapa minggu ke depan, menunggu luka ini kering dan untuk itu demi keadilan dan kesejahteraan bersama. Mami juga harus puasa gak boleh makan bakso sementara waktu ya!" Bisik Bayu.
"Ihhh... Apa-apaan! Mana bisa begitu?? Pelanggaran! Mami lapar Pih. Cepat beliin!" Protes Nayla tak terima. Nayla mencebik bibirnya kesal dengan suaminya yang terkadang suka menyebalkan.
Sementara itu kini kedua orang tua Nayla Bayu dan Amel untuk sementara waktu diminta untuk tinggal di Mansion putra putri mereka demi keamanan mereka.
__ADS_1
Orang tua Nayla, memilih untuk tinggal di Mansion Bayu dan Nayla, mereka tinggal dan bergabung dengan kedua orang tua Bayu. Hal ini mereka putuskan karena merasa tidak terlalu dekat dengan kedua orang tua Amel yang terlihat menjaga jarak pada mereka.
Dan di sisi lain Tuan Adam dan Ferdy sudah berada di Mansion keluarga Charles Darwin di pinggiran kota J.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu Tuan Adam. Senang rasanya dapat melihatmu di sini." Ucap Tuan Charles yang langsung menerima kedatangan Tuan Adam dan juga Ferdy.
Tuan Charles adalah mantan anak buah Tuan Adam semasa Tuan Adam masih aktif menjadi anggota Mafia.
"Tidak usah banyak basa-basi Charles. Kau seharusnya sudah tahu jika Endah itu adalah keponakanku, salah satu anggota keluarga Adijaya. Kenapa kau mencoba untuk bermain-main dengan ku Charles?" Balas Tuan Adam dengan wajah geramnya yang sangat menyeramkan.
"Maaf tuan Adam, tapi keponakan tercinta mu itu sudah membuat kami merugi. Kami hanya ingin menuntut ganti rugi pada suaminya, dan untuk masalah lainnya, Aku tidak pernah berkeinginan untuk ikut campur." Sahut Tuan Charles masih terlihat santai.
"Sebutkan nominal yang kau inginkan Charles. Aku akan mengganti kerugian yang kau alami. Kali ini aku berbaik hati, tapi jika kau masih mengganggu anggota keluargaku. Aku pastikan tak akan ada lagi generasi keluarga Charles Darwin di muka bumi ini."
Tuan Charles tersenyum senang mendengar Tuan Adam akan mengganti kerugiannya. Saking senangnya hingga ia mengabaikan ancaman Tuan Adam yang tidak main-main.
Usai membayar ganti rugi yang dialami Tuan Charles sebanyak tiga kali lipat, Tuan Adam segera meninggalkan mansion Tuan Charles Darwin.
Meski sudah mendapatkan ganti rugi yang cukup banyak. Keserakahan Tuan Charles yang masih menginginkan club malam milik Nayla dan Amel pun membuatnya akan kembali berurusan dengan Tuan Adams.
Mungkin Tuan Charles pikir Nayla dan Amel tidak ada sangkut paut sama sekali dengan anggota keluarga Adijaya. Sehingga ia masih melancarkan aksinya untuk mendapatkan club malam tersebut, demi kelancaran bisnis barang haram yang ia geluti.
Sementara itu di kota D. Tuan Abraham Adijaya, merasa hidupnya penuh dengan warna di masa senjanya ini, semenjak kedatangan para cicit kembarnya dan juga kedua anak Nayla yang sudah ia anggap sebagai cicitnya pula.
Keramaian cicit-cicitnya dan tingkah mereka yang menggemaskan sungguh membuatnya begitu bahagia, begitu pula dengan Dewi sang istri.
Berbeda dengan Nico yang merasa pusing dengan tingkah empat cucu laki-lakinya yang sangat suka menganiaya dirinya, dengan memintanya berbaring dan menindih tubuhnya. Menjadikan tubuhnya kuda dan kasur untuk berjingkrak-jingkrak.
Berbeda dengan kedua cucu perempuannya yang nampak manis bermain dengan Sultan dan Bianca. Ya, Sultan benar-benar menjaga dengan baik adiknya Bianca. Tak pernah sedikitpun ia meninggalkan Bianca. Bahkan Sultan-lah yang membantu Suster Marni menyusui Bianca. Nayla sungguh berhasil mendidik Sultan untuk bersikap tanggung jawab.
__ADS_1