RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
MENCULIK ANAK DINDA


__ADS_3

"Dinda bersikeras tidak mau memberikan anaknya padaku, dia sampai mengancam akan melaporkan masalah ini ke polisi jika aku masih memaksa mengambil anaknya," ucap Rio kebingungan.


"Hadeh gitu aja kok bingung sih mas, kamu itu ayah biologisnya dan pernikahan kalian masih sah secara agama dan negara, kalau dia melaporkan ke polisi ya kamu putar balik keadaan dong.. Bilang aja selama kehamilan sampai melahirkan kamu tidak di beritahu dan mereka tidak mengizinkan kamu bertemu anaknya, lagian duit mu kan banyak mas kenapa bingung sih, bayar aja polisi sama pengacara biar kasus ini kamu yang menang," ucap Sisil geram.


"Iya juga ya Sil.. Sampai sekarang Dinda masih istriku, memang sih dia lahiran tidak memberitahu kami," ucap Rio.


"La terus kamu tau nya darimana mas?" tanya Sisil penasaran.


"Dari mata-mata yang aku sewa," jawab Rio.


"Nah itu bisa di jadikan alibi mas kalau sampai melahirkan pun mereka sengaja tidak memberitahumu, udah masalah Dinda jangan dibuat ribet," ucap Sisil dan Rio kini semakin yakin untuk merebut anaknya.


"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa mengambil anaknya Dinda?? Dia melahirkan kembar Sil, aku ingin anak yang cowok," tanya Rio.


"Apa?? Kembar?? mujur banget sih hidup dia, coba kalau mas Rio gak kenal Sisil mungkin sekarang kalian sedang berbahagia ya mas apalagi mamah mu, Sisil yakin pasti mamah mu sangat senang," ucap Sisil iri.


"Sstt.. Jangan berbicara seperti itu, aku tetap akan menikahi mu," ucap Rio mantap.


"Serius mas??" tanya Sisil memastikan.


"Iya.. Makanya bantu aku mengambil salah satu anaknya Dinda, setelah itu kita bisa segera menikah," ucap Rio dan Sisil berpikir keras cara untuk mengambil anak Rio.


"Hmm aku ada ide mas, kita bayar mahal salah satu suster yang jaga di rumah sakit untuk mengambil anaknya Dinda, setelah itu suruh dia resign dan pergi ke luar kota, bagaimana?" usul Sisil.


"Apa ada yang mau? Itu beresiko Sil," tanya Rio ragu.


"Jelas mau asalkan nominalnya menggiurkan mas, beri dia 1 miliar, ini tugas mudah loh.. Siapa yang bakal menolaknya, setidaknya nanti kasih DP dulu setengahnya," ucap Sisil memprovokasi.


"Itu nominal yang fantastis Sil.." ucap Rio terkejut.


"Kan habis mengambil anakmu mereka harus resign dan pergi jauh mas, memang di sana dia tidak butuh biaya, udah deh jangan bawel, minta solusi malah nawar," cibir Sisil kesal dan Rio hanya mengangguk patuh.


***


Setelah memikirkan cara dengan matang kini Rio datang ke rumah sakit dan memantau situasi. Ia tidak hanya membayar suster dengan mahal melainkan ia juga membayar pengawas CCTV rumah sakit supaya tidak ada bukti di kemudian hari.

__ADS_1


Rio masuk ke ruang kontrol.


"Maaf Pak selain karyawan dilarang masuk," ucap petugas yang bernama Deny dengan sopan.


"Saya sudah tau.. Kedatangan saya kesini ingin bernegosiasi dengan anda," ucap Rio dengan tenang.


"Maaf Pak silahkan keluar," usir Deny halus.


"Serius anda mengusir saya," ucap Rio tersenyum smirk dan mengeluarkan segepok uang.


"A.. Apa tujuan anda pak?" tanya Deny mulai terpengaruh.


"Sebentar lagi matikan CCTV di kamar VIP 03 dan kamar bayi," ucap Rio serius.


"Memang apa yang akan anda lakukan pak?" tanya Deny penasaran.


"Saya ingin mengambil anak kandungku, mamahnya tidak mengizinkan saya berjumpa dan malah mengusir saya, dia hamil pun saya tidak mengetahuinya sampai akhirnya hari ini dia melahirkan, selama ini dia kabur ke rumah orang tuanya," alibi Rio.


"Tapi ini beresiko Pak," ucap Deny ragu.


Lalu Deny mematikan CCTV di area kamar VIP 03 hingga ke kamar bayi.


"Bagus nanti setelah selesai saya kabari dan hidupkan CCTVnya," ucap Rio lalu bergegas keluar ruangan.


"Semoga ini jalanku untuk menata hidup lebih baik dan sebentar lagi gue bisa menikahi Nurul dengan modal yang sangat fantastis ini gue yakin orang tua Nurul tidak akan menolak gue lagi, sebentar lagi gue akan jadi orang sukses," gumam Deny dengan perasaan mantap.


Lalu Rio menemui suster yang sudah bernegosiasi dengannya.


"Sus lakukan ini secara natural," ucap Rio serius.


"Ini terlalu resiko Pak saya takut," ucap suster Mei bimbang.


"Imbalan anda 1 miliar dan sekarang saya sudah kasih DP setengahnya, itu jumlah yang fantastis sus, kalau pun anda ingin mengumpulkan entah sampai kapan? Gaji suster itu berapa? Ini tugasmu hanya mengambil anakku yang cowok setelah itu resign dan pergilah ke luar kota dengan modal 1 miliar," provokasi Rio dan akhirnya suster Mei setuju.


"Baik Pak asalkan anda bisa jamin jika esok hari saya tidak terlibat," pinta Mei dan Rio mengangguk.

__ADS_1


Suster Mei mendatangi kamar VIP 03, kamar dimana Dinda dirawat, kebetulan Dinda sedang menyusui anak-anaknya.


"Selamat siang bu.. Waktunya adik kecil bobo ya dan bundanya makan siang," sapa suster Mei ramah.


"Siang Sus.. Sebentar Sus yang anak ku satunya belum asi, tadi diambil alih kakaknya terus," ucap Dinda menyudahi memberi asi anak laki-laki nya.


"Kakaknya yang cowok ya bu? Memang kalau anak cowok asi nya kuat bu, kalau begitu kakaknya saya bawa ke ruangan dulu ya nanti kalau yang adiknya sudah juga di kasihkan ke ruangan," ucap suster Mei bersikap tenang lalu mengambil anak laki-laki Dinda.


Karena tidak mau terlihat menculik anak, suster Mei meletakkan dulu anaknya Dinda ke ruangan sampai nanti Dinda sendiri yang melihat jika kedua anaknya tertidur pulas.


" Lebih baik gue baringkan dulu deh ntar kan ibunya kesini taruh yang satu, jadi biar gak terkesan kalau ini salah gue," gumam suster Mei lalu meletakkan bayi Dinda dengan hati-hati.


"Sus... Yang satu gak mau asi mungkin lagi kenyang, langsung tidurkan saja," ucap Dinda menyerahkan bayi yang satunya.


"Baik bu.. Wahh adiknya cantik sekali, gemes," ucap Mei basa-basi lalu meletakkan bayi Dinda dengan hati-hati.


Setelah memastikan anaknya tidur dengan pulas kini Dinda kembali ke ruangan, sebelumnya suster Mei pura-pura ke luar ruangan agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Dirasa sudah aman, kini suster Mei kembali ke ruangan dan mengambil salah satu bayi kembar yang laki-laki dengan hati-hati dan membawanya ke belakang rumah sakit, tempat yang sudah di sepakati keduanya.


"Pak ini anak anda, saya harap setelah ini tidak berbuntut panjang," ucap Mei harap-harap cemas.


"Tenang saja Sus.. Ketik nomor rekening anda disini dan saya akan transfer sisanya," ucap Rio menyerahkan hpnya dan suster Mei mengetik nomor rekeningnya dengan gemetar.


"Sudah pak," ucap suster Mei gugup.


"Oh ok, ini sisanya ya Sus silahkan di cek," ucap Rio mengirim sisa imbalan dan sedetik kemudian ada notifikasi transferan masuk.


"Iya Pak sudah masuk, kalau begitu saya permisi dulu takutnya nanti ada yang curiga," ucap suster Mei pergi dengan tergesa-gesa.


Lalu Rio masuk ke dalam mobil dan menghubungi Deny supaya menghidupkan CCTV, tak lupa ia transfer sisa imbalan.


"Demi kamu nak papah sampai harus merogoh kocek 1,5 miliar.. Demi papah bisa mendapat keturunan dan menikahi tante Sisil, semoga nanti ketika sama Papah dan tante Sisil kamu jadi anak yang penurut ya boy," gumam Rio mencium bayinya dengan penuh kasih sayang.


Lalu tiba-tiba anak Dinda yang perempuan sangat rewel dan kebetulan tidak ada suster yang jaga karena ini jam istirahat. Dinda yang merasa perasaannya tidak enak bergegas masuk ke ruangan bayi, ia terkejut anaknya yang satu hilang.

__ADS_1


"ANAKKU? DIMANA ANAKKU?? SUS... SUSTER.. SUSSSSS," teriak Dinda menangis histeris.


__ADS_2