
Melihat bosnya hanya diam saja tanpa ada pergerakan sedikitpun membuat Fio menjadi geram, lantas Fio segera menegur bosnya itu.
"Kenapa diam saja bu? Itu pak Ryan pergi dengan kondisi mengamuk loh, kenapa ibu malah tetap diam ditempat?" tegur Fio heran.
"Lantas apa yang harus saya lakukan Fio?" tanya Dinda dengan raut wajah kebingungan.
"Kok masih tanya bu? Ya kejar dong bu, pak Ryan itu suami ibu loh, apa ibu malah membela mas Aldo?" tanya Fio tak habis pikir.
"Ahh.. Saya bingung sekali harus bagaimana Fio, baiklah saya kejar mas Ryan dulu, makasih sudah menegur saya," jawab Dinda lalu berlari mengejar suaminya yang hampir masuk ke mobil.
"Mas... Tunggu," teriak Dinda namun Ryan tak mengubrisnya.
Merasa suaminya sedang sangat marah membuat Dinda tak kehabisan akal, ketika mobil suaminya melaju, dengan cepat Dinda menghadang laju mobil suaminya itu, benar saja aksi yang dilakukan Dinda berhasil membuat Ryan berhenti.
Cekit... Suara decitan mobil mahal Ryan.
"APA MAUMU?" teriak Ryan setelah membuka kaca mobil.
"Turun mas, kita selesaikan urusan ini," pinta Dinda.
"Urusan apa? Suamimu ini hanya bisa membuat malu, sudah minggir sana! Beri saya jalan!" pekik Ryan namun Dinda tak mengubrisnya, ia tetap menghadang mobil Ryan.
"Mas.. Tolong jangan begini," pinta Dinda.
"Kamu yang membuat semua jadi begini, minggir!" pekik Ryan sambil mengklakson mobilnya.
Melihat Dinda diabaikan seperti itu membuat Aldo tak terima, lantas Aldo menghampiri Dinda dan menarik paksa tangannya untuk menjauh dari mobil suaminya. Aksi sok pahlawan yang dilakukan Aldo membuat hati Ryan memanas, melihat situasi kafe Aldo yang ramai bahkan pertengkaran mereka menjadi konsumsi publik membuat Ryan semakin membenci keadaan ini, Ryan akhirnya memilih menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Masss.." teriak Dinda.
"Sudah Din, biarkan suamimu pergi, mungkin dia butuh menangkan diri," jawab Aldo membawa Dinda masuk ke kafe.
__ADS_1
"Tau apa kamu tentang suamiku? Tau apa kamu tentang hidupku, Aldo? Tau apa??? Semua maslah ini penyebabnya ialah kamu!" pekik Dinda.
"Jangan semua salahkan padaku, hatiku juga rasanya sakit ketika tau kamu sudah memiliki pendamping bahkan ada anak diantara kalian!!! Kamu juga mikir perasaanku gak? Belum juga luka itu pergi kini kamu malah datang kesini bersama suamimu!!" pekik Aldo.
"Mas Ryan yang meminta bertemu denganmu," jawab Dinda tak mau kalah.
"Tapi dia sendiri yang kebakaran jenggot kan? Apa kamu gak mikir bagaimana nanti ketika kami bertemu, dua pria yang mencintai wanita yang sama," tanya Aldo membuat Dinda bungkam.
"Aku sudah melarangnya datang kesini tapi mas Ryan terus memaksa," jawab Dinda lirih.
"Apapun itu.. Tak ada kesalahan disini yang aku buat," jawab Aldo berlalu pergi meninggalkan Dinda yang sedang tidak baik-baik saja.
Merasa bosnya butuh teman berbagi, Fio pun memutuskan menghampiri Dinda dengan langkah ragu-ragu.
"Bu.." panggil Fio yang melihat Dinda tengah menunduk.
"Eh Fio, maaf sudah membuatmu terlibat dalam masalah ini, harusnya masalah ini hanya ada saya, mas Ryan juga Aldo, maaf membawamu ke dalam masalah pribadi kami," ucap Dinda mengusap air matanya.
Berjalan gontai dijalan membuat Fio semakin khawatir dengan Dinda apalagi wajahnya terlihat pucat dan lelah. Berulang kali Fio memastikan apakah bosnya baik-baik saja namun berulang kali juga Dinda mengatakan jika dia tak apa. Tiba di kantor, Dinda bergegas masuk ke ruangannya tanpa menjawab sapaan dari semua karyawannya.
Tatapan para karyawan pada Dinda menggambarkan sebuah tanda tanya, apa ada masalah yang terjadi?
"Jangan terus memandang bu Dinda seperti itu, saat ini beliau sedang ada masalah pribadi jadi lanjutkan pekerjaan kalian," ucap Fio memberitahu dan semuanya patuh akan perintahnya.
Didalam ruangan tak hentinya Dinda menangis dan meratapi nasib yang tak berpihak padanya, nasib yang selalu buruk dari awal dia memutuskan menikah dengan Rio dan juga ketika sudah bersama Ryan, selalu ada saja kejadian yang membuatnya sedih.
Baru sebentar Dinda merasakan kebahagiaan, kini sudah mulai lagi masalah yang menimpa.
"Apakah hamba ini tak pantas bahagia Tuhan? Mengapa baru saja merasakan kebahagiaan sebentar sudah ada masalah yang datang," gumam Dinda berurai air mata.
Dinda terlalu larut dalam kesedihan sampai tidak menyadari bahwa sudah waktunya jam pulang kerja, banyak karyawan yang sudah pulang, kini tinggal dirinya dan Fio.
__ADS_1
"Bu.. Ayo pulang," ajak Fio.
"Jam berapa ini?" tanya Dinda lalu melihat jam di pergelangan tangannya. "Astaga sudah jam segini,"
"Iya bu sudah mau magrib makanya saya ajak ibu pulang, mari bu," ajak Fio lalu mereka segera pulang ke rumah.
Tiba di rumah, Dinda tak menemukan suaminya, sudah ia cari ke seluruh ruangan namun tak ada tanda-tanda kehadiran Ryan, pikiran Dinda langsung berkelana jauh, kemana suaminya pergi? Berulang kali Dinda menelpon tak juga dijawab bahkan sekarang suaminya sengaja mematikan ponselnya.
Dinda sadar jika semua ini kesalahan Dinda, namun apa harus suaminya sampai seperti ini? Pergi dari rumah tanpa Dinda tau kemana perginya.
Hingga pukul 10 malam Ryan belum juga pulang apalagi ponselnya masih tidak aktif, rasa khawatir menyelimuti Dinda. Tak biasanya Ryan pergi hingga hampir larut malam tanpa mengabarinya, berulang kali Dinda berusaha menenangkan diri dan terus berpikir positif namun nyatanya tak bisa, hatinya terlanjur gelisah. Tanpa sadar, Dinda ketiduran di sofa ruang tamu sampai pukul 2 pagi, ketika bangun, Dinda sudah berada dikamar dengan berselimut tebal, langsung saja Dinda kaget dan berpikir siapa yang sudah memindahkannya?? Dinda menengok ke sebelah ranjang namun tak ada suaminya disana, lalu Dinda berjalan ke arah ruang tengah, barulah disana ada suaminya yang sedang tidur lelap dan mendengkur halus.
"Mas.. Mas Ryan," panggil Dinda menggoncang tubuh suaminya dengan pelan.
"Hmm.. Ada apa?" tanya Ryan setengah mengantuk.
"Pindah ke kamar mas, disini dingin," ajak Dinda.
"Kamu aja yang dikamar," jawab Ryan ketus.
"Mas.." panggil Dinda.
"Ada apa lagi sih? Aku ini ngantuk, kalau kamu mau tidur ya sana tidur sendiri dikamar! Jangan bawel napa sih! Ajak Aldo sana," pekik Ryan kesal lalu pergi meninggalkan Dinda yang masih kaget akan perkataan suaminya.
Dinda terus mengikuti suaminya, akhirnya dengan terpaksa Ryan masuk ke kamar, barulah di sana Dinda menyelesaikan masalah. "Mas.. Jangan begini terus," rengek Dinda.
"Kamu maunya apa?" tanya Ryan geram.
"Kita baikan mas, apa mas Ryan betah musuhin aku kayak gini terus, semua kan sudah jelas mas, aku gak ada main dengan Aldo," pinta Dinda.
"Andai kata baikan dan kembali seperti dulu itu semudah membalikkan telapak tangan, sudah pasti dari siang ketika kamu mengatakan jangan membuat malu, sudah aku maafkan!" gertak Ryan.
__ADS_1