
"Sudah masuk.. Sekarang hubungi dia dan katakan jika semuanya sudah selesai," perintah Suganda dan Rio menghubungi Boy.
"Halo.." ucap Rio mengawali obrolan.
"Ya Halo, bagaimana?" tanya Boy.
"Hari ini saya sudah transfer sisa hutangnya, silahkan di cek dulu," ucap Rio to the poin.
"Benarkah? Wait.." tanya Boy memastikan lalu mengecek m-banking nya dan benar saja Rio sudah melunasi sisa hutangnya. Senyum merekah terpampang di wajah Boy.
"Gimana Boy?" tanya Rio memastikan.
"Ya benar sudah masuk.. Akhirnya anda sadar juga untuk melunasi nya padahal dalam waktu seminggu ini jika anda tak kunjung melunasi maka saya akan mengakusisi perusahaan secara penuh," ucap Boy sembari tertawa.
"Dan untungnya sebelum hari itu saya sudah melunasi nya.. Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan saya dan Terima kasih sudah pernah membantu saya dalam memajukan perusahaan, senang pernah berbisnis dengan anda," ucap Rio dengan sopan.
"Oh ya tentu saja.. Terima kasih juga mengembalikan semua modal dengan waktu yang singkat," ucap Boy senang.
"Sama-sama.. Kalau begitu saya tutup telponnya, see you next time," pamit Rio lalu mematikan panggilan.
Suganda yang mendengar obrolan anaknya merasa lega karena satu persatu masalah yang dihadapi Rio selesai dengan baik ya meskipun Suganda memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit.. Setidaknya masih ada uang dan juga saham di beberapa perusahaan yang bekerja sama dengannya tanpa sepengetahuan sang putra.
"500 miliar tidak ada artinya jika melihat sang putra sedih, lebih baik aku relakan kehilangan uang sebesar itu demi keberlangsungan hidup dan juga perusahaan Rio, mau bagaimanapun sekarang perusahaan sudah menjadi hak mutlak Rio tinggal bagaimana setelah ini aku membimbingnya agar lebih jeli lagi dalam memimpin perusahaan, aku yakin ditangan Rio perusahaan yang sudah aku rintis dari 0 akan menjadi perusahaan yang lebih besar.. Rio memiliki kompeten di bidang ini namun terhalang oleh masalah pribadi juga emosi yang belum cukup matang," batin Suganda merasa lega melihat senyum di bibir anaknya.
Boy yang merasa sudah tidak ada urusan lagi dengan Rio bergegas menyuruh anak buahnya untuk pulang ke Singapura. Namun sayangnya salah satu anak buahnya membuat ulah, ia telah membakar bagian belakang gedung Rio Suganda tanpa sepengetahuan Boy.
"KENAPA KALIAN SEKARANG INI BERTINDAK TANPA PERINTAH DARI GUE DULU!!! SIAPA BOS KALIAN SEBENARNYA HA!!! MANA ADA GUE MEMINTA KALIAN UNTUK MEMBAKAR PERUSAHAAN RIO SUGANDA, CEPAT PULANG SEMUANYA ATAU KALIAN AKAN MASUK PENJARA," pekik Boy murka dan semua anak buahnya bergegas pulang ke Singapura.
Rio yang baru saja bernafas lega kini harus kembali mengalami syok karena perusahaannya mengalami kebakaran.
"Astaga.. Kenapa bisa terjadi sih? Kalian ngapain saja kerjanya, ha?" tanya Rio via telepon dengan nada memaki.
Suganda yang mendengar keributan kecil itu segera kembali menghampiri sang putra.
__ADS_1
"Ada apa lagi sih?" tanya Suganda penasaran.
"Kantor pah.. Kantor.." jawab Rio panik.
"Iya kenapa dengan kantor?" tanya Suganda bingung.
"Tadi Rio mendapat kabar kalau kantor kebakaran pah," jawab Rio panik.
"Apa? Kok bisa?" tanya Suganda kaget lalu memegang jantungnya.
"Pah.. Pah.. Papah gak papa?" tanya Rio semakin panik melihat papahnya tergeletak di lantai.
"MAH.. MAMAH.. BI.. PAK.. SEMUANYA YANG ADA DI RUMAH BANTU SAYA" teriak Rio membuat seisi rumah kaget.
"Astaga papah? Ada apa ini Rio?" tanya Mayang panik.
"Tuan besar.." ucap bibi juga panik.
"Udah jangan tanya dulu bantu aku bawa papah ke rumah sakit, pak cepat siapin mobil," perintah Rio pada sang supir dan Suganda di bopong oleh Rio, Mayang dan bibi.
"Mah.. Rio harus ke kantor sekarang," pamit Rio tergesa-gesa.
"Kamu yang benar saja papah kamu masuk rumah sakit masih sempat-sempatnya mikirin kantor," sindir Mayang kecewa.
"Di kantor juga sedang urgent mah, kantor kebakaran dan itu yang membuat papah seperti ini, jadi Rio mohon jaga papah dengan baik, jika ada kabar segera beritahu Rio ya mah.. Rio juga harus handel kantor," pinta Rio dan Mayang terkejut mendengarnya.
"APA? KANTOR KEBAKARAN?" pekik Mayang.
"Mah.. Tolong kontrol emosinya jangan sampai mamah seperti papah, bisa tambah pusing nanti.. Rio pamit dulu," pamit Rio bergegas pergi dan melajukan mobil dengan cepat.
"Cobaan apalagi ini Ya Tuhan?? Kenapa semuanya datang secara bertubi-tubi begini.. Bagaimana aku nantinya bisa kuat menghadapinya?" batin Mayang berderai air mata.
Setibanya di kantor, Rio langsung bergegas memastikan setiap ruangan dan ia merasa heran kenapa di bagian depan aman-aman saja.
__ADS_1
"Katanya kebakaran tapi kenapa dari depan gak ada tanda-tanda kebakaran?" tanya Rio pada sekretarisnya.
"Memang pak.. Kebetulan yang terkena di bagian belakang sampai tengah, beruntung ada sekuriti yang mengetahuinya jadi bisa ditindak lanjuti dengan cepat," ucap sekretaris.
"Syukurlah.. Apakah bagaian belakang parah?" tanya Rio memastikan.
"Bisa dibilang cukup parah pak dan butuh perbaikan," ucap sekretaris.
"Baiklah kamu urus semuanya dengan cepat ya, jangan sampai para karyawan menganggur terlalu lama," perintah Rio.
"Baik Pak.." jawab sekretaris sigap.
"Oh iya apakah sudah tau penyebab kebakarannya?" tanya Rio penasaran.
"Belum pak dan sekarang sedang ada kepolisian di bagaian belakang untuk mengidentifikasi semua ini," ucap sekretaris lalu Rio berjalan ke belakang gedung.
Rio merasa sedih karena di bagian belakang gedung tidak ada yang tersisa sama sekali, semuanya hangus dilalap si jago merah namun di satu sisi Rio masih bersyukur karena bagian depan kantor aman. Mungkin ini musibah yang harus Rio terima dengan lapang dada.
Setelah berbincang sebentar dengan pak polisi, ada chat yang masuk dari Boy yang membuat Rio murka.
"Hai Rio Suganda.. Maafkan atas keteledoran anak buah saya, bukan bermaksud mempermainkan anda namun sungguh ini diluar kendal saya, tiba-tiba saja anak buah saya membakar bagian belakang gedung kantormu tanpa sepengetahuan maupun seizin dariku, sungguh saya meminta maaf dan sebagai bentuk rasa bersalah dari saya, uang yang tadi anda transfer akan saya kembalikan sebagai bentuk ganti rugi, semoga uang itu cukup untuk mengganti kerugian yang diakibatkan oleh anak buah saya.. Sekali lagi saya meminta maaf, ini diluar kendali saya entah siapa yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini, setelah mereka semua tiba di sini akan saya pastikan saya akan menyuruh mereka berbicara jujur, sekali lagi maaf," isi chat Boy yang di susul transferan masuk sebesar 500 miliar.
"SIALAN TERNYATA INI SEMUA ULAHNYA BOY? MEMANG BENAR KATA PAPAH JIKA BERURUSAN DENGAN MAFIA TIDAK AKAN SELESAI DENGAN BAIK, MARI KITA LIHAT BOY APA YANG AKAN GUE LAKUIN.. GUE PASTIIN LO DAN ANAK BUAH LO AKAN MASUK PENJARA, MAU LO GANTI RUGI SAMPAI 1000 MILIAR PUN TETAP AKAN GUE KASUS KAN INI!!! JANGAN HARAP DENGAN KATA MAAF SEMUA AKAN SELESAI," umpat Rio lalu mengacak-acak rambutnya.
Tiba-tiba hp Rio berdering,
"Halo mah gimana keadaan papah?" tanya Rio cemas.
"Papah.. Papah kamu kritis, hiks.. hiks.." ucap Mayang terisak.
"APA?" tanya Rio kaget bercampur emosi.
"Mamah juga sedih mendengar ini hiks.. hiks.." ucap Mayang menangis terisak.
__ADS_1
"Mamah tenang dulu habis ini Rio ke sana, tenang mah," pinta Rio lalu mematikan panggilan dan bergegas ke rumah sakit.
"Kepala gue rasanya mau meledak memikirkan semua ini sendiri," batin Rio berusaha tetap tenang meskipun hati dan pikirannya kacau.