
Semakin hari kondisi papahnya semakin menurun dan begitu pun dengan mamahnya yang ikut dirawat di rumah sakit karena sama sekali tidak mau makan dan minum hingga dehidrasi dan lemas. Rio dibuat pusing dengan semua ini hingga akhirnya Rio menjemput Sisil agar mau bergantian menjaga orang tuanya.
"Mau gak mau sekarang gue harus ke rumahnya Sisil, gue gak sanggup menangani semua ini sendirian, semoga Sisil mengerti," batin Rio langsung melajukan mobilnya.
Ting tong... Suara bel rumah Sisil.
"Rio? Ada apa kemari?" tanya Ira sinis.
"Selamat siang mah, Rio cari Sisil katanya dia di sini," sapa Rio mengulurkan tangan namun ditepis.
"Untuk apa mencari Sisil?" tanya Ira sinis.
"Rio mau mengajaknya pulang mah," jawab Rio.
"Cih.. Ngajak pulang kok baru sekarang, dari kemarin tuh kemana aja? Kasih nafkah pun juga enggak, suami macam apa kamu," pekik Ira kesal.
"Maafkan Rio mah memang semua ini salah Rio yang kurang tegas sebagai suami, Sisil ada kan mah?" tanya Rio sekali lagi.
"Gak ada.." jawab Ira ketus.
"Sisil pergi kemana mah?" tanya Rio penasaran.
"Kamu kan suaminya seharusnya lebih tau daripada saya dong gimana sih," sindir Ira.
"Rio tidak dapat kabar apapun dari Sisil mah," jawab Rio sedih.
"Gak dapat kabar atau tidak memulai komunikasi? Sisil sudah lama menanti untuk dijemput bahkan ditanya keberadaannya namun nyatanya apa? Baru hari ini kamu mencarinya.. Buat apa? Sisil sudah tidak membutuhkanmu lagi," ucap Ira membuat Rio terkejut.
"Sisil masih istri Rio mah," ucap Rio.
"Kalau masih istri itu dicari jangan diabaikan," sindir Ira.
"Ya mah maaf, Sisil ada dimana mah?" tanya Rio sekali lagi.
"Kerja untuk menyambung hidup, kamu pikir pakai apa Sisil bisa bertahan sampai sekarang? ATM juga kamu ambil kan.. Suami gak berguna," ejek Ira.
__ADS_1
"Kerja? Kerja dimana mah?" tanya Rio kaget.
"Tanya sendiri sama orangnya.. Kamu suami harusnya sudah tau bukan malah baru tau," sindir Ira lagi dan Rio memilih pamit.
Dijalan Rio berulang kali menelpon Sisil namun tak juga diangkat, rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya ketika mengetahui istrinya sampai bekerja demi keberlangsungan hidup, pantas saja selama ini Sisil sudah tak pernah lagi merengek apapun padanya.
"Kenapa situasinya jadi kacau gini sih? Sisil kerja juga buat apa sih, memang iya gue ini gak kasih nafkah tapi kan dia bisa minta.. Ini sudah kewajiban dia, gimana kalau nanti ada kolega yang tau, ah pusing.." gumam Rio memukul stir mobil lalu seketika ada chat masuk dari Sisil.
"Kenapa mas telepon sampai banyak sekali?" isi chat Sisil.
"Bisa kita bertemu?" jawab Rio.
"Maaf untuk jam-jam sekarang gak bisa," tolak Sisil yang membuat Rio kecewa.
"Kenapa? Kamu gak ada di rumah?" tanya Rio pura-pura gak tau.
"Iya.. Kalau gak ada hal yang penting sudah dulu ya mas aku masih ada urusan," jawab Sisil yang membuat dada Rio semakin sesak. Bisa dibayangkan bagaimana kerasnya Sisil bertahan hidup tanpa finansial darinya hingga berkomunikasi pun hanya sekejap saja.
"Aha gue lacak aja dimana lokasi Sisil sekarang jadi nanti waktunya pulang kerja bisa gue jemput," batin Rio lalu mendownload aplikasi dan meretas lokasi Sisil.
***
Jam pulang kerja telah tiba kini Rio menanti kemunculan istrinya dan menjemputnya.
"Akhirnya dia muncul juga.. Kasihan sekali istriku harus terpaksa bekerja, Sisil maafkan aku," batin Rio iba dan menghampiri Sisil.
"Mas.. Mas Rio? Darimana tau aku disini?" tanya Sisil kaget.
"Tidak penting tau darimana yang terpenting sekarang aku mau mengajakmu pulang," ajak Rio lalu menggandeng tangan Sisil.
"Mas pelan-pelan dong," protes Sisil kewalahan mengikuti langkah kaki suaminya dan mereka sudah berada di dalam mobil.
"Mas bisa agak apa-apa tuh jangan memaksa," protes Sisil kesal.
"Maaf.. Aku gak tau lagi harus melakukan apa untuk memperbaiki semuanya," ucap Rio lirih.
__ADS_1
"Apanya yang perlu diperbaiki mas? Semua sudah hancur dan penyebabnya kamu sendiri," sindir Sisil.
"Kita bisa memulainya lagi dari awal apakah kamu mau?" tanya Rio.
"Buat apa mas? Kamu kan sudah tidak lagi mencintaiku bahkan tidak lagi menganggap istri" tanya Sisil.
"Aku minta maaf.. Aku gak mau terulang kesalahan yang sama, aku sudah pernah kehilangan Dinda dan sekarang aku gak mau kehilangan mu," ucap Rio sendu.
"Cih.. Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya mas? Apa karena Dinda sudah tak sudi lagi denganmu?" sindir Sisil.
"Tolong jangan memperkeruh suasana, jujur saja saat ini aku sangat membutuhkan seseorang untuk mengisi hariku yang sedang kalang kabut," pinta Rio memohon.
"Kalang kabut gimana sih?" tanya Sisil tak, mengerti.
"Ya kalang kabut.. Hutang perusahaan sudah ditutup semuanya sama papah malah ada musibah baru jika kantor kebakaran, tak cuma itu saja.. Akibat berita itu kesehatan papah terganggu dan kini kritis di rumah sakit belum lagi mamah juga ikutan dirawat, pusing aku Sil.. Niat hati ingin memperbaiki semuanya malah jadi begini, makanya ini yang membuatku sedikit mengabaikan mu," ucap Rio sangat sedih dan Sisil kaget mendengarnya.
"Apa mas? Kebakaran? Kok bisa? Terus keadaan papah sekarang gimana? Mamah juga?" tanya Sisil khawatir.
"Kebakaran terjadi karena ada yang sengaja melakukannya dan dia adalah Boy.. Padahal hutang perusahaan padanya sudah lunas malah ini balasan yang aku dapatkan, benar kata papah kalau berurusan dengan mafia tidak akan selesai dengan baik-baik, sekarang aku sungguh menyesal telah membuat semuanya berantakan seperti ini maka dari itu aku mohon padamu, maukah kamu kembali padaku? Kita mulai semuanya dari awal lagi," ucap Rio sudah diambang keputusasaan.
"Aku masih belum tau mas, rasanya sakit hati masih membekas dan basah," ucap Sisil bimbang.
"Tolonglah jangan membuatku menyesal untuk yang kedua kalinya," pinta Rio.
"Kamu yang membuatku mengerti mas bahwa di hati dan pikiranmu sudah tak ada lagi namaku, jadi mau kita bersama pun sepertinya susah," tolak Sisil membuat Rio kecewa.
"Tidak.. Aku akan menghapus nama Dinda namun tidak dengan anak-anak, lagian ini juga salah satu permintaan papah.. Dia ingin kita kembali bersama dan semuanya kembali seperti sedia kala, papah mau semuanya dimulai dari awal," ucap Rio membuat Sisil terenyuh. Sisil tau papah mertua sangat peduli padanya meskipun diantara keduanya jarang sekali berkomunikasi namun perhatian dan kasih sayang papah mertuanya selalu membuat Sisil bahagia.. Itulah yang membuat Sisil selalu bertahan dengan Rio, mau suaminya berbuat menyakitkan seperti apapun yang dipikirkan Sisil adalah papah mertuanya.
"Papah? Serius papah bilang begitu?" tanya Sisil memastikan.
"Kalau tidak percaya ayo kita ke rumah sakit dan jika papah nantinya siuman kamu boleh menanyakan ini," tantang Rio dan Sisil mengangguk setuju. Mendengar kedua mertuanya berada di rumah sakit membuat Sisil sangat sedih dan rasanya ingin sekali segera menemui.
"Baik mas aku akan ikut pulang denganmu," ucap Sisil yang membuat Rio senang.
"Ini demi kedua orang tuamu mas, demi kesembuhan mereka.. Jika nantinya kamu masih bersikap sama jangan harap aku akan membuka kesempatan lagi, sudah cukup selama ini aku bertahan dibalik bayang-bayang mantan istrimu itu," batin Sisil.
__ADS_1