
Sisil kembali melanjutkan tugas yang belum selesai hingga kepalanya terasa mau pecah, bukannya semakin sedikit malah rekannya selalu menambah pekerjaan untuk Sisil. Awalnya Sisil diam saja namun lama-lama ia muak dan menghampiri meja rekannya.
"Hei.. Maksudnya apa ya semua tugasmu dilimpahkan ke gue," ucap Sisil menggebrak meja rekannya yang bernama Maya.
"Itu memang tugasmu dan seharusnya segera diselesaikan bukan malah datang kemari marah-marah," ucap Maya penuh penekanan.
"Mana ada baru sehari bekerja disini udah dikasih tugas segini banyaknya, ngerjain boleh tapi pakai takaran dong.. Emang gue gak capek apa," sindir Sisil.
"Anak baru gak usah belagu, tinggal kerjakan dan selesaikan sebelum jam pulang kerja.. Jangan sok jadi preman disini," cibir Maya.
"Emang gue anak baru tapi gue gak suka jika dijadikan babu mu.. Nih kerjakan tugasmu sendiri, kalau lo gak kuat silahkan bilang ke HRD dan ajukan resign," tantang Sisil melempar beberapa map yang barusan diberikan oleh Maya.
"HEI.. BERANI SEKALI YA.. MASIH ANAK BARU UDAH SOK JAGOAN GIMANA KALAU NANTINYA JADI ATASAN?" pekik Maya tak terima dihina di depan banyak karyawan.
"Masih mending gue ya ketimbang lo.. Setidaknya gue kan mengerjakan apa yang memang seharusnya menjadi pekerjaan gue, bukan kayak lo yang gak bisa di pekerjaan ini tapi memaksa.. Awas otakmu nanti konslet," sindir Sisil dan Maya semakin geram.
"BERANI SAMA GUE? AWAS SAJA BAKAL GUE ADUIN KE ATASAN," ancam Maya geram.
"Silahkan nyonya Maya yang bermuka dua, gue mau lihat bagaimana nanti kata-katamu ketika mengadu ke atasan.." gertak Sisil.
"Awas lo ya liat aja nanti, gue pastiin lo bakal di pecat," ancam Maya geram dan emosi.
"Lihat saja nanti lo atau gue.. Atasan tidak mungkin asal percaya jika tidak ada bukti, kalau mau cari musuh lihat dulu siapa musuh mu, gue memang anak baru tapi gue gak suka dijadikan babu," ucap Sisil dengan angkuh lalu kembali ke meja kerjanya.
"Sialan anak baru sok kecantikan, lihat saja apa yang bakal gue buat," batin Maya tersenyum licik dan karyawan lainnya yang sedari tadi menonton langsung bubar dan kembali bekerja.
Maya langsung menyambangi ruangan manager untuk mengadukan Sisil, tanpa ia ketahui antara Ronald dan Sisil sudah saling kenal bahkan sejak dari kuliah.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk.." jawab Ronald dari dalam.
"Permisi pak Ronald, selamat siang," sapa Maya ramah dengan senyum sok cantiknya.
"Ya selamat siang juga, silahkan duduk," ucap Ronald lalu Maya duduk dengan tegap.
"Maaf Pak menganggu waktunya, saya ingin mengadukan ulah karyawan baru yang beraninya menentang karyawan lama.." ucap Maya memasang wajah sedih.
"Maksudnya gimana ya?" tanya Ronald tak paham.
__ADS_1
"Jadi begini pak.. Hari ini kan ada karyawan baru di bagian staf kantor, saya memberikan arahan padanya selalu saja diabaikan bahkan ketika saya memberi dia pekerjaan malah dia menolaknya kalau gini kan sama saja dia menganggu jam kerja saya dan saya harus dua kali lipat bekerjanya pak," ucap Maya mengadu.
"Kamu memberikan pekerjaan sesuai job desk dia atau tidak?" tanya Ronald memastikan.
"Ya sesuai pak bahkan itu tugas dasar kok, dianya saja yang selalu nolak.. Sekarang malah dia enak-enakan santai pak," ucap Maya mempengaruhi Ronald.
"Panggil dia kesini," suruh Ronald dan Maya tersenyum smirk karena rencananya berhasil.
"Baik pak," jawab Maya lalu memanggil Sisil.
"Hei anak baru.. Dipanggil pak manager tuh, emangnya enak berani main-main denganku," ucap Maya angkuh dan Sisil hanya diam saja.
"Hei.. Lo mendadak bisu dan tuli ya?" tanya Maya geram.
"Ya jika itu berhadapan dengan anda," jawab Sisil yang membuat Maya kesal.
"Jangan memancing emosi gue.. Datang ke ruangan manager sekarang juga, kita udah ditungguin," ucap Maya penuh penekanan.
"Gue punya nama.. Lagian yang mulai masuk ke ruangan pak manager kan situ duluan, jadi ya aslinya tidak ada yang diundang.. Memang lo aja yang cari ribut," ucap Sisil menyebalkan.
"Sekali lagi lo membantah bakal gue pastiin pak manager yang datang langsung menemui mu di hadapan semua karyawan," gertak Maya.
"Bagus dong malah pak manager menandai nama gue nantinya, siapa tau lain bulan gue dapat promosi jabatan," ucap Sisil menantang.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk.." jawab Ronald dari dalam.
"Selamat siang Pak manager, ini dia anak barunya," ucap Maya memperkenalkan Sisil.
"Lah jadi kalian bertengkar?" tanya Ronald kaget.
"Bukan gue.. Tapi dia tuh yang mulai, yang benar aja gue ini karyawan baru masak iya disuruh ngerjain pekerjaan dia, ya ogah lah," ucap Sisil membuat Maya kaget.
"Heh bicara yang sopan, dia manager disini," bisik Maya geram.
"Udah tau kalik.. Toh dia gak papa, ya kan?" tanya Sisil memastikan pada Ronald.
"Ya.. Jadi yang benar itu mana?" tanya Ronald bingung.
__ADS_1
"Jelas saya lah pak.. Dia berbohong kok," ucap Maya sangat yakin dan Sisil hanya tertawa.
"Sialan ini anak gak ada takut-takutnya ya.. Dia belum tau kalau manager disini tuh galaknya bukan main," batin Maya bergidik ngeri.
"Benar Sil?" tanya Ronald memastikan.
"Ya enggak lah Nal, ucapan dia semuanya dusta.. Gue berani sumpah kalau dia yang bikin ulah duluan," ucap Sisil menjelaskan.
"Heh sudah gue bilangin bicara yang sopan, ntar kena amukannya mampus," ucap Maya.
"Mana mungkin Ronald mengamuk padaku," ucap Sisil penuh percaya diri.
"Loh kamu kok tau namanya?" tanya Maya kaget dan Sisil hanya tersenyum tipis saja.
"Sisil adalah teman kuliahku dulu dan akulah orang yang merekomendasikan dia bekerja disini jadi dari kesimpulan ini saya percaya sepenuhnya pada Sisil.. Lagian memang benar kok tadi saya sempat melihat CCTV kalau kamu selalu memberikan pekerjaanmu pada Sisil dan setelah itu kamu bersantai disaat jam kantor," ucap Ronald membuat Maya mati kutu.
"Tuh kan dengerin kata-kata gue.. Kalau gini siapa yang bakal di pecat?" sindir Sisil.
"Maksudnya Sil?" tanya Ronald kaget.
"Dia mengancam bakal mengadukan pada atasan dengan alibi dia agar gue di pecat, itu tujuan dia," ucap Sisil dengan lantang.
"Benar begitu Maya?" tanya Ronald serius.
"Bu..bukan begitu pak, dia fitnah," sanggah Maya.
"Haha lo atau gue yang fitnah? Banyak saksinya loh.. Silahkan deh tanya karyawan lainnya," ucap Sisil semakin membuat situasi Maya tersudut.
"Duh gue salah pilih musuh nih, dia bukan orang yang gampang di hancurkan, semoga saja pak manager masih mau memberikan kesempatan pada gue.." batin Maya penuh harap dengan keringat bercucuran.
"Kenapa kok keringatan gini padahal ini di ruangan AC loh," sindir Sisil mengejek.
"Gak usah ikut campur," bentak Maya yang sudah kepalang tanggung.
"Wow mulai kepanasan nih, gimana rasanya senjata makan tuan?" sindir Sisil dan Maya hanya melengos saja.
"Sudah sudah.. Kalian balik lagi ke ruangan masing-masing, kali ini saya maafkan namun tidak untuk setelahnya," ucap Ronald merelai dan Maya bernafas lega.
"Ya setidaknya hari ini gue masih bisa kerja dan memandang manager tampanku," batin Maya senang.
__ADS_1
Lalu keduanya kembali ke meja kerjanya dan Maya berbisik pada Sisil agar setelah ini lebih waspada karena masalah yang datang akan semakin besar dan besar, sayangnya Sisil tidak mengubris perkataan Maya dan memilih menyelesaikan pekerjaannya.
"Ah cecunguk kaya Maya gampang bagi gue buat singkirin, dia aja yang gak tau gimana kejamnya gue kalau udah murka," batin Sisil.