
Setelah pendemo pergi kini Dinda membuka kembali tokonya dengan perasaan was-was, ia takut sewaktu-waktu pendemo itu datang lagi.
Luka yang dialami Dinda akibat lemparan batu cukup serius, banyak luka yang dialami Dinda mulai di kening, lengan, tangan, kelopak mata, bibir, pipi. Mau gak mau Dinda harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Di rumah sakit, keluarga Dinda tak hentinya menangis meratapi nasib Dinda yang malang, baru saja dia merasakan bahagia pasti ada saja yang menghambatnya.
"Pak apa anak kita pindah saja dari sini? Ibu gak kuat melihat penderitaan Dinda," tanya Sri menangis tersedu.
"Sudah bu itu bisa di pikirkan nanti, yang terpenting keselamatan anak kita, jangan langsung berpikir yang bukan-bukan," ucap Tono menenangkan.
"Tapi pak anak kita hidup disini banyak menderitanya, bapak lihat sendiri kan customer Dinda anarkis seperti itu" ucap Sri geram.
"Sudah bu sudah kita fokus dulu sama Dinda," ucap Tono tak mau memperpanjang masalah.
Sudah 2 minggu Dinda di rawat dan hari ini sudah di perbolehkan pulang.
Di rumah Dinda terus kepikiran bagaimana nasib usahanya, apakah ini titik hancur usaha yang ia rintis dari 0 dengan susah payah.. Dinda merasa tidak ikhlas jika usahanya harus berhenti begitu saja, ia harus menemukan solusi semua ini dan mencari akar permasalahannya.
Selama Dinda di rumah sakit, usahanya tetap berjalan namun orderan yang masuk tidak seramai biasanya, malahan akhir-akhir ini tidak ada yang pesan. Kabar Dinda menjual skincare palsu sudah tersebar luas dan mereka banyak menghujat Dinda karena lebih mementingkan untung besar daripada keselamatan customer nya.
Meta yang merasa usahanya telah berhasil segera menghubungi Sisil dan sesuai kesepakatan kini Sisil sudah mentransfer sisanya. Meta tidak mau jika akhirnya nanti ketahuan jadinya ia resign dari kantornya Dinda dan menghilangkan semua jejak.
Meta sebenarnya tidak seratus persen memesan produk palsu akan tetapi ia mencampur nya dengan produk asli supaya tidak segera ketahuan oleh Dinda, jadi ketika nanti Dinda konfirmasi ke supplier nya data yang dibuat Meta adalah valid.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk.. " ucap Dinda dan kini Meta langsung masuk.
"Selamat siang bu," Sapa Meta.
"Siang.. Ada apa Met?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Bu sebelumnya saya minta maaf, mulai besok saya mengajukan resign.. Saya sudah tidak sanggup lagi menghandle ini semua sendirian bu, setidaknya saya resign di saat kondisi usaha anda sudah tenang dan anda sudah pulang dari rumah sakit," ucap Meta akting sedih.
"Kenapa mendadak sekali?" tanya Dinda curiga.
"Tidak mendadak bu, ini sudah dibuat seminggu yang lalu dan saya sudah mengajukannya ketika ada kakak anda disini tapi sayangnya kakak anda tidak bisa memutuskan, jadi saya diminta menunggu kehadiran ibu di kantor dan menyampaikannya sendiri," ucap Meta.
"Saya keberatan dengan ajuan resign yang kamu buat, siapa nanti yang membantu saya disini?" tanya Dinda sedih.
"Maaf bu tapi kan anda tau kalau saya bekerja disini sambil menunggu panggilan di perusahaan yang lebih besar dan sesuai dengan job desk saya, kebetulan saya sudah mendapatkan panggilan dan kemarin interview bu, saya diterima dan mulai besok sudah bekerja," ucap Meta jujur.
"Saya suka dengan kinerja kamu tapi mau bagaimana lagi? Kamu juga harus menggapai apa yang kamu impikan, jadi ya dengan berat hati saya terima.. Semoga kamu betah kerja di sana ya," ucap Dinda dengan bijak.
"Terima kasih bu, kalau begitu saya permisi dulu mau menyelesaikan sisa pekerjaan saya," pamit Meta.
"Aduh gimana ini kalau Meta resign siapa yang akan jadi kaki tanganku? Dengan siapa nantinya aku berdiskusi untuk menyelidiki semua ini," gumam Dinda stress.
"Ah akhirnya gue terbebas juga dari sini, ya iyalah gue memang harus mengejar impian gue kan gue masih muda.. Disini mah bukan passion gue apalagi gajinya gak ada setengahnya ketika gue jadi sekretaris.." batin Meta lalu bersantai-santai ria, karena memang tidak ada pekerjaan yang harus ia lakukan.
Semua otak dari semua ini adalah Sisil yang dikerjakan oleh Meta, dengan berkedok sepupu jauh kini Sisil bisa menggunakan Meta sebagai kaki tangannya agar ia tidak perlu berbuat lebih. Sisil berinisiatif memberitahu kebangkrutan Dinda pada suaminya itu.
"Mas.. Mas Rio," pekik Sisil.
"Hmm.." jawab Rio acuh.
"Aku punya info baru mas dan aku yakin kamu pasti akan kaget," ucap Sisil antusias.
"Apa?" tanya Rio cuek.
"Ini mengenai Dinda," ucap Sisil membuat Rio langsung penasaran.
"Dinda? Ada apa dengan dia? Info apa yang kamu dapat? Cepat katakan," tanya Rio tak sabar.
__ADS_1
"Santai dong mas tadi aja males dengerin gitu," ejek Sisil.
"Sisil.. Cepat katakan," ucap Rio penuh penekan.
"Ish iya.. Iya.. Urusan Dinda aja langsung gercep gitu, sekali kali ya perhatiin aku juga dong mas," ucap Sisil cemburu.
"Mau mengatakan atau tidak?" tanya Rio kesal.
"Iya mas iya.. Usaha Dinda diambang kebangkrutan mas, ada berita yang beredar katanya produk yang Dinda jual itu palsu," ucap Sisil penuh penekan.
"Mana mungkin? Ini pasti jebakan," ucap Rio.
"Ya mana aku tau dong mas, ini berita yang beredar kok lagian sudah tidak ada lagi yang mau order skincare sama Dinda, tokonya pun terancam guling tikar," ucap Sisil bahagia.
"Kenapa kamu yang bahagia sekali mendengar musibah yang dialami Dinda? Mencurigakan" Sindir Rio.
"Jangan punya pikiran kalau semua ini ulahku mas, duit darimana untuk membuat usaha Dinda hancur, hidup kita sekarang aja sudah menyedihkan, lebih baik uangnya aku gunain untuk yang lainnya," protes Sisil.
"Awas saja kalau sampai kamu ini pelakunya," ancam Rio.
"Mas.. Mas.. Buat apa aku usik hidup Dinda? Aku bahagia karena aku merasa dia mendapatkan karma," ucap Sisil kesal.
"Karma darimana? Dinda itu orang baik," tanya Rio geram.
"Ya karma dong mas karena dia sering mengataiku wanita yang gak bisa memiliki keturunan, wanita yang gak pernah melahirkan, emang aku gak merasakan sakit mas?sakit mas..aku juga punya perasaan apalagi dinda sering mengatakan itu di hadapan orang banyak, mau taruh dimana muka ku?" Bela Sisil.
"Memang itu faktanya jadi terima saja, intinya Dinda itu orang baik dan aku yakin ada yang menjebaknya," ucap Rio tetap membela Dinda.
"Mas harusnya kamu ini bela aku dong, aku ini istrimu.. Kamu dan mantan istrimu sama saja, Sama-sama menyakiti perasaan orang," ucap Sisil emosi.
"Memang kenapa kamu harus di bela? Kamu sedang tidak terlibat masalah kan? Lagian yang sedang tertimpa masalah disini itu Dinda bukan kamu.. Aku yakin ada orang yang sengaja ingin menjatuhkan Dinda," ucap Rio sangat yakin dan mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1