RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Bertemu Vika


__ADS_3

Dito dan Vika harusnya melakukan liburan di Bali namun gagal total karena ada meeting dadakan di kota Sukabumi, kota tempat Ryan berada sekarang.


Mau gak mau mereka harus berangkat malam ini juga karena besok jadwal meeting sangat pagi.


"Sayang.. Kita gagal liburan," ucap Dito sedih.


"Gak papa masih banyak waktu, yang penting kerja dulu, ini meeting penting, semoga goal," jawab Vika.


"Kamu kok gak ada sedih-sedihnya sih, apa kamu gak seneng liburan bersama?" tanya Dito penasaran.


"Ya mau gimana lagi dong? Kamu mau cancel meeting ini dan nanti berimbas ke perusahaan yang merugi dalam jumlah besar, terus nanti nasib karyawan lainnya gimana? Mikir sampai sana dong jangan egois," jawab Vika berpikir logis.


"Wanitaku memang cerdas, i love you, beruntungnya aku dimiliki kamu," goda Dito mencium pipi Vika.


Lalu mereka bergegas menuju bandara karena jadwal keberangkatan sudah mepet, urusan pakaian biar nanti beli di sana saja, itu yang Dito ungkapkan tadi.


Tiba di kota yang dituju, Vika langsung menuju resepsionis untuk melakukan reservasi ulang yang sebelumnya sudah ia pesan lewat online, setelah mendapat kunci kamar, mereka bergegas menuju kamar yang dituju. Tanpa sepengetahuan Dito, Vika memesan dua kamar padahal sejak tiba di bandara hingga sampai di hotel tak hentinya Dito tersenyum merekah, entah apa yang dipikirkan membuat Vika terkadang geli sendiri melihatnya.


"Ini kamarnya," ucap Vika membuka kamar yang sudah di booking.


"Bagus.. selera mu bagus juga sayang," puji Dito.


"Ini kamar terbaik yang dimiliki hotel sini dan kebetulan jarak dengan tempat meeting dekat, lumayan kan bisa menyingkat waktu," ucap Vika lalu meletakkan barang Dito di lemari.


"Biarin aja disitu, kamu pasti capek kan? Sini istirahat dulu," ajak Ryan menepuk kasur empuk yang sudah ia buat berbaring.


"Gak usah.. Nanggung nih dikit lagi kelar kok," tolak Vika. Setelah selesai Vika berpamitan pergi.


"Mau kemana sayang?" tanya Dito heran.


"Ke kamar satunya, aku mem booking dua kamar dan masing-masing satu orang jadi kita berpisah," jawab Vika sambil tersenyum bahagia.


"Loh.. Jadi kita gak sekamar?" tanya Dito kaget.


"Enggak dong, belum muhrimnya," jawab Vika lalu berjalan keluar.


"Vikaaaaaa..." teriak Dito yang merasa marah karena dikerjai calon istri. Sudah berangan-angan akan tidur dalam satu kamar tapi kenyataannya malah Vika memesan kamar lagi.


Ketika Vika ingin membuka kamarnya, ada sekelebat bayangan mirip Ryan namun Vika menepis nya, mana mungkin ada Ryan disini, jelas-jelas disini kan luar kota.


"Vika? Benar kamu kan?" tanya Ryan memastikan.

__ADS_1


"I..iya.. Kok kamu ada disini? Aku pikir tadi orang yang mirip denganmu," jawab Vika.


"Kebetulan aku ada pekerjaan disini, udah hampir 2 minggu, kalau kamu?" tanya Ryan.


"Sama.. Aku ada urusan pekerjaan disini tapi hanya sehari saja itu pun mendadak," jawab Vika.


"Wah kebetulan sekali ya, boleh gak kita bincang-bincang sebentar?" tanya Ryan penuh harap.


"Aku capek banget maaf ya, baru aja sampai dan ini aku mau masuk kamar," tolak halus Vika.


"Kamarmu disini? Kok banyak kebetulan sih, kamarku ada di depanmu itu," jawab Ryan senang.


"I..iya ya kok bisa kebetulan gitu sih," jawab Vika.


"Boleh aku masuk?" tanya Ryan memastikan.


"For what?" tanya Vika heran.


"Just talk, kamu keberatan?" tanya Ryan.


"Istri dan anak-anakmu?" tanya Vika memastikan.


"Ooh.. Yasudah besok aja ya, hari ini aku mau full istirahat dulu, sumpah capek banget aku," tolak Vika.


"Ya sudah selamat istirahat ya, kalau perlu bantuan jangan sungkan kabari aku," ucap Ryan sedikit kecewa.


"Oke.." jawab Vika lalu masuk ke kamar. Jantung Vika berdebar tak karuan karena pertemuan tak sengaja dengan mantan kekasihnya ini, andai Ryan belum menikah mungkin dengan senang hati Vika memperbolehkan mantannya untuk masuk.


Masuk kedalam kamar tak langsung membuat Vika tertidur, ia merasa tak mengantuk sama sekali bahkan rasanya ingin kembali menemui Ryan. "Sadar diri Vika, sekarang kamu calon istri Dito, jangan memulai api jika tak bisa memadamkannya," gumam Vika memperingati dirinya.


Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu kamar Vika. Tak terasa setelah cukup lama melamun, dirinya tertidur dengan sendirinya dan kini waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. "Siapa sih jam segini ketuk pintu," gumam Vika kesal.


"Good night Vika," sapa Ryan dengan senyum manisnya.


"Ka..kamu, ada apa?" tanya Vika kaget, mata yang sebelumnya ada di 5 watt kini mendadak 100 watt.


"Apa aku menganggu tidurmu?" tanya Ryan.


"Aku baru saja bangun tidur, ada apa?" tanya Vika.


"Lapar gak? Keluar yuk beli makan," ajak Ryan.

__ADS_1


"Malam begini? Ada yang jualan emang?" tanya Vika.


"Ada.. Deket sini kok, yuk," ajak Ryan lalu Vika setuju. Memang sih perutnya sangat lapar, dari sore dia belum sempat makan karena harus mengurus banyak hal.


Berjalan beriringan dengan Ryan membuat perasaan Vika tak bisa dikendalikan lagi, berulang kali Vika salah tingkah dan gugup. Terlihat jelas dari bagaimana jawaban demi jawaban yang Vika berikan ketika sedang ditanyai Ryan.


"Kamu gugup?" tanya Ryan memastikan.


"Emm.. Gak, gak kok" jawab Vika gugup.


"Jangan bohong, nih tanganmu dingin gini," ucap Ryan langsung menggenggam tangan Vika, sikap spontanitas Ryan membuat hati Vika meleleh. Mau ditepis bagaimana pun memang masih ada nama Ryan di hatinya, berulang kali dilupakan tapi tetap tidak bisa.


"Mau makan dimana?" tanya Vika mengalihkan obrolan.


"Oh iya.. Tuh di sana memang tempatnya sederhana tapi enak masakannya, cobain deh pasti kamu suka," jawab Ryan langsung memberhentikan mobil di pinggir jalan lalu kembali menggandeng tangan Vika menyebrang.


"Pesan aja apa yang kamu mau, aku traktir," ucap Ryan yang paham dengan pikiran Vika.


"A..aku gak ada pikiran begitu kok, aku bawa uang," jawab Vika malu.


"Gak papa, anggap aja sebagai hadiah pertemuan kita yang tak sengaja ini," jawab Ryan lalu Vika memesan gurame bakar dan jus jeruk.


mereka makan dalam suasana yang penuh kenikmatan, dimana cuaca diluar juga kebetulan sedang hujan deras, makanan yang dipesan mereka seakan pas dengan cuacanya.


Setelah makan selesai, Vika bergegas mengajak pulang ke hotel karena ia harus istirahat, besok ada jadwal meeting jam 7 pagi. Awalnya Ryan menolak namun mendengar penjelasan Vika akhirnya Ryan mengalah, yang penting malam ini bisa bersama dengan Vika tanpa terganggu atau ketahuan siapapun.


Hujan yang cukup deras membuat pakaian mereka basah kuyub, mobil Ryan yang semula bersih dan wangi kini menjadi sedikit lembab karena basah pakaian mereka berdua.


"Kamu masuk duluan gih," ucap Ryan memberi payung pada Vika.


"Masuk bareng aja deh, biar payungnya bisa dipakai sama yang lain, tuh lihat banyak mobil yang antre," jawab Vika yang disetujui Ryan. Payung yang disediakan hotel cukup membantu mereka agar pakaiannya tak semakin basah.


Tiba didepan kamar mereka masing-masing, Ryan mendengar jika Vika sedikit menggerutu. "Ada apa Vik?" tanya Ryan menghampiri padahal ia hampir membuka kunci kamar.


"Aku lupa membawa baju ganti, tadi sebelum check in kesini belinya hanya baju formal buat meeting aja," jawab Vika sedikit malu.


"Oh kirain kenapa, sini tak pinjami pakaianku, kebetulan aku bawa banyak, yuk masuk," ajak Ryan yang tak sungkan sama sekali.


"Gak usah.. Ngerepotin nanti," tolak Vika.


"Gak.. Ayo masuk," ajak Ryan sedikit memaksa dan menarik tangan Vika.

__ADS_1


__ADS_2