
"Nanti kalau waktunya tepat akan mommy kasih tau jawabannya, biar semuanya suprise," ucap Dinda membuat Farel kesal.
"Mommy.. Pokoknya Farel hanya ingin mendengar jawaban iya," protes Farel lalu meninggalkan Dinda dan kembali bermain bersama Vanessa dan Ryan.
Ucapan Farel tempo lalu masih terus terngiang di pikiran Dinda.. Entah kenapa ia terus menerus terusik dengan perkataan putranya itu. Lalu pak Ryan menelponnya dan Dinda langsung tersadar dari lamunannya.
"Halo pak Ryan?" sapa Dinda.
"Halo juga bu.. Selamat pagi, maaf nih menganggu waktunya, sibuk gak?" sapa Ryan.
"Pagi.. Enggak sih kebetulan hari ini senggang, ada apa Pak?" tanya Dinda penasaran.
"Lusa hari ulang tahun Farel kan bu?" tanya Ryan memastikan.
"Betul pak, darimana bapak tau?" tanya Dinda heran.
"Dari Farel waktu kemarin pergi bersama, dia bilang kalau lusa ulang tahun dan meminta untuk di rayakan," ucap Ryan.
"Loh? Serius Farel ngomong begitu pak?" tanya Dinda kaget.
"Iya bu dan saya sudah mem booking sebuah tempat dan ulang tahun Farel pun sudah saya rencanakan sebaik mungkin," ucap Ryan senang.
"Pak... Kenapa anda tidak memberitahu saya sih?" tanya Dinda gak enak hati.
"Ibu kan sibuk apalagi sedang mengurus usaha yang sudah mulai stabil, kalau nanti ditambah mengurus ulang tahun Farel mana sempat?" tanya Ryan.
"Hei.. Ya pasti akan saya sempatkan dong pak, Farel itu anak saya jadi ya saya harus menyempatkan bahkan memikirkan ulang tahunnya dong, bapak ini gimana sih," cibir Dinda kesal.
"Iya bu saya percaya tapi saya hanya menuruti kemauan Farel saja kalau dia ingin dirayakan, dia mengatakan kepada saya jadi ya saya yang harus menyelenggarakannya," ucap Ryan.
"Saya gak enak jadinya.. Malah merepotkan anda," jawab Dinda tak enak hati.
"Tidak merepotkan bahkan tidak pernah, Farel dan Vanessa itu anak saya jadi apapun kemauannya ya saya usahakan turuti," bantah Ryan tak suka.
"Terserah bapak saja lah.." jawab Dinda pasrah.
"Oke.. Nanti H-1 akan saya kabari tempatnya," jawab Ryan semangat dan akhirnya mereka mengakhiri obrolan.
"Bisa-bisanya pak Ryan merencanakan semuanya sendiri, tanpa konfirmasi dengan ku pula.. Ish ngeselin," gumam Dinda kesal lalu melanjutkan pekerjaan.
__ADS_1
***
Hari yang di tunggu telah tiba, kini Dinda beserta kedua anaknya sudah datang ke tempat yang di reservasi Ryan. Dinda memang sengaja merahasiakan ini dengan kedua anaknya.
"Mommy tumben sekali kita kesini," ucap Farel.
"Iya nih mommy tumben banget sih," ucap Vanessa juga heran.
"Sudah kalian nikmati aja toh nanti juga bakalan happy kok," jawab Dinda membuat keduanya penasaran.
"Kok bisa mom?" tanya Farel dan Vanessa kompak.
"Lets see baby," jawab Dinda tersenyum bahagia dan pak Ryan keluar dari resto untuk menyambut mereka.
"Hai anak-anak om, hug me please," sapa Ryan lalu melebarkan kedua tangannya.
"Om pengacaraaa," teriak keduanya berhamburan di pelukan Ryan.
"Yuk masuk," ajak Ryan menggandeng keduanya.
Dor.. Dor.. Dor...
Seru suara balon meletus dan terompet beriringan dengan riuhnya. Farel dan Vanessa merasa terkejut dan hanya bisa terdiam.
"Happy birthday Farel and Vanessa.." ucap Ryan sambil membawa kue besar.
"Om.." ucap Farel lirih karena terharu dan Vanessa langsung berlinang air mata.
"Hai anak kesayangan om, selamat ulang tahun ya semoga kalian menjadi anak yang pintar, sayang sama mommy, sehat selalu dan semoga kebahagian selalu menyertai kalian, i love you.." harapan Ryan sambil menyalakan lilin lalu ada lagu happy birthday berkumandang.
"Make a wish please.." pinta Dinda pada kedua anaknya dan mereka mengangguk.
"Harapan Farel semoga mommy mau menjadikan om pengacara papah baru Farel," doa Farel dan membuat yang bersangkutan kaget.
"Harapan Vanessa pun sama, tambah lagi deh semoga om pengacara selalu sayang sama kami dan bisa membahagiakan mommy," ucap Vanessa sambil memejamkan mata lalu keduanya kompak meniup lilin.
"Make a wish kalian kenapa kompak seperti itu?" tanya Ryan penasaran.
"Ya memang itu keinginan kami om, mommy aja yang selalu mengulur, ayo mommy sekarang kasih jawabannya," desak Farel.
__ADS_1
"Iya nih mommy ayo kasih jawabannya dong," desak Vanessa.
"Astaga kalian ini ya," bisik Dinda malu.
"Kalau mommy gak kasih jawabannya sekarang nanti kami marah," ucap Farel manyun.
"Boy.." ucap Dinda menatap tajam.
"No debat mom, ayo dong mommy," rengek Farel.
"Bu.. Ini diluar kendali saya, maaf," ucap Ryan.
"Its okay pak, memang ini kemauan mereka dari lama," jawab Dinda membuat Ryan kaget.
"What? Really?" tanya Ryan kaget.
"Iya om.. Jauh sebelum ini Farel udah meminta mommy untuk menjadikan om pengacara sebagai papah baru Farel tapi mommy meminta waktu terus.. Ya sekarang waktunya mom," protes Farel.
"Iya deh mommy akan kasih jawabannya," jawab Dinda mengalah.
"Kalau terpaksa mendingan jangan bu," bisik Ryan.
"Tidak pak.. Saya memang sudah memikirkan ini dari lama hanya menunggu waktu yang tepat saja," ucap Dinda dengan tenang.
"Mungkin ini sudah waktunya untuk mengatakan semua ini dan semoga hasil yang di ucapkan nantinya baik untuk kami sekarang hingga seterusnya," batin Dinda sambil mengambil nafas beberapa kali.
Lalu Dinda menatap kedua anaknya dengan intens, di sana tersirat bahwa mereka memang membutuhkan figur seorang ayah. Mau Dinda bersikeras apapun bisa menghandle semuanya nyatanya ia belum mampu mewujudkan itu, jadi singel parent memang berat.
"Bu.." sapa Ryan gugup menanti jawaban.
"Pak Ryan.. Saya sangat berterima kasih karena anda sudah menjadi orang yang sangat baik untuk kedua anak saya bahkan mereka sangat dekat dan nyaman dengan anda hingga mereka berulang kali menginginkan anda menjadi papahnya.. Hati sebersih mereka tidak bisa di bohongi pak, naluri mereka murni untuk mengenal seseorang.. Tidak hanya dengan mereka saja, dengan kedua orang tua bahkan kakakku pun anda juga mampu mengakrabkan diri dengan sangat baik apalagi anda selalu menyenangkan mereka.. Saya selalu melihat raut kebahagian pada mereka ketika berdekatan dengan anda, saya sampai bingung harus bagaimana menyikapi kebaikan luar biasa anda ini.. Maka dari itu mungkin ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.. Ya semua perasaan yang ada di hatiku selama ini tentang anda, kalau boleh jujur memang saya tidak menampik kalau saya ini nyaman di dekat anda dan semakin lama perasaan ini semakin dalam, entah mulai kapan perasaan ini tumbuh namun perasaan ini datang dengan sendirinya pak.. Jadi saya memutuskan untuk siap menerima pinangan anda, semoga ini awal yang baik untuk kita pak," ucap Dinda setengah gugup sambil menatap Ryan dengan dalam.
Dengan iringan musik romantis, momen ini menjadi sarat akan keharuan yang dalam.. Kedua sejoli yang sama saling memiliki rasa kini sudah mengungkapkan isi hatinya.
"Se..Serius bu? Ini bukan karena desakan Farel saja kan?" tanya Ryan tak percaya.
"Bukan pak.. Saya kan sudah bilang untuk memberikan waktu hingga akhir tahun ini, dan sekarang waktunya.. Tepat di hari ulang tahun kedua anakku," ucap Dinda serius.
"I'm so happy to hear that, I'm so speechless.. Ah saya sampai bingung mau mengatakan apa tapi sungguh bu saya sangat sangat bahagia.." ucap Ryan terharu lalu mereka berpelukan dengan erat.
__ADS_1
"Semoga ini awal yang baik untuk kita pak karena kita memulainya dengan niatan yang baik dan semoga semua kebahagiaan ini berlangsung hingga seterusnya," batin Dinda.