RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Goes To Singapore


__ADS_3

"Tapi itu buang duit mas lagian di sini juga banyak kan rumah sakit yang bagus dan dokter kandungan yang bagus," tolak Dinda.


"Demi anak berapapun duit yang di keluarkan akan aku lakukan," ucap Ryan.


"Mas.. Lebih baik uangnya untuk keperluan lain saja," tolak Dinda.


"Gak.. Aku mau seperti itu," tolak Ryan.


"Mas.. Biaya pesawatnya saja sudah berapa belum biaya USG dan lainnya," ucap Dinda berpikir logis.


"Gak masalah sayang.. Setiap anak ada rezekinya masing-masing," ucap Ryan.


"Aku gak yakin mas, terbang jauh-jauh hanya untuk USG saja," tolak Dinda.


"Gak jauh kalau dari sini," ucap Ryan kekeh.


"Coba pikirkan lagi dengan matang mas," ucap Dinda mengingatkan.


"Sudah.. Makanya aku sampai datang," jawab Ryan.


"Kalau aku mas, aku loh ya.. Lebih baik uangnya untuk hal yang lebih bermanfaat, setelah punya anak kebutuhan kita banyak loh dan panjang," tegur Dinda.


"Gak masalah.. USG di sana kan juga bermanfaat," ucap Ryan dengan entengnya.


"Aku tau mas kamu begitu antusias dengan kehamilan ini namun tolonglah di pikir lagi apalagi si kembar juga sekolahnya mahal," ucap Dinda memperingatkan.


"Kamu gak suka dengan usul ku? Tujuanku baik loh untuk mendokumentasikan momen anak kita ketika masih di kandungan, agar anak kita tau kalau masih di dalam perut saja orang tuanya sudah sangat antusias menyambutnya apalagi nanti kalau lahiran," ucap Ryan tersinggung.


"Maaf mas bukan begitu maksudku.. Aku tau kamu mau yang terbaik untuk anak kita, tapi tolong lah mas sesuaikan dengan budget yang ada," jawab Dinda berpikir logis.


"Kamu pikir aku gak mampu memberikan yang terbaik?" tanya Ryan tersinggung.


"Bukan mas.. Buka begitu," jawab Dinda merasa bersalah.


"Lalu?" tanya Ryan.


"Aku mau kita tetap USG dan selalu periksa di sini saja mas, sama saja kok.. Malah kita nantinya bisa memiliki uang lebih untuk menyambutnya, kita tidak tau bagaimana kehidupan esok hari," ucap Dinda dengan hati-hati.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya, kamu jangan khawatir," jawab Ryan kesal.


"Iya mas aku tau," jawab Dinda mengalah.


"Yasudah kita tetap terbang ke Singapura, besok toko mu libur seminggu kan? Kita manfaatkan itu untuk berlibur di sana," jawab Ryan tak mau dibantah dan Dinda hanya mengangguk saja.


Lalu Ryan berpamitan karena harus kembali bekerja dan merampungkan semua urusannya sebelum kembali mengajukan cuti.


Sementara itu Dinda juga kembali bekerja karena hari ini semua laporan harus segera selesai, Dinda gak mau ketika besok libur masih ada pekerjaan yang tertinggal.


"Fio ke ruangan saya sekarang," perintah Dinda via telepon kantor.


"Baik bu.." jawab Fio lalu bergegas menemui Dinda.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk.. " jawab Dinda.


"Selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Fio ramah.

__ADS_1


"Ada.. Apakah kamu sudah menyelesaikan laporannya? Saya mau cek," jawab Dinda.


"Sudah bu.. Sebentar saya ambilkan," jawab Fio sigap dan mengambil beberapa map.


"Ini bu.." jawab Fio sembari menyerahkan map.


"Makasih.. Untuk barang-barang apakah sudah aman?" tanya Dinda memastikan.


"Untuk barang masih aman bu sampai bulan depan," jawab Fio.


"Baiklah kamu boleh keluar, nanti akan saya kabari lagi," jawab Dinda lalu Fio pamit keluar.


Dinda terus mengecek semua map yang diberikan Fio dan tidak menemukan kendala, semuanya sesuai keinginan dirinya. Lalu Dinda menyiapkan sejumlah uang sebagai bentuk rasa terima kasih karena usahanya semakin lancar dan selalu melebihi target.


"Semoga uang ini bermanfaat," gumam Dinda sembari menyiapkan sejumlah uang untuk karyawannya.


Tiba waktunya pulang kerja, Dinda sudah turun dan menemui karyawannya.


"Selamat sore semuanya.." sapa Dinda ramah.


"Sore bu," jawab karyawan serempak.


"Maksud dan tujuan saya memanggil kalian semua kemari karena saya ingin memberikan sedikit hadiah kecil untuk kalian sebagai bentuk apreasiasi karena kalian sudah gigih bekerja dan selalu melebihi omset penjualan, semoga bermanfaat untuk kalian semua ya," ucap Dinda sembari menyebutkan nama karyawannya satu persatu sesuai urutan di amplop. Setelah selesai kini Dinda kembali menyampaikan pengumuman.


"Karena semua sudah mendapatkan bagiannya, kini saya ingin menyampaikan informasi tambahan.. Mengingat besok adalah hari penghujung tahun maka kalian semua saya liburkan selama satu minggu ke depan, semoga kalian bisa memanfaatkan waktu libur kalian dengan baik dan esok ketika waktunya bekerja kalian bisa fresh dan lebih semangat," ucap Dinda yang di sambut sorak gembira karyawannya. Dinda merasa bahagia karena langkah kecil yang ia ambil sangat bermanfaat untuk mereka semua. Lalu semua karyawan tak lupa mengucapkan terima kasih dan berpamitan pulang.


***


Setibanya di rumah kini Dinda difokuskan dengan menyiapkan beberapa barang yang harus dibawa untuk pergi ke Singapura.


"Bawa berapa baju ya? Kalau kebanyakan nanti penuhin bagasi pesawat tapi kalau kurang nanti malah beli," gumam Dinda bimbang.


"Lagi siapin baju mas, enaknya bawa berapa pasang?" tanya Dinda.


"Bawa secukupnya saja, 3-4 baju," jawab Ryan enteng.


"Kita ke sana seminggu kan mas?" tanya Dinda


"Memang.. Tapi kamu gak usah bawa baju banyak-banyak, biar nanti beli di sana," jawab Ryan.


"Kalau bisa bawa lebih kenapa harus beli?" tanya Dinda heran.


"Agar kita tidak keberatan bawanya," jawab Ryan enteng.


"Sama aja mas.. Waktu pulang malah lebih berat," jawab Dinda kesal.


"Sudahlah bawa baju sedikit saja nanti di sana kita bisa beli.. Hitung-hitung travelling," jawab Ryan dan Dinda memilih pasrah, ia capek kalau terus berdebat dengan suaminya karena hal kecil.


Selesai menyiapkan baju untuk dia dan Ryan kini Dinda beralih ke kamar si kembar untuk membantu anak-anak menyiapkan pakaian. Setelah semuanya selesai tiba-tiba saja Ryan mengabari jika penerbangan untuk besok dibatalkan karena sudah full booking, mau gak mau mereka berangkat besok harinya lagi. Mau kecewa tapi gimana lagi, semua sudah terlanjur.. Akhirnya sebagai permintaan maaf, Ryan mengajak keluarganya ke puncak baru setelah itu besoknya terbang ke Singapura.


Di puncak mereka sangat menikmati momen kebersamaan yang terjalin dan tak lupa Dinda dan Ryan mengabadikannya dalam ponsel pintar mereka. Dinda bahagia meskipun gagal terbang ke Singapura hari ini setidaknya sang suami sudah menyiapkan cadangan liburan.


***


Keesokan harinya mereka sudah tidak sabar untuk terbang ke Singapura. Perjalanan menuju bandara sangat lancar jadi mereka sampai di sana tepat waktu, sebelum terbang mereka doa bersama agar selamat sampai tujuan dan juga pulangnya.


Menginjakkan kakinya di Singapura untuk pertama kalinya bagi Dinda dan anak-anak membuat mereka sangat bahagia.. Aura kebahagiaan terpancar dari mereka hingga membuat Ryan merasa ikut berbahagia.

__ADS_1


"Kalian happy?" tanya Ryan semangat.


"Happy papa.. Very happy," jawab si kembar kompak dan Dinda hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Ok kita ke vila sekarang, lets go.." ajak Ryan.


Sesampainya di vila, lagi-lagi mereka di buat kagum dengan pemandangan yang sangat indah.. Vila yang di sewa Ryan tepat berada di depan pantai dan di sebelah kanannya terlihat patung singa yang menjadi ikon kota Singapura. Baik Dinda dan kedua anaknya tak henti berdecak kagum atas fasilitas yang diberikan suaminya.. Dinda lalu mengambil beberapa gambar dan dijadikan status.


Karena merasa capek akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat agar besok bisa jalan-jalan dengan semangat.


###


Pagi harinya Dinda sudah bangun dan ingin membeli sarapan untuk keluarga kecilnya namun sudah keduluan Ryan.


"Mau kemana sayang?" tanya Ryan dengan muka bantalnya.


"Mau beli sarapan lah mas," jawab Dinda ingin beranjak bangun namun dicegah suaminya.


"Gak usah repot-repot," jawab Ryan.


"Ya gak repot dong.. Sarapan kan penting," ucap Dinda heran.


"I know.. Tapi kamu gak usah beli sarapan karena aku udah menyiapkan semuanya, tunggu saja sampai nanti ada yang kesini," jawab Ryan dengan entengnya lalu kembali memeluk Dinda.


"Kok kamu gak bilang mas?" tanya Dinda kesal.


"Yang penting semua sudah siap tersedia kan sayang.." jawab Ryan terus mempererat pelukannya.


"Mas sesak ih, minggir dong," usir Dinda.


"Aku mau begini," jawab Ryan sambil terpejam.


"Tapi aku pengap mas," ucap Dinda lalu Ryan tersadar jika istrinya sedang hamil dan melepas pelukannya.


Kini mereka sudah bangun namun tidak untuk kedua anaknya, mereka masih saja tertidur pulas hingga membuat Ryan dan Dinda tak tega membangunkannya.


"Sudah biarkan anak-anak bangun dengan sendirinya, kita ke balkon saja," ucap Ryan lalu menggandeng tangan Dinda.


"Tapi anak-anak butuh sarapan mas," jawab Dinda.


"Biarkan kalau mereka lapar juga bangun, ini waktu liburan.. Biarkan mereka menghabiskan waktu dengan sesuai keinginannya," ucap Ryan dan Dinda hanya pasrah saja.


Karena keduanya sedang asyik menikmati pemandangan di balkon sampai tidak sadar bahwa makanan yang di pesan Ryan sudah berada di depan dan terus menerus memencet bel. Farel yang merasa kebisingan langsung bangun dan membukakan pintu.


Karena Farel kurang fasih berbahasa Inggris akhirnya ia berteriak memanggil kedua orang tuanya.


"Papah.. Mommy.." teriak Farel sangat kencang hingga membuat keduanya kaget dan bergegas menghampiri Farel.


"Kamu udah bangun sayang? Ada apa kok teriak?" tanya Dinda panik.


"Ini mom ada paket kayaknya antar makanan deh, masnya bikin Farel bingung soalnya pakai bahasa Inggris makanya Farel panggil mommy sama papah," jawab Farel sambil menunjuk pria yang sedang membawa beberapa makanan.


"Oh itu.. Benar sayang masnya memang bawa paket pesanan papah, yasudah kalian tunggu di meja makan ya," jawab Ryan membenarkan perkataan Farel dan menerima paket itu lalu membayarnya.


Akhirnya mereka bisa sarapan dengan sangat nikmat karena sambil melihat pemandangan yang sangat indah.. Dinda pun kali ini sangat menikmati momen-momen yang tercipta.


"Breakfast in Singapore," tulis caption Dinda sembari upload makanan yang ada di depan matanya.

__ADS_1


Rio yang melihat status Dinda merasa kesal karena bisa-bisanya Dinda dan suaminya liburan sedangkan ia disini sedang fokus mengurus pengalihan hak asuh anak-anaknya.


__ADS_2