RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Penentuan Hari Pernikahan


__ADS_3

Setelah kedatangan Dinda beberapa hari yang lalu kini waktunya keluarga Ryan untuk berkunjung ke rumah Dinda untuk membahas hari pernikahan.


"Pah jadi kan ke rumahnya Dinda?" tanya Ryan memastikan.


"Jadi.. Besok kami akan ke sana, kabari calon istrimu," jawab Leo tegas.


"Makasih pah.." jawab Ryan bahagia.


"Kamu serius ingin menikah dengannya? Dia masih sering bertemu mantan suaminya loh, bagaimana nantinya nasib kamu?" tanya Lia.


"Nasib Ryan ya tetap jadi suaminya Dinda.. Lagian mantan suaminya kan sudah punya istri jadi apa yang membuat Ryan khawatir? Dinda sudah tidak memiliki perasaan lagi dengan mantan suaminya," ucap Ryan membela Dinda.


"Tapi tetap saja dia sering berjumpa, kamu mana tau isi hati seseorang?" sindir Lia.


"Mah.. Ryan sudah yakin dengan Dinda jadi Ryan mohon jangan halangi langkah Ryan untuk menikahinya, tidak mudah bagi Dinda membuka hatinya lagi untuk menerima cinta yang baru.. Ryan sudah menunggu Dinda hampir 2 tahun mah, pah, itu bukan waktu yang sebentar.. Akhirnya Dinda yakin dengan Ryan karena melihat kesungguhan Ryan," ucap Ryan memohon.


"Masih banyak wanita di luar sana yang belum menikah, mengapa kamu malah membuka hati dengan seorang janda? Mamah hanya ingin yang terbaik untukmu," ucap Lia sedih.


"Dinda adalah wanita baik-baik mah dan Dinda memiliki kepribadian yang luar biasa, dia lembut namun tegas, dia juga mandiri, pantang menyerah dan selalu menghadapi masalah dengan tenang, kalau Dinda bukan wanita yang baik mana mungkin mantan suaminya mengaku menyesal telah menceraikannya dan meminta rujuk?" ucap Ryan membela Dinda.


"Tuh kan mantan suaminya aja belum rela berpisah dengan Dinda. Nanti yang ada hubungan kalian riweh," protes Lia.


"Mamah tenang saja, Ryan sudah memahami terlebih dahulu bagaimana mantan suaminya dan bagaimana Dinda, selama ini Dinda tidak pernah merespon kecuali urusan anak, ia sudah tidak mau menjalin hubungan lebih dengan mantan suaminya, karena ulah mantan suaminya membuat Dinda sempat trauma berat," ucap Ryan.


"Ya mamah tau memang semua kesalahan ada di pihak laki-laki, cuma mamah memperingatkan saja kalau ingin memulai hubungan yang baru sebaiknya selesaikan dulu hubungan yang lama, memang secara agama dan negara Dinda dan mantan suaminya sudah selesai, namun dari pihak mantan suaminya masih saja kekeh mengejar Dinda, pertimbangkan itu," tegur Lia.


"Baik mah.. Yang terpenting Ryan dan Dinda menikah dulu, urusan dengan mantan suaminya dipikir nanti mah" jawab Ryan jengah.


***


Keesokan harinya keluarga Ryan sudah tiba di rumah Dinda dan disambut dengan sangat hangat. Pihak keluarga Dinda sangat antusias ketika mengetahui keluarga Ryan akan datang.


"Selamat datang di rumah kami, perkenalkan saya Sri.. Saya ibu kandung Dinda," ucap Sri dengan ramah sambil berjabat tangan.

__ADS_1


"Terima kasih.. Perkenalkan juga saya Leo Hadiningrat, ayah kandung Ryan," ucap Leo ramah dan menerima jabatan tangan Sri.


"Loh bu keluarga pak Ryan sudah datang to? Aduh bapak terlambat menyambut mereka," ucap Tono lalu berjabat tangan dengan mereka.


"Bapak ini makanya kalau ibu bilang siap-siap mbok ya segera.. Gini kan gak enak sama calon besan," ucap Sri sedikit kesal.


"Sudah tidak apa," jawab Leo mengerti.


"Perkenalkan saya Tono, ayah kandung Dinda" ucap Tono ramah.


"Saya Leo, ayah kandung Ryan dan di sebelah saya ini istri saya namanya Lia dan kami mengajak tantenya Ryan yang bernama Santi," ucap Leo memperkenalkan pihak keluarganya.


"Oh iya Pak.. Ini di sebelah saya kakaknya Dinda namanya Dito dan di sebelahnya Dito adalah budhe nya Dinda yang bernama Sumi," ucap Tono memperkenalkan pihak keluarga dan semuanya saling melempar senyum.


"Mari silahkan duduk, maaf ya kalau rumahnya hanya sederhana seperti ini," ucap Sri merendah.


"Tidak apa bu semua rumah sama saja kok yang terpenting bisa di tempati," ucap Lia.


"Sum tolong minumannya di persiapkan ya," suruh Sri lalu Sumi pun mengerti.


"Lagi make up bu, dia daritadi riweh banget, pusing saya," Ucap Sri sambil memegang kepala.


"Farel dan Vanessa kemana bu?" tanya Ryan celingukan mencari kedua bocil itu.


"Oh mereka juga di kamar, mereka mau keluar sama mommynya.. Katanya biar kayak di tv-tv nanti mereka mengiringi mommynya," ucap Sri.


"Nah itu dia bu," ucap Tono menunjuk Dinda yang keluar dari kamarnya di ikuti kedua anaknya.


"Cantik sekali," gumam Ryan kagum dan tak bisa berkedip.


"Ryan.. Tahan.. Dia masih calon mu," bisik Lia menegur anaknya dan Ryan langsung tersadar.


"Mamah nih ganggu imajinasi Ryan aja," bisik Ryan kesal.

__ADS_1


"Ryan.." bisik Lia penuh penekanan dan Ryan hanya menyengir.


"Ehem.. Berhubung Dinda sudah datang maka langsung saja ya pak, kedatangan kami kemari tak lain dan tak bukan untuk meminta anak anda yang bernama Dinda menjadi istri anak saya Ryan, apakah bapak bersedia?" tanya Leo dengan lugas.


"Saya sebagai orang tua jujur saja merasa senang sekaligus bahagia bisa melihat anak saya di persunting pria yang di cintainya, namun sebelumnya apakah bapak dan ibu sudah tau status anak saya Dinda adalah janda dengan anak dua?" tanya Tono memastikan.


"Saya sudah mengetahui itu dan tidak mempermasalahkannya pak," ucap Leo tegas.


"Syukurlah kami senang mendengarnya pak karena mau bagaimana pun kejujuran harus di katakan dari awal, saya takutnya anda belum mengetahui dan nantinya akan mundur, namun prediksi saya salah.. Anda dan anak anda memang tulus menerima Dinda," ucap Tono.


"Anak saya sangat mencintai anak anda bahkan tidak memikirkan statusnya yang notabene seorang janda, jadi jika anak saya saja yang menjalani bisa menerima mengapa kami orang tuanya melarang? Akhirnya kan mereka yang nantinya menjalani hubungan, sebelum Ryan berbicara ingin mempersunting Dinda pasti anak saya sudah memikirkannya matang-matang, jadi saya tinggal merestui dan mempercepat hubungan anak kita supaya segera sah," ucap Leo dengan bijak.


"Saya sangat terharu mendengar jawaban dari anda, kalau begitu saya jadi yakin untuk menikahkan Dinda dengan nak Ryan, untuk semua keputusannya saya serahkan pada Dinda, bagaimana Din apakah kamu bersedia si persunting pria yang kamu cintai ini?" tanya Tono menatap Dinda dan semuanya fokus mendengarkan jawabannya.


"Saya.. Sa..Saya bersedia pak, jawaban dari papahnya mas Ryan membuat Dinda yakin kalau pilihan Dinda tidak salah, memang mas Ryan orang yang baik bahkan sangat baik jadi Dinda harap hubungan yang di awali dengan kebaikan akan berlangsung bahagia," ucap Dinda meneteskan air mata bahagia.


"Bapak sekarang lega karena sudah menikahkan kamu dengan pria yang tepat, semoga ini terakhir kalinya.." ucap Tono terharu dan menahan air mata.


"Ibu juga.. Ibu merasa bahagia karena sekarang anak kita sudah menemukan cinta yang sesungguhnya," ucap Sri terharu.


"Baik karena kedua belah pihak sudah saling memberi restu maka sekarang kita putuskan tanggal dan bulan berapa anak kita menikah pak?" tanya Leo pada Tono.


"Bagaimana kalau secepatnya pak, akhir tahun ini?" tanya Tono.


"Itu ide yang bagus.. Semakin cepat semakin baik, berarti 3 bulan dari sekarang ya pak.. Untuk persiapannya bagaimana? Pihak perempuan menyiapkan apa?" tanya Leo.


"Saya ingin anak saya ijab qabul disini pak, di rumah ini.. Bagaimana? Itu yang terpenting buat kami," pinta Tono.


"Baiklah saya setuju, untuk resepsinya?" tanya Leo.


"Kalau itu saya serahkan sama kedua calon pengantin, bagaimana baiknya mereka saja pak," jawab Tono.


"Oke untuk kalian berdua nanti atur bagaimana baiknya saja ya, sekarang kalian bisa saling tukar cincin, ayo Ryan pakaikan cincin ini pada Dinda," ucap Leo, mengerahkan kotak cincin dan Ryan dengan gugup memakaikannya di jari manis Dinda, begitupun dengan Dinda yang memakaikan cincin di tangan Ryan.

__ADS_1


Kini keduanya sudah sah bertunangan dan tinggal mempersiapkan pernikahan.


"Semoga ini awal yang baik dan akan terus baik," batin Dinda bahagia.


__ADS_2