RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Rio Membuat Ricuh


__ADS_3

Melihat Dinda dan kedua anaknya tertawa lepas seperti itu membuat Rio merasa tak terima, ia merasa jika harusnya dialah yang membuat mereka tertawa seperti itu.


"Ehem.. Hai Dinda, Hai anak-anak papah," sapa Rio menghentikan tawa mereka.


"Mas Rio?" ucap Dinda terkejut.


"Hai Din sudah lama ya kita tidak berkomunikasi, anak-anak juga semakin terlihat menggemaskan," ucap Rio mendekati kedua anaknya.


"Hai juga pah," sapa Vanessa sedikit malas.


"Iya pah hai juga," ucap Farel jutek.


"Kalian lagi makan apa nih? Papah ikut gabung boleh dong," pinta Rio.


"Gak.. Ini sudah pas pah, mendingan papah sama mamah Sisil aja deh sana," usir Farel yang sontak membuat Rio, Dinda dan Ryan tercengang.


"Anak sekecil dia bisa berbicara seperti itu? Kasihan sekali Farel.. Pasti dia memiliki memori buruk ketika hidup bersama papahnya," batin Ryan prihatin.


"Farel.. Jangan bicara seperti itu nak," tegur Dinda.


"Biarin aja mah, selama ini Farel selalu sendirian kok di sana, mana pernah Farel sangat di perhatikan seperti ini," sanggah Farel.


"Sudah tidak apa-apa mungkin ini karma ku, memang sakit sih tapi aku memang turut bersalah dalam ini," ucap Rio tegar.


"Maafkan Farel mas mungkin dia mengungkapkan isi hati yang selama ini terpendam, jujur saja aku tidak pernah mengajarkan mereka untuk membenci papahnya," ucap Dinda sungkan.


"Tidak apa, tidak masalah.." jawab Rio sedih.


"Farel saja bisa tidak menyukaimu mas padahal kamu itu ayah biologisnya, malah kedua anakku lebih dekat dengan pak Ryan.. Memang ya perasaan anak kecil tidak bisa di bohongi," batin Dinda menatap kedua anaknya yang sedang di suapi es krim oleh Ryan.


"Bolehkah papah menyuapi kalian? Papah sangat rindu dengan kalian nak," pinta Rio.


"Biarkan papah kalian ya yang gantian suapin," bujuk Ryan dengan lembut.


"Gak mau om pengacara, Vanessa maunya di suapin sama om, titik," rengek Vanessa.


"Farel juga," rengek Farel dan Rio hanya menghela nafas berat.

__ADS_1


"Maaf.. " ucap Ryan merasa bersalah dan lanjut menyuapi mereka.


Lalu tiba-tiba Sisil menyusul Rio karena suaminya sudah meninggalkan dia cukup lama.


"Mas.. Aduh ternyata kamu di sini," pekik Sisil.


"Kamu kesini sama Sisil? Kenapa gak bilang mas?" tanya Dinda heran.


"Niatnya aku ingin bertemu anak-anak tetapi malah kejadiannya seperti ini," jawab Rio.


"Memang anakmu kenapa mas?" tanya Sisil.


"Sudahlah gak perlu di bahas dan kamu gak perlu tau, udah selesai makannya?" tanya Rio tak nyaman.


"Udah daritadi makanya aku cariin kamu," ucap Sisil kesal


"Ada nenek lampir," celetuk Farel yang sontak membuat Sisil naik pitam.


"Apa kamu bilang? Nenek lampir? Kurang ajar ya kamu, jangan karena di sini ada mommy mu makanya kamu bisa berkata seenaknya," ujar Sisil kesal.


"Dasar anak kurang ajar, rasakan ini," ucap Sisil yang ingin mencubit lengan Farel namun di cegah oleh Dinda.


"Jangan sampai tangan kotor mu melukai anak gue, berani lu lukai anak gue meskipun itu secuil jangan harap gue akan diam," ancam Dinda sangat marah dan menghempaskan kasar tangan Sisil.


"Aw sakit din.. Jadi cewek bar-bar banget sih, urus tuh anakmu, didik yang bener," sindir Sisil kesal.


"Sisil bisa gak jangan membuat keributan di sini, gue ini mau bertemu kedua anakku," ucap Rio geram.


"Habisnya dia nih yang mulai duluan," protes Sisil.


"Sisil.. " ucap Rio geram.


"Mas mendingan kalian pergi deh dari sini, kehadiran kalian membuat semuanya berantakan," ucap Dinda penuh penekanan.


"Tapi aku masih ingin bertemu mereka," ucap Rio memohon.


"Tapi aku gak suka mas.. Aku memikirkan psikis kedua anakku, bisa-bisanya ya istrimu itu dengan gamblang nya ingin mencelakai anakku," ucap Dinda penuh penekanan.

__ADS_1


"Iya pah mendingan bawa nenek lampir ini pulang," ucap Farel sambil makan.


"Farel biarkan mamah yang mengurus ini, kamu fokus saja makan dan jangan ikut bersuara, mengerti?" ucap Dinda dan Farel patuh.


"Din biarkan aku bertemu mereka sebentar saja, hidupku seperti kehilangan arah semenjak kamu pisahkan Farel dari hidupku dan juga kedua orang tuaku," pinta Rio.


"Dengar sendiri kan mas kalau kedua anakmu saja tidak mengharapkan kehadiranmu, jadi pergilah.. Atau kami yang akan pergi dari sini," pinta Dinda menahan gemuruh di dada.


"Udah mas ayok pergi saja, ngapain sih di sini, menurunkan harga dirimu saja," cibir Sisil membuat Rio murka.


"SISIL.. KAMU PULANG SEKARANG JUGA ATAU NANTI AKAN TAU AKIBATNYA," gertak Rio sangat emosi.


"Gak bisa dong, pulang ya bareng lah, enak aja kamu di sini senang-senang dengan mereka sedangkan aku di suruh pulang, gak pokoknya gak mau," tolak Sisil.


"Maaf bukannya saya ikut campur dalam permasalahan kalian, namun apa yang di katakan oleh Dinda memang benar, lebih baik kalian pergi saja dari sini," ucap Ryan sungkan.


"Kenapa? Anda takut kalah saing dan nantinya Dinda tidak jadi bersama denganmu?" ejek Rio.


"Kalah saing? Dengan anda? Haha.. Buat apa saya ini takut toh memang saya ini pemenangnya, sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan, oh iya tidak lupa saya akan mengundang anda," ucap Ryan membuat Dinda dan Rio terkejut.


"Menikah? Yang benar saja, mana ada pengacara berganti jadi suami," cibir Sisil.


"Jika Tuhan berkehendak kenapa tidak ibu Sisil? Nyatanya anda saja bisa kan menikah dengan orang yang anda sayangi ya meskipun harus rela jika pak Rio menikahi ibu Dinda dulu," ucap Ryan tenang namun menohok.


"Memang gue dan mas Rio di takdir kan bersama jadi ya memang harus bersama, berbeda dengan kalian yang awalnya ngaku pengacara dan klien eh taunya diam-diam menjalin hubungan," sindir Sisil.


"Setidaknya saya dan ibu Dinda memulai hubungan setelah sidang cerai, bukan ketika masih menjadi suami istri.. Lagian saya juga berterima kasih kepada anda karena berkat jebakan anda waktu itu membuat saya dan ibu Dinda semakin intens menjalani hubungan," ucap Ryan semakin membuat Sisil dan Rio kesal.


"Sialan.. Memang ya menghadapi pengacara itu ada aja jawabannya, bisa-bisanya dia memutar keadaan dan memojokkan gue," batin Sisil kesal.


"Oh iya di balik kedekatan mereka ini dulunya Sisil pernah menjebak mereka dan memang dari awal Ryan sudah tertarik dengan Dinda, jadinya Sisil membuka peluang emas bagi Ryan.. Bodohnya aku kenapa waktu itu nurut aja apa rencana Sisil," batin Rio geram dan mengepalkan kedua tangan.


"Yasudah kalau kalian tidak mau beranjak dari sini biarkan kami yang pergi, yuk anak-anak kita pulang ya," ajak Ryan lalu menggandeng tangan Dinda dengan mesra sambil tangan satunya menggandeng Vanessa.


"Sialan!!! Beraninya dia menampakkan kemesraan di depan mata gue, berani sekali dia menyentuh Dinda dan kedua anak gue," batin Rio emosi.


"Mas.. Mereka udah pulang loh, ayo kita ikutan pulang juga," ajak Sisil dan akhirnya Rio dan Sisil pulang.

__ADS_1


__ADS_2