
Hari ini Dinda datang ke kantor agak siang karena Vanessa sedang demam, sebenarnya Dinda gak mau meninggalkan anaknya itu tapi mau gimana lagi? Pekerjaan di kantornya sedang banyak dan ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani, belum lagi mencairkan dana untuk menggaji karyawannya.
Sebelum berangkat ke kantor terlebih dahulu Dinda menghubungi Sri supaya mau menjaga anaknya sebentar, untung saja ibunya sigap dan setelah ibunya datang Dinda pun langsung bergegas ke kantor.
"Bu titip Vanessa sebentar ya, sebenarnya Dinda gak mau berangkat tapi banyak berkas yang harus diurus dan juga ini kan tanggalnya gaji karyawan," pamit Dinda sembari menghidupkan mobil.
"Iya gak papa yasudah sana berangkat, Vanessa aman sama ibu," jawab Sri menenangkan Dinda lalu bergegas pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor Dinda pun di sibukkan dengan setumpuk berkas yang baginya gak ada habisnya sampai akhirnya ada sang suami yang datang ke kantor bersama seorang wanita.
"Hai sayang.." sapa Ryan sumringah.
"Hmm.. Dia siapa mas?" tanya Dinda ketus.
"Kenalin mbak saya Selfi, temannya Ryan sejak dulu," ucap Selfi mengenalkan diri.
"Oh.. Saya Dinda Safitri, istirnya mas Ryan," jawab Dinda dingin.
"I know baby, jangan cemburu gitu kedatangan Selfi kesini mau menawarkan kerja sama denganmu, aku yakin pasti kamu bakalan setuju," ucap Ryan yang seolah mengerti isi pikiran istirnya itu apalagi tatapan sang istri tak sehangat biasanya.
"Kerja sama? Tentang?" tanya Dinda penasaran.
"Biar saya aja yang jelaskan, Ry," jawab Selfi dan Ryan hanya mengangguk saja lalu memberi ruang mereka untuk mengobrol.
"Begini mbak Dinda.. Saya seorang dokter kecantikan dan beberapa bulan ini saya ada produk kosmetik yang saya racik sendiri, karena saya ingin melebarkan sayap usaha kosmetik ini makanya saya cari info ke beberapa teman kiranya siapa yang mau bekerja sama dengan saya dan untungnya Ryan gerak cepat memberitahu kalau istrinya adalah agen ABC Skincare dan sudah memiliki banyak customer, yah saya pikir gak ada salahnya bertemu dong makanya saya meminta Ryan untuk diantar ke tempat usahamu mbak," ucap Selfi menjelaskan.
"Ohh.. Memangnya apa saja produk yang Anda buat?" tanya Dinda merasa bersalah karena sudah salah sangka.
"Ada banyak mbak dari krim, handbody juga sabun ya bisa dibilang sepaket lah.. Gimana mbak? Mau join?" tanya Selfi menawarkan.
"Nama produknya apa ya?" tanya Dinda.
"Nah itu dia sampai sekarang aku masih bingung mau kasih nama apa," jawab Selfi bingung.
__ADS_1
"Berarti sama saja kayak ABC skincare dong kalau nantinya saya ini hanya agen," ucap Dinda.
"Enggak mbak.. Nanti anda bisa pakai nama sendiri jadi serasa mbak yang punya kosmetik itu," jawab Selfi membuat Dinda tergiur.
"Berarti saya menanam modal dong?" tanya Dinda memastikan.
"Ya bisa dibilang begitu, nanti perbulan hasil penjualannya berapa kita bagi tergantung berapa nominal yang anda invest," jawab Selfi.
"Hmm nanti pembagian hasilnya bagaimana? Kalau nanti pakai nama saya setelah itu produknya meledak sudah pasti saya dong yang seharusnya mendapat hasil lebih banyak," tanya Dinda memastikan.
"Tentu saja mbak.. Jadi customer anda nanti taunya sekarang anda sudah membuat kosmetik sendiri," ucap selfi.
"Menarik juga sih.. Nanti saya pikirkan ya mbak," jawab Dinda menimbang.
"Iya mbak jangan terburu-buru soalnya ini kan usaha jangka panjang, daripada mbak jual produk orang lain terus kan lebih baik jual kosmetik dengan label sendiri, harganya pun bisa anda ubah kok mbak, jadi nanti dapat dari pembagian hasil sama untung dari pribadi," ucap Selfi membuat Dinda semakin tergiur.
"Menarik sekali loh sayang.. Kenapa gak sekarang saja di putuskan," ucap Ryan.
"Maaf mas sekarang aku masih fokus sama Vanessa dulu, ini aja aku lagi ngebut kerjaan biar cepat pulang kok," ucap Dinda sedih.
"Sakit mas.. Tadi gurunya telepon suruh jemput Vanessa katanya Vanessa mengeluh pusing, setelah tak jemput badannya makin panas mas," jawab Dinda sedih.
"Astaga kenapa gak kabari aku sih?" tanya Ryan kaget.
"Mas di telepon mana diangkat," sindir Dinda dan Ryan langsung cek ponselnya.
"Astaga maaf sayang tadi aku silent," ucap Ryan merasa bersalah dan Dinda hanya melengos saja.
"Ehem.. Maaf ya bukannya saya ikut campur masalah kalian tapi saya kesini mau membahas kerja sama kita.. Jika nantinya mbak Dinda setuju bisa hubungi saya, ini kartu nama saya mbak," ucap Selfi memberi kartu namanya.
"Oh iya mbak maaf ya jadi tau masalah pribadi kita, makasih kartu namanya nanti secepatnya saya kabari, sebenarnya saya tertarik namun mengingat anak saya sedang kurang sehat jadinya kurang fokus bekerja," ucap Dinda tak enak hati.
"Gak papa mbak santai aja, kalau gitu saya permisi dulu ya mbak, Ryan.." pamit Selfi.
__ADS_1
"Eh gak bareng gue?" tanya Ryan.
"Gak usahlah, lu balik aja kan anakmu sakit," jawab Selfi pengertian.
"Iya sih.. Sorry ya Sel," ucap Ryan tak enak hati.
"Its okay.. Get well soon for Vanessa," ucap Selfi turut simpati.
"Thanks.." jawab keduanya kompak lalu Selfi membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala, setelah itu ia keluar dari ruangan Dinda dan memesan taksi online.
"Udah selesai belum?" tanya Ryan memastikan.
"Sebentar lagi sih mas, gaji karyawan juga belum aku keluarin," jawab Dinda kerepotan.
"Sini aku bantuin ya, aku yang bagian acc gajian karyawan dan kamu bagian pengesahan," ucap Ryan meringankan Dinda.
"Baiklah.. Makasih mas," jawab Dinda setuju lalu keduanya fokus membagi pekerjaan, dalam waktu 2 jam semuanya kelar dan hari ini juga karyawan Dinda bisa gajian.
Dinda merasa beruntung karena memiliki suami seperti Ryan yang selalu ada disaat dia butuh, tanpa perlu Dinda meminta tolong pun Ryan sepertinya sudah mengerti. Itulah mengapa Dinda semakin sayang dengan suaminya itu.
Setelah semua pekerjaan beres kini keduanya bergegas pergi ke rumah dan memeriksakan Vanessa, untungnya nomor antrian sedikit jadinya Vanessa mendapat antrian awal. Menurut diagnosa dokter, Vanessa hanya mengalami kecapekan saja dan kekurangan asupan cairan. Hal yang membuat kedua orang tuanya merasa lega karena Vanessa tidak sakit yang serius, memang sih Vanessa tidak terlalu suka minum air putih, berbeda dengan kakaknya, Farel yang gemar minum air putih.
Setelah tiba di rumah, Vanessa minum obat dan tertidur pulas. Dinda dan Ryan memutuskan ke kamar untuk membicarakan bisnis barunya.
"Gimana sayang? Kamu sudah deal?" tanya Ryan semangat.
"Hmm belum tau mas rasanya kok ragu ya?" tanya Dinda bimbang.
"Why?" tanya Ryan heran.
"Masak iya temanmu setuju-setuju saja kalau kosmetiknya menggunakan label ku, dia kan ajakin nya kerja sama mas bukan tentang hak paten," ucap Dinda menimbang.
"Ya mungkin Selfi bicaranya ke arah sana cuma bingung merangkai katanya saja, ya aku sih ikut keputusanmu saja baiknya bagaimana," ucap Ryan berusaha bijak.
__ADS_1
"Hmm oke deh aku coba dulu tapi ada jangka waktunya mas, kalau nanti dalam 2-3 bulan gak ada kemajuan yang signifikan ya terpaksa batal, jadi sebelum beneran deal lebih baik aku adain testimoni besar-besaran dulu ke customer," jawab Dinda yang disambut baik oleh Ryan.